
Senja duduk di tepian ranjang, sementara Rafli berdiri mondar - mandir di depan Senja. Andai ada ponsel. sayangnya tidak, mereka sudah berkomitmen untuk benar - benar menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan ponsel.
"Nja, jangan marahi Zain ya ? Bukan salah Zain, kita yang belum jujur padanya. Semoga Darren menemukan cara untuk membujuk Zain. Aku takut Darren akan berfikiran yang tidak - tidak " ucap Rafli, khawatir.
"Aku tau mas. Kita memang harus segera mengatakan yang sebenarnya pada Zain. Imajinasi Zain sudah kemana - mana. Pengaruh Bevan kuat sekali pada Zain "ucap Senja, ada sedikit rasa kesal.
"Karena hampir dua tahun mereka berada di lingkungan yang sama Nja. Mereka satu kamar selama tiga bulan. Hanya Bevan yang bisa mengerti Zain dengan baik, begitu juga sebaliknya. Sakit seperti Zain jika ingin sembuh, proses perjuangannya panjang " Rafli seolah tidak ingin Senja terlalu keras pada Zain.
"Tapi mas harusnya bisa menutup mata Zain saat melihat papa mama Bevan ciuman. Atau setidaknya mas bicara sama mereka untuk tidak menunjukkan kemesraan mereka di depan anak - anak " ucap Senja, sedikit menyalahkan Rafli.
"Andai kamu ada di sana Nja, Menemani anak seperti Zain dan Bevan itu tidak mudah. Kamu tahu kenapa mama papa Bevan berciuman di depan anak - anak ? itu bukan ciuman mesra penuh cinta yang memang diinginkan. Dela sangat phobia terhadap jarum suntik, sementara Bevan tidak mau disuntik kalau tidak ada mamanya, untuk mengalihkan stres Dela , Arlo selalu mencium Dela selama proses menyuntik. Mereka berciuman, tapi satu tangan Dela selalu menggenggam tangan Bevan. Mereka juga mengerti aturan Nja, tapi ada kalanya seseorang itu berani menantang aturan demi sesuatu yang lebih berharga " jelas Rafli sedikit emosional.
"Andai aku ada di sana, aku akan senang sekali mas. Sayangnya kalian tidak memberiku kesempatan. Maslah yang paling bersalah di sini, Mas sudah terlalu lama memisahkan seorang ibu dengan anaknya. Sehingga Ibu itu terlihat bodoh di depan anaknya. Aku tidak tau apapun, apa kesukaannya sekarang, teman - temannya, bahkan aku berbicara sedikit kesal pun dianggap marah - marah " ucap Senja pelan tapi suaranya bergetar.
"Salahkan aku Nja. Maki dan pukul aku sepuasnya jika itu membuatmu lega. Nja, aku tidak tau umurku ini sampai kapan. Tolong maafkan aku, Zain sudah sembuh dan dia sekarang bersamamu. Aku hanya ingin maafmu. Aku ingin jika aku pergi, aku sudah mendapatkan maafmu "Rafli memohon dengan berlutut di depan Senja .
"Tidak perlu seperti ini mas, aku minta maaf, seharusnya tidak menyesali kembali yang sudah terjadi. Aku memaafkan mas, tapi berjuanglah untuk sembuh mas. Jangan menyerah. Aku ,abang dan Zain akan menemani mas "ucap Senja.
"Tidak Nja, aku sudah lelah. Kalaupun Tuhan memberikanku kesempatan untuk memilih salah satu keajaiban, aku akan memilih untuk mendapatkan cintamu lagi. Jika aku tidak bisa hidup lebih lama denganmu, setidaknya aku punya kesempatan untuk mati di pelukanmu " ucap Rafli serius.
Senja berjalan ke teras ,menoleh ke sisi kanan melihat Zain dan Darren juga sedang di luar .Beralaskan karpet tebal dengan selimut melilit tubuh Zain dengan beberapa putaran hanya menyisakan bagian wajah yang terlihat.
"Zain, kenapa belum tidur ? " tanya Senja setengah berteriak.
"Kami sedang memohon pada Langit, Jangan ganggu kami ma. Zain sedang mendoakan mama dan papa "jawab Zain, suaranya lantang.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa kita tidak berdoa bersama saja .Pasti Tuhan lebih mendengar jika doanya diucapkan banyak orang "ucap Rafli, ikut mengencangkan suaranya .Jarak mereka hanya 7-8 meter, tapi hembusan angin memencarkan suara mereka.
"Tidak. Abaikan kami, ini masih man's night " ucap Zain, gaya bicaranya semakin mirip Darren.
Senja melirik jam dipergelangan tangannya ,masih 90 menit lagi hari akan berganti. Jika Zain menginginkan merayakan ulangtahun papanya di menit awal, Rafli dan dirinya masih butuh waktu selama itu untuk tinggal sekamar berdua.
Darren tampak berdiri melambaikan tangannya, tersenyum pada Senja dan Rafli. Entah apa yang dilakukannya, kekhawatiran di wajahnya menghilang. Tidak seperti biasanya, padahal istrinya sedang berada sekamar dengan mantan suaminya.
"Kita tidak perlu cemas mas, abang baik - baik saja. Mungkin dia sudah mulai tidak mengkhawatirkanku lagi. " kata Senja, sedikit kesal. Hidup bersama orang yang posesif dengan tingkat kecemburuan di atas level membuat Senja terbiasa terkekang. Dibebaskan seperti sekarang, justru membuat hatinya bimbang.
"Apakah kalian sudah berciuman ? " tanya Darren membuat Senja semakin kesal.
"Sudah, beberapa kali. Kami sudah bosan mengulang, sekarang bukakan pintu kami " sahut Senja cepat.
"Sepertinya dia sedang tidak waras "gumam Senja.
"Tidurlah, aku tidak akan masuk" kata Rafli.
"Tidak mas, kita masuk saja bersama. Kita tau tidak akan terjadi apa - apa. Tidak perlu mencemaskan hal lain, orang yang kita harapkan mengeluarkan kita dari situasi ini sedang mengkhianati kita "ucap Senja sedikit kesal.
Selang tiga puluh menit kemudian, Rafli tertidur pulas meninggalkan Senja yang tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Rafli masih mendengkur halus saat tidur.
Senja mengetuk - ngetuk jam tangannya menggunakan jari manisnya. Waktu berlalu begitu lama jika kita sedang berada pada situasi yang tidak kita sukai.
KLEK....
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, Senja yang sedang melamun tidak menyadarinya.
"Kenapa tidak tidur Ask ? " bisik Darren .
Senja terperanjat dari lamunannya,
"Zain ? "tanya Senja.
"Sudah tertidur seperti papanya " jawab Darren, melirik Rafli yang benar- benar pulas.
Senja keluar dari kamar Rafli berjalan menuju kamar yang di tempati Zain.
"Aku perlu bicara sebentar " Darren menarik tangan Senja, menghentikan tangan istrinya memutar gagang pintu.
"Bicaralah. Sudah lama kamu mengabaikanku "sahut Senja, ketus.
"Heiiii....Kenapa jadi kamu yang marah Ask ? kamu pikir hanya kamu yang gelisah Ask ? Aku juga gelisah Ask. Kamu tau betul ,aku tidak rela kamu berduaan dengan laki - laki manapun. Tapi ada harapan seorang anak yang membuat kegelisahanku mereda. Aku tidak bisa memupus harapan Zain. Tidak ada salahnya aku mewujudkan keinginannya yang sederhana " jelas Darren , matanya berkaca - kaca. Senja melihat ada yang berubah pada suaminya sejak dia sekamar dengan Rafli.
Senja terdiam. Semakin bingung dengan situasi yang terjadi. Menduga - duga isi pikiran suaminya.Dia tahu Darren tidak sedang marah, kecewa juga tidak, tapi matanya menyimpan kesedihan.
"Aku percaya padamu ask. Kamu bisa menjaga dirimu. Permintaan sederhana yang sebenarnya masuk akal. Rafli sudah berbuat banyak untuk Zain, sekarang giliranmu Ask. Zain hanya ingin melihat papanya tersenyum sepertiku. Senyum yang akan Rafli dapatkan, jika kamu disampingnya. Kembalilah ke kamarnya, jadilah orang pertama yang mengucapkan ulang tahun padanya. Aku percaya padamu " ucap Darren meski berat tapi dia tulus.
"Kamu sudah gila Darren Mahendra .Semoga kamu tidak terbakar dengan api yang sudah kamu kobarkan sendiri. Jangan mengajakku bicara sebagai istrimu, tidak ada suami yang menyuruh istrinya tidur dengan laki - laki lain " ucap Senja ketus. Kembali ke kamar Rafli dan menutup pintunya rapat.
"Maafkan aku Ask " ucap Darren lirih .
__ADS_1