
Senja hanya mencium suaminya sekilas. Tidak peduli muka pengen Darren yang berharap lebih. Urat malu Darren benar - benar sudah putus berganti dengan urat nafsu.
Setelah itu Darren memberikan kesempatan para pemburu berita untuk mengambil fotonya bersama Senja. Seusai menjalankan tugasnya, para awak media diperkenankan makan di restaurant hotel. Semua sudah ada Yanes yang mengurus.
Senja dan Darren masuk ke tempat di adakan acara dengan santai. Tidak peduli dengan ratusan, hampir ribuan mata yang memandang. Tidak seperti acara pernikahan yang menggunakan wedding entrance. Mereka langsung ke tempat di sisi Aleandro dan Chun Cha berada.
"Enak banget kalian! Kami rasanya pengen pingsan. Tamunya eomma dan appa tidak berhenti - henti," keluh Chun Cha.
Belum sempat Aleandro menimpali. Arham dan Bae mendatangi mereka. Memberi tahu rangkaian acara akan di mulai.
Sebagai pembukaan master fo ceromony memperkenalkan pasangan calon orang tua baby twins satu persatu, lalu menperkenalkan Sarita - Mahendra, Bae - Arham dan Zanetti - Geineve.
Acara tujuh bulanan tidak menggunakan tradisi dari manapun. Pengajian juga sudah dilakukan sore tadi, malam ini lebih pada kebiasaan keluarga Bae. Di mana setiap ada sodara yang kehamilannya bersamaan harus dirayakan. Yang paling menyebalkan adalah karena yang bersaudara Chun Cha dan Senja. Mereka akan bertukar tempat. Jadi akan ada saatnya acara inti keluarga yang mengharuskan Senja duduk di samping Aleandro. Sedangkan Chun Cha bersama Darren.
Sungguh sesuatu yang meresahkan bagi Darren. Menurut tradisi keluarga Bae, hal itu untuk merekatkan tali kekeluargaan. Di mana mereka harus saling menjaga anak dan pasangan saudara sama dengan menjaga pasangan sendiri. Memang keluarga Bae kekeluargaannya sangat erat, terlalu berlebihan kalau menurut Senja. Karena jika satu orang dianggap musuh, maka akan dianggap musuh oleh semuanya.
Aleandro dan Darren pun bertungkar posisi. Berbeda dengan Aleandro yang nampak biasa saja. Bibir Darren terlihat monyong beberapa senti.
"Kak, itu bibir nggak bisa ya biasa aja. Di liatin banyak orang. Bebek bisa insecure kalau begitu." Chun Cha bergeser, memberi ruang lebih untuk Darren duduk.
"Jangan cerewet! Kamu pikir aku senang duduk si sini. Sama sekali tidak! Lihat suamimu dan istriku. Mereka malah asik sendiri," dengus Darren sembari menunjuk Senja dan Akeandro yang malah berbincang asik.
"Baby De, sudah pinter banget ya kak? De nggak lupa sama Senja kan kak?" tanya Senja setengah berbisik.
"Tentu tidak! De tetap menjawab Ma Nja kalau di tanya De anaknya siapa? " Aleandro menjawab dengan senyuman lebar, terlihat sangat bahagia.
Obrolan berhenti, karena acara selanjutnya harus berjalan.Yaitu acara memberikan sesuap makanan pada saudara ipar sebagai lambang atau bukti kecintaan dan penerimaan terhadap keluarga pasangan.
Darren memandang sendok dan Chun Cha bergantian, rasanya bukan ingin menyuapkan. Dia lebih ingin menggosokkan sendok itu pada bibir Chun yang hobby mencebik.
"Semua makanan yang ada di piring ini kamu suka kan Nja?" Aleandro memotong daging dengan hati - hati, menambahkan lauk yang lain lengkap dengan nasi berwarna hijau.
__ADS_1
Aba - aba hitungan dari pembawa acara mengantar sendok yang dipegang Aleandro ke dalam mulut Senja dengan tepat, Sementara sendok yang di pegang Darren sukses menyasar bibi kiri Chun Cha.
"Daddynya Dasen mulut saja tidak tahu," dengus Chun Cha seraya membantu mengarahkan tangan kakak iparnya yang memegang sendok menuju mulutnya.
Darren tidak peduli tamu undangan sedang menjadikannya sebagai pusat perhatian. Yang terpenting pandangannya pada istrinya tidak terhalang.
Sebenarnya hanya acara saling suap ini saja yang mengharuskan mereka bertukar posisi, tapi Bae dan Sarita kompak mengerjai Darren. Mereka juga tidak terima dengan cara Darren meminjamkan uang pada Angelica. Melihat wajah Darren kelimpungan merupakan kebahagian dan kepuasan sendiri bagi Sarita dan Bae.
"Apa keluarga eomma memang mempunyai tradisi yang aneh begini? Kalau iya, aku berharap anakku nanti tidak ada yang hamil bersamaan. Lagian, kamu ini saudara istriku. Tapi kenapa kecantikanmu kalah jauh dengan Senja? Setidaknya mirip kek, biar aku bisa anteng juga. Kalau begini berasa berdiri di samping Wati," ledek Darren. kakak dan adik ipar itu memang sudah biasa saling menghina. Kalau sampai mereka akur, justru akan terlihat aneh.
"Aku seperti berdiri di samping Rudi," sahut Chun Cha tak mau kalah.
Itu hanya sebagian kecil yang bisa ditangkap para tamu. Perselisihan kecil yang lucu antara Chun Cha dan Darren semakin menegaskan kedekatan mereka yang natural, berbeda dengan Aleandro dan Senja yang akrab tapi tetap menyisakan jarak dengan rasa segan yang ada pada diri masing - masing.
Semakin malam acara semakin hangat, semua berbaur dalam suasana akrab. Tapi penderitaan Darren belum berakhir meski Chun Cha sudah kembali pada Aleandro. Senja seperti disabotase oleh Sarita dan Bae. Mereka menemani Senja bak istrinya itu adalah ratu.
"La... Malam ini kamu tidur sama Eomma saja," usul Bae.
Kadang Bae dan Sarita memang berselisih paham karena hal - hal tertentu, tapi tak jarang mereka juga bisa saling kompak dan mendukung.
Tanpa mereka sadari, obrolan mereka sampai di telinga Darren. Jelas Darren tidak menyukai rencana keduanya. Bagaimana seorang istri diajarkan pisah kamar dengan suaminya. Jangankan semalaman, satu jam pun Darren tidak ingin tidur sendirian tanpa Senja. Cukup acara kabur Senja semalaman di hotelbkapan hari.
Darren tidak kehilangan akal, di penghujung acara, Darren meminta Yanes membawakan satu box es batu ke dalam toilet. Darren dengan kenekatannya mencuci muka, leher dan telapak tangannya dengan es batu. Menempelkan balokan kecil es, dipipinya lebih lama, lalu mencelupkan tangannya. Hingga wajah, leher dan tangannya dingin membiru.
Senja, Sarita dan Bae kaget melihat Darren yang tiba - tiba terlihat lemas. Senja menggunakan punggung tangannya untuk memeriksa suhu tubuh suaminya. Terlalu dingin, bibirnya membiru, buku - buku tangan Darren terlihat putih pucat.
"Sepertinya Darren demam," ucap Sarita, memanggil Mahendra dengan melambaikan tangannya.
Mahendra menyembunyikan senyumannya, apa yang dilakukan Darren mengingatkan Mahendra pada kelakuan Darren saat malas masuk sekolah. Mana bisa Darren yang tadi segar bugar dan cengar cengir, mendadak pucat pasi begini.
"Biar papa antar ke kamar, Nja temani suamimu. Papa harus turun lagi, karena tamu - tamu juga akan berpamitan" Mahendra dengan santai memapah Darren, Senja mengikuti dari belakang. Sarita tersenyum sinis, diapun sebenarnya tau dan sudah hafal trik anaknya ini. Tapi apa boleh buat. Daripada nanti anaknya semakin dikerjai Bae, Sarita pun mengikuti saja drama yang dilakukan Darren.
__ADS_1
Sampai kamar, Mahendra langsung mbaringkan Darren ke atas ranjang. "Kamu harus berterimakasih pada papa Darr," bisik Mahendra sesaat sebelum meninggalkan Darren dan Senja berdua.
"Dingin, Ask!" rintih Darren, tentu saja dibuat - buat.
Senja melipat selimut jadi dua agar menjadi lebih tebal. Tapi Darren tetap merasa kedinginan.
"Peluk saja, Ask! Skin to skin, salurkan kehangatanmu padaku," pinta Darren, panjang lebar tapi dengan suara konsisten dibuat lemah.
Senja menyusup ke dalam selimut suaminya. Karena terhalang perut, Senja tidak bisa memeluk sempurna.
"Kamu punggungi aku saja! Biar aku memelukmu dari belakang." Darren kembali mengiba dengan suara semakin pelan.
Posisi sudah seperti yang Darren harapkan.Tubuhnya kini menempel sempurna tanpa jarak, tangan Darren sudah menyusup sempurna di antara dua benda bulat kenyal berisi milik Senja. Awalnya diam, lama - lama mendekati pucuk hitam penguat signal kegelisahan Senja. Di situlah titik lemah istrinya.
Senja memejamkan matanya, merasakan kedutan kecil menyentuh bokongnya dari sesuatu yang keras.
"Ask...kamu beneran sakit kan?" Senja mulai curiga.
Darren semakin lincah menggeser perlahan jemarinya.Hingga pucuk ibu jari dan telunjuknya memelintir pelan pucuk hitam istrinya.
"Ask! Jangan ...." Senja semakin mengeliat, tapi tetap berusaha menepis dan menolak.
"Jangan berhenti," sahut Darren, semakin berani melakukan lebih.
Lenguhan kenikmatan mulai terdengar dari mulut Senja, seiring dua tangan yang sama - sama bekerja aktif di dada dan di pusat kenikmatan Senja.
Darren baru saja ingin membuka resleting dress Senja, pintu kamarnya ada yang nengetuk dengan sangat keras. Senja buru - buru turun dari ranjang, merapikan rambut yang sudah acak - acakan.
"Zain? kok sendirian?" tanya Senja, kaget karena melihat Zain sendirian di depan pintu.
"Zain ngantuk! Zain pengen tidur sama mama." tanpa menunggu jawab, Zain langsung naik ke atas ranjang di mana Darren berada..
__ADS_1