Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Berebut Senja


__ADS_3

Sejak peristiwa dikerubutin mama - mama muda, Darren seperti trauma berada di kerumunan. Setiap kali ada acara branding product. Darren tidak lagi ikut. Senja sendiri kadang hadir ditemani Mahendra dan Sarita. Darren lebih memilih menggantikan menjaga Hutama, ketimbang tubuhnya disentuh sembarangan oleh ibu - ibu yang ganasnya lebih ke menyeramkan dibanding menggemaskan.


Untunglah branding intens hanya berlangsung selama dua bulan dan masa itu sudah hampir berakhir. Darren keberatan karena Senja terpaksa harus terbang ke luar kota sebanyak tiga kali untuk memenuhi kontraknya.


Seperti sekarang, Darren sedang uring - uringan menunggu kedatangan Senja dari Surabaya. Kota dan acara terakhir branding produk di sesi pengenalan produk. Pesawat yang ditumpangi Senja mengalami delay selama satu jam.


Sementara seluruh keluarga besar sudah berkumpul di rumah Hutama untuk merayakan ulang tahun Hutama yang ke delapan puluh enam. Senja pergi hanya ditemani Dasen dan Wati karena kebetulan Darren juga ada urusan di negara S selama lima hari.


"Sabar Darr, pasti sebentar lagi sampai." Sarita menepuk pundak anak semata wayangnya.


"Memang landingnya jam berapa kak?" tanya Chun Cha.


"Kalau delay cuman sejam dua jam mestinya sudah sampai. Tahu begini tadi Darr saja yang jemput sendiri," dengus Darren terlihat sangat kesal.


"Sabar Darr! kita nggak keburu - buru. Makan malam juga belum waktunya." Hutama ikut menenangkan.


Tapi bukan Darren namanya kalau bisa sabar jika sudah menyangkut urusan Senja. Sudah lima hari tidak bertemu, video call pun selalu sebentar karena Senja sekarang mudah lelah, kerap sekali tertidur di awal waktu video call mereka.


Hutama, Mahendra, Aleandro terlihat berbincang hangat. Sementara Sarita mengelus perut Chun Cha yang sudah terlihat sedikit menyembul meski usia kandungannya masih dua bulan. Zain dan Nando bermain dengan baby De di awasi Rosa dan Yanes. Meski orang luar, Rosa sudah dianggap keluarga karena dia adalah ibu dari Nando.


Meskipun Deandra sudah meninggal. Bagi Hutama, Aleandro tetaplah anak kedua. Apalagi dengan pernikahan Aleandro dan Chun Cha, kekeluargaan mereka terjalin lebih erat lagi.


Suara klakson mobil menggerakkan langkah kaki Darren berjalan ke luar rumah. Senyuman langsung mengembang di wajahnya yang seketika berubah sumringah.


Darren langsung mengambil alih Dasen dari gendongan Wati. Menghujani pipi gembul kemerahan, bayi yang kini sudah mulai keras merangkak dan mulai berlatih berdiri.


"Miss you Ask..." sapa Senja sembari mencium pipi kiri kanan, kening dan bibir suaminya.

__ADS_1


"Miss you more Ask..." balas Darren, tatapan matanya menyiratkan rindu yang sudah menggebu. Tangan satunya mengusap perut Senja, merasakan perut itu bergelombang sedikit keras. "Apa tidak sakit?"


"Tentu saja tidak. Ini menyenangkan, mereka juga merindukanmu Ask." Senja mengerlingkan matanya dengan manja.


Senja mengamit lengan Darren begitu mesra. Sejauh ini cinta mereka malah semakin bertambah setiap harinya. Kemesraan mereka meresahkan mata bagi siapapun yang melihat.


"Selamat ulang tahun opa, semoga Tuhan memberikan sisa umur yang berkah buat opa. Kadonya dua bulan lagi ya Opa," ucap Senja seraya membungkuk mencium punggung tangan opanya.


Hutama berdiri, mencium kening Senja lalu mengelus perut Senja dengan lembut. "Opa nitip nama Hutama untuk salah satunya," ucapnya.


"Akan Senja berikan sesuai permintaan opa, kali ini nama Hutama yang akan ada di belakang nama mereka," janji Senja.


"Jadi anak - anak kita mempunyai nama belakang berbeda semua?" tanya Darren sedikit heran.


"Tidak masalah, orang tetap tahu siapa bapaknya kalau sudah melihat polah mereka. Semua mirip bapaknya," sahut Sarita.


Mulut Senja seketika mencebik. Tapi membenarkan ucapan papa mertuanya, semakin hari Zain memang malah semakin mirip dengan Darren. Suka menebar pesona, sok genit tapi tidak suka berkomitmen. Senja akan membuat Zain tidak seperti Darren jaman dulu sepenuhnya. Meski Rafli pun memang tidak jauh berbeda dengan Darren.


Sekarang semua sudah berkumpul di meja makan, menikmati santap malam yang spesial karena berkumpulnya semua keluarga. Hutama tidak banyak beruucap, senyum yang selalu mengembang di wajahnya sudah cukup menggambarkan kebahagiaannya kali ini.


Hutama menatap satu per satu anak cucu dan juga buyutnya. Jika Tuhan berkehendak, berpulang sekarangpun Hutama tidak keberatan. Keinginan dunianya sudah selesai. Apa yang di raihnya saat ini adalah bentuk kemurahan Tuhan yang luar biasa terhadapnya.


Selesai makan malam, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga. Sementara anak - anak sudah bersama baby sister masing - masing. Kecuali Nando yang langsung pulang Yanes dan Rosa karena besok Nando masih ada les untuk kesiapan mengikuti olimpiade.


Darren menempel di manapun Senja berada, rasa kangen membuatnya enggan melepaskan tangan dari lengan istrinya. Padahal Sarita, Chun Cha dan Senja sedang membicarakan seputar kehamilan.


Seharusnya Darren lebih cocok bergabung dengan Mahendra, Hutama dan Aleandro. Mereka sedang membicarakan kemungkinan membuat Holding company untuk mempermudah management dan menegaskan kekuatan Darren sebagai pebisnis muda yang sukses.

__ADS_1


"Darr, kamu nggak pengen bergabung di sana. Bulan depan kan ulang tahun perusahaan, apa kamu nggak ngobrol - ngobrol sama papa bakalan bagaimana nanti acaranya." Sarita mengusir Darren secara halus.


"Nggak..Ngapain punya anak buah kalau ulang tahun perusahaan saja bos yang mikir. Mereka sudah paham arah acara bagaimana. Cuma kali ini Darren minta sedikit berbeda. Mulai tahun ini, ada acara khusus untuk seluruh karyawan dan keluarganya. Kita semua juga harus datang. Di balik kesuksesan keluarga kita, ada pasangan dan anak - anak karyawan yang mendoakan." Darren mendadak bijak.


"Kamu benar ask...Kalau kita sejahtera merekapun harus sejahtera. Senja bangga padamu ask." Senja mengelus pipi Darren manja.


"Cuman bangga?" selidik Darren.


"Enggak dong! cinta dan butuh juga." Senja mencubit genit lengan Darren.


Sarita mengibaskan tangan persis di depan hidungnya sendiri, "Ishh...kalian ini sama saja. Nggak yang laki nggak yang perempuan demen banget bermesraan g tau tempat," dengus Sarita.


"Kak...Chun nanti malam tidur sama kak Kemala ya? pengen ngerasain tidur sama saudara perempuan. Kita kan belum sempat merasakan sekamar dan ngobrol bareng sampai pagi," pinta Chun Cha.


Darren seketika mengangkat tangan dan menggelengkan kepala tanda tidak setuju. Sudah lima malam berpisah, tiap selesai kerja dia selalu gelisah, malam ini waktunya menyalurkan kerinduan.


"Kakak ipar jahat, Chun cuman mau tidur sama kakak. Hanya sekali!" Mata Chun Cha terlihat berkaca - kaca saat mengatakannya. Sejak hamil, Chun gampang sekali menangis untuk hal - hal kecil sekalipun.


"Jangan malam ini Chun! Please, beberapa hari lagi." Darren kekeh tidak menyerujui.


Tangis Chun Cha meledak seperti tangisan Dasen saat telat diberikan susu. Pembicaraan Hutama, Mahendra dan Aleandro langsung terhenti.


"Ada apa?" Aleandro menghampiri Chun Cha sedikit khawatir.


"Kakak ipar jahat! Chun cuman mau malam ini tidur sama kak Kemala, tapi tidak boleh," jawab Chun Cha di tengah isaknya.


"Darr...." suara berat Mahendra dan Hutama kompak memanggil Darren.

__ADS_1


__ADS_2