
Darren mengangkat tubuh ke kamar, Senja menanyakan pada pihak hotel adakah dokter di sekitar pulau. Sayangnya mereka harus kembali ke kota untuk mendapatkan jasa dokter. Senja meminta tolong disediakan transportasi untuk membawa Rafli memperoleh pertolongan pertama dari dokter terdekat.
"bagaimana Ask ? "tanya Darren begitu melihat Senja masuk.
"Dokter yang akan datang kemari Ask 20 menit lagi, itu dokter terdekat. Tapi Senja juga sudah menghubungi rumah sakit terdekat untuk mengirimkam ambulance, dua jam lagi " jelas Senja, mendekati Rafli dan memegang dada dan pergelangan tangan Rafli.
"Hanya sedikit lemah, papamu hanya kelelahan Zain "Senja menghibur Zain.
"Iya, mama benar. Papa bilang tidak akan pergi sebelum berpamitan dengan Zain " ucap Zain optimis. Zain setia memegangi tangan Rafli disisi ranjang.
"Sepertinya Rafli pingsan Ask, kita jangan panik. Zain gosok - gosok kaki papa dengan minyak putih, usahakan suhu kakinya tetap hangat " ucap Darren, masih duduk di tepian ranjang tepat di sebelah kepala Rafli.
Senja bergerak mengambil minyak putih di atas meja menuangkan di telapak tangannya, lalu memberikannya pada Zain.
Mata Zain menangkap gerakan kecil pada jemari papanya. Rafli mendengar suara Senja, Zain dan Rafli. Tapi matanya sungguh berat untuk dibuka.
"Ay ..... "panggil Rafli lirih. Darren menarik lembut tangan istrinya untuk duduk menggantikan posisinya.
"Iya mas, Senja di sini " jawab Senja lembut.
"Zain .... " panggil Rafli.
"Zain di sini pa " Zain menjawab sambil menempelkan tangan Rafli ke pipinya.
"Mas, bukalah mata mas. Berusahalah. Apa mas tidak ingin melihat wajah Senja dan Zain ? " tanya Senja, lirih.
Darren mendekati istrinya, memijat ringan pundak istrinya yang sedang mengelus lengan Rafli. Kenyataan yang miris, serasa istrinya mempunyai dua suami. Darren menguatkan istrinya, tidak ada kecemburuan yang dia rasakan saat ini. Darren tidak pantas cemburu pada orang yang sedang berjuang antata hidup dan mati.
Mata Rafli perlahan terbuka, meski tak selebar biasanya. Sayu dan berat. Senyuman mengembang di bibirnya, melihat Senja dan Darren lalu menoleh ke Zain. Rafli memandangi wajah Zain begitu lama.
"Zain, terimakasih sudah memberikan kebahagiaan pada papa. Papa bahagia sekali malam ini. Jaga mama baik - baik. Ingat pesan papa, mama adalah perempuan satu - satunya yang harus Zain jaga dan sayangi tanpa tapi. Nurut sama mama dan om Darren " ucap Rafli suaranya tidak selemah tadi.
Rafli mengalihkan pandangan matanya pada Darren.
"Darr, maaf aku menyentuh istrimu. Maaf aku membuat hatimu merasa tidak enak. Tolong maafkan aku " ucap Rafli, diakhiri dengan sebuah senyuman tulus.
__ADS_1
"Tenang saja Raf aku tidak sakit hati. Aku bisa menghapus jejak pelukannya untukmu. Kamu jangan meragukan kemampuanku menghilangkan jejak yang menempel dibagian tubuh istriku. Aku sangat ahli " ucap Darren, berusaha mencairkan suasana. Berada disituasi ini sangat tidak mengenakkan.
"Aku tidak meragukan itu Darr. Keahlianmu menghapus jejak meninggalkan jejakmu sendiri " Rafli menimpali canda'an Darren.
Mengingat Zain sudah tahu, membuat pembicaraan lebih mengalir.
Seorang pegawai resort datang bersama dokter berpakaian casual dan bersandal japit rumahan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.25. Tentulah ini sebuah panggilan emergency bagi sang dokter.
Zain mendekati Senja begitu dokter memeriksa papanya. Dokter memberikan pertanyaan - pertanyaan sebagai tambahan informasi untuk memantapkan diagnosisnya pada kondisi Rafli malam ini.
"Bagaimana dok ? "tanya Darren.
Dokter memberi kode pada Darren untuk mengikutinya yang sedang berjalan menjauhi yang lain.
"Apa yang mas rasakan sekarang ? " tanya Senja pada Rafli.
"Bahagia dan lega " jawab Rafli tersenyum melihat wajah kesal mantan istri yang masih sangat dicintainya.
"Bukan itu mas, badan mas maksudnya " Senja memperjelas pertanyaannya.
"Mendingan jauh, sepertinya jantungku tadi terlalu cepat memacu dirinya. Kembali sedekat itu denganmu, bahkan tanpa jarak membuatku tubuhku lunglai. Magnet itu masih menarik kuat " ucap Rafli.
"Kata dokter bagaimana Ask ?" tanya Senja penasaran.
"Rafli harus kembali ke Jakarta. Aku sudah menyiapkan Yanes menyiapkan semuanya. Pukul 5 pagi kita harus sudah sampai di bandara.Masih ada waktu satu jam untuk istirahat menunggu ambulance datang " jawab Darren dengan lugas.
"Kalian istirahatlah, Zain sudah tertidur. Kembalilah ke kamar kalian "ucap Rafli.
"Apa kamu sedang memberikan kesempatan pada kami untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin Raf ? "Darren bertanya pada Rafli, tapi tatapanbmenggoda jatuh pada Senja yang pura - pura tidak mengerti maksud suaminya.
"Lakukan Darr, tapi kecilkan efek suaranya. Aku tidak mau pikiranku terkontaminasi urusan duniawi lagi "sahut Rafli cepat.
"Mas gpp ditinggal sendiri ? "tanya Senja khawatir.
"Melihat raut wajah istrimu sekarang, sepertinya tidak akan terjadi apa - apa satu jam kedepan " ledek Rafli.
__ADS_1
"Kalo terjadi apa - apa aku akan meminta 50% sahammu Raf " tantang Darren.
"100% pun akan aku berikan Darr " ucap Rafli.
"Kalian sudah membuang hampir sepuluh menit dari 60 menit yang tersedia " ucap Senja, meninggalkan kamar Rafli.
"Kalau aku kalah .Aku gendong kamu sampai ke dermaga " ucap Darren, Rafli terkekeh mesti tanpa suara.
Di dalam kamar
"Ask, apa sebenarnya yang dikatakan dokter ?" tanya Senja penasaran.
"Fungsi organ vital Rafli kemungkinan besar sudah kacau. Bisa bangun lagi sudah keajaiban. Membawanya ke Jakarta adalah pilihan terbaik. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan dekat dengan keluarga. Kita sedang mengharap kemurahan hati Tuhan Ask " ucap Darren.
Senja memejamkan matanya. Senja hanya membayangkan Zain, waktu Zain dihabiskan lebih lama bersama Rafli daripada dengan dirinya.
"Kita akan menghadapinya bersama " Darren memeluk tubuh istrinya. Senja mengangguk.
"Suaramu bagus Ask. Kapan - kapan nyanyikan lagi untuk Senja "ucap Senja lirih.
"Aku hanya akan bermain piano dan bernyanyi untukmu Ask "janji Darren.
"Bukankah kamu penggila EDM (electronic dance music ) ? bagaimana kamu juga bisa romantis Ask ? "tanya Senja masih heran tanpa melepas pelukan suaminya.
"Aku sebenernya suka Ask. Tapi musik seperti itu membuatku ingin memeluk seseorang. Karena sekarang ada yang dipeluk, aku mau memainkannya lagi "jawab Darren.
"Terus dulu kamu meluk siapa ? "selidik Senja.
"Guling, aku dulu les piano karena dipaksa mama. Sudahlah kamu membuang waktu saja. Sisa 30 menit lagi " ucap Darren gemas.
"Aku sedang tidak ingin melakukannya Ask, aku ingin kita seperti ini saja. Jangan lepas pelukanmu Ask. Aku membutuhkanmu lebih dari siapapun saat ini "pinta Senja.
"Aku juga Ask, melihat kondisi Rafli membuatku ingin menghargai waktu lebih baik. Begitu berartinya kehadiran orang - orang yang kita cintai disaat seperti ini. Aku akan menjaga kalian sebaik mungkin. Aku tidak selalu bersama kalian, tapi hatiku selalu menjadi milik kalian. Di manapun aku berada, kalian akan menemukan aku dan merasakan keberadaanku. Aku akan pastikan itu "ucap Darren sendu.
Senja mendongakkan kepalanya, tersenyum begitu lembut lalu memejamkan matanya. Darren tidak menyia - nyiakannya. Mereka menautkan bibir mereka lembut, tangan mereka tidak berpindah. Ciuman kali ini tentang cinta dan berbagi rasa nyaman ,menguatkan dan menenangkan. Tidak ada suara decapan. Tautan dua bibir yang benar - benar lembut.
__ADS_1
"I love you Ask " ucap Darren
"I love you more Ask " balas Senja