
"Apa kabar, La? Ibu kangen sama kamu." bisik perempuan yang sangat berjasa bagi hidup Senja itu, siapa lagi kalau bukan bu Halimah.
"Maafkan Kemala, bu. Kemala sudah lama tidak berkunjung ke panti," isak Senja.
"Tidak mengapa, Ibu paham. Terimakasih sudah membuat panti menjadi jauh lebih baik, banyak anak yang bisa kita tolong sekarang. Tapi Ibu semakin tua, Ibu butuh seseorang yang bisa meneruskan tugas Ibu." bu Halimah merenggangkan pelukannya, membawa Senja masuk ke dalam.
Suasana rumah begitu ramai, tidak ada penyambutan berlebihan. Sangat khas Senja yang lebih menyukai kesederhanaan. Tapi berkumpulnya semua keluarga adalah kebahagiaan mahal yang tidak ternilai harganya.
Mahendra dan Sarita kompak mengambil alih baby twins dari geendongan Wardah dan Ulfa. Inilah pertemuan pertama mereka dengan cucu kembarnya.
"Beyza, cantik sekali cucu Opa ini." Mahendra berkali - kali mengagumi paras cucunya sendiri.
"Lihatlah, Derya! Raut wajahnya setenang Senja." Sarita nampak bahagia sekaligus haru.
Bae dan Arham ikut menimpali besannya. Ke empat orang tua itu asik sudah dengan cucu baru mereka. Eunji, Hyeon, asik bermain dengan Zain, baby De dan Dasen.
Chun Cha dan Aleandro menghampiri Senja yang masih bergelayut manja di lengan bu Halimah.
"Selamat ya kak, semoga tiga bulan lagi operasi Chun juga selancar kakak." Chun duduk di samping Senja dan mencium pipi kiri kanan kakaknya itu.
"Aminnn ... Insya Allah pasti lancar, asal jangan males - malesan terus." Senja menyentil hidung adiknya.
Aleandro menundukkan badannya hendak mengucapkan selamat sekaligus mencium pipi Senja.
Darren buru - buru menarik tangan Aleandro. "Aku wakili saja, sini peluk aku lebih berasa."
Aleandro mencebikkan bibirnya. " Anak sudah banyak, masih saja berlebihan khawatirnya."
"Justru anak makin banyak, makin takut kehilangan. Kalau sampai mamanya kabur, pasti semua ikut. Makin banyak yangvakan membenci dan mendoakanku buruk - buruk. Itu lebih mengerikan ketimbang pailit." Darren menjabat tangan Aleandro begitu erat.
__ADS_1
"Darr, kamu itu ganteng, dompetnya tebel. Keluar rumah, jalan sendiri di luar sana, pasti nggak ada yang tau anakmu banyak. Kok malah kamu yang posesif sama Kemala." Halimah ikut menimpali pembicaraan Aleandro dan Darren.
"Bener, Bu. Kalau Kemala sudah tidak mungkin mengaku gadis. Gitu masih dipingit. Yang seharusnya posesif itu Kemala kan?" sahut Senja.
"Meskipun seluruh dunia mengatakan aku terlalu posesif, aku tidak peduli. Yang penting istri aman dari godaan." Darren melepas tangannya dari tangan Aleandro lalu ikut bergabung bersama anak - anak di area bermain ruang keluarga. Aleandro pun ikut menyusul Darren, begitu juga Chun Cha yang sejak hamil tua malah hobi mengikuti kemanapun Aleandro pergi.
Tinggallah bu Halimah dan Senja sendirian.
"Alhamdulillah ya, Nja. Kamu benar - benar sudah menemukan keluargamu sekarang. Anak - anakmu tidak akan merasakan apa yang kamu rasakan, itu yang penting. Tapi tugasmu semakin berat, mereka hidup dan tumbuh dalam kecukupan bahkan bisa dibilang berkelimpahan. Akan sulit bagi mereka untuk berjuang dan menghargai miliknya, kalau kamu dan Darren tidak mendidik mereka dengan benar." Halimah menunjukkan kekhawatirannya.
Hal yang lumrah dikhawatirkan. Darren yang serba berkecukupan sejak lahir, seenaknya sendiri bisa jadi akan memanjakan anak - anaknya. Berbeda dengan Senja yang merasakan susahnya hidup. Keduanya bisa jadi akan berbeda konsep dalam mendidik anak - anaknya.
"Kemala akan membicarakan dengan abang, Bu. Karena Senja tidak ingin anak - anak tumbuh seenaknya sendiri. Mereka harus tahu, tidak ada kenyamanan yang bisa dirasakan tanpa kerja keras dan pengorbanan."
"Kamu benar. Semoga anakmu digolongkan dengan anak - anak yang shalih dan Shalihah. Menjadi jembatan surga bagi kedua orang tuanya. Ibu hanya bisa berdoa. Ibu benar - benar bersyukur melihatmu sekarang. Kemala Ibu yang selalu tegar dan sabar menghadapi apapun. Tidakkah kamu menangis saat melihat tempe goreng." Halimah mengacak rambut Senja layaknya anak kecil.
Kenzi langsung masuk dengan mengucap salam terlebih dulu. Di tangannya membawa buket yang tersusun dari coklat merk mahal dari Belgia.
"Selamat bertambah anak, Bu. Semakin mempesona saja setelah melahirkan. Badan melar, pipi tembam, mata sembab tidak mengurangi sedikitpun kecantikan Bu Senja," Kenzi menyerahkan buket coklat pada Senja.
"Ah ... Mas Ken bisa saja." Senja menerima buket coklat dengan senyumnya yang makin membuat Kenzi deg - degan.
'Janda semakin di depan. Tapi istri orang lebih menggiurkan.' batin Kenzi.
Tapi Kenzi sama sekali tidak berniat menjadi pebinor, cukup mengagumi dalam hati. Selalu ingin melihat kebahagiaan Senja dan Darren lebih dekat adalah salah satu terapi alami yang membuatnya semakin tahu diri untuk tidak mengharapkan Senja lebih jauh.
"Duduk mas, saya panggilkan abang dulu ya." Senja mempesilahkan Kenzi duduk seraya mengajak Halimah bergabung ke dalam.
Kenzi terus menatap punggung Senja sampai menghilang dari pandangannya. Jelas saja Darren tidak akan berpaling, selangkah saja perempuan itu ditinggalkan suaminya, para pemuja istri orang termasuk dirinya pasti akan langsung menangkap gesit.
__ADS_1
Darren berjalan mendekati Kenzi, dengan gaya khasnya yang angkuh. Dua tangan masuk ke kantong samping celananya. Di belakang Darren, tampak Ulfa membawakan minuman untuk Kenzi.
"Silahkan, Pak." ulfa meletakkan secangkir kopi di atas meja untuk Kenzi.
"Terimakasih mbak Ulfa." Arah pandangan Kenzi tetap pada dada Ulfa.
Darren menendang kaki Kenzi dengan agak keras. "Mata tuh buat lihat yang bener."
Ulfa langsung meninggalkan kedua laki - laki
"Kayak Lu enggak aja. Kamu yang lucknutnya upnormal bisa dapat bu Senja, meskinya Tuhan bermurah hati memberikan aku minimal di atas bu Senja segalanya," ucap Kenzi, sedikit songong.
"Sudah dapet? sudah ada pandangan? Semoga ada. Biar double date kita imbang," ledek Darren sambil terkekeh.
"Berat, lebih mudah cari project baru ketimbang cari istri kayak bini Lu."
"Cuman ada satu, itupun dulu gue nekat. Kalau enggak pasti Aleandro yang dapet. Akhirnya Al dapet adiknya bini gue. Kalau Lu mau, Lu bisa dapet baby sister gue. Lumayanlah, tungguin sebentar pasti sifatnya bakalan kebentuk dari bini gue. Soal wajah dan lain - lain, biarkan uang yang berbicara." Darren memberikan saran yang menyesatkan.
Suara tangisan melengking Beyza terdengar sampai ruang tamu, tempat di mana Darren dan Senja berada. Sudah selesai diberi Asi sampai Senja merasakan panas di pucuk hitamnya, tapi Beyza tidak mau berhenti. Sekarang di berikan malah tidak mau dan menangis.
"Darr, itu tangisan stereo sekali. Kamu pas bikinnya pakai gaya apa?" tanya Kenzi dengan konyolnya.
Tanpa menyahut pertanyaan Kenzi, Darren mendekati Senja dan Beyza. Dengan sigap, ala - ala papa hot, Darren mengambil alih gendongan Beyza. Benar saja, bayi perempuan yang sangat cantik itu langsung terdiam.
"Anak daddy memang pintar." Darren membawa Beyza menemui Kenzi.
"Kok langsung diem sama Lu?" tanya Kenzi, terlihat heran.
"Anak - anak harus ada yang ketergantungan sama kita, jangan hanya mamanya yang berkuasa. Kamu akan tau manfaatnya saat istrimu sedang marah nanti," bisik Darren sedikit licik.
__ADS_1