Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Belum 24 jam


__ADS_3

Setelah prosesi pemakaman Hutama selesai. Semua kembali ke rumah masing - masing. Bae, Arham, Eunji dan Hyeon langsung menuju hotel di dekat rumah sakit tempat Senja melahirkan. Darren pulang ke rumah terlebih dahulu untuk berganti baju dan menjemput Zain.


Sementara drama kecil mulai di rasakan Senja. Saat kateternya sudah dilepas dan boleh berdiri. Dasen terus menghampirinya dan merengek untuk terus menempel. Melihat baby twins minum Asi, Dasen pun ikut meminta. Sejauh ini Dasen memang sangat mirip dengan Daddynya, tidak mau mengalah dan selalu harus dituruti.


Ketika baby twins sudah anteng di boxnya, kini Dasen yang menikmati Asi mamanya. Rasanya benar - benar drama. Dasen tentu jauh lebih kuat dibanding adik - adiknya. Untung saja dengan berbagai cara dilakukan tiga jam dari lahirnya baby twins, Asi langsung melimpah ruah.


Senja rutin memompa sejam sekali, meski baby twins masih minum dalam jangka waktu dua jam sekali. "Das, sudah ya? Sama mbak Wati." Senja mengelus rambut Dasen yang sedang tiduran dipangkuannya, terus menghisap pucuk hitam di dadanya tidak mau berhenti.


"Astaga!" Darren yang sedang menuntun Zain terkaget saat memasuki kamar inap istrinya langsung disuguhi pemandangan yang menggelikan.


Dasen sudah beralih posisi, dia terus menungging tanpa melepas p**ting mamanya. Satu tangannya asik memainkan rambut Senja.


"Tuh! ada kakak, mainan sama kakak ya?" Senja terus berusaha membujuk.


"Adek, sama kakak yuk!" Zain turut membantu membujuk.


Darren menggelengkan kepala, masih kecil saja Dasen sudah sangat mirip dirinya, apalagi kalau sudah besar nanti. Alangkah pusingnya Senja.


"Das, beli mainan yuk! Sama kak Zain sama Daddy." Darren langsung meraih tangan Dasen, seketika pucuk hitam itu langsung dilepas. Darren bisa melihat kelegaan yang luar biasa dari wajah istrinya.


"Ask, di rumah opa ada pengajian nggak?" tanya Senja.


"Nggak ada, Ask. Pengajian serumah saja kata papa. Tapi di yayasan sampai empat puluh hari kok. Aku sudah menghubungi bu Halimah juga." Darren memegangi tangan Dasen yang sedari tadi menutup mulut sang daddy dengan tangan mungilnya.


"Zain, sini peluk mama. Kok diam saja dari tadi." Senja berusaha hati - hati turun dari brankar, lalu merentangkan tangannya.


"Takut mama masih sakit," jawab Zain seraya berhambur ke dalam pelukan mamanya.

__ADS_1


Darren membawa Dasen keluar dari ruangan Senja. Meskipun anak itu sudah terdiam di gendongan, tapi dia sudah terlanjur janji membelikan mainan. Meskipun masih kecil, mereka tetap merekam apa yang dibicarakan orangtua. Jangan sampai mereka berfikir orang tuanya hanya suka memberi janji. Jika dilakukan terus menerus, saat menangis atau merajuk pasti akan susah dibujuk lagi.


Sampai di lobby, Darren berpapasan dengan rombongan Arham, Bae dan juga si kembar.


"Merajuk pasti," tebak Bae.


"Iya, Eomma. Maunya nempel Senja terus."


"Sini sama Opa, tuh uncle Hyeon bawa kado buat kakak Das. Hebat cucu Opa ini. Sudah jadi kakak sekarang." Arham mengambil alih Dasen dari gendongan Darren.


Celotehan Dasen pun langsung terdengar. Sebentar lagi Zain aman juga karena ada Bae. Setidaknya Senja bisa lumayan rebahan memulihkan tenaga.


Baru saja membuka pintu, Dasen langsung merengek kembali minta dekat - dekat dengan Senja.


"Mama nggak gendong lho ya, Dasen kalau sama mama, kepalanya saja yang boleh tidur di pangkuan mama." Senja menepuk pangkuannnya, Dasen mengangguk pelan.


"***** susu botol ya? Boleh tidur sama mama tapi nen botol ya?" rayu Senja.


Dasen semakin merengek, membuat Beyza terbangun dan langsung menangis dengan suaranya yang melengking, di susul Derya menangis tapi lebih pelan.


"Selamat datang di dunia yang kamu harapkan Darr, jangan cuman geleng - geleng kepala saja. Bikinnya bareng lho ya, jangan cuman Senja yang ribet," sindir Bae.


Darren menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membasahi bibir dengan lidahnya sendiri dan menarik nafas dalam. Belum dua puluh empat jam, kesibukan Senja sudah luar biasa. Satu hal yang paling mencolok adalah titisan Darren yang seperti sangat mencari perhatian dari Senja. Sangat mewakili daddynya.


Ulfa dan Wardah, mencoba menenangkan Beyza dan Derya. Mereka memberikan susu botol pada kedua bayi itu. Derya dengan kalem mau langsung mengenyot dot botolnya. Berbeda dengan Beyza yang masih saja terus menangis.


"Sini, War. Coba sama saya saja." Senja menggeser sedikit kepala Dasen. "Sama adik ya, kakak harus berbagi."

__ADS_1


Senja menerima Beyza dari tangan Wardah, lalu memasang appron nya dibantu Bae. Keringat jelas mengucur di wajahnya, masih hari pertama. Belum terbiasa dengan ritme sepadat ini, membuat Senja dalam hati merasa kewalahan.


Semua sudah anteng di posisinya, Beyza di pangkuan Senja, Derya kini digendongan Bae, Dasen tiduran di samping mamanya sambil memegang botol sendiri. Sementara Zain akhirnya memilih ke hotel tempat Hyeon dan Eunji menginap. Zain berkali - kali mengatakan berisik. Akhirnya Eunji yang sebenarnya dari tadi curi - curi pandang pada Wardah terpaksa meninggalkan ruangan kakaknya.


"Gimana Darr, masih mau nambah lagi?" tanya Bae dengan santainya.


"Enggak ... Saat ini stop dulu, tidak tahu lagi nanti. Nunggu agak gedean saja. Kasihan Senja kayaknya, kasihan Darr juga." Darren menggaruk kepalanya lagi.


"Eomma dan Appa, mau ke rumah opa. Mau ikut pengajian keluarga. Malam ini nginep di rumah Aleandro. Sudah banyak yang nemenin, Eomma mau nemenin papa dan mamamu saja," ucap Bae, menatap Darren dengan senyuman. Satu hal yang langka. Biasanya kalau tidak sinis ya datar.


Sepeninggalan Bae dan Arham, tinggallah Senja dan Darren, bersama tiga pengasuh anak - anak mereka.


"Wat, coba pindahin Dasen ke kamar mau nggak?" Senja menggeser kepala Dasen pelan - pelan hingga pahanya terbebas. Rasa kebas melanda, setelah terkena beban kepala bayi gembul.


Setelah Dasen berhasil ditidurkan di dalam ruangan dan si kembar anteng di dalam box nya. Darren menyuruh Wardah dan Ulfa menyusul Wati.


Darren hendak memijat ringan kaki istrinya, tapi rencananya batal begitu melihat telapak kaki istrinya bengkak hingga hampir ke betis.


"Ask, kok begini. Pasti karena kamu terlalu banyak gerak ini. Aku panggil dokter ya?" Darren terlihat panik.


"Sudah biasa begitu, Ask. Tolong taruh di atas pahamu saja, biar lebih tinggi dari posisi bantalku. Jangan dipijit, nanti pelan - pelan juga kempes sendiri." Senja memberi bantal untuk menambah tinggi paha Darren.


"Ask ... Sebelum Opa meninggal. Opa berpesan pada Papa. Kalau kita disuruh menempati rumah Opa. Rumah itu harus tetap berpenghuni. Opa mempercayakan pada kamu. Papa yang diajak bicara." Darren mengatakan dengan hati - hati.


Senja terdiam. Bukannya tidak bersyukur atau menolak, tapi rumahnya jelas lebih nyaman untuk anak - anak. Di rumah opa banyak barang antik yang langka dan mahal. Ada rasa takut anak - anak malah akan merusak. Belum lagi terlalu dekat dengan Chun dan Aleandro malah tidak kan baik. Kadang malah menimbulkan konflik kalau terlalu sering bertemu.


"Bagaimana, Ask?"

__ADS_1


Senja masih berfikir.


__ADS_2