
" Long time no see, Darr...Maaf pak Darren maksutnya " ralat perempuan itu.
" Mana file yang harus aku tanda tangani ? " tanya Darren bersikap seprofesional mungkin.
Perempuan itu mengitari setengah meja untuk memberikan file di beberapa map pada Darren.
" Sepertinya aku terlambat datang, ternyata kamu sudah menikah Darr. Tapi aku tidak keberatan kalau kamu masih ingin senang - senang seperti biasa " ucap perempuan bernama Zena itu. Zena adalah teman Darren saat masih sering clubing dulu.Salah satu perempuan yang penasaran dengan Darren, karena hanya berhasil mengelus naga laki - laki yang terlihat semakin matang kegantengannya itu. Berkali - kali Zena menawarkan lebih, tapi Darren menolak. Karena memang Darren tidak ada hati. Darren takut akan terikat kalau sudah melakukan lebih. Lagipula Zena tidak hebat.
Darren yang tadinya fokus membaca file langsung berhenti. Dia menatap Zena tajam. Tidak ada tatapan kekaguman di mata Darren, bahkan tatapan laki - laki normal saat melihat gundukan melimpah pun tidak ada sedikitpun.
Senja keluar membawa nampan berisi segelas minimum dingin, Senja memakai daster polos tanpa lengan merah marun dengan resleting depan khas ibu menyusui dengan panjang daster di atas lutut, rambutnya diikat tinggi, memamerkan leher mulus nan jenjang. Darren menelan ludahnya kasar, godaan yang ini sulit ditolak. Sungguh selalu sempurna dimatanya.
" Silahkan mbak "ucap Senja, keramahannya membuat perasaan Darren tidak enak. Senja mengambil duduk di samping Zena persis. Seperti sengaja melakukan gerakan pelan menumpu satu kakinya pada satu kaki yang lain, membiarkan dasternya sedikit tertarik ke atas menunjukkan paha mulusnya.
Zena memperhatikan ekspresi Darren saat melihat Senja. Jauh berbeda saat menatapnya. Jauh sekali perbedaannya. Zena mengakui kecantikan alami dan pesona perempuan berdaster di depannya memang luar biasa. Se* appeal nya nyata. Daya tarik se*sual yang nggak bisa dibeli dan dipelajari. Zena memutuskan untuk benar - benar iri kali ini.
Darren kembali menelan ludahnya kasar, sedari tadi dia juga dihadapkan dengan paket hemat dada dan paha, tapi tidak sedikitpun dia terganggu. Kenapa dengan apa yang sering dia lihat justru sanggup membuat fokus dan kesadarannya berkurang.
" Ask ... " panggil Darren.
" Iya bang " jawab Senja lembut tapi membuat Darren ambyar. Panggilan abang keluar adalah tanda - tanda tidak begitu baik.
" Ini Zena, sekretarisku yang baru. Baru hari ini gabung, aku juga nggak tau. Bukan aku yang milih " Jelas Darren tanpa diminta sambil memberikan bantal sofa pada Senja. Jika tidak segera ditutup, Darren khawatir akan ada sesuatu yang tergerak dari bagian tubuhnya.
" Tapi tadi wati bilang temen, yang bener temen atau sekretaris ? " tanya Senja, senyuman ramah masih menghias wajahnya. Menghempas bantal begitu saja.
__ADS_1
" Dulunya temen. Kita temen clubing " sahut Zena cepat.
" Owhhh.. Temen clubingnya abang, tau dong ya abang ini tangannya jail. Victim atau temennya victim nih ? " selidik Senja. Darren pura - pura fokus menandatangani file saja kali ini. Pembahasan sudah jauh, Zena hanyut dengan arus yang di bawa istrinya.
" Victim yang terabaikan, kamu beruntung berhasil mendapatkan Darren. Dia susah ditakhlukkan " ucap Zena.
" Susah ? Masak sih ? " tanya Senja pura - pura heran.
Yanes dengan nafas terengah - engah memasuki ruangan. Reflek Darren berdiri di depan Senja, melingkarkan kedua tangan Senja di pinggangnya. Tubuh Senja tertutup sempurna dengan tubuhnya.
" Kamu boleh kembali ke kantor. Biarkan file ini dibawa Yanes " ucap Darren datar pada Zena.
Zena hanya mengangguk dan menuruti permintaan Darren. Dua tahun setengah tidak bertemu ternyata merubah Darren banyak, Terlihat sekali Darren tidak tertarik dengannya sama sekali.
" Ask apa'an sih. Aku nggak kelihatan ini " protes Senja, tangannya masih erat di pegang Darren.
Meskipun heran, Yanes tetap menurut. Ingat pasal bos selalu benar. Jangan menolak apalagi melawan kehendak bos, biaya pernikahan mahal. Jangan sampai dua bosnya ini membatalkan niatnya untuk membiayai pernikahannya.
" HRD dan saya masih memakai acuan standart yang lama pak. Karena bapak tidak ada memo internal untuk memenuhi standart sekretaris pribadi pak Darren " jawab Yanes hati - hati.
" Apa maksudnya standart lama Nes ? " tanya Senja masih di balik punggung suaminya.
" Standart sebelum bu Senja menguasai penguasa Mahendra group. Standart sekretaris harus memiliki ukuran xxx diatas normal, Kulit mulus bersih nggak harus putih, pakaian jangan terlalu tertutup, sembilan jam di kantor pastikan ada hiburan di kala jenuh. Seperti itu kurang lebihnya bu " jawab Yanes dengan gamblang.
" Cari sekretaris baru nes, ganti standartnya. Biar istriku yang menyeleksi. Dan lain kali lebih baik suruh OB senior kemari di antar driver kantor. Jangan pernah suruh pegawai perempuan ke sini. Aku tidak suka privasiku banyak yang tau, Paham Nes ? " tanya Darren tegas.
__ADS_1
" Paham pak, sudah belum pak ? Pegel ini leher saya lihat pintu mulu. Kita ngobrol kayak orang pacaran lagi marahan, Itu ngapain bu Senja juga ngapain di punggung bapak. Jangan bilang bapak minta di elus - elus sambil ngobrol " cerocos Yanes yang memang kalau ngomong suka ceplas ceplos.
Darren melepas satu tangannya dari tangan Senja, lalu mengambil map berisi file yang sudah dia tanda tangani.
" Apaan sih Ask, ribet banget " Senja menyahut map dari tangan suaminya. Lalu menyuruh Yanes berbalik badan.
" Ini Nes...Tolong ganti sekretarisnya. Tapi yang smooth. Suruh HRD pura - pura ngadain psikotest kedua dan jangan dilulusin. Kalau langsung diberhentikan gak enak. Pasti dia makin penasaran. Selama Zena masih kerja, abang akan kerja dari rumah. Kalau Zena tanya bilang saja abang masih seneng - senengnya punya anak, gak tega mau ninggal. Sudah itu saja, nanti aku carikan sekretaris baru. Tugasmu selesai, jangan lupa kirim invoice vendor - vendor pernikahanmu. Jangan sampai pas hari H sampai kamu masih ngutang " cerocos Senja, map itu sudah berpundah tangan dari tangan Senja ke tangan Yanes. Mulut Yanes menganga, sulit untuk mengatup.
" Indah hari ini Tuhan " gumam Yanes masih terdengar jelas di telinga Darren.
" Tiga hitungan masih di sini, nikah gratis dibatalkan " ancam Darren, membuat Yanes berlari secepat mungkin tanpa pamit pada Senja.
Darren menggenggam tangan Senja.
" Ask, aku tidak bisa mengubah masa laluku. Tapi aku pastikan, sejak ada kamu di hatiku aku tidak lagi mempunyai tempat untuk perempuan lain. Mereka bisa mengagumiku, karena kita tidak bisa membatasi pikiran mereka. Tapi aku bisa membatasi pikiranku. Jika kamu masih meragukan aku, aku sangat sedih " ucap Darren.
" Tidak, Senja tidak mau meragukanmu lagi ask. Senja hanya sedang sedikit kehilangan percaya diri. Senja merasa perempuan di luar sana banyak yang lebih pantas untukmu. Entah kenapa sejak melahirkan Dasen aku merasa insecure " ucap Senja jujur.
" Aku akan memulihkan rasa percaya dirimu Ask. Lihat aku, tatap mataku baik - baik. Kamu hanya perlu melihat dirimu di sana. Mata Darren Mahendra tidak pernah berbohong saat melihatmu. Jangan bercermin di tempat lain, cerminmu hanya ada di sini dan di sini " ucap Darren membawa jemari Senja menyentuh mata dan dadanya.
Senja memeluk Darren erat. " Senja takut kehilanganmu Ask " ucap Senja.
" Kita memiliki ketakutan yang sama. Jika tidak suka katakan, aku akan perbaiki sikapku. Jika sudah tidak cinta jujurlah, aku akan membuatmu jatuh cinta lagi berkali - kali. Aku tidak akan pernah bosan bersamamu. Karena bersamamu memang tidak pernah membosankan " bisik Darren mesra.
🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Yuk kak ramaikan