Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Perang dingin


__ADS_3

Darren masih berfikir keras akan kebenaran bahwa Senja memang istri dari seorang Rafli Putra Rajata. Kalau memang benar, mengapa tantenya mau menjadikan Senja Surrogate mother.


Sudah rahasia umum kalau dulunya Rafli, Deandra dan Aleandro bersahabat. Dulu Darren tidak peduli itu, sekalipun dia sangat tidak suka dengan Rafli. Karena tantenya juga bisa memisahkan antara pertemanan dengan ranah privasi dan juga bisnis mereka. Tapi kali ini? seorang yang berhubungan erat dengan Rafli, dibawa masuk begitu dalam keluarga Mahendra. Mengandung anak dari keturunan Mahendra tentunya bukan main - main, sekalipun anak itu benih asli dari Deandra dan Aleandro. Tetap saja dia tumbuh di rahim seorang mantan Rajata.


Darren sangat fokus dengan pikirannya sendiri. Bahkan saat mamanya datang, dia tidak menyadarinya.


"Mikirin apa?" tanya Sarita dengan memukul keras lengan Darren dan membuat anaknya itu kaget.


"Mama tau perempuan yang menjadi Surrogate Mother aunty Andra?" tanya Darren serius.


"Tentu saja! Senja sangat baik, cantik dan tulus." jawab Sarita, membuat Darren memicingkan alis matanya.


"Apa mama tidak salah? Dia terlihat seperti perempuan licik yang sedang jadi mata - mata di tengah keluarga kita. Kalau ini bukan soal uang, dia pasti ingin menghancurkan keluarga kita." ucap Darren yakin.


"Tidak! Senja tidak seperti itu. Dia bahkan tidak mau di bayar lebih selain gaji bulanan dia sebagai asisten Andra," bela Sarita.


"Apa mama tidak tau dia istri Rafli putra Rajata? pasti kelicikan dan kekejaman Rajata juga menurun padanya. Dia pasti mempunyai maksud tersembunyi. Ceroboh sekali Aunty Andra menjadikannya seorang asisten. Bagaimana kalau data perusahaannya malah bocor? Sekarang mungkin belum, tapi pasti mereka sedang menunggu moment yang tepat," ucap Darren masih yakin dengan pemikirannya.


"Mama tau Senja itu istrinya Rafli. Tapi mama Yakin Senja bukan bagian dari Rajata. Bahkan mama merasa kalau Rafli tidak sekejam orang tua nya setelah mama mendengar cerita Andra dan Al. Sudahlah! Jangan cepat menilai orang yang belum kamu kenal. Mama masak dulu, kamu pasti lapar." ucap Sarita lalu berjalan menuju dapur meninggalkan Darren yang belum puas dengan pembicaraan mereka.


Sarita memasak di dapur dengan cekatan. Meskipun dia adalah seorang Nyonya besar Mahendra, tapi Sarita terbiasa memasak untuk menu makan keluarganya. Meski hanya dia sendiri yang asli keturunan pribumi tapi suami dan anaknya sangat menyukai makanan jawa. Mereka hanya sesekali menyantap hidangan Turki, itupun kalau ada mertuanya yang datang ke rumah mereka.


Di dalam kamar, Senja masih merenungi ucapan Darren. Dia tidak menyangka ada keturunan Mahendra yang mulutnya benar - benar tajam.


Senja sama sekali tidak berniat untuk keluar dari kamar. Bertemu dengan Darren adalah mimpi yang sangat buruk baginya.

__ADS_1


"Senja ... Kita makan siang dulu yuk!" teriak Sarita dari luar pintu kamar Senja.


Dengan sangat terpaksa Senja membuka pintu kamarnya .


"Senja nanti saja Bu ... Senja masih kenyang," ucap Senja bohong .


"Tidak! Kamu harus makan tepat waktu. Walaupun kamu kenyang, kamu harus memastikan kalau nutrisi yang masuk ke tubuhmu cukup. Supaya kita mendapatkan kabar baik dari program ini." ucap Sarita tegas sambil berjalan ke arah ruang makan.


Senja mengikuti langkah Sarita dengan wajah yang sangat tidak bersemangat.Rasanya dia sudah kenyang dengan hinaan Darren tadi.


"Aku tidak mau duduk semeja dengan seorang dari keluarga Rajata." tolak Darren begitu melihat kedatangan Senja.


"Senja bukan keluarga Rajata lagi sejak suaminya meninggal." Sarita memandang tajam ke arah Darren.


"Tetap saja dia istri seorang Rafli. Dia pasti sama - sama menyebalkannya dengan suaminya." Darren mendengus kesal.


Sarita melipat tangannya di dada dan menikmati perdebatan dua orang yang baru saja saling mengenal. Sarita ingin tau sejauh mana Senja melawan anaknya. Cara Senja bertahan menentukan masa depannya.


"Buat apa aku merasa takut tersaingi dengan orang yang sudah mati!" ucap Darren enteng.


Senja mengehela nafas panjang ,lalu menghembuskannya perlahan.Seolah ingin menenangkan jiwa raganya sejenak dan mengumpulkan kekuatan untuk melawan makhluk bermulut lemes di depannya.


"Jika anda orang baik, anda tidak akan pernah menghina orang yang sudah tidak bernyawa. Hinalah orang yang masih hidup, agar orang itu bisa membalas hinaan anda dengan setimpal." Senja dengan lantang menantang Darren.


"Sudah saya duga, kamu pasti sama menyebalkannya dengan suamimu."

__ADS_1


"Tentu saja! Bahkan saya bisa lebih menyebalkan dari sekarang. Hanya orang lemah yang menganggap saingan bisnisnya musuh. Hanya orang yang tidak percaya diri yang menjelek - jelekkan orang lain demi terlihat lebih sempurna," ucap Senja tajam.


Bola mata Sarita dengan lincah mengikuti arah sumber suara. Kali ini Sarita yakin Darren akan lebih kesal, semakin kesal semakin bagus. Sifat Darren yang tidak mau mengalah, akan membuat jalannya lebih mudah. Darren tidak akan melepaskan Senja begitu saja setelah ini. Kita lihat saja!


"Semua orang juga sudah tau siapa yang lebih baik dan hebat antara aku dan Rafli," ucap Darren semakin sombong.


"Setau saya mas Rafli yang terbaik. Saya tidak tau ada masalah apa antara anda dan suami saya.,Tapi saya tidak pernah sekalipun mendengar dia menjelekkan anda atau yang lain. Jika masalah anda hanya sebatas bisnis, seharusnya itu sudah selesai. Jika ada masalah yang lain, saya atas nama mas Rafli memohon maaf pada anda. Meminta maaf tidak menjadikan kami orang yang rendah. Tapi tidak memberi maaf, terutama pada orang yang sudah meninggal adalah sikap pendendam yang angkuh." Senja semakin sinis.


Darren terdiam mendengar ucapan Senja. Secara pribadi memang Darren tidak ada masalah dengan Rafli. Tapi Rafli selalu membuatnya kesal karena hampir mendominasi kemenangan saat mereka head to head bersaing dalam sebuah tender. Pengroyokan di Club juga bukan salah Rafli, tapi papa Rafli yang melakukannya. Darren tahu Rafli tidak berminat pada Yuki, perempuan yang dipacarinya dengan tujuan mengalahkan Rafli. Tapi ternyata Rafli malah tidak terpengaruh. Pak Rajata yang murka padanya.


Tapi bukan Darren namanya kalau langsung mengakui apalagi di depan perempuan.


"Aku makan nanti saja. Tiba - tiba selera makanku hilang. Wajahnya membuatku mual." Darren beranjak dari duduknya.


Senja mengepalkan tangannya. Menahan diri dari kekesalan yang sudah bertumpuk.


"Baguslah! Anda akan mual setiap hari nanti. Rasa mual yang berlebihan akan sedikit membuat tubuh anda yang besar sedikit mengecil," ledek Senja santai lalu mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauk yang sudah disiapkan Sarita.


"Kalau aku tau Rafli mempunyai istri sepertimu, aku akan menghina seleranya habis - habisan. Bagaimana mungkin seorang Rafli yang terlihat pintar, tegas, keren namun sedikit kejam malah memilih perempuan kerdil, judes dan tidak tau malu untuk jadi istrinya," gumam Darren tapi agak keras, sehingga tertangkap telinga Senja dengan baik.


"Baguslah! Akhirnya anda mengakui juga kalau suami saya keren dan pintar. Percayalah! suami saya tidak salah pilih. Seorang yang sempurna membutuhkan sedikit kekurangan dalam hidupnya untuk memacu adrenalin,! jawab Senja yang semakin membuat Darren melengos.


Sarita hanya tersenyum melihat ulah keduanya.


Derren menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa. Selama ini tidak ada seorangpun apalagi perempuan yang berani menentangnya.

__ADS_1


Dalam hati, Darren berjanji akan membuat hidup Senja seperti neraka saat mereka berada dalam satu atap nantinya. Darren sudah sering kalah dengan Rafli. Membuat Senja tunduk padanya pasti akan sangat menyenangkan. Rafli akan tersiksa jika melihatnya.


__ADS_2