
Seperti yang dijanjikan Darren. Setelah mengantar Senja check - up ke dokter, Darren mengajak Zain ke kantornya. Kondisi kandungan Senja sudah kembali normal, hanya saja harus terus meminum beberapa obat dan vitamin untuk menstabilkan volume ketuban Senja.
Mereka masih tinggal di rumah Senja dan Rafli karena Zain masih ingin di sana. Tapi Sarita mengirimkan dua pembantu ke sana untuk mengurus keperluan semuanya. Terutama memasakkan menu sehat untuk Zain. Meskipun bukan cucu kandung, Sarita sangat memperhatikan Zain.
" Zain, jangan capek - capek lho ya. Jangan lupa minum obatnya. Istirahat di tempat yang disiapin om Darren dan ajak om Darren pulang cepet " ucap Senja mengingatkan Zain.
"Siap mama. Zain hanya ingin dekat sama om Darren " kata Zain.
"Pergi dulu ya Ask. Jangan turun dari ranjang, Rafli memberiku monitor yang terhubung dengan cctv di rumah ini. Aku akan tahu kalau kamu melanggar, inget 24 jam masih harus berbaring "
"Hah ? diberikan ke kamu? Kapan ? " tanya Senja.
"Gentleman Agreement "jawab Darren santai.
"Kalian memang sama - sama tidak waras " ucap Senja kesal.
"Kewarasan hanya milik Senja. Biarkan suaminya menggila " Darren mencium kening dan bibir Senja sekilas lalu langsung keluar menyusul Zain yang terlihat bersemangat menghirup udara luar.
Senja kembali sendirian, berdiam diri di kamar kenangan. Kamar yang kini tidak hanya menjadi saksi romantisnya seorang Rafli, tapi sekarang kamar ini juga menjadi bukti cinta dan ketulusan hati seorang Darren Mahendra. Suami mana yang mau tinggal di rumah yang penuh dengan foto kebersamaan istrinya dengan mantan suaminya. Jika cinta Darren hanya sejengkal, tidak mungkin mereka bisa tinggal di sini tanpa perdebatan sedikitpun.
"Non, di bawah ada tamu. Katanya mamanya pak Rafli " ucap bu Warni, ART yang dikirim mama Sarita untuknya.
"Minta tolong suruh naik ke sini saja bi " ucap Senja, datar tanpa ekspresi.
"Baik non "
Tak lama kemudian Sonya masuk ke kamar Senja yang masih dipenuhi foto Rafli dan Senja. Wajah Sonya sudah jauh dari angkuh, raut mukanya jelas menyiratkan lelah dan sedih.
__ADS_1
"Nja, maaf mama datang ke sini. Tadi mama datang ke rumah mertuamu, tapi mereka bilang kamu berada di rumah lama " ucap Sonya, pelan sambil menunduk.
"Silahkan langsung katakan apa tujuan anda kemari nyonya dan jangan sebut diri anda mama. Jangan mendadak mengakui saya menjadi anak anda nyonya " ucap Senja, dingin dan angkuh.
"Nja, sebenarnya mama malu membicarakan hal ini, makam Rafli juga belum kering. Tapi papanya Rafli besok harus terapi, Raisa juga harus melakukan pengobatan karena mengalami depresi berat akibat perceraiannya " ucap Sonya lirih.
"Langsung saja ke tujuan anda Nyonya, saya tidak ingin dengar yang lain "
"Besok harusnya Rafli mengirimkan sejumlah uang pada kami. Uang yang selalu diberikan Rafli secara rutin setelah papanya bangkrut. Tapi pegawai Rafli mengkonfirmasi kalau tidak bisa mencairkan dana seperti biasa karena dengan meninggalnya Rafli otomatis semua dana dibekukan, dan akan kembali aktif jika Senja selaku wali sah dari Zain sebagai ahli waris menyetujui untuk dilakukan pencairan dan membuka aksesnya " jelas Sonya lagi.
"Ohhh...Berapa mas Rafli biasanya mengirimkan pada nyonya ? "
" 100jt di minggu pertama dan 50jt di minggu ketiga " jawab Sonya lirih. Sonya sebenarnya memang malu, tapi tidak ada lagi yang bisa diharapkan selain pemberian dari Rafli. Obat - obatan Rajata dan Raisa tidaklah murah.
"Tulis saja nomer rekening nyonya, Saya akan mengirim nanti. Untuk selanjutnya akan saya bicarakan dengan Zain dulu " ucap Senja tetap datar tanpa ekspresi.
"Terimakasih Nja, mama tahu waktunya tidak tepat. Tapi papanya Rafli harus benar - benar di terapi. Apalagi Raisa, mama tidak tega melihat dia seperti orang gila. Mama tidak tahan " Sonya terus bercerita membangun iba.
Sonya meninggalkan Senja dengan rasa malu. Penyesalan sudah tidak ada gunanya lagi saat ini.
Senja mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya. Hanya dengan satu kali dering, Darren langsung menerima panggilan.
"Iya Ask " sapa Darren.
"Ask, barusan mamanya mas Rafli ke sini. Intinya uang yang biasanya mas Rafli kirim tidak bisa dicairkan karena harus menunggu konfirmasi dari Senja. Mamanya mas Rafli butuh urgent karena untuk terapi papanya dan Raisa. Senja boleh tidak pakai uang kita dulu 150 juta. Senja kembalikan nanti jika sudah jelas semuanya " jelas Senja to the point.
"Mulai kapan kalau pinjam uang harus kembali uang Ask. Itu berlaku untuk orang lain. Kalau buat kita, tidak seperti itu. pinjem uang kembali yang lain dong " goda Darren.
__ADS_1
"Ish, tau gitu Senja nggak usah ngomong. Senja juga punya uang segitu " bales Senja sewot.
"Iya... Iya...Pakai saja, gak usah dikembalikan. Ribet banget pinjem segala. Yang penting servisnya " goda Darren lagi dan lagi.
"Lagi gak buka Servis. Zain gimana ? " tanya Senja.
"Masih sibuk menanyai Yanes. Zain penasaran kenapa tidak ada sekretaris di sini " ucap Darren.
"Terus ? "selidik Senja.
"Ya dikasih tau karena gak perlu Ask. Zain setuju " ucap Darren sambil melihat monitor yang diberikan Rafli. Darren melihat Senja sedang mengelus - elus perutnya.
"Apa Zain masih sering bicara tentang mas Rafli? " tanya Senja hati - hati.
"Masih ada, wajar kok. Sepertinya Rafli memang sering mengajaknya ke kantor. Owh ya Ask, Rafli sebelum meninggal berpesan kalau kamu harus membuka brankas kalian. Aku tidak tahu apa maksudnya. Buka saja " ucap Darren.
"Baiklah nanti saja,nunggu Askim "
"Iya Ask, kamu memang yang terbaik. Sepertinya Yanes dibuat berkeringat oleh Zain, wajahnya tegang keringat mengucur. entahlah apa yang ditanyakan Zain " ucap Darren sambil terkekeh.
"Jangan senang dulu Ask, siapa tahu Yanes sedang berusaha melindungimu dari pikiran buruk Zain. Yanes bisa jadi sedang menutupi keburukanmu dan Zain yang sangat dewasa dan perasa itu pasti merasa lawan bicaranya sedang berbohong atau tidak " Senja terkekeh lalu menutup sambungan teleponnya.
Darren segera memaksimalkan indera pendengarannya untuk menyimak lebih jauh pembicaraan Darren dan Yanes, tapi tetap saja tidak terdengar.
Lima menit kemudian Yanti keluar dengan wajah ditekuk dan sedih. Berbanding terbalik dengan Zain yang tampak santai.
"Ada apa Nes ? " tanya Darren penasaran.
__ADS_1
"Itu anaknya bu Senja ahli nujum ya bos. Ramalannya kenapa pada bener semua. Tolong di atur ya bos, jangan sampai bu Senja denger. Bisa - bisa gagal nikah sama Rosa aku bos " ucap Yanes langsung mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan Darren.
"Zain ? " tanya Darren balik bertanya pada anaknya