
Setelah melalui perdebatan panjang dan dengan berbagai pertimbangan, rencana Daddy Darr untuk melakukan vaksetomi batal. Senja lebih memilih dirinya yang melakukan program keluarga berencana nantinya.
Senja takut Darren menglami disfungsi **ksual setelah menjalankan operasi bedah kecil pemotongan atau pengikatan saluran yang dilalui s**ma. Karena Senja sering membaca artikel kesaksian nyata beberapa yang sudah mengalami.
"Ask! Si kembar nanti namanya siapa ya?" tanya Darren, kepalanya berada di pangkuan Senja. Beberapa kali kepala itu tengadah, sekedar mengecup lembut perut istrinya yang membulat lebih cepat dibanding kehamilan sebelumnya.
"Kamu aja yang mikir Ask. Tugasku sudah berat, bawa - bawa mereka kemanapun aku pergi. Mau di bawah atau di atas badanmu pun mereka tetap kubawa. Masak iya kamu suruh Senja mikir lagi Ask! Senja percaya pasti daddy Darr kalau kasih nama bisa bagus dan lain daripada yang lain," jawab Senja dengan santai.
"Nanti Zain bantu mikir dadd," sahut Zain yang sedang asik menggoda Dasen agar merangkak ke depan pelan - pelan.
"Thanks bro," timpal Darren.
Senja menyisir rambut Darren dengan jemarinya, hari minggu membuat mereka selalu enggan beranjak ke mana - mana. Sesekali Darren ke pusat perbelanjaan atau ke wahana permainan bersama Zain, itu pun tidak lama dan tidak sering.
Ima berjalan mendekati mereka.
"Permisi bu..pak...Di depan ada tamu. Katanya temen pak Darren." dengan hati - hati Ima memberitahu majikannya.
Darren beranjak dari pangkuan Senja. "Sebentar, biar aku lihat!" Darren berjalan dengan langkah yang lebar menuju pintu utama.
"Ken!! Kirain siapa...Kok nggak ngabarin dulu. Kalau gue lagi keluar gimana?" Darren menyapa tamunya dengan gerutuan. Tapi tangannya membuka pintu lebih lebar.
Tidak perlu disuruh masuk, pasti Kenzi sudah mengekori langkahnya. Darren mengajak Kenzi duduk di set sofa berwarna hitam di ruang tamu kedua.
Karena penasaran siapa tamu suaminya dan kebetulan juga sudah ada Wati yang menjaga Dasen, Senja pun ikut keluar. Belum sempat mulutnya bertanya, wajah Kenzi sudah terlihat di matanya. Senja tentu ingat betul siapa tamunya sekarang.
__ADS_1
"Mas Kenzi? Emang ada yang ketinggalan di mobil lagi?" Senja terlihat bingung Kenzi ada di rumahnya lagi. Pasalnya, Darren belum menceritakan kalau Kenzi adalah temannya.
Darren menoleh mendengar suara istrinya, memberikan kode pada istrinya untuk masuk Dulu. Tapi Senja tidak paham apa maksud Darren.
Kenzi yang ditanya Senja hanya diam. Kenzi masih meraba keadaan. Pertanyaan Senja menyiratkan bahwa Senja masih menganggap kedatangannnya sebagai driver taxi online. Entahlah Kenzi tidak mau berfikir lama. Selain meraba keadaan, Kenzi terlalu terpesona dengan keindahan di depan matanya. Dress hamil tanpa lengan warna hijau daun mermotif bunga di atas lutut dengan potongan bahu terbuka mempertegas kecantikan Senja. Rambutnya di ikat tinggi ke atas. Kenzi terpaksa menelan salivanya sendiri.
"Enggak...Nggak ada kok. Cuman mau ketemu Darren." Kenzi menjawab dengan setengah gugup.
Sebagai teman lama yang paham bahasa tubuh Kenzi, Darren menendang kaki Kenzi. Dia tidak rela Kenzi memandang istrinya seperti itu.
"Lu tunggu sebentar." Darren berkata seraya berdiri menghampiri Senja. Lalu merangkul punggung Senja masuk ke dalam.
"Kenzi itu temenku waktu kuliah. Aku mau cerita, tapi lupa terus karena keenaken terus. Intinya Kenzi temenku, kamu ganti baju Dulu. Ehmmm... Pakai baju yang bikin kamu nggak cantik - cantik banget." Darren agak berbisik mengatakannya pada Senja.
Darren hanya tersenyum nakal menanggapi kekesalan istrinya. Semakin lama, rasanya Darren semakin jatuh cinta pada Senja. Di balik sikapnya yang kadang ingin menang sendiri, hanya Senja yang bisa membuat ego Darren menurun tanpa tapi.
"Darr, lu nikah masih belum tiga tahun kan? itu yang kemarin di bandara anak siapa?" jiwa ingin tahu Kenzi meronta setelah melihat foto pernikahan Senja dan Darren yang terpajang memenuhi satu sisi dinding di ruang tamu. Di foto itu tertera tanggal dan tahun pernikahan keduanya dengan jelas.
"Anak gue lah." Darren menjawab santai.
"Enggak mungkin!" Kenzi tetap tidak percaya.
"Anak gue Ken...lagian itu bukan urusan lu. Gue punya dua anak yang sudah kelihatan, dua lagi masih di perut istri gue." Darren menjelaskan tanpa memasukkan baby De dalam hitungannya, karena baby De sudah sepenuhnya menjadi bagian Aleandro dan Chun Cha secara hukum.
"Twins?" Kenzi bertanya setengah tidak percaya.
__ADS_1
"Iya Twins," jawab Darren dengan bangga.
Senja muncul membawa nampan berisi dua gelas minuman dingin dan sepiring cake keju di tangannya. Dress batik motif khas madura berwarna hijau terang malah membuatnya semakin cantik. Hanya saja kini lengan dan bahunya sudah tertutup. Senja sengaja membawa sendiri minuman untuk teman suaminya. Karena bisa di bilang, Kenzi satu - satunya teman Darren yang berkunjung ke rumah dan diterima dengan ramah oleh Darren.
"Di minum ask...Silahkan mas..." Senja mempersilahkan keduanya untuk minum.
"Terimakasih bu," jawab Kenzi, sopan.
"Duduk sini ask." Darren menepuk sofa di sampingnya. Senja menuruti saja permintaan suaminya. Duduk dengan anggun, menumpu satu kaki di kaki lainnya. Satu tangan Darren tidak lepas menggenggam tangan kiri Senja. Sebagai jomblo akut, Kenzi menjadi termotivasi untuk segera mencari pasangan hidup. Melihat kehidupan Darren membuatnya iri.
"Bu Senja sudah diberitahu belum sama suami gantengnya ini?" tanya Kenzi, Darren menghela nafas dalam menyadari dia belum sempat berbicara apapun soal tawaran Kenzi.
Senja menatap suaminya, tanpa kata tatapan itu sudah menyiratkan tanya.
"Jadi gini, Kenzi ini punya brand susu ibu hamil sama produk buat balita. Brand nya familiar sih sama kita, cuman dia baru masuk ke Indonesia setelah perusahaan Kenzi berhasil menjadi importir resminya. Nah, dia mau ngebranding sendiri itu produk dengan brand ambasador lokal, supaya bisa masuk ke berbagai kalangan. Kenzi mau minta tolong kamu dan Dasen jadi BA nya," jelas Darren akhirnya.
"Owh...Minta tolong doang? Nggak ada budgetingnya?" tanya Senja, Kenzi yang sedang minum mendadak tersedak. Tidak menyangka seorang istri Darren Mahendra langsung menanyakan budget tanpa basa basi.
"Emang kamu mau?" tanya Darren, sedikit was-was banyak pasrahnya.
"Tergantung benefitnya apa," jawab Senja dengan santainya.
"Banyak banget. Selain dapat budget kontrak juga free product mau berapapun anak kalian. Dengan catatan selama bu Senja masih menjadi BA nya atau budget kontrak bisa ditukar dengan saham senilai 25% saham masa kontrak tiga tahun," jelas Kenzi cukup menggiurkan Senja.
Darren meremas tangan istrinya, lalu menggelengkan kepala pelan. Seolah mengatakan jangan.
__ADS_1