
"Cukup! Tolong Eomma dan Mama jangan bicara lagi. Mama mau pengajian sederhana di rumah opa? sudah kita sepakati maka rencana mama akan tetap berjalan. Eomma ingin acara dua belas jam di hotel, kami juga akan turuti." Senja berdiri hendak meninggalkan ruangan keluarga.
"Ask ..." panggil Darren lirih.
"Senja capek Ask... Kita pulang saja!" ucap Senja, tegas.
"La, kamu tidak sopan sekali! Eomma dan Appa datang terus kamu main pergi begitu saja," keluh Bae.
"Eomma juga tidak sopan. Apa Eomma lupa sedang berada di rumah siapa? Kenapa Eomma mendebatkan sesuatu yang tidak penting di rumah orang. Tidak bisakah Eomma berfikir positif? Harusnya Eomna bersyukur, saat Kemala jauh dari Eomma dan Appa ada mama dan papa yang memperhatikan Kemala dan anak - anak. Bukan malah terus merasa di abaikan. Jangan bertindak seolah - olah Eomma dan Appa hadir sejak Kemala masih kecil. Bahkan kehadiran mama Sarita jauh lebih dulu di banding Eomma dan Appa." karena terlalu kesal, Senja jadi mengungkit masa lalu.
Bae dan Arham seketika diam. Kata - kata Senja tentu menampar dan mengingatkan keduanya pada kebodohan masa lalu. Bagaimanapun, Senja bukan anak kecil yang bisa mengabaikan masa lalu begitu saja ketika kehidupan yang sulit sudah bertukar dengan kesenangan.
"Kita pulang Appa!" ajak Bae, menarik tangan Arham.
"Eomma! Appa!" teriak Chun Cha, memanggil Arham dan Bae. Keduanya tidak peduli dan terus berjalan tanpa menoleh. Chun Cha dan Aleandro mengejar kedua orang tua itu.
Kata - kata Senja seolah menegaskan Arham dan Bae tidak lebih penting dari Sarita dan Mahendra. Senja tidak cukup pandai berbasa basi. Pada kenyataannya, tidak banyak kenangan yang bisa diingat Senja. Ketika sudah dewasa seperti ini, kenangan Senja sudah penuh dengan kehidupan keluarga kecilnya.
Tidak ada manusia yang sempurna, begitu juga dengan Senja. Terlalu kuat dan tegar, kadang lupa memakai hatinya untuk menghargai perasaan orang lain. Terdidik tanpa kasih sayang utuh, bekerja keras mengandalkan kaki sendiri seringkali membuatnya lupa menggantungkan hidup pada orang lain. Tidak ada yang sempurna. Di balik pesonanya, Senja menyimpan kekuatan yang menghunus.
"Nja, boleh mama bicara sebentar?" tanya Sarita dengan hati - hati.
"Silahkan ma," jawab Senja, begitu dingin.
__ADS_1
"Mama hanya ingin menyampaikan pendapat mama. Kalau Senja tidak terima mama juga tidak mengapa. Menurut mama, apa yang Senja ucapkan pada Eomma dan Appa nya Senja tadi berlebihan sayang. Kalaupun itu memang yang Senja rasakan. Tapi Senja harus belajar menahan diri. Siapa dari kita yang tidak mempunyai kesalahan masa lalu? Semua punya. Yang terpenting ada niat untuk memperbaiki. Apa Senja tidak melihat usaha eomma dan appa untuk menebus kesalahan mereka? Mungkin tidak terucap, tapi apa yang mereka lakukan cukup mewakili. Mama juga minta maaf, kalau mama tadi menyinggung kamu. Ada kalanya orangtua juga bisa khilaf." Sarita menggenggam tangan Senja erat.
"Darr tidak suka kata - kata mama terakhir, Darr tidak akan pernah mampu mencari perempuan seperti Senja. Kalau mama tidak suka omongan eomma, lebih baik mama diam," ucap Darren, tidak kalah dingin dengan istrinya.
"Iya Darr, mama minta maaf."
Mahendra berjalan mendekati istri, anak dan menantunya.
"Sederhanakan ego kalian masing - masing. Dalam hal ini yang punya badan itu Senja. Kalau merasa sudah lelah, ya sudah jangan dipaksakan. Yang diucapkan Nyonya Bae ada benarnya juga. Semua acara penting kalian selalu ditangani mama Sarita. Kecemburuan itu bukan hanya milik pasangan, orangtua juga bisa cemburu." Mahendra menatap lekat pada Senja.
"Bicara baik - baik sama eomma, Ask! Mama Nja tidak mau kan membuat orang sedih karena ucapannya? Cukup Daddy Darr saja yang kenyang dengan kepedasan mulut Ma Nja. Yang lain jangan! Kalau sudah terlanjur kena pedasnya, air saja tidak cukup untuk menghilangkan rasa panas yang membekas." Darren menyentil manja hidung mancung milik perempuan belahan jiwanya.
Senja berfikir sejenak, menimbang semua ucapan Darren, Mahendra Dan Sarita. Memang tidak sepatutnya dia mengungkit masa lalu. Tapi kadang seseorang harus sadar di mana posisinya. Memaksakan kehendak pada siapa saja tidak dibenarkan. Semua hal yang berhubungan dengan keluarga lain, harusnya dibicarakan. Bukan diputuskan sendiri seenak hati.
"Eomma dan Appa ada di rumah Al," Darren memberitahu tanpa di minta.
"Pelan Ask... Jalannya jangan cepet - cepet," ingat Darren.
Senja dan Darren masuk ke rumah Aleandro dari pintu samping. Mendekati tempat di mana Bae dan Arham berada langkah Senja agak tertahan. Darren mengangguk lembut, seolah memberi dorongan pada istrinya untuk segera memadamkan api yang tidak jelas sumbernya.
"Ada apa La?" tanya Bae, sedikit ketus. "Kamu tidak perlu khawatir lagi, Eomma dan Appa sadar diri kami ini siapa. Tidak ada yang patut diingat dari kami. Jangankan menuntut untuk disayangi sekedar diakui saja seharusnya kami tidak berhak. Tidak ada kenangan baik yang kami torehkan dalam hidupmu. Kami menerimamu disaat hidupmu sudah mapan. Kemana kami saat hidupmu susah? saat berjuang sendiri di panti? Saat mertuamu menghinamu habis - habisan?" Suara Bae bergetar saat mengucapkannya.
"Terimakasih mengingatkan pada Eomma dan Appa di mana seharusnya posisi kami berada. Kami malu karena sudah terlalu percaya diri kamu sudah melupakan semua kejadian masa lalu dan menerima kami dengan baik. Kami lupa kalau usia Zain saja jauh lebih banyak daripada waktu kebersamaan kita," tambah Arham.
__ADS_1
Senja melangkah maju, mengambil duduk di sebelah Bae persis. Menarik nafasnya perlahan, untuk menata hati agar kata yang terucap tidak lagi menyakitkan.
"Bukan maksud Kemala mengabaikan Eomma dan Appa. Tidak peduli di mana dulu Appa berada saat Kemala harus berjuang sendiri demi bertahan hidup, setidaknya ada Appa dan Eomma disaat Kemala menjalani kembali lembar hidup yang baru. Terimakasih melengkapi hidup Kemala, meski terlambat. Jangan tebus waktu yang terlewatkan dengan gemerlap materi atau kemewahan. Uang Eomma dan Appa tidak akan sanggup membawa kalian masuk ke dalam kenangan," ucap Senja lirih dan sendu.
"Eomma dan Appa hanya ingin memberikan yang terbaik. Setidaknya di sisa umur kami, ada kebaikan - kebaikan yang bisa kamu kenang La. Eomma tahu, berapapun yang kami punya tidak akan sanggup membeli kenangan. Eomma bukan ibu yang melahirkanmu, tapi eomma menyayangimu La. Jika nyawa eomma bisa menebus semua kesalahan kami, eomma rela." Bae menggenggam tangan Senja. Air matanya menetes.
Senja tersenyum dan memeluk Eommanya dengan hangat. "Jangan Eomma, masih banyak yang membutuhkan mulut pedas eomma untuk meluruskan hidupnya. Kemala tidak meminta nyawa Eomma, itu berlebihan sekali. Jika Eomma ingin Kemala bahagia, Eomma harus tahu dulu apa yang membuat Kemala bahagia. Terlalu lama hidup dalam kekurangan, tidak membuat Kemala lupa diri saat berkelimpahan. kebahagiaan itu selalu sederhana. Wujud rasa syukur itu bukan tentang pesta, tapi bagaimana kita menjaga apa yang kita syukuri." tegas Senja.
"Eomma dan Appa minta maaf, tidak melibatkan kalian dalam mengambil keputusan. Biarlah Chun dan Al yang menjalankan," ucap Arham.
"Ubah saja breakdown acaranya Appa, kalau hanya dua sampai tiga jam kita pasti bisa dan sanggup. Tempatkan saja di mana Appa dan Eomma ingin memperkenalkan kami pada relasi," usul Darren, mengambil jalan tengah agar Bae juga tidak kecewa.
"Baiklah nanti malam, Eomma akan suruh EO datang ke hotel."
"Kenapa Eomma dan Appa tidak menginap di rumah kami saja? Zain pasti senang bisa tidur bersama kalian," tanya Darren.
"Kami takut merepotkan," jawab Bae, menjadi lebih hati - hati.
"Padahal Appa dan Eomma juga bisa tidur di sini," sahut Chun Cha.
"Tidur di rumah Kemala saja. Zain pasti senang." Senja menggeser duduknya mendekati Arham.
"Maafkan Appa La, sampai detik ini Appa masih belum bisa memahamimu betul," kata Arham, lirih.
__ADS_1
"Butuh waktu seumur hidup untuk saling memahami seseorang Appa. Karena waktu yang berjalan sanggup mengubah seseorang dalam hitungan detik," jawab Senja sembari menepuk punggung tangan Appanya.
Darren tersenyum lega. Tidak ada masalah lagi dan nanti malam anak - anak akan aman bersama Arham dan Bae. Waktu yang tepat bagi Darren memanfaatkan mulut pedas Senja untuk hal yang lebih berguna dan menyenangkan.