
"Kamu tidak membawaku Ask, aku yang memaksa masuk ke kehidupanmu " bisik Darren lirih memejamkan matanya merasakan pelukan istrinya yang selalu hangat.
Senja mengajak suaminya ke kamar Rafli. Kamar yang pintunya kini terbuka sedikit, Senja mengetuk pintu lalu mendorongnya perlahan. Melihat Zain dan Rafli di teras kamar bercengkrama.
"Selamat ulang tahun mas, Senja tunggu kadonya "ucap Senja. Zain dan Darren saling pandang. Hanya Rafli dan Senja yang paham.
Rafli menerima uluran tangan Senja, " Pilihlah yang kamu suka " ucap Rafli, seperti dejavu beberapa tahun yang lalu.
"Apa aku boleh membelikan untuk Zain dan abang juga ? "tanya Senja, senyuman Senja membuat Rafli berkali - kali menunduk salah tingkah. Darren tersenyum perih merangkul Zain.
"Kita jalan - jalan yuk ! Breakfast nya habis jalan - jalan saja atau sarapannya minta di anter ke pantai saja " ajak Senja.
"Zain berangkatnya jalan sendiri, baliknya kalau capek baru boleh gendong om "ucap Darren.
"Tidak akan capek, dekat sekali om "sahut Zain.
"Yuk !!! "ajak Senja semangat.
Senja berjalan di depan bersama Zain, disusul Rafli dan Darren di belakangnya. Beberaoa kali mereka harus berhenti karena Senja mengajak mereka untuk mengambil foto mereka. Karena tidak ada yang dimintai tolong, mereka bergantian menjadi juru foto. Diam - diam Senja mengambil gambar Darren dan Rafli saat berbincang akrab sepanjang jalan.
Sesuai request, mereka makan di resto cottage yang terletak di tengah pasir putih lembut. Senja melayani tiga laki - laki itu dengan cekatan.
"Mas Rafli hari ini boleh menganggap kita apa saja. Ucapan mas Rafli adalah titah bagi kami bertiga. Tapi inget ya mas, ini gak gratis. Senja sedikit matre kali ini " Senja terus mengingatkan.
"Yang ulang tahun siapa yang minta kado siapa " ucap Darren merasa aneh.
"Tradisi terbalik " jawab Senja dan Rafli kompak.
Rafli menjadi tidak enak. Tapi Darren buru - buru menepuk pundak Rafli, seolah mengatakan "its oke "
"Habis gini , kita keliling pulau naik perahu motor asik kayaknya, sebentar saja. Kita tidak boleh di cottage terus "cerocos Senja yang sepertinya jadi lebih cerewet setelah pembicaraannya dengan Darren tadi.
"Raf,sewa gitar yuk buat di cottage biar g sepi atau piano ? " ajak Darren.
"Emang kamu bisa ? "tanya Senja pada Darren.
"Bisa dong, tapi sudah lama banget gak main. Gak ada yang dirayu " sahut Darren.
__ADS_1
"Berarti dulu ada yang dirayu ?" kejar Senja.
"Enggak ada. Biar keren saja. Bener kan Raf ? cewek kalau lihat cowok nyanyi sama main piano atau gitar pasti langsung klepek - klepek. Kegantengan meningkat. Apalagi gantengnya kita, mendekati sempurna ya ? " ujar Darren meminta dukungan Rafli.
"Bener. Mari kita adu rayu nanti " ucap Rafli, senyumnya mulai lepas.
"Zain ikut. Zain mau ngerayu mama "sahut Zain tidak mau kalah.
"Zain mau ngrayu mama gimana ? "tanya Senja berniat menggoda.
"Tidak perlu banyak kata cukup menunjukkan beberapa bunga dari beberapa bank " jawab Zain cepat.
"Siapa yang mengajari Zain ? "selidik Senja.
"Kata papa cara mendekati perempuan itu berbeda - beda tapi intinya nggak boleh malu - malu, pastikan bunga tabungan cukup , harus yakin dan sedikit dipaksa. Karena perempuan suka bilang terserah. Tapi kalau kata om Darren 80% perempuan cukup didekati dengan menunjukkan mobil apa yang kita pakai, menunjukkan kartu nama, pura - pura buka dompet buat pamerin atmnya tipe apa "jelas Zain dengan polos dan gamblang. Rafli dan Darren kompak sama - sama sibuk mengunyah.
Senja menatap tajam Darren dan Rafli bergantian.
"Papa dan om Darren tidak ahli masalah perempuan Zain. Jangan dengar mereka dan inget Zain masih 7 tahun. Satu - satunya perempuan yang boleh Zain rayu dan pikirkan adalah mama. Mama akan menghukum dua orang yang mengajari Zain tidak benar. Mereka akan membayar mahal untuk ini "ancam Senja.
"Apa dia memang sematre ini " bisik Darren pada Rafli, sangat lirih.
"Semakin kalian bisik - bisik akan semakin habis isi dompet kalian "ancam Senja.
Darren dan Rafli reflek meletakkan dompet mereka di atas meja di depan Senja.
"Boleh di ambil ? "tanya Senja.
"Boleh "jawab Rafli dan Darren kompak.
Senja membuka dompet Rafli baru sekilas Senja langsung buru - buru menutupnya. Yang ditaruh di dalam. dompet Rafli adalah foto Senja bersama Rafli jaman masih kasmaran - kasmarannya. Di mana Rafli suka membonceng Senja dengan motor sportnya saat berangkat dan pulang kerja.
"Nggak jadi, gak ada yang menarik Zain. Uang mereka tidak seberapa banyak.Nanti kalau gede, Zain jangan senengin mama atau cari cewek pakai cara pamer uang ya, gak bakalan cukup. Nanti mama ajarin "ucap Senja, mengembalikan kedua dompet itu ke atas meja.
"Sudah selesai kan ? kita jalan - jalan keliling pulau sekarang " ucap Zain semangat.
"Sebentar mama agak mual, mama ke toilet dulu ya "pamit Senja buru - buru.
__ADS_1
"Zain temenin mama " ucap Darren .
Rafli dan Darren kompak memandang punggung Senja dan Zain sampai menghilang.
"Darr, sekali lagi terimakasih untuk semuanya. Aku tidak khawatir akan kehidupan Zain setelah aku pergi nanti. Jangan sebodoh aku. Semoga kalian bahagia, ingatkan Zain untuk selalu membacakan doa untukku" ucap Rafli.
"Percayalah adanya keajaiban Raff. Tidak ada salahnya kamu mulai pengobatan. Setidaknya kamu berusaha " ucap Darren.
Rafli hanya tersenyum menanggapi ucapan Darren dengan senyuman. Wajahnya terlihat lebih berseri - seri , matanya bersinar menutupi kesedihan. Meski tidak sepenuhnya tertutup sempurna.
Sementara itu Senja sudah menumpahkan semua makanan yang baru saja singgah di perutnya.
"Kita tidak usah jalan - jalan ma. Di cottage saja enak kok, mama sakit. Zain tidak mau mama nanti muntah apalagi pingsan di jalan " ucap Zain, raut mukanya sedih.
"Tidak sayang, mama bukan sakit. Mungkin adiknnya Zain gak cocok sama makanannya. Nanti mama minum susu saja sudah enakan kok "jelas Senja.
"Beneran ? bukan sakit ? " tanya Zain lagi.
"Beneran sayang " Senja menggandeng tangan Zain kembali ke resto.
Di tengah jalan, Senja berhenti sebentar.
"Zain, mama mau minta maaf. Jangan tanya maaf buat apa. Zain pasti sudah tau. Zain, mama hanya mau ngomong sama Zain, jika suatu saat nanti apa yang mama lakukan tidak sesuai dengan kemauan Zain, Zain tidak boleh marah atau kecewa sama mama. Karena saat itu mama sedang melakukannya untuk orang lain. Mama akan selalu ada buat Zain, Tapi tidak semua waktu mama buat Zain " ucap Senja, memberikan senyum di setiap akhir kalimatnya.
"Zain sayang mama " ucap Zain lembut.
Keduanya melanjutkan langkahnya. Mendengarkan celoteh Zain yang ingin segera home schooling setelah pulang ke Jakarta nanti.
"Sakit ? "tanya Darren.
"Enggak, mungkin makanannya gak cocok sama adiknya Zain " jawab Senja, memencet hidung Zain.
"Oke Zain, naik ke punggung om Darren. Zain ke dermaga naik pesawat terbang biar cepat ya. Biarkan mama dan papa ketinggalan " Darren berjongkok untuk memudahkan Zain naik ke punggungnya. Sesaat kemudian Darren pun berlari dengan gaya menirukan pesawat terbang dengan Zain yang tertawa begitu lepasnya.
"Terimakasih Nja. Terimakasih kamu memilih pasangan yang tepat. Zain berada di tangan yang pantas untuk menggantikan kehadiranku " ucap Rafli dengan tulus. Senja menoleh pada Rafli yang kini sedang menatapnya.
"Bagi Zain mas adalah papa terhebat. Terimakasih juga, Zain tumbuh hebat meski tanpa aku "ucap Senja.
__ADS_1
"Akan lebih hebat jika kita bersama "ucap Rafli tanpa sadar.