
Bae dan Arham meninggalkan rumah Senja di jemput Aleandro. Ketegangan kembali terjadi. Ketegangan bagi Darren tentunya, Senja terlihat biasa saja.
Setelah menyalakan tv dan memutar film yang diinginkan, Senja duduk bersandar di atas ranjangnya dengan santai. Satu tangannya memegang semangkok buah naga putih.
Darren seperti orang yang sedang tersesat di tengah hutan dan tak kunjung menemukan jalan keluar. Berputar terus melewati jalan yang sama tapi tak juga menemukan tempat yang di tuju. Dalam hati ingin melepas lelah dengan merebahkan badan di sebelah istrinya, tapi membayangkan kemungkinan penolakan, sindiran dan tatapan tajam membuat Darren hanya berani maju mundur, mondar mandir di depan pintu toilet.
Senja membuka resleting dresnya dengan cepat,,satu tangannya mengipasi wajah seolah sedang kegerahan. Darren pura - pura tidak melihat dengan memainkan ponselnya.
"Hufttt... Kenapa panas sekali malam ini." Senja bergumam pada dirinya sendiri. Dress pun lolos dari tubuhnya. Senja menurunkan kakinya dari ranjang, mendekati walk in closet miliknya.
Darren berjalan berjinjit setengah berlari tanpa suara mendekati sofa, di mana dia bisa melihat isi dalam ruangan khusus milik istrinya itu dengan jelas. Seperti memang sudah disengaja. Senja membuka pintu walk in closet nya begitu lebar.
Gerakan lembut tangan Senja menggelung rambutnya ke atas, berhasil membuat duduk Darren tidak tenang. Baju tidur berbahan brokat import tembus pandang berwarna putih menjadi pilihan Senja untuk menemaninya tidur malam ini.
Senja baru saja membelinya beberapa hari yang lalu. Dia tersenyum renyah saat melihat pantulan dirinya di cermin. Kulitnya tembus pandang di celah - celah bordir bunga lengkap dengan detail daunnya,
Melihat Senja berjalan ke arahnya, Darren segera menyambar majalah di bawah meja. Pura - pura membaca dengan serius, padahal jelas ekor matanya tidak bergeser sedikitpun dari gerak gerik sang istri.
Wangi tubuh Senja semakin kuat menerpa hidung, pertanda sang empunya pun mulai mendekat. Darren berharap istrinya berubah pikiran. Semoga hormon kehamilan mengubah mood istrinya secepat dia membalikkan telapak tangan.
__ADS_1
Hati Darren mulai berbunga - bunga, harapan sedikit melambung tinggi, Senja benar - benar mendekatinya. Istrinya itu membungkukkan badan tepat di sampingnya, dari lirikan yang Darren lancarkan, dua bagian menonjol bulat kenyal itu terlihat cukup jelas di matanya.
'Astaga buat apa memakai baju, kalau semua sudah terlihat jelas seperti itu' batin Darren.
Hembusan nafas hangat mama Nja terasa benar di daun telinga Daddy Darr. Meremangkan bulu - bulu halus di sekujur badan ceo Mahendra Corps itu. Beberapa kali jakun lelaki itu naik turun karena menelan liurnya sendiri. Tapi Darren tetap pura - pura fokus pada bacaan di depannya. Tangan Senja sengaja ditempelkan sedikit di kulit tangan suaminya, sedikit gesekan menggoda dilakukan, membawa Darren lebih tinggi lagi membawa angan.
"Majalahnya kebalik," bisik Senja begitu lembut tapi mampu membuat wajah Darren seketika kemerahan menahan malu.
Senja menegakkan badannya, lalu kembali melangkahkan kaki berjalan mendekati ranjang dan merebahkan badannya di sana. Darren menutup wajahnya dengan majalah yang sudah dibalik ke posisi yang benar. Merutuki keteledoran dan kebodohannya lagi dan lagi.
Pintu kamar terdengar ada yang mengetuk, melegakan sejenak perasaan Darren. Surti datang membawakan nampan berisi pisang dan segelas susu untuk Senja.
Tentu saja Senja tidak menyahut. Istrinya itu malah menyibukkan diri dengan fokus di layar televisi. Darren kembali ke sofa panjang. Kali ini dia memutuskan untuk rebahan.
Senja mengambil satu buah pisang, lagi - lagi gerakannya menarik perhatian Darren. Cara membukanya yang perlahan lalu memasukkannya pelan ke mulut. Bukannya menggigit, Senja malah mengeluarkan lagi pisang itu karena tidak bisa menahan tawanya melihat adegan lucu di tv, berulang - ulang masuk dan keluar hanya sekedar di kulum layaknya permen lolipop, lalu terjeda lagi karena tawanya yang tidak tertahankan.
Darren menekuk lututnya, mengangkat satu kaki dan menumpukan di atas lutut kaki yang lain. Ada bagian tubuhnya yang meronta melihat aksi istrinya. Ini bagian hukuman atau godaan, dia sulit membedakan.
Senja meneguk habis segelas susu, setelah ke toilet sebentar saat kembali dia mendapati Darren sudah ada di atas ranjang. Memejamkan mata tidak harus tidur. Senja yakin suaminya itu hanya pura - pura tidur.
__ADS_1
Senja sengaja tidur tidak memunggungi suaminya. Sengaja sekali membusungkan dada yang tidak seberapa besarnya dibanding milik perempuan - perempuan yang menggoda suaminya. Tangan Senja dibiarkan tergolek di depan naga sang suami. Sedikit gerakan tangan itu pasti akan menyerempet sasaran dengan sempurna.
Jantung Darren makin berdetak kencang, Senja benar - benar membuatnya kelabakan. Tidak bisakah mencacinya saja atau kalau perlu menamparnya dengan keras menggunakan wedges sepuluh senti saja. Panasnya lebih panas mungkin, tapi tidak menyiksa sampai ke kepala dan merasuk ke hati seperti ini. Tinggal memakai salep kompres bisa reda, kalau seperti ini? repotnya luar biasa. Tangan Darren tidak selincah saat dulu belum menikah dengan Senja.
Melihat suaminya semakin salah tingkah, Senja membalikkan badannya. Gerakan halus tangannya berhasil membentur sesuatu yang mengeras, tanpa Darren sadari desah halus lolos dari bibirnya.
Senja tidak peduli, dia memejamkan matanya lebih rapat lagi. Berusaha tidak pura - pura tidur. Sudah cukup dia menyiksa suaminya malam ini.
Merasa sudah tidak kuat menahan diri, Darren segera beringsut ke kamar mandi. Dia menyalakan shower dengan maksimal, menyamarkan suara - suara yang bisa saja timbul. Terlalu lama, Darren sampai merasakan kebas di tangannya. Akhirnya kelegaan pun datang menghampirinya.
Malam yang sungguh gila, yang ada di kamarnya adalah seseorang harusnya halal untuk diperlakukan apa saja untuk kenikmatan bersama. Nyatanya siksaan ini begitu membuatnya kalang kabut sendiri.
Darren keluar dari kamarnya, hanya handuk yang melilit bagian pinggulnya ke bawah. Rambutnya basah di tengah malam. Senja menarik nafas dalam seraya memicingkan satu matanya, melihat godaan di depan mata.
'Astaga, kenapa dia malah keluar seperti itu. Mau ganti menggodaku? Jangan harap. Kali ini aku tidak akan tergoda. Huftttt.....Tapi itu roti sobek bukan isi coklat kenapa minta dielus - elus halus,' batin Senja, merasa salah tingkah sendiri.
Senja dan Darren akhirnya bisa memejamkan matanya dengan benar juga. Bahkan tidur mereka begitu lelap. Guling pemisah yang tadi disusun Senja sudah tidak ada lagi. Entah siapa yang mulai membuangnya di alam bawah sadarnya. Semakin mendekati dini hari, tidur mereka semakin pulas. Bagaimana tidak, tangan Darren kini melingkar sempurna di armtas perut istrinya kadang terasa bergelombang. Kepala Senja juga berbantalkan satu lengan sang suami. Alam bawah sadar menyatukan tubuh mereka secara natural.
Senja terbangun karena merasa sesak dan gerah. Dia langsung mendengus kesal begitu tau posisi tidurnya sudah berubah dari skenario awal.
__ADS_1
"Permisi, tangannya pak...Tolong!" dengus Senja.