Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Syarat menjadi Karyawan Darren


__ADS_3

" Ask... " Darren masuk, menunjukkan Dasen yang mulai merengek haus. Belum sampai satu jam, Dasen sudah kembali meminta haknya. Semua sudah menebak Darren akan tumbuh persis seperti daddynya.


Amar dan Ali menperhatikan interaksi Darren dan Senja.


" Senja sudah terima keduanya Ask, Amar untuk khusus di kantor dan Ali bisa di kantor sekaligus menemanimu di luar " ucap Senja sambil memindahkan Dasen ke pelukannya.


" Dua Ask ? " tanya Darren heran.


"Iya dua, saving energi Ask " ucap Senja, mengerlingkan satu matanya dengan manja lalu keluar ruangan.


Darren meringis melihat polah istrinya.


" Ali, Amar, apa istriku sudah menjelaskan tugas kalian ? " tanya Darren dari mode manis di depan istrinya, sekarang kembali ke mode serius, tegas dan cenderung angkuh.


" Belum pak " jawab Ali dan Amar, kompak.


" Disiplin, dedikasi dan loyalitas tinggi. Tiga itu yang utama. Terlihat sederhana, tapi tidak mudah kalau kalian hanya menaruh separuh hati kalian di pekerjaan yang kalian tekuni. Job desk detail bisa kalian baca saat tanda tangan kontrak nanti. Apapun yang kalian lihat dan dengar di ruangan saya dan saat bersama saya tidak boleh sampai menjadi pembicaraan di luar. Standart gaji di mahendra group jauh lebih tinggi di banding tempat lain, kalian tidak di bayar untuk bergosip " jelas Darren panjang lebar.


" Baik pak " lagi - lagi Amar dan Ali kompak.


" Sekarang kalian ikut aku. Hari ini kalian pelajari job desk kalian dulu. Besok baru bekerja resmi " ucap Darren, keluar ruangan diikuti Amar dan Ali di belakangnya.


Darren menunjuk meja panjang dengan dua laptop di depannya. Rupanya Senja bergerak cepat. Biasanya hanya ada satu laptop di sana.

__ADS_1


" Kalian pelajari dulu job desk kalian. Di situ ada map - map berisi pending matter sekretaris sebelumnya. Jangan tanya kenapa mereka bisa dikeluarkan dari sini, kalau kalian juga ingin bertahan lama. Satu hal lagi, jangan banyak berinteraksi dengan istri saya. Kalau dia menyapa kalian, jawablah seperlunya dan berhati - hatilah. Jika kalian salah menjawab, habis kalian " ucap Darren lalu masuk ke dalam ruangannya tanpa menutup pintunya kembali. Darren memniarkan pintunya terbuka.


Amar dan Ali duduk di belakang meja, langsung membaca map berisi job desk mereka dengan fokus. Hingga suara decapan mengganggu konsentrasi mereka. Awalnya samar namun semakin lama semakin jelas terdengar.


Amar dan Ali ternganga seketika melihat pemandangan di meja kerja bos barunya. Meja yang lurus tak berbelok dari pintu terbuka. Darren seperti biasanya yang selalu mencuri waktu dan kesempatan. Semakin dia kesal dengan Senja, semakin besar keinginan Darren untuk ******* bibir istrinya. Bagaimana tidak kesal, kalau sekretarisnya dua pria muda dengan pesona dan kegantengan yang baru saja diakui oleh istrinya di depannya.


" Dasen bangun " ucap Senja, menarik bibirnya paksa dan mencoba berbohong karena dia sudah kehabisan nafas.


" Aku tidak mendengar rengekan Dasen Ask. Jangan mengalihkan perhatian. Katakan siapa yang paling keren ? paling mempesonamu dan paling tampan ? " Darren masih belum terima rupanya.


" Askim... Daddy Darr " jawab Senja, kembali memejamkan matanya begitu merasakan panas dari hembusan nafas Darren menyapu pipinya. Benar saja Darren kembali memagut bibir Senja, decapan kembali terdengar. Tangan Darren naik turun di punggung istrinya.


" Apa kita dibayar mahal juga untuk melihat ini ? " bisik Amar dengan polosnya.


" Sepertinya begitu. Sempurna sekali ya hidupnya. Semoga nular ke kita Mar " bisik Ali.


Darren tersenyum melepas ciumannya, lalu tersenyum licik melihat dua sekretaris barunya. Setiap pegawai terdekatnya harus biasa dan tidak terganggu ketika melihat hal - hal seperti barusan.


" Sudah Ask, Senja mau pulang. Nanti keburu Zain datang " ucap Senja sambil merapikan baju dan rambutnya.


" Nggak sampai sore saja di sini. Kita pulang bareng ? kan yang penting kendinya nempel " ucap Darren santainya melirik buah dada istrinya.


" Nggak Ask, kasihan Dasen. Masih bayi banget diajak kerja. Ntr bisa jalan langsung jadi ceo bisa - bisa "

__ADS_1


" Ya sudah, sama driver saja gpp kan ? aku masih banyak kerjaan "


" Ya gpp Ask. Senja ambil Dasen dulu "


Darren berjalan keluar mendekati meja dua sekretaris barunya.


" Itu belum seberapa, kalian harus terbiasa. Reaksi kalian tadi berlebihan. Apa kalian sedang belajar cara ciuman dari kami ? lain kali kalian tidak boleh melihat seperti tadi. Kalau asistenku masuk, kalian bisa belajar caranya agar bisa tetap konsentrasi di segala kondisi. Satu hal yang pasti, aku hanya melakukan bersama istriku. Jika kalian berfikir aku seorang casanova kalian salah besar " ucap Darren selalu tegas, meskipun apa yang keluar dari mulutnya sedikit tidak penting.


" Saya percaya pak. Jika mempunyai istri seperti istri bapak seorang mantan casanova pun pasti akan tunduk " ucap Ali, serasa menyindir Darren.


" Kamu benar Al. Kalian berhadapan dengan mantan casanova spesialis size jumbo. Jangan ditiru. Masih banyak hal baik yang ada pak Darren, kecuali itu. Dia pimpinan yang hebat, suami dan daddy yang luar biasa. Sempurna sampai saat ini " puji Senja sambil menyerahkan tas dengan brand luar biasa mahal untuk keperluan Dasen seperti pampers, bodycare dan baju ganti. Darren dengan santai memakai tali tasnya di salah satu pundaknya.


Amir dan Ali memandang kagum pada Darren. Seorang ceo Mahendra Corps, membawa tas popok anaknya. Sungguh pemandangan yang langka dan harusnya bisa diabadikan. Tapi mereka tidak berani melakukannya.


Sementara itu Aleandro dipusingkan dengan baby De yang rewel dari semalam. Badannya panas dan beberapa kali muntah. Dokter ank sudah datang memeriksa tapi kondisi De tidak terlalu membaik. Setiap bangun tidur selalu merengek mencari mamanya. Tangisan yang terlalu lama dan menjadi - jadi membuat De muntah. Di tambah lagi De tidak mau makan sama sekali.


" Om Al kenapa tidak telpon kak Senja saja ? " ucap Chun Cha tidak tega melihat De yang terlihat lemas karena seharian hanya muntah, menangis dan teriak memanggil mamamama.


" Kita bawa ke rumah sakit saja. De sakit, butuh dokter bukan butuh Senja " ucap Aleandro, masih dengan mempertahankan egonya.


Chun Cha dan baby sister De, menyiapkan emua yang dibutuhkan untuk dibawa. Chun Cha sampai tidak masuk kerja, tapi kehadirannya sepertinya percuma. Tidak membuat De menurut seperti biasa.


Sampai di rumah sakit suhu badan De semakin naik, dua orang perawat kewalahan saat memasang infus karena penolakan yang ekstrim dari baby De. Segala bujukan gagal. Terpaksa Aleandro menggunakan kekuatan fisiknya untuk menahan tendangan kaki De yang kuat.

__ADS_1


" Om Al, harus menghubungi kak Senja. De akan menangis histeris lagi saat terbangun. Dokter bilang tidak ada infeksi kan ? tapi badan De panas karena kurang cairan akibat tidak mau makan dan menyusu " ucap Chun Cha, mengelus rambut De yang sedang tertidur pulas.


Aleandro teringat ucapan Darren semalam.


__ADS_2