
Masa - masa mual dan muntah Senja sudah lewat berganti dengan masa - masa insecure dan posesif. Senja yang biasanya lebih santai daripada suaminya mendadak over protektif. Bukan tanpa sebab, usia kehamilan Senja baru mencapai 11 minggu tapi perutnya sudah terlihat besar seperti hamil enam bulan, berat badannya pun sudah naik sepuluh kilo. Berbeda dengan kehamilan sebelumnya, yang tidak memberikan perubahan signifikan di badannya.
Berbeda dengan Senja yang mengeluh dengan berat badannya, Darren juga menganggap istrinya semakain menggemaskan dengan wajah yang cubby dan badan yang membulat. Ditambah lagi perut istrinya benar - benar membawa kebanggaan tersendiri baginya, perut itu adalah bukti nyata ke lelakiannya.
"Hari ini aku ada meeting di luar sebentar." ucap Darren.
"Apa tidak bisa Yanes atau Ali saja?" tanya Senja, raut wajahnya seketika berubah. Kini mulutnya sudah maju ke deoan beberapa senti. Meeting bagi Darren sekarang bukan hal yang mudah. Senja selalu menterornya dengan video call. Darren baru merasakan bagaimana perasaan istrinya selama ini.
"Ikut ke kantor," ucap Senja, bergelayut manja tapi dengan bibir yang masih manyun.
"Dasen gimana?" tanya Darren.
"Khawatir Dasen atau nggak boleh?" selidik Senja.
"Tentu saja boleh Ask, malah seneng. Tapi siang aku tinggal sebentar, karena meetingnya di luar." jawab Darren, mengelus - elus perut yang menyembul akibat setetes kenikmatan yang keluar darinya.
"Dasen lagi seneng tengkurep sambil mainan. Dia nggak nyaman lagi digendong lama - lama. Sekarang juga sudah biasa sama Wati. Nanti kalau rewel Senja bisa langsung pulang." Senja akhirnya menjawab kekhawatiran Dasen.
"Aku akan buat kantorku nyaman untuk anak - anak. Biar nanti Amar beli kasur lantai dan mainan untuk Dasen. Aku lebih tenang kalau Dasen dalam jangkauan kita. Hari ini tidak masalah dia tidak ikut, selanjutnya Dasen pun akan ikut kalau kamu ikut ke kantor." ucap Darren.
"Terserah kamu saja." ucap Senja, tangannya merapikan kancing kemeja suaminya.
"Nanti malam ke dokter ya, aku khawatir dengan kondisi jahitanmu. Perutmu besar sekali, mungkin anak kita lebih besar dari Zain kali ini." kata Darren mengungkapkan kekhawatirannya.
"Iya, sekalian mau tanya diet untuk ibu hamil. Di luar sana banyak perempuan penggoda. Jangan sampai suami meleng karena lihat istri di rumah kayak karung beras." ucap Senja, sedikit terdengar meyindir curiga.
__ADS_1
"Astaga Ask lagi hamil dan menyusui nggak perlu mikirin diet, lagian yang bikin badanmu melar begini kan aku. Tidak masuk akal kalau aku bersama perempuan lain karena fisikmu yang berubah. Mau kamu seperti apa. Mama Nja tetap yang terbaik, hanya mama Nja yang bisa memberikan daddy Darr kebahagian dan juga kepuasan. Sama sekali nggak kepikiran yang lain." tutur Darren.
"Laki - laki selalu berkata seperti itu. Tapi saat nanti bertemu dengan godaannya selalu mengatakan khilaf. Mana ada khilaf, yang ada kesalahan yang di sengaja." gerutu Senja.
Darren mengamit pinggul istrinya, berjalan ke ruang makan.
"Pagi Dadd...Pagi ma....." sapa Zain yang sudah siap lebih dulu di meja makan.
"Pagi sayang," jawab Darren dan Senja dengan kompak.
"Pulang sekolah Zain mau mampir ke toko buku ya Dadd, boleh kan?" tanya Darren pada daddynya.
"Boleh dong, punya uang?"
"Ah ya, lama tidak mendengar nama itu. Gimana kabarnya ya Ask?" tanya Darren pada Senja. Karena selama ini dia sangat mrnghindari ikut campur urusan harta peninggalan Rafli.
"So far papanya mas Rafli masih amanah, meski perusahaannya ya gitu - gitu saja. Tidak ada perkembangan. Mungkin karena ambisi bisnis pak Rajata sudah tidak ada kali ya Ask, dia hanya sekedar menjaga agar perusahaan tidak jatuh dan bisa digunakan untuk kesibukannya. Sepertinya begitu." jawab Senja seraya memberikan piring berisi putih telur kukus, tumis baby buncis dan jamur.
"Gitu - gitu juga masih lumayan Ask, jauh lebih gede dari perusahaan kita yang di sana" Darren menimpali penyataan istrinya.
Hanya Zain dan Darren yang makan, Senja hanya menemani keduanya. Jam makan Senja sudah seenaknya, tidak ada lagi istilah makan pagi, siang atau malam. Tidak peduli waktu, asal pengen dan lapar langsung saja makan.
"Zain, mama akan seharian di kantor daddy. Mungkin pulang malam karena mama mau sekalian ke dokter. Nanti ada opa dan oma kemari. Kalau ada PR yang harus dikumpulkan besok, Zain minta tolong opa ya." tutur Senja.
Sejak Aleandro dan Chun Cha menikah, tanggung jawab akan baby De diambil dominan oleh mereka. Senja hanya seminggu dua kali bertemu, itupun saat weekend mereka selalu berkumpul di rumah Hutama. Sejak Hutama sembuh satu bulan yang lalu, setiap weekend Hutama mewajibkan anak,cucu dan cicit untuk menginap di kediamannya.
__ADS_1
Setelah mengantar Zain ke sekolahnya, Darren dan Senja meneruskan perjalanan mereka ke kantor. Tentu saja Rudi yang setia mengantar. Ke manapun dan dengan siapapun Senja pergi, drivernya selalu Rudi.
"Ask...Morning kiss nya belum, sini..aku bisa kurang semangat tanpa ini." ucap Darren seraya mengubah posisi duduknya.
Senja menyodorkan wajahnya dengan suka rela. Darren pun menyambut bahagia. Dua daging ranum bawah hidung itupun menyatu sempurna. Bukan hanya sekedar ciuman selamat pagi yang harusnya hanya sekilas. Ciuman itu kini mengajak pagi menjadi lebih hangat. Rudi melirik sekilas spion tengahnya, decapan demi decapan terdengar bersahutan dengan suara klakson dan deru mobil disekitarnya. Rudi sudah terbiasa. Bu dan Pak bosnya masih dan selalu hot.
Ali dan Amar sumringah begitu melihat bosnya tidak datang sendirian. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu dengan Senja. Sejak hamil, inilah kali kedua Senja kembali menginjakkan kakinya di kantor.
Melihat jambang Amar dari jauh mendadak Senja ingin menyentuhnya. Senja menghentikan langkah tepat di depan meja kedua sekretaris suaminya itu.
"Pagi Pak,,,Pagi bu Senja." sapa keduanya kompak.
"Pagi.." jawab Darren
Senja menatap Amar dengan tatapan yang tidak biasa, membuat alis Darren semakin menyatu karena mengerutkan keningnya. Darren menatap Amar dan Senja bergantian. Bagusnya Amar menunduk, dia tahu diri. Bukan tahu diri sebenarnya, tapi takut mati kalau dia sampai berani membalas tatapan mata Senja.
"Masuk ask.." ajak Darren sedikit menarik pergelangan tangan istrinya.
"Sebentar" jawab Senja dengan santainya menepis tangan Darren. Tatapannya tidak sedikitpun berpaling dari seputaran jambang lebat milik Amar.
Tak hanya Darren, Ali pun heran dengan tatapan mata istri bosnya pada Amar. Jelas itu tatapan yang bisa membuat jantung yang ditatap berdetak di atas normal. Lebih dari itu. Ali pastikan Amar sedang menghadapi dilema, antara senang tapi juga terancam.
Amar menyenggol lengan Ali dengan sikutnya, memberi kode agar Ali bisa melakukan sesuatu untuknya. Belum sempat Ali berfikir. Penderitaan kedua Amar pun datang dengan pertanyaan yang dilontarkan istri cantik milik Darren Mahendra.
"Ask, boleh Senja mengelus - elus jambangnya Amar sebentar tidak?" tanya Senja dengan polosnya.
__ADS_1