Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Yanes & Rosa


__ADS_3

Menurut Sarita, Dasen tidak hanya mewarisi wajah dan sifat Darren, tapi sudah seperti titisan Darren. Pasalnya apa yang terjadi saat ini sungguh plek ketiplek dengan apa yang dialaminya dulu saat Darren masih kecil. Bayi itu tidak mau minum dari botol, tidak mau jauh - jauh dari mamanya, digendong orang lain pun paling lama tiga puluh menit sudah mencari mamanya lagi.


Darren merasa kasihan pada istrinya, jam tidurnya jadi berantakan. Senja hanya tidur sekilas lalu. Menurut Sarita kalau benar Dasen adalah titisan Darren, bayi itu akana mulai anteng saat usia sudah menginjak empat puluh hari.


" Ask, kok nggak enak ya pergi ke pesta sendirian. Seganteng dan sesempurna apapun hari ini, kok aku merasa nggak pd " ucap Darren sambil mengetatkan dasinya di leher, dengan satu tangan, Senja membantu meluruskan toxedo biru navy milik suaminya. Satu tangan lagi tentu masih menggendong Dasen yang tidak pernah lepas dari sumber pangannya.


" Ini nggak bisa ya dikasih dot karet saja ? Kayaknya itumu jadi lebih sering keluar dan terlihat sekarang. Dalam 24 jam kalau diakumulasikan mungkin hanya 6 jam yang tersimpan rapat. Nggak nyeri ? " tanya Darren, menunjuk buah dada Senja.


" Titisan Darren memang begini kata mama, aku sudah bisa membayangkan betapa pusingnya menghadapi Darren Dasen nanti, Kata mama kamu baru mau berhenti ngempeng gini pas usia tiga tahun " ucap Senja.


" Jadi tiga tahun ya aku ngalahnya ? belum lagi ntar disusul adiknya. Kayaknya aku harus mencari pegangan lain " ceplos Darren.


" Cari saja. Keluar dari kamar sekarang, nggak usah masuk - masuk sini lagi, bawa baju - bajumu juga. Ini rumah Senja kan. jadi kamu yang keluar bukan Senja " ucap Senja sewot, Darren terheran - heran.


" Loh, kok jadi begini. Sebentar - sebentar, salahku apa dan di mana ya Ask ? " tanya Darren heran.


" Katanya mau cari pegangan lain, ya sudah sana cari. Senja gemuk, perut nggak mulus, rambut sudah nggak pernah digerai, mata panda, sekarang ditambah lagi nggak bisa dipegang - pegang. Alasan sempurna untuk mencari perempuan lain " ucap Senja kesal.


Senja masih sensitif, lebih sensitif. Senja mengalami baby blues ringan. Tidak uring - uringan pada anak - anaknya, tapi lebih pada dirinya sendiri dan juga Darren. Senja lebih mudah cemburu dan minder. Masa kehamilan dulu anteng, tapi justru setelah melahirkan sifat Senja membingungkan bagi Darren.


" Bukan begitu Ask maksudnya, pegangannya masih di sekitar sini. Dari sini sampai sini semua aku suka, tinggal pilih kan mana yang di pegang enak, sepertinya ini cocok " ucap Darren sambil memegang ujung rambut lalu menyentuh paha dalam Senja dan berhenti di bokong sintal milik istrinya.

__ADS_1


" Alasan " kata Senja singkat.


" Ask, aku mencintaimu. Aku tidak mungkin menggantikanmu dengan yang lain, aku tidak akan pernah bosan mengatakan dan membuktikannya. Entah berapa sering lagi kamu akan meragukanku. Tapi jawabanku tetaplah sama. Pemilik hatiku tetaplah kamu. Kamu sudah menetap disini, jangan harap bisa pergi. Jika bukan kamu, siapa yang akan membuat hatiku sesehat ini ? " ucap Darren,menempelkan telapak tangan Senja di dadanya.


" Tentu saja Dokter " sahut Senja asal.


" Sudah, aku malas pergi kalau begini. Kamu tau, aku biasanya paling suka jika ada acara pesta seperti ini. Karena aku bisa memamerkan pada seluruh dunia bahwa Tuhan begitu baik padaku. Satu bidadarinya di turunkan untukku. Aku yang tidak terlalu baik, dipertemukan dengan dirimu yang baik. Kita ditakdirkan bersama. Meski dengan awal yang sedikit memaksa " Darren menatap lekat mata Senja. Mata itu tetap indah, selalu indah. Lingkar hitam di bawah matanya tidak sanggup menutupi kecantikan istrinya.


" Sementara kamu bisa memamerkan Zain dulu " ucap Senja enteng.


Darren melihat pantulan dirinya di cermin, mengakui pesona ketampanannya sendiri dalam hati. Sebentar lagi usianya tiga puluh tiga tahun, usia yang masih cukup muda dengan pencapaian kesuksesan seperti sekarang.


" Ganteng sekali anak mama Nja ini. Boleeh cium sedikit ? " tanya Senja, tangannya sudah mencubit gemas pipi Zain.


" Boleh dong ma " jawab Zain. Senja membungkukkan badan dan mencium pipi Zain lembut. Dalam hati Senja merasa Zain semakin mirip dengan Rafli wajahnya.


" Semoga kamu tenang di sana mas " batin Senja.


" Daddynya nggak ganteng ? terus nggak dicium ? " Darren mendekatkan pipinya, sebagai anak sulung. Dia sering mengalah akhir - akhir ini. Senja menenpelkan bibirnya di pipi Darren, menahannya lama lalu mengecup bertubi - tubi.


" Salam buat Yanes dan Rosa ya " ucap Senja.

__ADS_1


" Aku benar - benar malas pergi Ask, andai bukan Yanes dan Rosa aku memilih memandangimu saja di sini " Darren kembali menjatuhkan bokongnya di atas ranjang. Senja melirik jam di dinding kamarnya. Acara di mulai empat puluh lima menit lagi.


" Berangkatlah Ask, jangan membuat Yanes khawatir dengan ketidakhadiran bapaknya. Zain jaga daddy ya, kalau daddy genit Zain harus bilang mama. Jangan jauh - jauh dari daddy " ucap Senja.


Darren kembali berdiri dengan malas, apalah artinya ganteng dan keren kalau tidak ada Senja di sampingnya. Dengan sedikit paksaan lagi, akhirnya Darren dan Zain berangkat juga.


Kehadiran Darren dan Zain tentu saja langsung mendapatkan perhatian dari tamu yang datang. Dengan tampilannya saat ini, gelar hot daddy tersemat otomatis sekarang. Aleandro, Nando, Chun Cha dan baby De juga tampak sudah berada di sana. Meskipun tampan, Aleandro tidak terlalu banyak dilirik undangan perempuan karena ada Chun Cha di sisinya. Darren mengajak Zain bergabung dengan mereka dalam satu meja bundar tertutup kain merah marron.


Zain dud Nando, mereka sudah asyik bercanda. Zain sangat bisa menyesuaikan cara berkomunikasi dengan Nando.


" Kalian kapan menyusul " tanya Darren pada Chun Cha.


Chun Cha dan Aleandro saling pandang, lalu mereka tersenyum dengan senyuman yang sulit diterjemaahkan.


Seorang pihak WO mendekati Nandi dan mengajak Nando ikut dengannya. Acara akan segera dimulai.


Beberapa saat kemudian Yanes dan Rosa memasuki ruangan resepsi dengan Nando berada di tengah - tengah mereka sebagai penabur bunga tunggal. Iringan lagu beautifull in white memantapkan langkah kaki keduanya, Darren meringis menyadari tidak ada Senja disampingnya. Biasanya saat wedding entrance seperti ini, dia akan merengkuh pinggul istrinya dan membisikkan kata - kata manis yang berujung tindakan nyata sepulang resepsi.


Aura kebahagiaan dan keromantisan mempelai sukses merasuki hati Darren. Ingin rasanya dia cepat pulang sekarang, meskipun belum bisa lebih setidaknya satu ciuman hangat bisa mengantarnya dengan mudah memainkan busa di genggamannya dalam waktu singkat.


" Hai Darr, apa kabar kamu ? Kamu semakin tampan saja " seseorang menyapa dan langsung mencium pipi kiri kanan Darren tanpa permisi.

__ADS_1


__ADS_2