Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Ancaman Darren


__ADS_3

Sidang keputusan kasus perdata gugatan hutang piutang yang diajukan Senja baru saja dibacakan. Majelis hakim memutuskan Angelica wajib mengembalikan senilai uang yang dipinjam tanpa bunga atau tambahan dalam kurun waktu maksimal tiga puluh hari ke depan, jika putusan itu dilanggar kasus bisa dinaikkan menjadi kasus pidana dengan ancaman hukuman maksimal 12 bulan.


Senja langsung menerima putusan tanpa berniat mengajukan banding, cukup sudah tenaga dan waktunya terbuang sia - sia karena urusan Angelica.


Angelica yang hadir dan ditemani Malito ternyata sengaja mengundang beberapa awak media untuk memojokkan Darren dan Senja. Seolah ingin membentuk opini publik bahwa ceo Mahendra melakukan affairs dengan Angelica, pemberian uang itu akhirnya dianggap hutang setelah diketahui istrinya. Angelica memang benar - benar ular.


Senja dengan santai membiarkan wartawan terus melontarkan berbagai pertanyaan berbalut tudingan yang tentunya sudah dipesan oleh Angelica.


Darren sebenarnya sudah tidak sabar, dia tidak pernah suka wajahnya dimuat di media selain karena urusan prestasi bisnis. Meskipun Senja brand ambasador susu ibu hamil terkenal dan Dasen juga membintangi iklan produk bayi, bagi Darren privasi tetaplah nomer satu.


Wartawan terus mencecar Darren dan Senja. Mereka tidak membuka akses jalan sedikitpun untuk Senja dan Darren berjalan bebas mendekati mobil yang dikendarai Rudi.


"Boleh mundur sedikit nggak? Kalau kalian mau kami menjawab pertanyaan kalian, beri kami ruang yang lebih bebas," ucap Senja, akhirnya.


Wartawan pun nurut - nurut saja. Mereka berjumlah lima belas orang. Entah mereka dibayar berapa per orang, hingga begitu saja mengabaikan Angelica sebagai pihak yang sudah di vonis bersalah malah melenggang begitu saja.


"Oke ... Saya langsung saja ya, Mohon maaf sebelumnya saya di sini tidak mengadakan tanya jawab. Saya hanya menggunakan hak saya untuk membela dan menjaga nama baik Mahendra. Pertama tidak benar jika suami saya ada Affairs dengan saudari Angelica. Kami tidak punya bukti dan tidak ingin membuktikan apapun untuk ini. Minta saja pada yang memberikan info pada kalian." Senja menjeda bicaranya sebentar, meneguk air mineral di bitel yang digenggamnya. Darren mengarahkan kipas usb yang di genggamnya ke leher istrinya untuk mengurangi rasa gerah.


"Yang kedua, dari awal saya tahu suami saya meminjamkan uang pada Angelica. Kami sudah sepakat kalau permasalahan di sini sama sekali bukan cemburu atau perselingkuhan. Saya bukan tipe pencemburu yang membabi buta. Untuk statement yang ini, saya juga tidak berminat memberikan pembuktian. Kami tidak hidup dengan penilaian orang - orang yang tidak paham kami. Kami tidak khawatir sama sekali dengan citra buruk yang akan dibentuk oleh siapapun. Termasuk oleh kalian! Sebelum kalian menulis berita tentang kami, pastikan sumber dan beritanya bisa dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Kalian tahu persis sedang berurusan dengan siapa." Senja melepas kaca mata hitam yang sedari tadi dipakai untuk menghindari dari silaunya matahari.


"Kekuasaan kami bisa sangat tidak terbatas. Uang kami bisa memudahkan apapun. Tapi dari kasus ini, harusnya kalian bisa menilai. Uang yang dianggap kecil oleh orang lain saja tetap kami permasalahkan. Apalagi jika menyangkut dan mengusik keluarga kami. Kami bukan orang kejam yang menggunakan kuasa semena - mena. Kami sampai di pengadilan ini sekarang, meskipun kami tahu cara kotor pun bisa kami lakukan sekejap mata." Darren turut menambahkan dengan lebih lugas dan tegas. Sorot matanya dingin, tajam menghunus. Perlahan para awak media suruhan Angelica itu membuka jalan. Menyadari mereka berada di pihak yang salah.


Darren dan Senja memutuskan untuk menemui Angelica dan Malito, kali ini benar - benar bukan soal uang. Mereka untuk terakhir kalinya, harus tahu siapa yang sedang mereka hadapi.


Sampai di rumah Malito, wajah Darren lebih keras dari sebelumnya. Kesabarannya juga sudah habis. Tidak peduli lagi sebaik apa dulunya hubungan Mahendra dan Malito.

__ADS_1


Malito dan Angelica menyambut keduanya tanpa rasa malu. Memang dunia terbalik, yang berhutang lebih angkuh daripada yang menghutangi.


"Kami tidak perlu sambutan kalian yang sok ramah. Untuk masalah hutang, kami mengikuti putusan pengadilan. Tapi kami tidak akan membiarkan kalian yang mengundang wartawan sepihak dengan tujuan licik," tegas Darren, penuh penekanan dan tajam.


"Jangan menuduh sembarangan kamu Darr! jika tidak ada bukti jatuhnya fitnah," tukas Malito.


"Kalau ada bukti berarti Fakta bukan?" Ali tiba - tiba muncul mengacungkan ponselnya. Lalu menekan tombol play di fitur voice record.


Semua yang berada di sana sama - sama mendengar suara lantang Angelica dan Malito saat memberi arahan pada awak media bayaran. Bahkan mereka dibayar berapa per orang pun jelas.


Malito dan Angelica tidak bisa lagi berkelit. Keduanya seperti salah langkah dan terperangkap dalam rasa malu dan kekhawatiran yang nyata.


"Kami tidak akan mengotori tangan kami untuk membuat kalian menangggung perbuatan bodoh yang baru saja kalian lakukan. Tapi pegang kata - kata Darren Mahendra. Jika kalian sanggup membayar hutang kalian dalam sebulan ini, aku bahkan akan memberi dua kali lipatnya pada kalian. Tapi akan aku pastikan, jangankan untuk membayar hutang, untuk tinggal di rumah ini pun kalian tidak akan sanggup lagi. Ingat itu baik - baik!" ancam Darren.


Darren dan Senja melangkah meninggalkan Angelica beserta Malito begitu saja. Ali memang datang tepat pada waktunya, tepat pula untuk meminta maaf pada istri bosnya itu.


Mobil Ali terus mengikuti mobil yang dikendarai sopir tertabah di dunia. Siapa lagi kalau bukan Rudi Munaji. Ternyata kedua pasangan dengan julukan Pak bos hot dan Bu bos hot itu kembali ke kediaman mereka.


Ali segera berlari menyusul Senja dan Darren yang turun tepat di pintu utama. Sedangkan Ali turun jauh di halaman parkir tamu.


"Bu Senja!" panggil Ali dengan nafas swtengah ngos - ngisan.


"Iya Al," jawab Senja.


"Boleh saya bicara sebentar saja sama Bu Senja?" tanya Ali, kali ini sangat hati - hati.

__ADS_1


"Tidak boleh," sahut Darren dengan ketus.


Senja mencubit lengan suaminya. "Boleh Al, masuk dulu yuk!"


"Jangan lama - lama! Jangan mentang - mentang sudah menjadi penolong kami pada hari ini, lalu kami akan memaafkanmu begitu saja." Darren sok masih marah pada Ali, padahal kalau di kantor mereka baik - baik saja, bahkan Ali lebih sering jadi OB lantai 36 ketimbang lobby.


Ali sudah langsung paham arah pembicaraan Darren.


"Silahkan, Al ... Mau ngomong apa kamu?" tanya Senja, tidak ketus seperti kemarin - kemarin.


"Begini bu, saya minta maaf masalah Angelica. Saya betul - betul menyesal. Sa ...." Kalimat Ali terhenti karena Senja sudah mengangkat satu telapak tangannya, pertanda menyuruh Ali untuk berhenti berbicara.


"Sudah jangan diteruskan lagi. Posisimu akan saya review lagi. Tunjukkan kamu pantas diandalkan dan dapat dipercaya. Besok aku mau ada pesta kebun untuk semua asisten rumah tangga di keluarga Mahendra, kamu harus mempersiapkan kebun belakang rumah menjadi luar biasa, dari dekor sampai catering, saya serahkan sama kamu. Aku tidak suka pesta dalam arti sebenarnya, buat konsepnya hangat dan penuh kekeluargaan. Cari MC yang bisa membangun suasana, saya mau ada game - gamenya." Senja memerintah dengan detail. Memang sangat cocok bersanding dengan ceo Mahendra corps.


"Serius kamu mau mengadakan besok, Ask?" tanya Darren tidak percaya.


"Tentu saja. Mereka bagian dari kita, Ask! Tanpa mereka bajumu tidak akan selicin ini, tanpa mereka kita tidak akan punya waktu berdua. Karena aku pasti sudah sangat sibuk dengan dapur dan cucian," seloroh Senja.


"Itu yang paling penting," timpal Darren seraya mencium bibir istrinya sekilas.


"Pak, ini masih ada saya lho," protes Ali.


"Itulah kenapa selalu ada bonus untuk kalian," tukas Darren.


Ali hanya bisa menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal. Sesaat kemudian, Ali segera berfikir untuk memulai dari mana untuk mewujudkan suasana pesta kebun besok?

__ADS_1


__ADS_2