Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Bad Mood


__ADS_3

Senja, Aleandro dan Deandra sedang menunggu hasil observasi dokter untuk rahim Deandra. Aleandro tidak hentinya memberikan dukungan pada Deandra. Tangannya tidak pernah lelah menggenggam tangan sang istri. Sesekali Deandra menyandarkan kepala di bahu kekar milik suaminya.


Senja berdiri memandangi hasil kertas print kecil hasil USG. Usia kandungannya ternyata kurang lebih sudah mencapai usia lima minggu.


Sedang fokus-fokusnya, ponselnya bergetar beberapa kali. Pertanda ada panggilan telepon masuk di sana.


'Tuan menyebalkan,' batin Senja saat melihat nama di layar ponselnya.


Senja menepok keningnya sendiri. Senja lupa kalau dia sudah bekerja di kantor Darren. Dengan nyali yang sedikit menciut, Senja menerima sambungan telepon dengan menggeser ke atas lambang telepon bewarna hijau di layar ponselnya.


"Saya Tuan," sapa Senja lirih .


"Kamu niat kerja gak sih? kamu tau kan hari ini kita ada janji sama Firly. Ini sudah jam sepuluh dan kamu belum sampai di kantor." Darren mulai mengoceh dengan nada kesal.


"Maaf Tuan saya lupa kalau saya sudah kerja di tempat Tuan. Saya masih di rumah sakit sama Kak Andra. Tapi saya janji saya akan ke kantor. Kita akan tetap ke tempat pak Firly."


"Aunty Andra sudah datang ?" tanya Darren kaget.


"Iya ... kemarin malam."


"Baiklah ... Kalau urusan di sana sudah selesai, Segeralah ke kantor!" perintah Darren, langsung memutus sambungan ponselnya.


Di saat yang sama seorang perawat mempersilahkan Aleandro dan Deandra untuk menemui dokter di ruangannya.


Senja menunggu di depan ruangan dokter dengan tidak tenang. Entah kenapa perasaannya menjadi sangat sedih. Dia menepis firasat buruknya, dengan mencoba membaca istighfar berkali-kali.


Setelah hampir satu jam, Deandra dan Aleandro keluar dari ruangan Dokter dengan wajah yang sangat sedih. Keduanya diam tanpa kata. Membuat Senja enggan untuk bertanya tentang apa yang di sampaikan dokter.


"Kamu langsung ke kantor saja ya, kami ingin sendiri sebentar," ucap Aleandro pada Senja .


"Iya kak Al."


Mereka pun terpisah di lobby rumah sakit. Aleandro dan Deandra langsung menaiki mobil jemputan mereka. Meskipun mereka tidak mengatakan apapun, Senja yakin apa yang dikatakan Dokter adalah berita yang tidak baik bagi keduanya.

__ADS_1


Sebuah mobil jaguar F - sport berhenti tidak jauh dari tempat di mana Senja berdiri. Si pengemudi menurunkan kaca mobilnya. Membuat Senja yang awalnya tidak peduli, akhirnya harus melemparkan senyuman. Karena dia mengenal siapa yang mengendarai kendaraan itu, tak lain adalah Firly.


"Sedang menunggu seseorang?" tanya Firly.


"Tidak," jawab Senja singkat.


"Mau kemana?"


"Ke kantor." jawab Senja sedikit tidak bersemangat.


"Bareng yuk! Aku sekalian ke kantormu. Kita bisa tanda tangan kontrak di kantormu saja, lebih efisien bukan?" tanya Firly dengan penuh harap.


Senja berfikir sejenak. Menimbang-nimbang ajakan Firly. Masuk akal juga idenya. Senja jadi tidak perlu keluar dan semobil dengan Darren lagi.


"Baiklah," jawab Senja akhirnya.


Firly tersenyum senang. Senja membuka pintu mobil Firly dan Masuk ke dalamnya. Wangi vanila dari tubuh Senja langsung tercium menenangkan jiwa Firly.


"Siapa yang sakit?" tanya Firly sambil mulai mengemudikan mobilnya.


"Owh .... Kenapa Darren tidak mengantarmu?" pancing Firly.


"Dia sedang sibuk" jawab Senja seperlunya. Senja sedang tidak mood, pikirannya masih melayang pada wajah sedih dan murung Deandra.


"Apa hubungan kalian baik - baik saja?"tanya Firly hati - hati.


Senja meremas tangannya sendiri. Gara - gara Darren dia harus ikut berbohong. Mengatakan yang sesungguhnya pada Firly juga tidak mungkin. Darren akan memarahinya habis- habisan. Dia sedang di situasi tidak ingin berdebat dengan siapapun saat ini.


"Kami baik -baik saja," jawab Senja, lagi-lagi berbohong.


"Benarkah? semalam aku melihatnya di club bersama Gea. Kamu tau siapa Gea?" Firly sengaja memancing reaksi Senja.


"Tuan Darren memang sering ke club. Setauku Gea adalah CEO perusahaan G. Kemarin sore dia sempat ke kantor," Jawab Senja sangat datar. Tidak ada ekspresi marah, cemburu atau kesal layaknya pasangan yang mendengar pasangannya sedang bersama perempuan lain.

__ADS_1


"Kamu tidak takut Darren mengkhianatimu? Gea adalah perempuan yang agresif. Kalau dia tertarik dengan Darren, maka dia akan mengejarnya sampai dapat," jelas Firly tanpa diminta.


Senja tersenyum, tentu saja Senja tidak takut. Darren bukan siapa-siapa baginya.


"Darren yang paling tau hatinya buat siapa. Jika dia ingin menggeser siapa yang ada di hatinya, aku bisa apa." Senja masih santai. Padahal dalam hati mengumpat pada atasan angkuh yang membuatnya harus ikut berbohong.


"Wow ... kamu akan melepaskan Darren begitu saja?" tanya Firly masih penasaran. Dia memperlambat laju mobilnya.


Sungguh Senja merasa mobil Firly seperti hampir tidak bergerak. Dengan type mobil yang dinaikinya, sungguh tidak sesuai jika dilajukan dengan kecepatan sepelan ini.


"Tentu saja ... Tidak perlu memaksakan orang lain untuk tetap bersama kita. Memiliki fisik seseorang yang hatinya bukan untuk kita, hanya akan membuat kita terluka sendiri. Kita hidup untuk bahagia," tegas Senja.


Perempuan itu kembali mengumpat dan mengutuk kebohongan Darren. Senja akan memikirkan cara agar dia bisa memutuskan bos angkuhnya di depan Firly. Memutuskan hubungan yang tidak pernah ada tentunya.


"Dan anak kalian?" tanya Firly sangat hati-hati.


Senja mengehela nafasnya lebih dalam. Darren memang membuatnya di posisi rumit. Kenapa bangga sekali mengatakan Senja hamil anaknya. Tanpa pernikahan pula. Tentu saja Firly sudah menganggap Senja adalah simbol perempuan modern yang melakukan *** tanpa ikatan pernikahan.


"Banyak anak yang tumbuh dengan tidak baik meskipun dibesarkan oleh kedua orangtuanya. Tapi tidak sedikit pula yang sukses dan berhasil meskipun tumbuh dan besar hanya bersama ibu atau ayahnya saja. Jadi aku tidak peduli." Senja berusaha untuk cuek.


Biarlah Firly berfikir apapun tentang Senja sekarang. Dia tidak mau terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting.


'It's not you, Senja.' batin Firly dalam hatinya.


"Apa pak Firly mempunyai saudara kembar?" Senja memberanikan diri untuk bertanya sesuatu yang selama ini dia pendam.


"Setauku tidak. Tapi sejak kamu memanggil dan mengejarku di bandara dan melihat caramu menatapku, aku mulai berfikir mungkin aku memang punya saudara kembar. Apa memang semirip itu?" tanya Firly terlihat dibuat sesantai mungkin.


"Ya ... Fisik seratus persen identik," jawab Senja.


"Aku akan mencari tau, mungkin kami saudara kembar yang terpisah," canda Firly, semakin meyakinkan Senja kalau laki-laki di sampingnya memang bukan Rafli.


Firly menghentikan mobilnya tepat di depan lobby. Dengan cepat laki-laki itu turun dan berlari kecil memutari kap mobilnya, lalu membukakan pintu mobil untuk Senja.

__ADS_1


"Terimakasih." ucap Senja pada Firly.


Sepasang mata milik Darren sedang memperhatikan mereka tanpa berkedip. Laki-laki itu kebetulan sedang berdiri di tempat yang dapat memperlihatkan lobby depan dengan jelas. Dia memandang tajam Firly dan Senja yang sedang saling melempar senyum dan masuk ke dalam lobby utama dengan berjalan berdampingan.


__ADS_2