Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Daddy


__ADS_3

...Jangan lupa vote, coment dan like ya kak. Kurang beberapa bab lagi bakalan end....


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Karena belanjaan kebutuhan Darren junior sangat banyak, Senja meminta pihak toko untuk mengirim saja langsung ke rumahnya.


" Ask, besok boleh nggak aku ikut reuni sama teman - teman kuliahku ? " tanya Darren hati - hati. Tangannya mengelus perut Senja. Menikmati jalanan macet di bangku belakang bersama Senja.


" Sama Hyun juga ? " tanya Senja.


" Iya "


" Ya sudah pergi saja " jawab Senja santai, Darren memeriksa kening Senja dengan punggung tangannya. Senja langsung mengiyakan tanpa banyak tanya seperti biasa.


" Cuman enam orang Ask, cowoknya cuman aku dan Hyun " tambah Darren sebagai informasi lanjutan.


" Owhhh...Iya tidak mengapa, pergi saja " Senja begitu santai, semakin membuat Darren bertanya - tanya. Darren lebih memilih Senja banyak tanya, sedikit curiga dan merengek manja melarangnya daripada harus ditanggapi sesantai ini. Setelah kejadian Song Joong ki kw, Darren harus waspada dengan kemungkinan lain. Jika standart Senja sudah bergeser ke wajah oriental, bukan tidak mungkin wajahnya kini tidak menarik lagi bagi Senja.


" Kenapa Ask ? " tanya Senja, Darren memandanginya penuh tanya.


" Enggak kenapa - napa Ask, kamu kalem ya sekarang ? gak pengen ngomel - ngomel gitu ? ngelarang aku gitu ? atau pengen ikutan ? " Darren balik bertanya.


" Pengen diomelin ya Ask ? " selidik Senja.


" Enggak jadi deh, mau dimanja saja " bisik Darren, bersandar di bahu istrinya.


" Nanti ya, mau pijit kan ? jangan disini nanti pak Ahmad salah arah " ucap Senja, menggoda driver kantor suaminya.


Sampai rumah, Darren masih kepikiran dengan sikap istrinya yang mengijinkannya ikut reuni begitu saja. Darren masih belum terima begitu saja kemurahan hati Senja.


Seperti biasa, sebelum tidur. Senja menyempatkan bermain dan bercengkrama bersama Zain dan baby De. Beberapa bulan ini baby De memang lebih dominan bersama Senja, karena Aleandro sedang mengurusi bisnis barunya di Italia. Aleandro lebih memilih melarikan diri pada kesibukan kerja, ketimbang mencari pendamping hidup kembali.

__ADS_1


" Ma, Zain boleh tidur sama om Darren ya malam ini ? " tanya Zain.


" Iya sayang, boleh " jawab Senja.


" Mau di sini apa di kamarnya Zain sendiri ? " tanya Senja.


" Di sini boleh ? "


" Tentu saja boleh Zain "


" Ask, tadi kado buat temenku di taruh mana ya ? " Darren menyela pembicaraan Senja dan Zain.


" Sudah di bawah, besok kalau mau berangkat minta bibi ambilin di kamar tamu " jawab Senja.


" Ohhhh oke ... Sini Zain " ucap Darren, menepuk sisi kosong ranjang tepat di sampingnya.


Zain menghampiri Darren, Senja mengikuti kemanapun kaki baby De melangkah. Beberapa kali baby De terhuyung, pertanda sudah mulai mengantuk.


" Zain ngerasa nggak kalau om Darren sayang sekali sama Zain ? " tanya Darren, Zain menggunakan tangannya untuk bantal kepala.


" Merasa " jawab Zain singkat.


" Kalau om Darren ada kurangnya selama jaga Zain, om minta maaf ya. Om belum bisa sesempurna papa Rafli. Tapi om benar - benar sayang sama Zain. Om sayang Zain bukan karena Zain anak mama Nja " ucap Darren.


Senja mengurungkan niatnya untuk masuk kembali ke kamarnya, sepertinya Darren dan Zain sedang berbicara dari hati ke hati.


" Jangan pernah mencoba menjadi papa Rafli om. Tidak akan pernah bisa. Zain sayang om Darren apa adanya. Zain juga tidak ingin om Darren menjadi papa Rafli " ucap Zain, keduanya sama - sama menatap langit - langit kamar.


Ingin rasanya Darren mengatakan pada Zain. Darren ingin Zain menyebutnya papa, ayah ataupun daddy. Apapun yang mempunyai arti sama. Tapi Darren tidak mau memaksa. Ekspektasi Zain akan sosok seorang ayah memang setinggi Rafli. Gagal menjadi suami tidak membuat Rafli gagal menjadi papa yang baik.


" Zain kangen sama papa Rafli ya ? "Darren bertanya seraya mengelus rambut Zain.

__ADS_1


Anak laki - laki penurut, tapi sangat cerdas itu mengangguk pelan. " apa yang dilakukan papa sekarang ya om ? " tanya Zain lirih.


" Papa sedang melihat Zain dari atas sana, aydahkan Zain mendoakan papa Rafli hari ini ? sudahkah Zain berbuat baik ? sudahkah Zain sayang dan nurut sama mama dan om Darren ? papa sedang sibuk melihat Zain " sahut Senja cepat. Tidak tahan juga lama - lama berada di balik pintu.


" Apa papa hanya sibuk memperhatikan Zain ? apa papa tidak memperhatikan mama lagi ? " pertanyaan polos, tapi memang masuk akal.


" Tentu saja masih. Papa melihat dan mengawasi mama, apakah mama menyayangi Zain dengan baik, apa mama suka memarahi Zain. Papa akan mengawasi kita di sini. Jadi kalau Zain mau berbuat buruk ingat papa, bukan karena papa tau segalanya. Tapi karena papa sudah dekat tidak berjarak dengan Tuhan, kasihan papa kalau dimarahi Tuhan karena kenakalan Zain " jelas Senja, mencari bahasa seringan mungkin untuk dimengerti oleh Zain.


" Zain bahagia, karena ada opa buyut, opa, oma, om Al, aunty Chun dan tentunya mama dan om Darren yang selalu menyayangi Zain " ucap Zain tulus.


" Menurut Zain sayangnya om Darren sama om Aleandro sama atau tidak ? " tanya Senja hati - hati seraya ikut berbaring di samping anak pertamanya.


"Hmmmmm....Nggak sama "jawab Zain juga tampak hati - hati.


" Bedanya apa memang ? " kejar Senja.


" Zain nggak bisa jelasin, tapi dihati Zain bisa merasakan. Om Darren seperti papa, selalu mengusahakan apapun untuk Zain. Kalau om Al sayang sih, tapi Zain masih merasa canggung " jawab Dareen.


" Tapi bagi Zain sama - sama om nya Zain ya ? manggilnya saja sama. Om Darren dan Om Al. Mama kalau sayangnya beda, manggilnya agak beda. Biar orang yang sayang sama kita juga merasa kalau kita tuh menganggap mereka spesial " ucap Senja, seperti sengaja membicarakan sebuah panggilan. Darren mencubit lengan Senja dengan tangan yang tertindih kepala Zain, membuat Senja langsung menoleh pada suaminya dengan kesal.


Zain bukan tidak mengerti maksud mamanya, tapi memang Zain belum yakin. Bagi beberapa orang panggilan bukan sesuatu yang penting, tapi bagi Zain panggilan menentukan kedudukan orang itu di hatinya.


" Nggak usah dipikirin, mau dipanggil appapun kasih sayang om akan tetap sama. Om tidak membutuhkan panggilan sayang yang berbeda, yang penting om merasa Zain sayang sama om " hibur Darren tidak mau membuat Zain semakin bingung.


Senja melingkarkan tangannya di atas perut Zain. Tubuh Zain yang kini berisi, membuat Senja tidak lagi khawatir saat memeluk Zain. Mata Senja mulai terpejam.


" Kalau adek baby di perut mama lahir, adek akan memanggil om Darren apa ? " Zain mendongakkan kepalanya sambil bertanya.


" Adek baby akan memanggil Daddy " jawab Darren cepat.


Zain tidak menyahut, dia sedang berfikir. Zain memindahkan tangan mamanya yang sudah pulas. Lalu memunggingi Senja dan memeluk Darren.

__ADS_1


" Bolehkah Zain memanggil om Daddy juga ? "


__ADS_2