
Hari ini ,hari pertama Senja akan memulai pekerjaannya di perusahaan trading milik Darren.
Sarita, Deandra dan Aleandro sudah kembali ke Indonesia sejak kemarin. Sementara Darren masih berada di negara S. Tapi tentu saja dia menginap di apartemennya sendiri. Sangat tidak mungkin dua orang saling membenci berada dalam satu apartemen. Bisa-bisa cerita benci jadi cinta akan terjadi lebih cepat dari dugaan Sarita.
Sesampainya di gedung perkantoran, Senja langsung menemui bagian HRD untuk menanyakan Job Desk dan posisinya di kantor Darren.
Staf HRD tidak langsung menjawab, tapi malah mengantar Senja langsung ke dalam ruangan CEO. Tentu saja ruangan itu pasti milik Darren. Meskipun Darren hanya sesekali dalam sebulan mengunjungi kantor nya di negara S, tetap saja dia mempunyai ruangan khusus yang sangat mewah di sana.
Saat tiba di ruangan tersebut, Senja dapat melihat dengan jelas Darren sedang melihatnya dengan wajah angkuh dan licik. Laki-laki itu memberi isyarat agar staf yang tadi mengantar Senja untuk keluar dari ruangannya.
Setelah memastikan staf tersebut keluar dan menutup kembali pintu ruangan, Derren berdiri dan berjalan mendekat ke arah Senja.
"Sudah siap bekerja di sini?" tanya Darren dengan tatapan yang benar - benar licik.
"Sudah pak," jawab Senja singkat.
"Bukan pak ... bukankah kamu pernah mengatakan kamu akan memanggilku tuan kalau aku membayarmu. Mulai sekarang akulah yang akan menggajimu. Jangan pura-pura tidak tahu mbak menjelang malam,"ucap Darren sinis.
"Bukan menjelang malam Tuan ... nama saya Senja," ralat Senja kesal.
"Sudahlah! Terserah aku ... aku bosnya di sini. Menjelang malam dan Senja artinya sama. Kamu jangan rewel, mulai sekarang menurut saja apa kataku. Aku tidak suka dibantah. Apalagi oleh pegawaiku."
"Baiklah Tuan! sekarang tolong katakan saja apa tugas saya. Saya ingin segera bekerja. Jangan sampai nanti saya di kira memakan gaji buta karena terlalu lama mendengar omongan Anda."
"Bagus! kamu cukup tau diri ternyata."
"Dan tugas saya adalah ...." Senja dengan tatapan kesal menunggu laki- laki angkuh di depannya itu untuk memberi tahu job desknya.
__ADS_1
"Tugasmu sangat sederhana. Selama ada kamu, semua divisi yang ingin menyampaikan sesuatu pada saya harus melalui kamu. Baru kemudian kamu menyampaikan ke saya apa permasalahan atau kepentingan mereka. Kalau benar-benar urgent, saya akan menyampaikan apa pemikiran saya secara langsung pada mereka. Tapi kalau tidak kamulah yang harus menyampaikannya kembali pada mereka. Sederhana bukan?" tanya Darren enteng.
"Ini bukan sederhana Tuan, tapi aneh. Dengan cara seperti itu kemungkinan miss komunikasi semakin tinggi. Saat mereka menyampaikan sesuatu, penafsiran saya dengan Tuan tentu berbeda. Saya mungkin bisa menyampaikan apa yang mereka ingin sampaikan dengan sesuai, tidak kurang dan tidak lebih. Tapi dengan tidak adanya tanggapan langsung, informasi yang diberikan bisa saja terbatas. Tentu saja ini sangat tidak efisien," ucap Senja sedikit ketus.
"Kamu sedang masa percobaan. Bersikaplah manis. Siapa tau aku benar-benar bisa menjadikanmu pegawaiku. Kamu harus tau, gaji pegawaiku di levelmu tiga kali lipat dari tempat Aunty Andra." Darren kembali menyombongkan diri.
"Maaf saya tidak tertarik Tuan. Saya lebih memilih kenyamanan saat bekerja. Selama gajinya masih masuk akal, saya tidak akan menolak asal job desk jelas," jawab Senja begitu santai.
"Baiklah mulailah bekerja! Aku akan ada di sini selama seminggu. Selama itu aku sendiri yang akan menilai kinerjamu. Sekarang keluarlah! Tanya sekretarisku di mana ruanganmu. Aku tidak suka berbicara di telpon, Kalau ada sesuatu langsung saja ke mari. Jangan lupa ketuk pintu, rapikan penampilanmu dan ingat jangan masuk ruanganku saat kamu bau keringat. Aku tidak mentorerir pegawai yang kurang memperhatikan penampilan. Aku memberikan gaji tiga kali lipat lebih tinggi dari standart yang ada di luaran. Jadi tidak ada alasan tidak ada uang untuk penampilan." Darren terus menyombongkan gaji karyawan perusahaannya yang tinggi.
"Baik Tuan! Saya paham ... Saya permisi," pamit Senja.
Tanpa menunggu jawaban Darren, Senja mempercepat langkahnya ke luar ruangan Darren. Lama-lama di sana hanya akan membuat level kewarasan Senja menurun.
Senja berjalan ke arah meja sekretaris Darren. Seorang perempuan cantik berwajah oriental, bertubuh tinggi langsing, terawat dan sangat wangi. Standart tentang penampilan ternyata memang benar-benar diperlakukan di sini.
Perempuan itu menyambut uluran tangan Senja, menjabatnya hangat sembari tersenyum.
[Lagi dan Lagi anggap saja dalam bahasa inggris ya .Senja lulusan sastra inggris kok jadi dia pinter banget bahasa inggrisnya.Author yang gak bisa .Daripada salah ,di indonesia kan saja y☺].
"Kimi ... senang berkenalan denganmu Senja. Mari saya tunjukkan ruanganmu. Kalau ada sesuatu yang kamu tidak mengerti. jangan segan untuk bertanya kepadaku," ucap Kimi sambil menarik lembut tangan Senja menuju ke ruangan di samping ruangannya.
"Ini ruanganmu Senja. Semoga kamu kerasan. Meskipun hanya tiga bulan. Jadikan pengalamanmu di sini menyenangkan," saran Kimi tulus.
"Tentu saja Kimi ... terimakasih ya."
"Sama - sama Senja. Semoga harimu menyenangkan. Banyakin sabar. Percayalah cobaan akan segera datang." Kimi tersenyum penuh misteri.
__ADS_1
Sekretaris itu meninggalkan Senja di ruangannya. Senja segera menyalakan laptop yang ada di di atas mejanya. Melihat data apa yang ada di dalam sana. Dia masih menunggu kira - kira cobaan apa yang di maksud kimi.
Seorang OB masuk ke ruangan Senja setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. "Miss, ini sudah waktunya Mr.Darren coffee break. Saya tadi sudah bertanya langsung. Tapi kata Mr.Darren harus melalui Miss dulu. Jadi tolong miss tanyakan Mr.Darren mau di siap kan apa untuk siang ini," ucap OB laki -laki berperawakan kecil tapi terlihat sangat terawat dan tampilannya sangat berbeda dari OB pada umumnya.
Lagi - lagi penampilan memang dominan di sini. Senja membandingkan OB di kantornya dengan OB yang dia lihat saat ini. Kalau di tempatnya, perbedaan cara penampilan staf dan OB sangat mencolok. Di kantor Darren ini, penampilan OB layaknya staf biasa, yang klimis dan wangi.
'Mungkin OB di sini di wajibkan mandi dan ganti baju tiap selesai melakukan tugasnya,' batin Senja.
"Baik pak. tunggu sebentar di sini ya ...." Senja segera menanggapi begitu sadar dari lamunan sesaatnya.
Senja berjalan menuju ruangan Darren. Setelah mengetuk pintu, dia segera masuk tanpa menunggu sahutan suara dari dalam.
"Permisi Tuan ... OB mengingatkan saya kalau Tuan waktunya Coffee Break. Apa yang harus disiapkan OB untuk Tuan?" tanya Senja tanpa ekspresi.
"Dengarkan dan perhatikan baik - baik. Aku tidak akan mengulang," ucap Darren.
Senja hanya mengangguk. Memaksimalkan pendengaran dan daya ingatnya. Mencoba fokus agar tidak membuat kesalahan sedikitpun.
"Aku ingin secangkir green tea tanpa gula suhunya harus tepat 80 derajat celsius. Sponge cake gluten free 3 slice, masing -masing slice memiliki panjang 4cm dan lebar 2cm. Potongan buah kiwi, melon dan pear. Masing -masing tidak boleh lebih atau kurang dari 10 potongan, tiap potongan harus sama sisi, dengan sisi 2cm. Dan yang terakhir 300ml jus wortel tanpa gula, beri saja tambahan madu sebanyak 1 sendok teh," pinta Darren panjang kali lebar kali tinggi.
Darren tersenyum licik. Membayangkan dia bisa menghukum Senja kali ini.
"Baik pak ,akan saya sampaikan pada OB," ucap Senja.
"Tidak perlu! hari ini kamu yang membuat semuanya.Tanya OB suruh mengantarmu ke pantry khusus, di sana semua sudah tersedia. Kamu tinggal pastikan setiap pesananku tidak salah dan tidak kurang satu pun. Kalau sampai ada yang salah, aku akan memberimu hukuman." Darren mengancam seenaknya.
Dengan wajah yang amat sangat kesal, Senja meninggalkan ruangan Darren. Bibirnya manyun beberapa senti.
__ADS_1
'Pekerjaan macam apa ini .Kak Andra dan Kak Al akan marah kalau tau aku diperlakukan seperti ini. Tapi aku tidak suka mengadu. Kita lihat saja siapa yang akan menerima hukuman kali ini,' batin Senja sangat kesal.