Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Tamu tak terduga


__ADS_3

Senja menyeka keringat dengan handuk kecil seraya mengatur kembali pernafasannya. Sementara Ance menegak sebotol penuh air mineral sambil duduk selonjor di atas matras.


'Kayak ada tamu deh,' batin Senja ketika samar - samar mendengar suara bel pintu.


"Sebentar ya, Ce." Senja berjalan ke arah ruang tamu.


Ani yang baru saja menerima telepon dari Darren menjadi deg - degan melihat majikan perempuannya sudah hampir menginjak ruang tamu.


Senja menghentikan langkahnya, begitu sadar pakaian yang dia kenakan terlalu terbuka untuk menunjukkan diri pada orang yang belum jelas diketahui siapa - siapanya.


"Mbak ... Ada tamu. Tolong bukain pintu dong!" teriak Senja ke arah dalam.


Ani buru - buru muncul, karena takut salah mengambil keputusan. Kedua majikannya, punya kuasa yang sama kuatnya. "Ta ... Tapi, kata bapak tidak boleh dibukain, Bu."


"Bapak? Memang tamunya siapa? Jangan - jangan Angelica." Senja berjalan keluar, bergumam dan menyimpulkan sendiri.


Urusan Senja dengan Angelica memang belum selesai. Masih menunggu sidang keputusan besok, karena Angelica selalu mangkir. Sanksi sosial, sepertinya juga diabaikan begitu saja. Kebangkrutan sepertinya membuat bapak dan anak sudah kebal dengan rasa malu. Media sosial yang memviralkan kasus pinjaman Angelica, hanya berdampak pada berkurangnya teman yang ada di sekitarnya.


Mengingat Angelica seperti menaikkan tensi darah Senja, urusan yang menggantung. Jika pengadilan memenangkan tuntutannya, Senja tidak akan segan - segan bertindak lebih jauh. Kita lihat saja besok.


"Ini bagaimana, Bu? Nanti kalau saya buka, Bapak bakalan marah. Barusan telepon kalau nggak boleh dibukain pintu." Ani terlihat bingung.


Senja semakin yakin kalau yang berada di luar adalah Angelica. Dengan santainya Senja melangkah, lalu membuka pintu dengan lebar.


Darren yang sedang menerima tamu sembari terus mengawasi monitor di pangkuannya, seketika langsung tersedak. Air putih yang di minumnya, menyembur mengenai meja dan juga monitor. Karena kaget, reflek Darren berdiri, membuat monitor jatuh. Titik putih dan hitam memenuhi layar yang terhubung dengan cctv itu. Signal pun loss.


Kenzi tidak mampu mengedipkan matanya, Berkali - kali menelan air liur dan menahan nafas. Perasaan dia belum tidur tapi kenapa sudah ada yang terbangun.

__ADS_1


Senja bingung harus bagaimana, terlanjur menampakkan diri, tidak mungkin menghindar lagi.


"Mas Ken, masuk mas! Abang masih kerja, mas tunggu sebentar ya. Saya masuk dulu." Senja buru - buru berjalan ke kamarnya.


"Ul... Tolong bikinkan tamu minuman ya. Dia suka kopi susu. Nanti kamu antar sekalian ke depan." Senja berhenti sebentar saat melewati Ulfa, Wati dan Wardah yang setia bermain bersama Dasen.


Melalui pesan whatsapp, Senja menyuruh Ance untuk pulang saja. Senam yoga hamil akan dilanjut lain kali. Senja ingin mandi dan berganti pakaian yang tertutup dulu sebelum menemui Kenzi lagi. Kalau sampai suaminya tahu, bisa panjang urusan. Senja sama sekali tidak takut, tapi lelah menghadapi Darren kalau sedang marah akibat kesalahan kecil. Hukumannya tidak setimpal dengan kesalahan yang dilakukan. Mulai tangan, bibir dan semua badan harus bekerja keras tak kenal kasihan.


Ulfa keluar membawa secangkir kopi susu. Dengan sopan dan senyumannya yang manis, Ulfa meletakkan cangkir itu di atas meja.


"Silahkan pak," ucap Ulfa, seraya menundukkan pandangannya.


"Terimakasih." Kenzi langsung mengambil kopinya, karena masih terbayang dengan Senja, Kenzi langsung menyeruput bibir gelas berisi kopi panas itu.


Kenzi menyemburkan kopinya karena kepanasan, tepat mengenai kakinya dan kaki Ulfa. Buru - buru Ulfa mengambilkan tisu, mengelap kaki Kenzi lalu kakinya bergantian.


"Tidak mengapa pak," jawab Ulfa malu - malu.


Jantung Ulfa berdetak sangat kencang, baru kali ini dalam hidupnya dia merasa ditatap dan diperhatikan laki - laki seganteng Kenzi.


Ulfa memegang dadanya salah tingakah, membuat Kenzi jadi mengerutkan kening hingga menyatukan kedua alis tebalnya.


'Besar juga ukurannya,' batin Kenzi.


"Saya permisi pak, silahkan di minum." Ulfa buru - buru pergi meninggalkan Kenzi yang terus memandang ke arah dadanya.


Kenzi menepuk - nepuk kepala bagian sampingnya sendiri, seolah ingin mengeluarkan seluruh isi otaknya yang sudah teracuni dengan sempurna. Begitu datang sudah disuguhi kemulusan dan keseksian Senja yang mahal, barusan ini tadi disuguhi dengan bagian dada bersize di atas normal. Sungguh saat ini Kenzi ingin bertukar tempat dengan Darren.

__ADS_1


'Kalau ngarepin Senja kayaknya ketinggian, belum apa - apa nyawa sudah melayang. Lebih baik sama ART nya tadi. Lumayan buat pemanasan mata,' batin Kenzi.


Senja muncul kembali dengan rambutnya yang masih tergerai basah. Mengenakan dress kuning muda lengan sesiku dengan panjang di bawah lutut. Mata Kenzi sungguh dimanjakan dan disegarkan.


"Mas Ken, kalau ada perlu sama abang kenapa nggak ke kantor saja?" tanya Senja, sembari duduk di sofa single agak jau dari Kenzi.


"Iya,Bu ... Karena saya perlunya sama bu Senja. Begini bu, Karena penjualan produk susu ibu hamil kita sangat bagus, maka kita diperkenangkan repack produk dengan design dari kita sendiri. Setelah diadakan diskusi dan rapat divisi marketing, produksi dan design product, kami sepakat untuk kemasan produk menggunakan foto ibu di cover depannya. Bagaimana, Bu?"


"Nanti saya bicarakan dulu sama abang ya mas, tahu sendiri kan abang nggak terlalu suka yang beginian. Tapi nanti coba saya omongin dulu. Karena saya juga sudah mepet lahiran ini. Takut waktu pemotretan nggak ada," jawab Senja dengan ramah.


"Memang bu Senja kapan melahirkan?"


"Masih tiga minggu lagi mas. Cuma, abang sudah nggak ngebolehin saya keluar - keluar rumah. Karena trauma kelahiran Dasen. Kami semoet kecelakaan waktu jalan - jalan di taman. Abang sudah kapok. Nggak mau kalau saya lahiran dia nggak nungguin," jelas Senja, sangat gamblang.


"Owh...gitu ya. Bu Senja ngomong dulu sama Darren, saya sendiri juga pasti ngomong kok. Saya tau pasti Darren sangat protect kali ini, padahal dulu kalau suka perempuan yang sama pas di club, dia suka ngalah." Kenzi membuka kenangan lama jaman Darren belum mengenal peradaban cinta dan kasih sayang.


"Owh ... Begitu. Saya kira malah nggak ngalahan orangnya. Soalnya kalau denger dari cerita, sama mas Rafli bencinya luar biasa."


"Ah ... Iya kalau sama Rafli memang begitu. Nggak taunya termehek - meheknya malah sama jandanya Rafli." Kenzi sedikit terkekeh.


"Begitulah kalau orang sok angkuh. Diawal pertemuan dulu suka menghina. Sok paling ganteng sendiri, ah... Ternyata memang ganteng sendiri sih." Senja sedikit meringis malu - malu saat mengucapkannya.


Setelah mengobrol santai hampir satu jam, Kenzi pun pamit untuk pulang. Ternyata Kenzi juga membawa bingkisan buah untuk Senja.


Tak berselang lama dari kepulangan Kenzi, Darren pun datang. Wajahnya terlihat sangat kesal.


"Kenapa pakai baju begini? mana baju yang tadi? Pakai sekarang!" perintah Darren sambil terus berjalan ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2