
Bae dan Arham sudah datang. Setelah melihat cucu mereka sebentar. Bae dan Arham menunggu di luar ruangan pemulihan Senja. Karena Senja masih dalam ruangan pemulihan. Jika berjalan lancar harusnya Senja akan terbangun satu jam lagi.
Sayup - sayup Darren mendengar suara mama dan papanya. Kepalanya masih terasa berat. Ingatannya kembali pada peristiwa beberapa jam yang lalu, di mana dirinya dan Senja sama - sama tergeletak di tepi jalan.
Darren membuka matanya perlahan. Meerasakan buminya seperti berputar, Darren pun memilih untuk memejamkan matanya kembali.
" Ma...Pa...." kata Darren, lirih.
Sarita dan Arham mendengar panggilan putranya, seketika histeris senang.
" Darr, anakmu sudah lahir Darr. Dia mirip sepertimu waktu bayi. Dia lucu sekali Darr. Ayo, kamu harus cepat pulih biar bisa lihat jagoanmu " ucap Sarita sangat bersemangat.
" Ma...Senja bagaimana ma ? " tanya Darren masih dengan mata terpejam dan suara lirih.
" Senja tadi dioperasi untuk melahirkan anakmu Darr. Sekarang masih belum sadar. Pasti terkena efek obat bius total. Senja akan segera bangun juga " jawab Mahendra.
"Pa, mama panggil dokter dulu " Sarita dengan semangat melengang keluar ruangan.
" Darr, ayo jangan cengeng. Anakmu butuh kalian. Jangan lama - lama manja di atas ranjang rumah sakit " ucap Mahendra, begitulaph caranya memberi semangat.
" Pa, Senja akan baik - baik saja kan ? " tanya Darren khawatir.
" Kalau kamu baik - baik saja, Senja pun pasti sama " kata Mahendra.
Seorang dokter memasuki ruangan, diikuti Sarita di belakangnya. Dokter memeriksa Darren dengan teliti, menyuruhnya melakukan beberapa gerakan yang diperintahkan dokter.
" Semua bagus, tapi kita masih harus menunggu hasil CT scan dan MRI nya besok pagi. Kalau pusing jangan dipaksakan untuk membuka mata.
Sebentar lagi suster akan memberikan obat untuk mengurangi pusing berputarnya. Tetap berbaring dan jangan banyak bergerak " ucap Dokter.
Dokter kembali meninggalkan ruangan. Beberapa menit kemudian suster memberikan obat dan tambahan suntikan melalui selang infus Darren.
" Ma, bagaimana Senja ? " tanya Darren lagi, padahal baru lima belasan menit yang lalu bertanya.
" Belum sadar sayang, memang belum waktunya. Bius total tentu membuat pulas lebih lama " sahut Sarita.
__ADS_1
Sementara itu, Chun Cha dan Aleandro sedang berusaha keras membujuk Zain yang tidak mau makan siang sebelum bertemu mamanya.
" Zain, kalau nggak makan nanti pas ketenu mama pasti mama bakalan marah sama Zain " ucap Chun Cha.
" Zain mau makan kalau Om Al dan aunty janji akan mengantar Zain melihat adik bayi, mama dan Daddy " ucap Zain terus merajuk.
" Iya - iya nanti setelah makan, minum obat dan tidur siang. Nanti kita ke rumah sakit. Kamu keras kepala sekali Zain, mirip dengan mamamu " umpat Chun Cha, tapi Zain tidak peduli.
Aleandro menarik tangan Chun Cha.
" Kalau Zain ke rumah sakit nanti gimana, mama sama Daddynya belum sadar " bisik Aleandro yang belum tahu Darren sudah kembali sadar.
" Zain anak yang dewasa dan kuat, lagian kakak dan kakak ipar tidak akan mungkin tidur terlalu lama " bisik Chun Cha.
" Terserah kamu saja " ucap Aleando mengalah.
Bae dan Arham mondar mandir di depan ruang pemulihan dengan gelisah. Bae pernah mengalami hal serupa saat melahirkan Ming. Bae butuh waktu satu minggu untuk itu. Arham dan Bae sama - sama dilanda rasa trauma.
" Bangun atau tidak bangun Kemala akan dipindahkan ke ruang perawatan kan satu jam lagi. Aku mau ruangan yang ternyaman dan terbesar. Anaknya juga harus di sana, aku yang akan merawatnya. Taukah kamu, mendengarkan tangisan anaknya akan membuat Kemala cepat bangun " ucap Bae, nadanya selalu ketus tapi inti yang dia bicarakan benar.
" Aku ingin anak itu ada nama dari keluarga kita, jangan sampai namanya hanya ada Mahendranya " ucap Bae, untuk menutupi kegelisahannya. Bae terus berbicara.
" Dia anak laki - laki Bae, sudah sepantasnya menyandang nama papanya. Kita tidak bisa ikut campur urusan itu " ucap Arham.
" Kata siapa tidak bisa ? tentu saja bisa. Aku akan menghapus Darren dari daftar menantuku kalau sampai tidak menyelipkan nama dariku " ancam Bae.
" Darren masih menjadi menantumu satu - satunya Bae. Jika kamu hapus, kita tidak akan punya menantu lagi sementara " sahut Arham.
" Kamu benar. Entahlah, pokoknya aku mau ada nama yang aku beri " ucap Bae, selalu egois.
Di kamar perawatan Darren. Mahendra dan Sarita juga sedang memperdebatkan nama untuk cucu pertama mereka. Sementara Darren yang sudah membuka matanya hanya bisa mendengarkan. Kepalanya semakin pusing mendengar kedua orangtuanya berdebat hanya karena sebuah nama.
" Mama mau namanya ada Maenaka nya " ucap Sarita memaksa.
" Terserah Senja dan Darren sajalah ma, apapun namanya pasti ada Mahendra di belakangnya " ucap Mahendra dengan bangga.
__ADS_1
" Kalian kenapa berisik sekali. Lihat bagaimana Senja ma, dia sudah sadar atau belum ? Kenapa kalian malah meributkan nama. Mama Nja saja masih belum sadar " sahut Darren kesal.
" Mama akan lihat kondisi Senja " sahut Sarita cepat.
" Apa masih pusing Darr ? tanya Mahendra setelah Sarita keluar ruangan.
" Sedikit pa, makin pusing mendengar kalian berdebat soal nama. Mau kalian ngotot seperti apapun. Senja dan Darren sudah mempersiapkan namanya " ucap Darren.
" Ya sudahlah, tolong tetap pakaikan nama Mahendra di nama anakmu. Agar semua orang tau dia keturunan siapa " ucap Mahendra.
" Darren ingin melihat Senja pa " ucap Darren.
" Nanti, kalau sudah boleh " ucap Mahendra.
Di luar ruangan pemulihan, suster menjelaskan kondisi Senja terkini. Kemungkinan Senja akan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk tersadar. Senja masih mengalami pendarahan pospartum, meski tidak sedasyat dua jam yang lalu, dokter dan suster tetap memantau. Tapi Senja akan tetap dipindahkan ke ruangan biasa. Dukungan moral sangat diperlukan untuk membantu Senja ke alam sadarnya kembali.
Pintu ruang pemulihan dibuka lebar, dua orang suster mendorong brankar tempat Senja berbaring. Wajahnya begitu pucat. Senja seperti sedang tertidur lelap. Bae dan Sarita saling berpelukan dan menguatkan. Sebagai seorang ibu keduanya sama - sama paham bagaimana rasanya melihat anak yang mereka sayangi terbaring lemah tidak berdaya.
" Minta Darren untuk dipindahkan sekalian. Kehadiran Darren dan anak mereka akan cepat membawa Senja kembali pada kesadarannya " ucap Bae.
Tanpa membuang waktu, Saritapun meminta suster yang merawat Darren untuk menjalankan prosedur pemindahan ruang rawat pasien.
" Bagaimana dengan Senja ma ? Ini sudah tujuh jam bukan ? " tanya Darren tidak sabar.
" Senja masih istirahat. Mungkin dia capek. Tapi kamu akan menemuinya. Bae minta kamu, Senja dan anak kalian dalam satu ruang perawatan. Kehadiran kita semua akan membuat Senja berusaha kembali lebih cepat " jawab sarita lirih.
" Senja nggak pernah capek ma, Senja tidak bisa istirahat sebelum memastikan Darren dan anak - anak sudah benar menjalani hari " ada kecemasan yang amat dalam pada suara Darren.
" Mama Nja.... kamu harus segera bangun, jangan biarkan Daddy Dar sendirian " ucap Darren dalam hati.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Mampir ya kak, di karya terbaru otor, dijamin kesel dan gregetan . Langsung klik link di bawah
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Ku Dengannya Kau Dengan Dia, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/fictionsWatch?id\=4947079&\_language\=id&\_app\_id\=2
__ADS_1