
Perempuan itu mendongakkan kepala, lalu buru - buru berdiri dan menyeka air matanya. "Permisi, Pak"
Karena tidak melihat jalan, dia pun menabrak badan Senja yang juga ingin ke toilet.
"Ul, kamu kenapa? Kok nangis? Ada yang jahatin kamu?" tanya Senja, terdengar sangat khawatir.
Kenzi menyimak dari jauh. Menikmati wajah Senja tanpa gangguan Darren walau hanya sejenak.
Ulfa tiba - tiba memeluk Senja, menumpahkan sedihnya di tubuh majikan perempuannya itu. Merasakan wangi tubuh Senja yang begitu menempel dan mahal.
"Kamu bisa cerita sama saya Ul, Kamu kangen sama anak kamu ?" tebak Senja, langsung dijawab anggukan kepala oleh Ulfa.
"Wajar Ul, hidup ini pilihan dan kadang menghadapkan kita pada hal - hal yang menyakitkan. Hadapi Ul, kamu yang membuat pilihan. Jangan berada di tengah - tengah. Maaf kalau kedengarannya kejam, kamu sudah memutuskan meninggalkan anakmu. Kalau kamu sekarang bersedih, kembalikan pada tujuan awalmu. Kita ini seorang ibu, harus pandai menyimpan luka. Aku tidak menyuruhmu berhenti menangis. Siapa yang sanggup berjauhan dengan seorang anak, Aku pernah. Kamu masih bisa video call anakmu, bahkan kamu bisa mengajak anakmu kemari. Kapan - kapan aku akan menceritakan kisahmu sama kamu. Zain yang sekarang di sini, dulu pernah dinyatakan meninggal agar aku bisa berpisah dengan papanya." Senja menepuk pundak Ulfa, lalu berjalan menuju toilet dengan cepat.
Kenzi semakin mengagumi istri orang itu, tidak lembut memang. Tapi apa yang diucapkan memang benar.
"Kamu beruntung berada di sini. Belajarlah banyak dari bu bosmu. Dia tidak hanya seorang ibu yang hebat, tapi juga istri yang luar biasa. Idaman." ucapan Kenzi sukses membuat ulfa mengerutkan keningnya, bagaimana bisa laki - laki itu memuji istri orang.
Kenzi meninggalkan Ulfa, dia pun ke toilet yang letaknya berjejer dengan toilet yang dimasuki oleh Senja.
Senja keluar lebih dulu, menyusul Kenzi kemudian.
"Kok bisa barengan keluarnya? " tanya Darren yang muncul begitu saja.
__ADS_1
"Nggak bareng! Aku nggak tahu keluarnya mas Kenzi kapan." Senja melingkarkan satu tangan di pinggang Darren, paham betul suaminya memiliki kecurigaan yang tidak masuk akal.
Menghindari perdebatan yang tidak penting. Kenzi berjalan duluan melewati pasangan meresahkan itu tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Mbak ... Ngapain masih di sini? Sudah jangan sedih. Kalau liburan anaknya diajak ke sini. Kenalin saya Kenzi panggil pak Kenzi. Nggak kalah keren sama bos kamu. Sudah lama kerja di sini?" Kenzi memberi isyarat agar Ulfa kembali ke tempat acara bersamanya melihat Ulfa masih duduk termenung di ambang pintu keluar samping menuju taman.
"Saya Ulfa pak. Panggil Ulfa saja. Saya janda anak satu. Masih beberapa minggu di sini. Saya calon baby sisternya baby twins," jelas Ulfa dengan malu - malu.
Kenzi memperhatikan Ulfa dari atas berhenti di dada lalu ke bawah dan berhenti di bagian dada lagi. Kenzi baru ingat kalau perempuan di depannya ini yang membuatkan kopi untuknya.
"Kamu benar - benar berjodoh bekerja di sini. Belajarlah banyak dari bu Senja, dia sungguh istri idaman." Kenzi menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Ulfa yang canggung berada di samping Kenzi. Ulfa merasa kulit bening Kenzi semakin meredupkan kulitnya yang sawo matang cenderung eksotis.
"Auwwwwwww....." teriakan suara Senja menghentikan langkah kaki Ulfa dan Kenzi.
Jiwa ingin tahu Kenzi mendadak meronta, Kenzi reflek menarik pergelangan tangan Ulfa kembali mengendap - endap ke dalam menuju koridor yang mengarah ke toilet ruang keluarga tadi. Mereka mengintai di balik tiang besar berdiameter satu meter. Karena terlalu fokus, siku tangan Kenzi tidak sengaja menyenggel bagian kenyal di dada Ulfa.
"Atas sedikit, Ask ... Auwwww ... Pelan - pelan, Sakit!" rengekan suara manja Senja terdengar jelas.
Dari arah pandang Ulfa dan Kenzi, hanya nampak kepala Senja yang timbul tenggelam di balik sandaran sofa. Timbul saat dibarengi dengan wajah meringis entah kesakitan atau keenakan dan tenggelam saat hening tidak ada suara apapun.
"Enak,Ask?" Darren bertanya dengan lembut.
"Belum ... Masih kurang enak kalau digoyangin."
__ADS_1
Jawaban Senja membuat pikiran Kenzi dan Ulfa sama - sama tidak positif, Keduanya sedang berfikir hal yang m35um sedang terjadi di ruang keluarga.
"Kamu harus kuat iman, Ul. Mereka sungguh tidak tahu tempat dan pintar memanfaatkan keadaan," bisik Kenzi.
"Ini mungkin bagian dari keresahan pak Rudi," timpal Ulfa.
"Sudah, Ask! Enakan ... Nanti saja di kamar lagi." Senja kembali menjejakkan kakinya yang terkilir ke lantai. Setelah dipijit suaminya, kaki terasa lumayan enakan. Tadi dia tidak melihat ada mainan Dasen di lantai, terinjaklah mainan itu dan menyebabkan Senja kehilangan keseimbangan. Untung saja Darren sigap memegangi istrinya. Jadi Senja tidak sampai jatuh.
"Mana bayarannya? Terapis pijetnya exclusive lho ini." Darren memeluk istrinya dari belakang.
Ulfa dan Kenzi masih setia mengintip di balik tiang tadi. "Ul, boleh lihat tapi jangan sampai kamu pengen. Aku nggak mau tanggung jawab." Kenzi meletakkan telapak tangannya di depan mata Kenzi.
"Pak Kenzi pasti yang pengen. Pak Kenzi kan ngefans sama bu Senja, pasti sekarang lagi berandai - andai bapak yang ada di sana. Jangan mimpi pak, bu Senja tahu mana yang lebih baik," tukas Ulfa.
Dalam hati, Kenzi mengumpat. Berani sekali secara tidak langsung ulfa mengatakan Darren lebih baik darinya.
"Pak Kenzi!" suara Ali dan Amar mengagetkan Kenzi dan Ulfa. Keduanya kompak meletakkan jari telunjuk di depan bibir mereka. Satu tangan Kenzi menunjuk ke arah di mana Darren dan Senja berada.
"Ah...Sudah biasa kita lihat begituan di kantor. Aku tidak mau mengambil resiko. Aku masih dalam masa pengawasan. Aku tidak ikut - ikut." Ali berbalik badan, berniat meninggalkan Amar, Kenzi dan Ulfa. Tapi buru - buru Amar menarik kerah belakang kemeja putihnya.
"Tidak akan ketahuan! Siapa tahu ada teknik terbaru." Amar menahan kerah Ali tetap di tangannya, membuat sang empunya mau tidak mau ikut bergabung dalam kekonyolan.
Ali semakin merasa susah bernafas ketika melihat tautan bibir dua sejoli halal di dalam sana semakin panas, ditambah lagi cengkraman d kerah belakang dari Amar semakin kuat. Hasrat mereka jelas bukan lagi sekedar cinta. Tangan Darren pun bergerilya manja mengusap leher mulus Senja.
__ADS_1
Ulfa yang berada di tengah - tengah ketiga orang lelaki bermuka pengen itu merasa tidak bisa bergerak. Terjebak diantara para lelaki pengagum istri orang. Tidak habis fikir, apa enaknya melihat orang bermesraan, bukankah lebih enak bermesraan sendiri.
Amar, Ali dan Kenzi kompak menarik nafas lega begitu Darren dan Senja menuntaskan tautan bibir mereka. Seketika, ketiganya meninggalkan Ulfa begitu saja berebut menuju toilet terdekat.