
"Ask...Tolong lihat Zain " pinta Senja.
Darren mendekati Zain, memberi kode pada mamanya untuk bertukar tempat dengannya.
"Zain kenapa sayang ? "tanya Darren.
"Zain pengen ketemu papa. Papa sudah sehat kan om ? Zain ketemu papa di mimpi. Papa diam saja, cuman senyum lihatin Zain. Pas Zain kejar papa malah menjauh " kata Zain, pandangannya kosong sama persis dengan pandangan Senja tadi.
"Papa Rafli sudah sehat sayang. Sudah nggak ngerasain sakit lagi. Sudah bahagia "jawab Darren diakhiri dengan helaan nafas berat.
"Pasti papa bahagia, Karena mama kemarin baik sama papa. Terimakasih ya om ngijinin mama Nja meluk papa " ucap Zain tulus.
"Sama - sama sayang. Terimakasih sudah jadi anak baiknya mama Nja. Zain janji denger apapun kata mama Nja ya, kita adalah laki - laki yang harus selalu membahagiakan mama Nja "ucap Darren.
"Karena mama Nja sakit ? dede bayinya gak sakit juga kan om ? " tanya Zain dengan polosnya.
"Mama Nja sehat sayang, dedenya juga sehat. Seperti papa, mama juga pengen Zain menyayangi mama sebesar Zain menyayangi papa " kata Darren.
"Apa masih lama om ? Zain tidak sabar ketemu papa "ucap Zain wajahnya berseri - seri membayangkan wajah bahagia papanya seperti di mimpi.
__ADS_1
Darren mengusap wajahnya kasar. Hanya doa dan harapan yang bisa selipkan sekarang. Semoga Zain bisa berbesar hati menerima kepergian papanya.
"Nja, kamu kenapa ? Darren marahin kamu ? " tanya Sarita, melihat wajah Senja begitu sedih dan murung.
Senja menggeleng lemah lalu kembali menundukkan kepalanya. Menenggelamkan pikirannya pada kesedihan, Waktu begitu lama berjalan. Bahkan jarak Gorontalo Jakarta pun berasa ke belahan bumi lain.
"Nja, mama akan senang sekali jika kamu mau bercerita apapun sama mama. Tapi kalaupun kamu tidak mau, mama juga tidak mengapa. Kadang memang kita butuh waktu untuk sendiri. Tapi ingat, cepatlah kembali bersama yang lain. Bisa jadi mereka juga sedang bersedih , tapi mereka sedang pura - pura biasa saja demi kamu " ucap Sarita dan dijawab senyuman beserta anggukan oleh Senja.
Setelah merasa waktu begitu lama saat berada di udara, kini Senja justru merasa enggan beranjak. Bibirnya tertutup rapat. Dadanya terasa nyeri. Begitu gate keluar pesawat terbuka dan tangga diturunkan. Senja semakin ragu.
Darren mendorong kursi roda Senja ke sebuah vvip lounge di bandara, meninggalkan Senja dan Zain di sana.
"Zain, mama mau ngobrol sebentar sama Zain ya. Boleh kan ? " tanya Senja, bingung harus memulai dari mana.
"Zain setelah ini kita akan ketemu sama papa. Tapi Papa sudah tidur dengan tenang. Papa gak bisa ngajak kita bicara lagi seperti biasa . Zain papa sekarang sudah bahagia di pelukan Tuhan. Capek, sedih dan sakit yang papa rasakan sudah hilang "ucap Senja bersusah payah untuk terlihat tegar.
"Maksud mama, papa meninggal ? papa akan di masukkan ke tanah seperti Gabriel ? " tanya Zain menyebut nama temannya yang meninggal beberapa minggu yang lalu.
"Iya Zain seperti Gabriel "jawab Senja lirih.
__ADS_1
"Enggak, papa gak boleh meninggalkan Zain dulu. Papa mau anter Zain ke sekolah. Papa mau ngajak liburan ke disneyland. Masih banyak janji papa. Papa harus bangun .... papa harus bangun " Zain menolak menerima. Memundurkan langkah kakinya menjauhi Senja.
"Zain dengar mama. Tuhan tidak mungkin memberikan semua yang kita mau, karena Tuhan itu milik semua orang. Jika Tuhan sedang tidak memenuhi keinginan kita, mungkin Tuhan sedang memenuhi keinginan orang lain. Saat kita mendapatkan apa yang kita mau, bisa saja banyak orang lain yang menjadi sedih karenanya "ucap Senja seraya memajukan kursi rodanya sendiri. Sedikit kesulitan, karena infus yang masih terpasang benar - benar membatasi geraknya.
"Zain, apa Zain gak kasihan sama papa kalau Zain seperti ini. Papa saja tidurnya sambil senyum lho. Itu artinya papa sudah ikhlas. Zain anak baik. Zain bahkan mendengar sendiri kan dokternya papa bilang apa ? Zain mau papa kesakitan terus ? Zain tahu kan ? Zain pernah kan sakitnya bagaimana ? apa Zain tega papa merasakan sakitnya ? apa Zain seneng papa terus pura - pura sehat di depan Zain ? "suara Senja mulai bergetar, melihat reaksi Zain semakin meluluh lantahkan hatinya. Jika dulu dia hanya perlu menguatkan hatinya sendiri, kini ada Zain yang harus dia kuatkan.
"Zain tau ma. Tapi bukan begini yang Zain mau. Zain mau papa bahagia lebih lama, kemarin bahagianya papa cuman sebentar. Zain harusnya menemani papa, mama tau kan selama ini papa jarang ninggalin Zain. Saat papa bertemu mama kembali, papa sering ninggalin Zain. Kenapa mama selalu membuat Zain jauh sama papa ?" tanya Zain, tatapannya tajam tapi penuh kesedihan.
"Zain mau menyalahkan mama ? bukankah berkali - kali mama bilang, semua bukan kesalahan mama. Mama tidak pernah mau seperti ini. Papa juga sudah menjelaskan bukan ? Zain harus tahu papa akan sedih kalau Zain seperti ini. Ingat papa bilang Zain harus nurut sama siapa ? " tanya Senja dengan lembut.
"Sama mama sama om Darren " jawab Zain menundukkan kepalanya.
"Zain boleh sedih, Zain boleh nangis, Zain boleh marah. Tapi Zain tidak boleh menolak takdir. Papa sayang Zain, mama pun sayang Zain. Papa akan selalu ada di hati kita Zain. Papa orang baik, saat Zain dewasa nanti, Zain harus bisa lebih baik dari papa. Buat papa Zain bangga " Senja tak kuasa lagi menahan air matanya.
"Maafkan Zain ma. Zain hanya tidak mau kehilangan papa. Zain juga sayang mama " pinta Zain, air matanya pun turun deras.
"Peluk mama Zain, mama ingin Zain tau mama juga kehilangan papa. Tapi kita bisa apa Zain ? Setidaknya kita tahu papa tidak kesakitan lagi. Sekarang kita rawat papa untuk terakhir kalinya ya. papa harus antar papa sampai ke tempat peristirahatan terakhir papa. Zain boleh nangis, Zain boleh teriak, Zain boleh marah. Lepas apa yang Zain rasakan.Tapi nanti ya ,kita ketemu papa sekarang " ucap Senja, mengakhiri pembicaraan mereka dengan helaan nafas dalam.
Zain melambaikan tangannya pada Darren yang sejak tadi memperhatikan mereka dari luar. Kaca ruangan tembus pandang dari dua sisi membuat Darren leluasa memperhatikan apa yang dari tadi terjadi di dalam.
__ADS_1
Darren membuka pintu hendak mendorong kursi roda Senja tapi Zain menampik tangan Darren yang sudah ada di pegangan kursi roda.
"Jangan Om, biarkan hari ini mama milik papa dan Zain sepenuhnya. Biar Suster yang mendorong mama. Om, tunggu sampai papa dimakamkan " ucap Zain, layaknya orang yang sudah dewasa. Bibir Senja sudah terbuka hendak mengatakan sesuatu, tapi Darren mengisyaratkan untuk menuruti saja apa mau Zain.