Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Sarita vs bae 1


__ADS_3

Mendengar ucapan Zain, membuat hati Darren bergetar. Apalagi saat melihat wajah Zain yang sendu, seketika naluri kebapakannya muncul.


" Sini sayang! tidur sama daddy," Darren menepuk bahunya agar Zain tidur di sana.


Zain beringsut mendekati daddynya, menyelinap di balik selimut yang menutupi tubuh Darren.


"Dadd,kenapa daddy tidak memakai baju?" tanya Zain, terlihat bingung. Sesaat merasakan dingin kulit mengenai tangannya. Lalu Zain semakin terkejut ketika melihat daddynya tidak mengenakan sehelai benang pun di badannya.


Darren berfikir sejenak, takut salah memberi jawaban.


"Badan daddy tadi gatal - gatal sayang, sebentar daddy ganti baju dulu." Darren turun dari ranjang, mengambil baju sembarangan lalu memakainya dengan cepat dan kembali merebahkan diri di aras ranjang.


Zain menggeser badan kembali mendekati darren, kepalanya kembali menggunakan dada daddy Darr sebagai bantal. Tapi mata masih belum bisa terpejam. Bayangan Rafli yang memeluk Zain dalam mimpi terus terlintas.


"Doa yuk buat papa Rafli!" ajak Darren.


"Apa papa Rafli merindukan Zain?"


"Doa Zain yang dirindukan papa Rafli. Mungkin Zain kurang doanya atau bisa jadi Zain kadang lupa." Darren mendorong tubuh Zain untuk duduk dan mengambil sikap berdoa.


"Dua hari ini Zain ketiduran, jadi tidak membaca doa dulu."


"Nah kan, makanya papa Rafli kangen. Yuk kita doa dulu!"


Darren memimpin membacakan doa untuk Rafli dengan khusyu. Selesai berdoa Zain memeluk Darren begitu erat.


"Thanks dadd, daddy selama ini sudah sangat menyayangi Zain tanpa membuat Zain melupakan papa Rafli. Zain sayang daddy, sampai kapanpun daddy akan sayang Zain juga kan?" tanya Zain, menatap Darren penuh kasih, matanya berkaca - kaca.


Zain sudah besar. Pernyataan orang tentang status anak tiri sedikit banyak mempengaruhinya di saat - saat tertentu. Apalagi teman Zain ada juga yang mempunyai papa tiri. Zain sering mendengar cerita kalau kasih sayang kedua orangtuanya jauh berkurang saat dia mempunyai adik lagi.

__ADS_1


Rasa takut tidak mendapatkan kasih sayang yang sama itulah yang tidak diinginkan oleh Darren. Zain adalah anak pertamanya. Terlintas dipikirannya untuk menambah nama Mahendra di belakang nama Zain, tapi dia masih ragu membahasnya dengan Senja.


"Kasih sayang daddy tidak akan berkurang sedikitpun. Zain yang akan membantu daddy menjaga ma Nja dan adek - adek. Tidak ada yang boleh meragukan sayangnya daddy pada Zain." Darren semakin mengeratkan pelukannya.


"Thanks dad."


Senja menutup pintu kamarnya kembali dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Mendengar perbincangan Darren dan Zain, selalu membuat hatinya terenyuh. Senja merasa tertampar. Selama ini sikapnya sering kali tidak adil. Senja selalu membebani Zain untuk mengalah pada Dasen.


Darren yang manja dan terkesan tidak sabaran jika di dekat Senja, memang berbeda saat Darren menghadapi anak - anaknya. Darren seketika berubah menjadi bapak yang bijaksana dan sangat melindungi.


Zain dan Darren sama - sama tertidur lelap. Keduanya saling berpelukan.


Menjelang subuh, Senja kembali terbangun bersamaan dengan Chun. Keduanya kompak hanya mencuci muka dan menggosok gigi saja.


"Kak, Chun bangunin Om Al dulu! Sering kelewat kalau nggak dibangunin." pamit Chun. Senja mengangguk, dia pun akan membangunkan Darren dan Zain.


Saat membuka pintu kamarnya. Pemandangan yang membuat hati terenyuh pun masih terlihat. Darren masih memeluk Darren dengan erat. Tidur mereka begitu nyenyak.


"Ask...subuh yuk!" bisik Senja. "Zain, subuh sayang!" tambahnya. Bergantian mengguncang lengan suami dan anaknya.


Darren dan Zain sama - sama mengeliat dan menguap. Senja langsung menarik selimut keduanya.


"Ayo kita sholat subuh Zain! Kalau malas mandi tidak mengapa, Zain wudhlu saja. Masih ada dua puluh menit lagi sebelum adzan," ucap Senja.


"Iya ma." Zain menjawab sembari berjalan keluar pintu.


Darren buru - buru ke kamar mandi, saat keluar dari sana nafas dan wajahnya sudah segar. Dengan cekatan tangan Darren mengunci pintu kamarnya.


"Masih ada lima belas menit. Nggak usah dipanasin, ini sudah panas dari kemarin. Sisakan sepuluh menit buat mandi, sangat cukup." tangan Darren langsung menarik daster kimono yang dikenakan Senja. tangannya mencari tepian dala*an yang dipakai istrinya. Tidak butuh lama untuk menemukan.

__ADS_1


Sesuai rencana awal, Darren bekerja begitu cepat. Karena memang nafsu dan waktu sudah saling memburu. Hanya Darren yang mencapai klimaksnya kali ini. Seperti biasa, Senja tidak bisa jika terlalu cepat.


Inilah salah satu yang membuat Senja lebih suka berada di rumah sendiri jika terkena serangan fajar, rambut basah di pagi hari selalu menimbulkan tatapan yang menyelidik. Sedikit risih, tapi memilih untuk mengabaikan. Seperti prinsip Darren. Sedikit malu, banyak nekatnya kalau sudah kangen.


Selesai sholat subuh, Senja dan Darren berjalan - jalan keliling komplek bersama Zain. Kebiasaan baru yang ingin Senja jadikan rutinitas. Berjalan santai di pagi hari membuat pernafasannya lebih lega meski sedang hamil besar.


Sampai di rumah, sarapan pagi sudah menyambut. Tapi Senja menyiapkan mpasi untuk Dasen dulu. Sejak Dasen Mpasi, Senja baru akan makan setelah Dasen selesai makan. Kalau tidak benar - benar repot, Dasen tidak mungkin disuapi Wati.


Pagi yang menyenangkan Hutama. Apa lagi yang dibutuhkan orangtua seperti dirinya selain waktu dan kebersamaan bersama keluarga. Hidup Hutama terasa begitu lengkap dan sempurna. Meski keramaian ini hanya sesaat. Nanti sore rumah akan kembali sepi. Hanya ada dirinya, Mahendra dan Sarita.


"Obatnya diminum dulu opa!" Senja memberikan tiga butir kapsul sekaligus pada Hutama.


"Terimakasih Nja." opa menerima kapsul lalu mengambil gelas yang ada di atas meja. Memasukkan tiga kapsul sekaligus kedalam mulutnya, lalu meneguk habis air putih di dalam gelas.


"Opa mau dipijitin?" tawar Senja.


"Tentu saja tidak mau. Masak yang mijitin perutnya sebesar itu."


"Tentu saja Darren yang akan memijat opa," sambar Darren yang ikut saja ke mana Senja pergi.


Belum sempat Hutama menjawab. Sarita datang setengah terburu - buru. Wajahnya antara kesal dan tidak enak.


"Kenapa ma?" tanya Senja.


"Eomma mu telepon mama, acara tujuh bulanan tidak mau di gelar sederhana. Acaramu digelar bersamaan dengan acara tiga bulanan Chun Cha." Sarita terlihat sedikit kesal.


"Eomma selalu seenaknya sendiri. Kita ada ulang tahun perusahaan juga." Senja langsung mengambil ponselnya. Darren menggelengkan kepalanya, mengambil ponsel istrinya.


"Nggak usah, nanti dikira mama ngadu. Kita tunggu sampai eomma menghubungi kita sendiri," kata Darren.

__ADS_1


"Nja, mama ini bukannya sayang sama uangnya. Bukan. Tapi kehamilanmu sudah makin besar. Ingat kan dokter bilang apa? jangan kecapekan. Kondisimu berbeda dengan Chun. Kamu bahkan akan melahirkan lebih cepat dari waktu normal. Mama cuman khawatir." Sarita mengatakan dengan emosi yang sedikit ditekan.


Senja merasa tidak enak, eomma seringkali ikut campur dan ingin selalu dominan. Sarita sudah banyak mengalah. Saat Darren selalu disalahkan, Sarita pun mencoba diam dan tidak ikut membela anaknya.


__ADS_2