
Tujuh belas tahun usia pernikahan Darren dan Senja. Cinta dan perhatian yang rasanya semakin bertambah. Semakin matang, tidak membuat sifat Darren yang posesif dan cemburuan pada sang istri berkurang. Bahkan kini semakin menjadi.
Semakin berumur, ternyata kecantikan Senja memang tidak pernah berkurang. Bahkan semakin menantang. Tubuh dan wajahnya terawat dengan sempurna. Kemampuan financial mereka sungguh mampu membeli perawatan kecantikan yang menjadikan Senja layaknya perempuan yang sama, seperti saat Darren bertemu dulu.
Bedanya kini tubuh istrinya itu lebih berisi. Darren sendiri juga tidak kalah pesonanya dengan sang istri. Sangat layak di sebut hot Daddy. Anak- anak merekapun tak kalah luar biasa dengan kedua orangtuanya.
Zain adalah Rafli dengan sedikit sentuhan Darren. Jangan ditanya lagi bagaimana Dasen? Tidak jauh berbeda dengan masa muda si Daddy, bahkan bisa dikatakan jauh lebih parah. Kesayangan Daddy Darr? Tentu saja Beyza, putri satu-satunya keluarga Mahendra. Bahkan nyamuk saja bisa dituntut kalau sampai menggigit Beyza. Tidak jarang Darren dan Senja bertengkar hanya karena sikap sang suami yang terlalu berlebihan memanjakan putri tunggalnya.
Derya? Dia adalah Senja versi laki-laki. Tenang tapi sangat tegas. Tidak banyak keonaran yang dia lakukan.
Tidak seperti Dasen, yang membuat Senja begitu akrab dengan kepala sekolah, wali kelas dan guru kesiswaan di sekolahnya.
Seperti saat ini, Dasen dengan enteng menyodorkan surat panggilan dari pihak sekolah pada mamanya. Tangannya bergelayut manja merangkul leher mamanya dari belakang. Masih kelas tiga sekolah lanjutan tingkat pertama tapi tingginya sudah melebihi mamanya.
"Apa lagi ini?" Senja membuka amplop coklat dan mengambil kertas A4 di dalamnya, lalu membuka dan membacanya dengan teliti.
Dasen perlahan melepaskan rangkulan tangannya, tidak berniat kabur. Hanya ingin menutup daun telinganya.
"Dassssssssss ... ." Senja berteriak sangat nyaring penuh kekesalan. "Bisakah kamu sedikit bersikap manis? Jika begini terus, daddy pasti akan mengirimmu ke asrama. Mama tidak bisa terus-terusan menutupi kenakalanmu."
"Ini yang terakhir, mama tidak mau kan jauh-jauh sama Dasen? ayolah ma ... Besok mama harus datang. Jangan sampai mereka menelpon papa. Dasen tidak mau masuk asrama, apalagi asrama khusus laki-laki. Di mana dunia yang indah tidak akan bisa Das nikmati dan lihat lagi," cerocos Dasen tanpa rasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
"Das, bisakah kamu berhenti bersikap aneh-aneh. Belajar dengan benar. Mama capek Das lama-lama. Biar Daddy mu saja yang datang. Mama sudah bilang, hargai perempuan. Kamu ini terlahir dari rahim seorang perempuan, adikmu juga perempuan. Sampai kapan kamu menggoda dan mempermainkan perempuan seenaknya. Usiamu bahkan masih piyik. Kamu belum punya uang sendiri untuk mentraktir semangkok bakso. Uang yang membuat mereka jambak-jambakan itu masih uang mama." Senja benar-benar kesal dengan Dasen.
Baru umur lima belas tahun, sudah gemar sekali mempermainkan hati teman-teman perempuannya. Anehnya, mereka sampai rela bertengkar demi seorang Dasen. Tidak sedikit teman perempuan Dasen yang datang ke rumah. Awalnya diajak Dasen, lama-lama ada yang datang atas kemauan sendiri.
Entah masalah apa lagi yang membuat Senja harus datang lagi ke sekolah besok. Biasanya tisak jauh-jauh dari kejahilannya pada teman perempuannya.
"Lihat besok, mama pusing. Anak mama bukan cuma kamu, yang lain baik-baik saja. Cuma kamu yang berhasil membuat mama minum obat sakit kepala." Senja meninggalkan Dasen yang meringis santai.
Seperti dugaan semua orang sebelumnya, rasa bersalah Senja pada Dasen yang sudah mempunyai adik di saat usianya masih kecil. Membuat perlakuan Senja pun sedikit berbeda. Dia cenderung melindungi Dasen dari Daddynya.
Dasen dan Darren bagai air dan minyak. Susah untuk disatukan, di mana ada pertemuan keduanya, di situ selalu ada peedebatan. Sifat dan pembawaan yang sama, tidak ada bedanya sedikitpun. Dasen selalu menjaga ketat mamanya ketika ada daddynya, tidak akan dibiarkan daddynya bermanja-manja dengan mamanya di depan mata. Itulah salah satu yang membuat Darren kadang merasa kesal.
Bagaimana Paras Beyza? Tidak perlu diragukan lagi. Saat dia menginjak remaja, Darren pasti akan lebih menjaga anak gadisnya itu. Perpaduan antara Senja dan dirinya memang luar biasa, bibit unggul yang tidak terelakkan.
Derya datang mencari mamanya dengan tenang. Besok di sekolahnya akan diadakan acara yang mengharuskan salah satu orangtuanya untuk datang. Tentu saja Derya sangat mengharapkan mamanya lah yang datang.
Berbeda dengan Beyza yang langsung berlari riang menuju kamarnya dan berniat menghubungi Daddynya, agar besok daddynya yang datang ke sekolah. Dia akan berjalan angkuh di samping sang Daddy dan membuat teman-temannya iri karena ketampanan Daddynya yang tak tertandingi.
"Ma ... Mama ... ." Derya memanggil Senja sembari mengetuk pintu kamar.
Senja membuka pintu kamar, tersenyum saat melihat Derya di depannya. "Sudah pulang, sayang."
__ADS_1
Derya langsung menyodorkan amplop berwarna cokelat, sama dengan yang diberikan Dasen tadi. Senja sesikit Dejavu. Mulai berfikir adanya kemungkinan Derya mulai mengikuti jejak kenakalan kakaknya. Senja menggelengkan kepala dengan kuat. Jangan sampai itu terjadi. Satu Dasen saja sudah mengiris hati, jangan ada lagi anak yang menguji kesabarannya.
Senja langsung membaca kertas putih di tangannya, tersenyum lega. Ternyata bukan panggilan karena kenakalan yang dilakukan.
"Mama yang datang ya? pasti Beyza menyuruh Daddy yang hadir. Derya ingin mama yang datang. Mama bisa kan?" tanya anak laki-laki berparas mirip Senja itu dengan lembut.
Senja melirik waktu yang tertera di sana. Waktunya bertepatan sekali dengan panggilan dari sekolah Dasen. Senja melihat wajah Derya yang penuh harap, tidak tega mengecewakannya. Apalagi Derya jarang meminta sesuatu. Senja pun menganggukkan kepalanya. "Mama akan datang."
Derya masuk ke kamarnya, begitupun Senja. Satu jam lagi suaminya akan pulang. Dia harus sudah segar dan wangi seperti biasa. Meski kini ciuman pertama suaminya sudah tidak lagi untuknya, karena Beyza akan marah kalau sampai Darren mencium Senja lebih dulu.
Semua sudah berkumpul di ruang tengah, kecuali Zain yang masih sibuk dengan tugas kuliahnya di fakultas kedokteran. Zain sering pulang larut malam. Ditambah lagi, Zain sekarang juga sibuk mempersiapkan pertunangannya. Waktu berlalu cepat, Senja dan Darren sudah mau memiliki menantu dalam waktu dekat ini.
Dasen seperti biasa tidur di pangkuan Senja sembari memainkan gadgetnya.
"Daddy pulang," suara Darren membuat semua menoleh ke arah sumber suara.
Beyza langsung beranjak dan menyodorkan keningnya untuk menerima kecupan sayang dari sang Daddy.
"Dassss..." suara Darren mengingatkan sang anak untuk beranjak dari perempuan miliknya, tapi masih diabaikan.
"Dassssss!!!"
__ADS_1