Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Ulah Chun Cha


__ADS_3

Senja menatap Chun tajam.


" Kamu tahu ini tidak lucu Chun ? kamu mau apa sama kak Al itu bukan urusan kakak. Tapi selama kamu belum menikah kamu masih jadi tanggung jawab kakak. Chun, kakak ini capek. Anak - anak sakit, terus kamu tiba - tiba ngomong hamil. Kalau kamu mau nikah cepet, kamu tinggal ngomong sama eomma tidak seperti ini caranya " ucap Senja, melempar hasil test pack ke tempat sampah.


Aleandro hanya bisa memandang Senja tanpa mengucapkan sepatah katapun, karena masih bingung sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Senja memarahi Chun Cha. Soal kehamilan, dia juga yang salah.


" Kak maafkan Chun, kalau tidak begini kalian pasti akan menikahkan Chun beberapa bulan lagi.Sementara Chun dan om Al sering bersama. Setan kan tidak berjarak kak, kami bisa khilaf lagi dan lagi "ucap Chun Cha hati - hati.


" Chun !!! Berhenti mencari pembenaran, setan tidak ikut campur dalam hal ini. Setan sudah lama resign menggodamu, dia minder begitu tahu otakmu lebih liar darinya " ucap Senja, ketus.


Aleandro berdiri mendekati Senja


" Nja, ada apa sih ini. Sudah terlanjur terjadi ya sudah. Aku akan ke eomma appa kalian. Aku yang bertanggung jawab, selesai " ucap Aleandro, enteng.


" Apa kak Al masih belum mengerti kenapa Senja marah sama Chun ? Asal kakak tahu calon istri kakak itu bohong masalah kehamilannya. Chun tidak hamil kak, itu hanya akal - akalan dia untuk mempercepat pernikahan kalian. Ini sama sekali tidak lucu, Kalau Chun benar hamil, siapa yang disalahin eomma ? pasti Senja kak " ucap Senja benar - benar kesal.


Aleandro menatap Chun Cha tajam. Ada kekecewaan di matanya. Kehamilan bukan lelucon, apalagi di luar pernikahan. Tapi Chun dengan entengnya nenjadikannya mainan.


" Kamu ingin mempercepat pernikahan kita ? Tidak denganku Chun. Mengetahui kamu sekekanak - kanakan ini, justru membuatku berfikir untuk membatalkan pernikahan kita " ucap Aleandro, menjadi emosi.


" Om Al, ini Chun lakukan karena Chun takut om Al tinggalin Chun dan berubah pikiran "ucap Chun Cha, mendekati Aleandro dan memegang lengan Aleandro dengan kuat. Aleandro hanya melirik tajam.


" Selesaikan masalah kalian sendiri. Aku akan menelpon Eomma dan Appa, mulai sekarang urus dirimu sendiri Chun. Jangan libatkan aku lagi " ucap Senja membalikkan badannya, hendak meninggalkan keduanya, tapi Aleandro menahan pergelangan tangan Senja.

__ADS_1


" Nja, aku minta maaf sama kamup. Aku tidak bisa menjaga Chun, sampai dia melakukan hal sebodoh ini " ucap Aleandro.


" Chun sudah dewasa, bodoh atau tidak dia sudah tahu. Jika dia melakukan, resiko dia sendiri yang menanggungnya. Dia masih memiliki cara lain, tapi malah menilih cara konyol di saat yang tidak tepat " ucap Senja, sinis. melangkahkan kaki menjauhi Aleandro dan Chun Cha.


" Kak, kamu bisa bicara seperti itu karena kak Kemala selalu beruntung. Kakak tidak pernah merasakan di posisi Chun. betapa beruntungnya kakak, suami kakak pertama Rafli, mendekati dan meniduri Chun demi kakak, om Aleandro pun mencintai kakak dan kakak menikah dengan laki - laki seperti kakak ipar. Hidup kakak dikelilingi keberuntungan dalan cinta. Tentu saja kakak tidak perlu melakukan hal konyol ini " Chun Cha mengatakan dengan suara setengah berteriak, suara Chun Cha terdengar jelas di telinga Sarita.


Senja menghentikan langkahnya, lalu menoleh tajam pada Chun. " Kamu menganggap aku beruntung ? perempuan yang terpaksa menjadi janda karena kematian palsu kamu bilang beruntung ? ini masih soal cinta Chun. Jika kamu menganggap hidupku beruntung, maukah kamu bertukar posisi denganku ? apa hidup ini dinilai hanya dari keberuntungan cinta ? Apa kamu perlu mendengar bagaimana aku harus bertahan hidup di panti asuhan ? bagaimana aku berjuang mencari biaya sekolahku ? apa kamu tahu bagaimana diusir mertuaku sendiri setelah suami meninggal ? " tanya Senja bertubi - tubi, emosinya sedang dipancing oleh Chun sekarang.


Sarita keluar kamar untuk melihat lebih dekat perdebatan kakak adik itu. Tapi Sarita tidak berniat ikut campur, karena tidak tahu duduk permasalahannya.


" Setiap orang mempunyai jalan hidup masing - masing. Sebelum mendapatkan keberuntungan pun aku harus mengalami kesulitan yang tidak sedikit. Kamu terlalu sering mendapatkan kemudahan. Apa yang kamu inginkan lebih sering kamu dapatkan ketimbang enggaknya. Kamu jadi lupa diri. Banyak orang di luar sana menganggapmu orang yang paling beruntung juga " ucap Senja.


" Kak...Bukan begitu maksud Chun. Om Al, bantu tenangin kak Kemala. Nanti kalau kak Kemala ngomong sama Eomma Appa, pasti besok surat panggilan untuk Chun datang. Chun tidak mau pulang Om Al " rengek Chun Cha.


" Kak Kemala " Chun Cha hendak mengejar Senja, tapi tangan Aleandro menahan lengannya.


" Kita pulang, kita bicarakan di rumah " ajak Aleandro, tegas dan tajam lalu mengajak Chun meninggalkan rumah Senja.


Sarita berjalan kembali menyusul Senja ke kamarnya.


" Ada apa Nja, kenapa kamu sampai perlu berbicara keras pada Chun. Kenapa sampai mengusir Chun ? " tanya Sarita dengan lembut.


" Senja tidak habis fikir dengan pemikiran Chun ma, sudah tahu Senja ini capek, anak - anak saja belum sembuh benar. Tapi malah pura - pura hamil hanya karena ingin mempercepat pernikahan. Siapa yang nggak kesel ma, Senja juga bisa capek. Mama tau kan bagaimana rasanya dikeluhkan anak yang sedang sakit ? pikiran kita khawatir, was - was lalu fisik kita dituntut untuk kuat dan selalu siaga. Salah kalau ada saatnya Senja kehilangan kesabaran ? apa salah Senja menganggap Chun keterlaluan ? " tanya Senja, tangisnya akhirnya kembali pecah. Setelah sekian lama dia tidak lagi pernah menangis.

__ADS_1


Sarita menghampiri menantu satu - satunya dan kesayangannya itu. Sangat wajar Senja marah, mungkin jika Chun Cha melakukan di waktu yang lain, Senja mungkin tidak sekeras ini tanggapannya. Sarita memeluk Senja.


" Menangislah, wajar kita capek. Apalagi yang kamu pikirkan tidak hanya satu anak. Belum lagi masalah yang lain " ucap Sarita, lirih seraya membelai lembut rambut Senja.


" Senja kangen abang ma, kalau ada abang setidaknya ada yang ngeselin sekaligus nyenengin " isak Senja.


" Kita berdoa saja mereka cepat kembali ya " ucap Sarita.


Panjang umur dan perasaan kangen Senja berbalas tunai, ponselnya berdering dengan ringtone khusus sebagai tanda yang menghubunginya adalah seorang Darren Mahendra. Buru - buru Senja menghapus air matanya. Sarita melepas pelukannya, memberi ruang pada Senja untuk mengambil ponselnya, lalu segera menggeser tombol phone berwarna hijau ke atas, seketika wajah tampan sedikit nakal memenuhi layar ponselnya.


" Hai Ask " sapa Senja, berusaha sebiasa mungkin. Jangan sampai Darren tau apa yang barusan terjadi, bisa - bisa habis Chun Cha kena Darren juga.


" Ask...Kok hidungnya merah ? mukanya merah ? matanya sembab gitu, habis nangis ? " tanya Darren penasaran, melihat dilayar ponselnya, Senja tidak seceria biasanya.


" Enggak kok " jawab Senja, berbohong.


" Owh ya sudah...Ask, ini dastermu boleh nggak dikasihkan ke perawat di sini ? soalnya kalau nggak di kasih ini dia nggak mau ikut pulang menemani opa ke Indonesia tepat waktu. Aku nggak mau mundur lagi Ask, aku sudah nggak bisa nahan kangen ke kamu. Lagian ini sudah mau 40 hari kan ya ? Dia pengen banget dastermu ini. Nggak jelas emang itu perawat" ucap Darren dengan kalimat yang cukup jelas.


Senja yang pikirannya sedang penuh sepertinya tidak terlalu paham ucapan suaminya. Sekalipun itu jelas, tapi fokus Senja rupanya juga terbagi dengan membetulkan selimut Dasen.


" Hah 40 hari lagi ? Nggak usah pulang saja sekalian "


Tut.... Tut..... Tut..... Sambungan terputus.

__ADS_1


__ADS_2