
Bae terlihat sedih dan murung. Wajah Bae yang tadinya menunjukkan kekesalan dan emosi mendadak menjadi sendu. Bae menghempas bokongnya ke atas sofa di samping Darren. Mengingat kejadian awal pertama kali pertemuannya dengan Senja. Mungkin di hati yang terdalam, Senja belum bisa menerima Bae seutuhnya. Begitu kira - kira pemikiran Bae.
"Kenapa Bae?" tanya Arham.
"Mungkin Kemala masih teringat perlakuanku dulu." lirih Bae.
"Bukan begitu eomma, Mungkin memang bawaan hamilnya kali ini. Sama Darren juga sama kok. Senja tidak senang melihat Darren senyum." hibur Darren.
"Kalau sama eomma kenapa katanya Darr?" tanya Bae penasaran, tapi dengan wajah yang murung.
Darren menarik nafasnya dalam, haruskah jujur atau menjawab tidak tahu saja. Tapi meskipun Bae kadang menjengkelkan, sebenarnya Bae sangat baik. Setidaknya Bae tidak pernah bersikap pura - pura. Selalu mengatakan semua di depan.
"Katakan saja Darr, eomma tidak mengapa." ucap Bae.
"Kalau menurut Senja wajah eomma terlihat jahat dan antagonis." kata Darren, akhirnya memilih untuk jujur.
"Seperti itu ya. Ya sudah eomma tidak akan menampakkan diri di depan Kemala. Biar nanti appa saja yang berpamitan." ucap Bae Sendu, Darren menjadi tidak tega.
"Eomma jangan sedih, sikap Senja ke Darren pun tidak tentu. Sebentar baik, sebentar marah. Eomma jarang bertemu Senja, Darren setiap hari menghadapi sikap Senja seperti itu." keluh Darren.
"Sabar ya Darr. Kemala kan hamil karena kamu juga. Suda dukanya harus kalian jalani berdua. Kamu mau senengnya, jangan sampai susahnya kamu kasih Kemala sendiri." tutur Bae.
"Tentu saja eomma. Darren jalani saja. Selama masih wajar - wajar saja Darren masih bisa terima. Asal jangan sampai Senja nyidam pengen meluk laki - laki lain saja." ucap Darren, ada kelegaan di sana. Setidaknya Bae sudah tidak membahas dan memaksa membawa Dasen.
"Ya sudah, kamu kembali ke kamarmu. Ajak istrimu makan pagi. Eomma sarapan di kamar saja, biar Kemala tidak lihat eomma." wajah Bae terlihat sedih saat mengucapkannya.
"Baik eomma, terimakasih. Appa, terimakasih juga. Maaf kalau menurut kalian terlalu cepat. Tapi Darren janji, akan menjaga kehamilan Senja dengan baik. Darren tidak akan membiarkan Senja melalui masa sulit kehamilan sendiri. Darren pastikan, waktu Darren akan lebih banyak untuk Senja dan anak - anak." janji Darren.
__ADS_1
"Sudah terlanjur Darr. Rejeki kamu dan Senja. Rejeki juga buat kita semua." kata Arham.
Darren lalu kembali ke kamarnya. Tapi dia tidak melihat ada Senja di sana. Darren ke kamar sebelah, ada wati dan Dassen yang sudah memejamkan matanya kembali di sana.
"Mamanya anak - anak kemana Wat?" tanya Darren.
"Katanya tadi mau renang pak, sama pak kembar." jawab Wati.
Sudah pasti jawaban Wati itu membuat Darren kesal. Bagaimana Senja tidak meninta ijin padanya dulu. Apalagi berenang di fasilitas hotel. Kalau di rumah, mau langsung renang tentu tidak masalah. Kalau di tempat umum kan dilihat dulu dari sisi baju renangnya, ramai tidaknya dan kebersihannya. Apalagi pasti Senja belum sarapan pagi.
Darren segera menyusul Senja ke kolam renang yang ada di rooftop hotel. Kolam renang terlihat ramai pagi ini, Padahal matahari sudah lumayan terik. Tapi kolam renang beratap itu tentu tetap membuat nyaman penggunanya.
"Dadd!!!" Zain melambaikan tangannya, Darren yang mendengar panggilan Zain jadi langsung mengetahui posisi Zain.
"Mama Nja mana?" tanya Darren pada Zain yang hanya melihat - lihat, duduk santai sambil meminum segelas jus orange.
Zain menunjuk ke arah kolam di mana mamanya berada. Hyeon dan Eunji terlihat masih dipinggiran bersama salah seorang perempuan yang tidak di kenal Darren. Pastilah hasil dadakan dari mulut manis si kembar. Sementara Senja terlihat baru menyelesaikan satu jalan renang gaya dadanya di ujung kolam. Di sampingnya ada laki - laki yang terlihat tersenyum dan mengajak bicara Senja.
"Wow...Kita seri. Hebat juga kamu!" puji laki - laki berwajah asia, berkulit putih dengan bulu halus menenuhi dadanya. Kalimat itu di dengar jelas oleh Darren. karena kini dia berdiri di bibir kolam tepat di atas kepala istrinya.
"Mau terus renang atau pulang Ask? Urusanku sudah selesai. Kalau mau bareng, cepat naik kita segera pulang. Kalau kamu mau masih di sini, aku pulang duluan." ucap Darren, datar dan dingin.
Senja langsung mengedarkan pandang, mencari arah sumber suara.
"Di atasmu." tambah Darren.
"Hai Ask..." sapa Senja agak salah tingkah, bukan karena laki - laki di sampingnya. Karena tahu suaminya akan marah karena dia tidak meminta izin dulu. "Aku sudah selesai." tambah Senja buru - buru.
__ADS_1
Darren meminta bathrobe Senja yang dijadikan penutup kaki oleh Zain. Darren berjalan mendekati tangga naik turun ke kolam. Mengulurkan tangannya tanpa melihat wajah istrinya. Darren hanya melirik baju renang yang di pakai istrinya. One piece, cukup ketat, lekuknya kelihatan apalagi setelah keluar dari kolam renang.
Sekali lagi tanpa melihat wajah Senja, Darren memberikan bathrobe istrinya.
"Puas?" Darren bertanya atau menyindir, Senja masih bingung. Yang jelas dari wajahnya saja, sudah terlihat Darren sedang sangat kesal.
"Belum, kan belum diapa - apain." bisik Senja, sedikit manja. Darren mengalihkan perhatian, jangankan menimpali, tersenyum saja tidak.
"Panggil Zain, kita pulang." ucap Darren, lagi - lagi tanpa melihat Senja.
Setelah dipanggil ternyata Zain tidak mau pulang. Darren menggelengkan kepala lalu memanggil Zain sendiri.
"Zain kembali sama Daddy." ajak Darren tidak membentak tapi suaranya jelas memberikan penekanan harus dituruti.
Zain pun dengan langkah agak diseret karena tidak ikhlas kembali, tetap berjalan mengikuti Daddynya. Senja menyambar baju gantinya yang ada di meja tempat Zain duduk - duduk tadi.
Sampai di kamar, Darren terus mendiamkan Senja. Wati diminta Darren keluar makan pagi yang sudah telat bersama Zain.
"kemasi barang - barangnya. Kita pulang setelah Zain selesai makan." perintah Darren, jelas tidak ingin dibantah.
"Tapi kita belum makan Ask, setelah makan saja ya beres - beresnya. Lagian eomma dan appa belum pulang. Nunggu mereka sekalian lah." rengek Senja, seperti tidak merasa bersalah.
Darren menyiapkan koper mereka, lalu memasukkan barang - barang yang terlihat dimatanya saja. Mau tidak mau Senja jadi ikut membereskan.
"Kamu kenapa Ask?" tanya Senja benar - benar tidak peka.
"Apa kalau hamil boleh ya berbuat seenaknya sama suami. Selama ini apa yang aku tidak tirutin, apa yang aku tidak diam. Kamu mau marah - marah tidak jelas tanpa sebab aku terima. Mau mual di mukaku sekalipun aku nggak keberatan Ask. Apa kehamilan membuatmu lupa bagaimana menjaga perasaan suamimu yang terlalu pencemburu. Kalau akau bisa memilih. Aku juga tidak ingin terlalu mengekangmu Ask." kata Darren, menahan amarahnya sebisa mungkin.
__ADS_1
"Kamu marah karena aku berenang? "tanya Senja.
"Dari kemarin aku sudah menahan diri dengan gaun - gaunmu. Sekarang kamu mengulang lagi. Apa yang ingin kamu tunjukkan pada orang Ask? Kamu tau aku keluar kamar untuk berbicara baik - baik dengan eommamu, tapi kamu malah senang - senang sendiri. Aku juga bisa benar - benar marah."