
Waktu yang di tunggu - tunggu keluarga Arham dan keluarga Mahendra pun tinggal menghitung jam saja. Besok, Senja akan melakukan persalinan dengan cara operasi cesar untuk kelahiran baby twinsnya.
Kali ini Senja memilih menggunakan metode operasi cesar terbaru. ERACS atau Enhanced Recovery After Cesarean Section merupakan teknik operasi yang bisa dilakukan pada persalinan cesar dengan minim rasa sakit dan pemulihan lebih cepat.
Darren dan Senja langsung mengiyakan tanpa berfikir panjang saat Dokter Nuke menyarankan untuk memakai metode tersebut. Darren memang sangat tidak tega kalau melihat Senja kesakitan. Istrinya hanya flu biasa saja, hebohnya sudah sampai ke mana - mana.
Meskipun tindakan operasi masih dilakukan besok, tapi Senja memutuskan untuk datang ke rumah sakit malam ini. Karena ingin mempersiapkan semuanya dengan lebih sempurna.
Sebelum pergi ke rumah sakit, Senja dan Darren menyempatkan diri mampir ke rumah Hutama terlebih dahulu. Selain untuk menitipkan Dasen dan Zain agar tetap ada pengawasan anggota keluarga meskipun bersama baby sister, Senja juga ingin meminta doa dari Hutama agar semua proses persalinan berjalan dengan lancar.
Sesampai di rumah Hutama, di sana juga sudah ada Chun Cha dan Aleandro.
"Zain, sama mami Chun saja ya? sekolahnya bisa bareng sama papi Al." tanya Chun sembari merangkul Zain.
Sejak beberapa bulan yang lalu Chun memang meminta anak - anak Senja memanggil dirinya dan Aleandro dengan sebutan mami papi. Biar kekeluargaan dan keakraban semakin kental menurutnya.
"Iya, mi."
Senja dan Darren berjalan menuju kamar Hutama. Beberapa hari setelah acara untuk para asisten rumah tangga keluarga Mahendra digelar, kondisi Hutama sedikit drop. Tidak banyak makanan yang bisa tertelan dan masuk ke dalam tubuh Hutama.
Perawat bersamaan dengan Darren dan Senja sampai di depan pintu kamar Hutama. Perawat itu membawa makanan untuk makan siang opa dari Darren Mahendra itu.
__ADS_1
"Biar saya saja mbak sus," pinta Senja dengan sopan.
Perawat itu memberikan nampan berisi semangkok bubur daging yang di blender halus dan segelas air hangat di campur madu.
"Siang, Opa ... Makan siangnya disuapin Senja ya?" Senja meletakkan nampan di atas nakas, lalu mencium punggung tangan dan pipi kiri kanan Hutama. Darren pun melakukan hal yang sama.
"Kok ke sini? Bukannya besok sudah mau operasi ya? kok malah keluyuran. Harusnya siap -siap di rumah sakit, biar kondisinya fit." Hutama terlihat khawatir. Kelahiran Dasen memang membekas di hati semua keluarga. Membuat semua sudah parno duluan saat Senja akan operasi lagi.
"Ya harus ke sini dulu dong. Mau tengok opa buyut sekalian mau didoain. Sekarang, Senja suapin dulu ya?" tanya Senja seraya mengambil mangkok bubur.
Darren membantu Hutama untuk bersandar. Senja perlahan memberikan suapan demi suapan, tanpa suara. Baik Senja maupun Darren tidak berani mengajak Hutama berbicara, karena takut membuat opanya itu tersedak dan muntah.
Hampir tiga puluh menit semangkok bubur cair itu akhirnya berhasil masuk seluruhnya tanpa sisa. Setengah gelas air putih bercampur madu pun sukses diminum oleh Hutama.
"Opa mau Darr gendong?" canda Darren.
"Kamu kira opa ini Zain. Opa masih kuat kalau jalan, nikah lagi pun opa masih sanggup. Tapi tidak ada yang sehebat omamu lagi di dunia ini. Jadi opa berharap besok atau lusa ketika jiwa sudah terlepas dari raga, Opa bisa bertemu kembali dengan Oma," tutur Hutama.
"Opa pasti akan bertemu dengan Oma, tapi bukan besok atau lusa. Opa harus melihat anak - anak Darr dan Senja tumbuh menjadi orang hebat dan berguna." Darren mengamit lengan opanya dan menemani langkah pelan dan hati - hati Hutama.
"Itu terlalu lama Darr. Kamu pikir hidup terlalu lama itu enak, tidak Darr. Jenuh, nggak enak hati dan takut. Jenuh karena tidak ada teman, dua puluh empat jam sepertinya adalah kehidupan normal yang opa lalui bersama omamu dulu, setelah omamu pergi, rasanya opa hanya mempunyai separuhnya. Bagi orang lain bumi masih mengelilingi matahari seperti sebelumnya, tapi bagi opa sudah tidak lagi sama. Bumi ini rasanya bergerak terlalu lamban, dunia opa adalah oma." Hutama duduk di sofa panjang berada di antara Darren dan Senja.
__ADS_1
"Oma sangat beruntung bersuamikan Opa. Semoga ada laki - laki yang mencintai Senja sebesar cinta Opa pada Oma." Antara berharap dan menyindir memang beda tipis.
"Tidak! Opa yang beruntung mendapatkan Oma. Opa ini laki - laki brengs**ek yang gemar sekali memainkan perasaan dan fisik perempuan. Tapi Oma menerima Opa tanpa syarat, selalu menghadapi Opa yang tempramental dengan senyuman. Melihat kamu, Opa seperti melihat Omamu, Sabar dan tegas dengan porsi yang pas. Kadang sedikit aneh. Tapi entah kenapa keanehan - keanehan yang dilakukannya malah membawa begitu banyak kebahagiaan." Hutama bercerita dengan semangat.
"Melihat Opa yang sekarang, sungguh membuat Darren berharap Tuhan mengambil nyawa Darren terlebih dahulu. Darren tidak akan sanggup menjalani hidup tanpa Senja. Nanti saat usia Darren lima puluh lima tahun, Darren berharap sudah tidak lagi mengurus perusahaan. Darren ingin menikmati hidup berdua lebih lama dengan Senja," harap Darren, matanya beralih memandang wajah istrinya yang begitu penuh cinta.
Senja terdiam, kehadiran Darren secara nyata juga merubah sikap dan tingkah lakunya. Darren pun merupakan dunia baginya. Meskipun geraknya menjadi sangat terbatas.
Hutama mengelus perut Senja, matanya terlihat berkaca -.kaca. "Lancar ya lahirannya, jaga buyut - buyut Opa dengan baik. Ingat kali ini nama belakangnya adalah Hutama."
Senja mengangguk mantap. Darren tersenyum begitu bahagia. Dengan kehadiran Senja, memberikan kebahagiaan pada Opa, mama dan papanya menjadi begitu mudah.
"Terimakasih, Opa. Semoga Opa juga sehat - sehat. Bisa terus ikut mengawasi buyut - buyutnya Opa."
Hutama hanya tersenyum mendengar doa yang diucapkan Senja. Bahkan dia sendiri berdoa agar segera dipanggil pulang oleh sang pencipta. Jiwanya masih ingin, tapi raganya sudah lelah. Hutama sudah tidak bisa lagi merasakan makan dengan enak, bergerak sedikit sudah lelah.
"Jangan lupa membuka amplop pemberian Opa setelah kalian pulang dari rumah sakit. Darr ... Anakmu semakin bertambah, bukan cuma tanggung jawabmu yang bertambah, tapi akan banyak kebiasaanmu yang tidak bisa kamu lakukan. Jangan menuntut terlalu banyak pada istrimu, mengurus anak itu tidak mudah. Jika dia sedikit mengabaikanmu karena anak - anak, kamu jangan sampai mencari pelarian di luar. Gantian kamu yang harus memperhatikan istrimu lebih sekarang." Hutama menasehati Darren, tapi tangannya terus mengelus perut Senja. Seperti enggan beralih dari sana.
"Akan selalu Darren ingat, Opa," ucap Darren.
"Bolehkah Senja tidur di pangkuan Opa? Sebentar saja?" tanya Senja tiba - tiba.
__ADS_1
Hutama hanya menjawab dengan menepuk kedua pahanya. Darren memicingkan matanya, sedikit merasa heran. Karena Senja tidak pernah meminta hal seaneh itu pada Hutama.