Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Bonus Part 5


__ADS_3

"Kamu tunggu di ruanganku saja, Ken." Darren mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Senja. Tapi ponsel perempuan cantik itu sedang tidak aktif. Saat menghubungi Rudi, sambungan telepon driver setia istrinya itu malah sedang sibuk.


Beberapa kali usahanya untuk menghubungi tidak berhasil, Darren memutuskan untuk menyusul Kenzi. Dia harus menyelesaikan urusan pekerjaannya terlebih dahulu. Andai sudah. tidak terlanjur janji, pasti dia akan kabur begitu saja.


Sementara itu, Senja sedang sangat serius berbicara dengan wali kelas dan kepala sekolah Dasen. Kenakalan yang dilakukan titisan Darren kali ini sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia merusak sepeda Brompton milik gadis yang diincarnya, hanya supaya bisa mengajak gadis itu pulang bersama.


Senja hanya bisa mengelus dada. Kelakuan Dasen sungguh mirip dengan Daddynya sewaktu sekolah. Sarita juga sering keluar masuk ruang kepala sekolah seperti sekarang.


Kini Senja hanya menunggu orangtua gadis itu datang, meminta maaf dan pastinya harus mengeluarkan uang puluhan juta untuk mengganti sepeda mahal yang dibuat Dasen ringsek.


Lima belas menit menunggu, papa dari si gadis itupun datang. Senja langsung mengulurkan tangan dan meminta maaf atas nama Dasen dan sebagai orangtua.


Laki-laki yang tadinya ingin marah dan menuntut orangtua anak yang berani menggoda anak semata wayangnya itu, mendadak ramah begitu melihat Senja. Statusnya sebagai duda jarang dibelai membuatnya bereaksi saat melihat yang sedap-sedap.


"Ini hanya kenakalan anak-anak biasa, Pak. Mereka masih masa pencarian identitas. Jadi wajar mereka seperti itu. Tidak perlu skorsing, karena sama sekali bukan kriminal. Sepertinya ini lebih ke masalah anak muda. Untuk ganti rugi biar saya bicarakan secara pribadi dengan Bu Senja." Laki-laki seumuran Darren itu berusaha menarik simpati Senja.


Kepala Sekolah dan Waki Kelas Dasen pun akhirnya membebaskan Dasen dari skorsing dengan beberapa catatan. Senja merasa sangat lega.


Sesuai kesepakatan, kini Senja dan papa gadis itu akan melakukan pembicaraan sendiri untuk menentukan ganti rugi. Laki-laki itu pintar sekali memanfaatkan keadaan, dia meminta Senja untuk datang ke restaurant di samping kantornya, karena dia beralasan akan ada meeting penting. Jika melakukan pembicaraan di sekolah, laki-laki bernama Naka itu juga merasa tidak nyaman.


Dengan sangat terpaksa, Senja menurut saja. Perempuan itu berangkat ke restaurant bersama Rudi. Dia menolak halus ketika Naka menawari mereka agar satu mobil saja.


Jam makan siang yang sudah dekat, tentu saja membuat lalu lintas menjadi lebih padat. Naka tiba lebih awal dibanding Senja.


Perempuan cantik dengan dandanan sederhana yang elegant itu segera menghampiri meja di mana Naka berada.


"Silahkan pesan makanan dulu, Bu. Kita santai saja." Naka menyodorkan buku menu pada Senja.

__ADS_1


"Tidak! Terimakasih ... Saya pesan minuman saja." Senja menolak dengan sopan.


"Baiklah." Naka mengangkat satu tangan dan melambailkannya pelan untuk memanggil seorang waitres. Keduanya memesan minuman yang sama. Tentu saja karena Naka mengikuti pesanan Senja.


"Jadi saya harus mengganti berapa, Pak? atau bapak sebutkan saja seri sepedanya, biar nanti saya carikan barangnya. Limited edition bukan?" Senja langsung ke pokok pembicaraan, karena masih banyak urusan yang harus dia lakukan.


"Owh ... Soal itu, sebentar ... Ibu ada nomer telepon, saya akan mengirim spesifikasi sepedanya pada Ibu, biar detail dan tidak keliru." Naka benar-benar pintar, jika dia menolak ganti ruginya, pasti modusnya akan langsung ketahuan. Lagi pula, dia melihat Senja bukan perempuan susah. Jelas perempuan di depannya ini sangat berada.


Senja menyebutkan nomer ponselnya tanpa berpikiran negatif.


"Tidak aktif?" Naka bertanya dengan heran, ketika melihat pesan yang dia kirim hanya centang satu abu-abu.


"Sedang low bat.," jawab Senja dengan enteng. Padahal dia memang sengaja mematikan ponsel, karena sedang ingin menghindari serangan pesan ataupun video call dari sang suami ketika dia keluar rumah sendirian.


Tapi saat ini, nasib baik memang tidak berpihak pada Senja. Saat dia sedang berbincang hangat dengan Naka mengenai sepeda dan kenakalan Dasen yang ternyata tidak sekali ini saja menjahili gadis bernama Titania itu di sekolah.


Darren, Kenzi, Ulfa, Rosi, Yanes, Amar dan Ali terlihat memasuki restaurant. Mereka ternyata juga akan makan siang di tempat yang sama.


"Kita duduk di sebelah sana, sepertinya lebih tenang. " Yanes menunjuk sisi yang agak jauh dari tempat Senja sekarang berada. Memperkecil kemungkinan Darren melihat istrinya bersama laki-laki lain adalah hal yang wajib dilakukan.


Senja yang awalnya hanya memesan minuman, akhirnya juga memilih makanan take away untuk di bawa ke rumah sakit. Karena teringat akan Zain yang pasti belum makan. Tentu saja hal itu memperpanjang pertemuannya dengan Naka. Dia belum menyadari bahaya apa yang akan terjadi akibat keteledorannya kali ini.


Darren segera mengambil duduk di sisi yang dipilihkan Yanes, bukan buku menu yang langsung diambil. Tapi, ponsel yang ada di dalam kantong celananya. Lagi-lagi mencoba menghubungi Senja, tapi tetap tidak ada perubahan. Ponsel istrinya tidak aktif.


Dia mencoba menghubungi Rudi. Driver itu rupanya sudah di briefing oleh Senja. Tapi sayang, istri Darren itu tidak memperhitungkan di mana keberadaan Ulfa.


Setelah menelpon Rudi, Darren semakin tidak tenang. Karena Rudi pun mulai berkhianat darinya dan memilih berada si pihak sang istri.

__ADS_1


"Lu, mau makan apa?" Kenzi menyodorkan buku menu pada Darren.


"Sebentar ... Gue apa saja. Biar dipilihin Yanes saja. Eh ... Ros, hari ini Senja tidak ada jadwal ke perusahaan kan?" Darren malah bertanya pada Rosa.


"Tidak ada, Pak." jawab Rosa dengan singkat.


Darren lupa menghubungi Chun Cha, bisa jadi istrinya itu sedang bersama istri Aleandro itu. Tapi telepon adik iparnya itu sedang di luar jangkauan juga.


"Chun Cha ada di kantor?" tanya Darren, kagi.


"Bu Chun, siang ini ada perjalanan ke Dubai pak. Urusan bisnis, tapi sekalian liburan keluarga." jelas Rosa.


Ali, Amar, Yanes dan Kenzi tau apa yang membuat Darren gelisah. Padahal sudah belasan tahun menikah, tapi gaya suami Senja itu seolah pengantin baru. Inginnya selalu bersama, minimal tahu di mana, sedang apa dan bersama siapa.


Keempat laki-laki itu kompak saling melempar pandang meski sekilas. Harapan mereka, Senja segera beranjak dari tempatnya. Mereka masih yakin, kalau Senja tidak sedang berselingkuh. Meski Kenzi tahu yang bersama istri sahabatnya saat ini adalah Naka. Rekan bisnis Darren dan dirinya yang berstatus duda.


Ulfa berdiri, ingin pergi ke toilet. Dia mencari arah petunjuk toilet. Tapi matanya malah melihat sesuatu yang mengejutkannya.


"Baru tahu kalau namanya Ulfa itu ada yang cowok juga," gumam Ulfa, terdengar oleh yang lain.


"Ya pasti cewek, Ul." sahut Darren, terlalu heran dengan kekonyolan ulfa.


"Bukannya bu Senja tadi pamit sama Bapak bertemu dengan Ulfa. Nah ... itu bu Senja. Yang di depannya pasti pak Ulfa." istri Kenzi itu menunjuk tempat Senja berada.


Ali, Amar, Kenzi dan Yanes kompak menepok jidat.


Raut wajah Darren seketika seperti kepiting rebus. Tatapan matanya tajam layaknya belati yang baru saja diasah. Yang lain saling merapat satu sama lain, berharap ledakan terjadi di rumah mereka saja.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Bonchap, hanya sisa 1 lagi ya. Insya Allah di up besok sekalian publish judul baru. terimakasih ....


__ADS_2