
Mata Darren sedikit terbuka melihat istrinya diam tak bergerak. Dengan sedikit kekuatan, Darren berusaha bangun, Kepalanya semakin berat melihat darah segar mengalir di sela - sela paha Senja.
Belum sampai terbangun sempurna, langit di sekelilingnya menghitam. Darren pun kembali terkulai tak sadarkan diri.
Beberapa orang segera membawa tubuh keduanya ke dalam klinik. Di tempat yang sama keduanya diperiksa. Karena keterbatasan alat, keduanya di bawa ke rumah sakit besar terdekat.
Senja diam tidak berkutik. Tubuhnya terkulai, sementara dokter di sampingnya terus berusaha memastikan kondisi Senja dan bayinya bisa stabil.
Dokter memasang selang oksigen di hidung Darren.Karena tingkat kesadarannya semakin menurun.
Sesampainya di rumah sakit besar, keduanya terpisah ruangan. Senja di usg 4 dimensi untuk mengetahui kondisi terkini bayinya. Sementara Darren dengan kesadaran menurun tetap meracau menyebut nama Senja.
Mahendra, Sarita, Aleandro dan Chun Cha tergesa - gesa mencari ruangan di mana Darren dan Senja di rawat.
Ruangan di mana Darren berada sudah ditemukan. Dokter pun keluar dari ruangan bersamaan dengan kedatangan mereka berempat.
" Bagaimana kondisi anak saya dok ? " tanya Sarita, tidak sabar.
" Untuk saat ini pasien masih tidak sadarkan diri bu, kami masih menunggu hasil CT Scan dan MRI. Semoga tidak ada yang serius. Untuk hasilnya baru akan keluar besok, semoga pasien segera sadar. Untuk organ vital lainnya bekerja dengan baik. Tidak ada masalah " jelas dokter, sedikit membuat lega tapi juga masih banyak khawatirnya.
" Senja...Chun cari Senja di mana ? " ucap Sarita begitu teringat Senja.
" Kak Sarita dan kak Mahen di sini dulu. Al dan Chun yang cari "ucap Aleandro.
Aleandro dan Chun berlari menuju ruangan yang ditunjukkan oleh perawat di mana Senja berada.
" Keluarga ibu Senja ? " tanya perawat, begitu melihat Chun Cha dan Aleandro seperti sedang cemas dan bingung.
" Iya sus, saya kakaknya " sahut Aleandro cepat.
__ADS_1
" Silahkan ikuti saya pak, dokter ingin menyampaikan hal yang penting " ucap Suster bertubuh gemuk dan berambut keriting itu.
" Bagaimana keadaan adik saya dok ? " tanya Aleandro tanpa basa basi begitu sampai di dalam ruangan dokter.
" Kami harus segera melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Hanya saja dengan kondisi seperti saat ini. Kemungkinan bu Senja mengalami pendarahan pospartum karena cedera atau trauma akibat benturan. Pendarahan yang dimaksud adalah pendarahan secara berlebihan pasca melahirkan melalui jalan lahir. Golongan darah bu Senja AB - . Kami tidak mempunyai stock banyak. Harus ada keluarga atau orang yang bersedia mendonorkan " jelas dokter.
Aleandro menoleh pada Chun, sebagai sodara seayah kemungkinan kesamaan golongan darah tentu sangat besar.
" Saya AB- dok, saya adiknya. Saya bersedia " ucap Chun Cha cepat.
" Baiklah kalau begitu kami akan menjalankan prosedur operasi, karena kondiasi yang mendesak kami akan melakukan bius total " tambah Dokter lagi sambil menyodorkan surat persetujuan melakukan tindakan. Aleandro segera menandatanganinya.
" Baiklah silahkan tunggu di luar ruangan, Sus segera pasang kateter, pindahkan pasien ke ruangan operasi. Jangan lupa anastesi total " ucap Dokter.
Chun Cha mengikuti salah seorang perawat untuk di ambil darahnya.
" Om, tolong kabari Appa dan Eomma, Jangan sanpai menyalahkan Chun karena kita tidak memberitahu kejadian sebesar ini " ucap Chun Cha sebelum masuk ke ruangan bersama suster.
" Gimana Al ? Di mana Senja ? " Sarita bertanya dengan tidak sabar sebelum Aleandro sampai di depannya.
" Senja akan di operasi caesar ma, Chun sedang mendonorkan darahnya. Karena pendarahannya lumayan dan dikhawatirkan setelah operasi akan mengalami pendarahan yang lebih hebat lagi " jelas Aleandro lirih.
" Al, bagaimana Zain Al ? apa dia tahu mama dan Daddynya mengalami kecelakaan ? kasihan anak itu Al. Setelah ini kalian pulanglah. Menemani Zain " ucap Sarita.
" Iya kak, setelah Senja selesai operasi caesarnya " jawab Aleandro.
Aleandro, Sarita dan Mahendra bergeser menunggu di depan ruang operasi. Ketiganya sama - sama cemas. Beberapa saat kemudian, Chun Cha kembali bergabung dengan yang lain menunggu Senja dengan tatapan sendu.
Hampir satu jam berlalu, suster datang membawa kabar bahagia di tengah duka. Suster meminta salah satu di antara laki - laki di sana untuk mengadzani bayi mungil tampan dengan berat badan 3,5kg dan panjang 52cm.
__ADS_1
Mahendra mengikuti suster untuk mengadzani cucu pertamanya. Air mata jatuh begitu saja membasahi pipi Mahendra. Rasa haru karepna pada akhirnya putra satu - satunya memberikan cucu dari perempuan yang sangat dicintainya. Sedih karena cucunya terlahir disaat kedua orangtuanya sama - sama sedang tidak sadarkan diri.
Persiapan maksimal dan sempurna yang dilakukan Darren ternyata sia - sia. Manusia memang sarat akan rencana, tapi tetap Tuhan yang menentukan. Siapa yang bisa menperkirakan dan menolak maut. Tidak ada seorangpun.
" Kamu akan tumbuh menjadi anak yang hebat sayang. Laki - laki kebanggaan keluarga. Bersabarlah, Mama dan Daddymu pasti akan segera memelukmu " bisik Mahendra setelah mengadzaninya.
" Mohon maaf pak, bisa saya taruh di box lagi ? mungkin yang lain mau melihat babynya ? gpp kok pak di suruh gantian saja " ucap Perawat dengan sopan dan ramah.
Mahendra segera keluar dari sana. Tidak disangka mempunyai cucu jadi sentimentil seperti ini.
" Mama boleh lihat bayinya sekarang. Mama seperti melihat Darren waktu bayi, sekarang papa akan menemui Darren dulu " ucap Mahendra mengusap kasar wajahnya.
" Iya pa...Al.. Chun...Pulanglah, mama takut Zain memaksa ke sini. Zain tidak seperti anak kecil lain yang mudah kita beri alasan - alasan. Emosinya harus terjaga, dia baru saja pulih " Sarita tetap masih memikirkan Zain.
" Iya Kak, kabari Al kalau ada perkembangan apapun dari Senja dan Darren. Orangtua Senja juga akan datang " ucap Aleandro.
Kemudian semua berpencar ke tujuan masing - masing. Aleandro dan Chun Cha pulang, Mahendra menemui Darren, sedangkan Sarita menemui cucu tampannya.
Darren masih belum sadarkan diri. Tidak ada luka berarti di badan bagian luarnya, hanya sedikit lecet di pelipis dan siku sebelah kanan. Tapi entah apa yang membuat Darren belum sadarkan diri sampai sekarang.
" Selamat Darr, akhirnya kelelakianmu sudah terbukti 100%, anakmu sudah lahir. Dia sangat tampan Darr, persis kamu waktu bayi. Bangunlah, dia ingin bertemu Daddynya " bisik Mahendra tepat di telinga Darren.
Mahendra menarik nafas dalam. Berharap putra dan menantunya segera bangun.
"Darr, kembalilah. Jangan kemana - mana. Jangan berdua bersama Senja di mimpi yang tidak bisa kami masuki. Kasihan anak - anak kalian. Jangan membuat papa takut Darr. Kamu tidak pernah selemah ini. Papa juga tidak suka anak laki - laki yang lemah. Lihatlah, tubuhmu hanya lecet. Jangan cengeng Darr. Pulang, kembali, ajak Senja. Papa benci harus melihat kalian setidak berdaya ini " tambah Mahendra lagi.
Sudut mata Darren mengeluarkan air mata, jemarinya bergerak. Mahendra tersenyum.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1
Yuk mampir ke novel othor yang baru. Nggak sweet tapi bakalan nguras emosi luar biasa.
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Ku Dengannya Kau Dengan Dia, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/fictionsWatch?id\=4947079&\_language\=id&\_app\_id\=2