Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Di mana mamanya anak - anak ?


__ADS_3

Penerbangan kali ini terasa sangat lama, Darren sudah tertidur dua kali tapi pesawat belum juga mendarat. Keresahan Darren tak luput dari perhatian perawat, sungguh dia jadi tergiur untuk menerima tawaran sebagai perawat Hutama. Selain gaji yang cukup besar, perawat itu benar - benar dibuat penasaran dengan sosok laki - laki yang baru diketahuinya bernama Darren. Bukan penasaran dalam artian menyukai apalagi berniat memiliki, bukan. Cukup tahu diri. Karena dia yakin, siapapun yang menjadi pendamping laki - laki itu bukanlah perempuan biasa.


Akhirnya kelegaan sekaligus ketidaksabaran yang lebih terlihat di wajah Darren. Saat roda pesawat itu keluar dan menggelincir sempurna di landasan bandara. Beberapa menit kemudian pesawatpun berhenti.


" Daddy Darr datang Ask " gumam Darren dengan raut bahagia luar biasa, sambil menaikkan satu tali tas ransel di atas satu pundaknya.


Sepanjang perjalanan ke lobby, sambil mendorong Hutama yang duduk di atas kursi roda. Perawat itu dapat dengan jelas kelakuan Darren. Setiap melewati kaca yang memantulkan bayangan dirinya seolah tidak luput dari pertanyaan " sudah gantengkah saya ", lidahnya selalu membasahi bibirnya sendiri, jemari itu beberapa kali menyisir dan merapikan rambutnya ke belakang. Lalu sedikit menyalahkan satu jerawat yang muncul tanpa permisi di pipinya.


Sebuah mobil Alphard hitam keluaran terbaru tepat berada di depan lobby penjemputan. Darren mengangkat tubuh opa ke dalamnya, menyuruh perawat masuk menempati jok belakang baru dirinya naik.


Kendaraan itu pun berbaur dengan padatnya jalanan ibu kota, mereka sampai di saat aktivitas bekerja baru saja dimulai.


Perawat tidak bisa menyembunyikan kekagumannya saat menasuki gerbang utama Hutama sampai pintu utama Hutama. Benar dugaannya, yang sedang dia rawat memang bukan orang biasa.


Sarita terlihat menyambut dengan menggendong seorang bayi, siapa lagi kalau bukan Dasen. Aleandro dan Chun Cha ada terlihat berdiri. Aleandro kini yang sigap menggendong opa, Chun Cha mengambil alih tugas perawat mendorong kursi roda opa.


" Selamat datang pa, Papa terlihat sehet. Semoga papa segera pulih " harap Sarita, sambil mendekarkan pipi Dasen ke pipi opa buyutnya.


Hutama mengisyaratkan agar di antar ke kamarnya.


"Sus, biar saya saja. Kamu bisa istirahat sejenak. Maid akan membuatkanmu minuman " ucap Chun Cha ramah pada perawat.


" Kenalkan saya Sarita. Menantu bapak Hutama " ucap mamanya Darren pada perawat.


" Saya Rianti ibu " jawab Perawat itu dengan sopan dan ramah.


" Kata suami saya, kamu asli Indonesia ya ti ? orang mana ? " tanya Sarita lagi.


" Orang Jakarta asli bu, makanya besok saya mau ijin sebentar bertemu keluarga saya setelah ada perawatblain datang. Sembari berfikir saya akan kembali atau tetap mengurus pak Hutama " jawabnya gamblang.

__ADS_1


" Di sini saja Ti, dekat dengan keluargamu. Masalah gaji kamu bisa minta di naikkan sama anak saya. Naik sedikit dari gajimu di sana, deket sama keluarga kan nggak ada ruginya " bisik Sarita.


Perawatbbernama Rianti hanya melirik pada Darren, wajahnya terlihat sangat tidak tenang. Tentu saja, sampai detik ini Rianti pun belum melihat wajah perempuan yang bisa diduganya sebagai istri dari laki - laki angkuh tapi melow itu.


Aleandro dan Chun Cha pun naik ke lantai dua melalui lift.


Mata Darren celingukan, melihat ke penjuru ruangan. Tidak ada wajah yang paling dia rindukan di sana, sementara Mahendra mendudukkan bokongnya di atas dofabpanjang menhemoas lelah dan pegalnya.


" Ma, mamanya anak - anak kemana ? " tanya Darren benar - benar tidak sabar.


" Owh iya mama lupa, ada rapat pemegang saham di perusahaan. Karena tidak ada kamu, Senja terpaksa datang sendiri. Untung saja Dasen diam. Sudah lumayan bisa ditinggal sekarang " jawab Sarita tanpa memandang wajah anaknya.


Darren mengerutkan keningnya,bibirnya seketika monyong beberapa senti.


" Apa dia tidak tahu kalau suaminya datang, dia bisa memundurkan rapat besok atau lusa " gumamnya. Darren mencoba menghubungi Senja, tapi ponselnya tidak aktif.


Darren mengambil alih gendongan Dasen dari tangan Sarita.


Beberapa jam kemudian saat aktivitas semua orang juga sudah berganti, Zain sudah datang dari sekolahnya dan baby De sudah bangun tidur untuk kedua kalinya. Hutama sudah istirahat siang, Sarita dan Mahendra sudah makan siang bersama perawat. Tapi kabar dari Senja belum juga datang. Chun Cha dan Alrandro pun sudah kembali ke kantor. Ponsel Senja masih tidak aktif.


Kesabaran Darren mulai menipis, apalagi mendengar Dasen yang mulai merengek. Asi yang di sendokkan sudah mulai tidak mempan.


Sarita membawa Dasen ke kamar Darren dan Senja yang ada di sebelah kamar Hutama. Tangisan itu pun mereda.


Darren kembali menghubungi istrinya, tapi masih belum juga aktif. Darren pun menghubungi Rosa. Menurut Rosa, Senja melakukan meeting lanjutan dengan klien besar.


Sudah bisa dibayangkan bagaimana kesalnya Darren saat itu. Bagaimana bisa Senja mengabaikan dirinya dan anak - anak.


" Dadd, Zain kemarin dibelikan pesawat sama om Vano. Series terbaru " cerita Zain, semakin membuat panas pikiran Darren. Meski dia menahan diri untuk tidak menunjukkan wajah kesalnya pada Zain.

__ADS_1


" Owh ya ? sudah berterimakasih sama om Vano ? " tanya Darren, suaranya dibuat sesantai mungkin.


"Sudah dong Dadd. Selama Zain sakit, om Vano selalu datang " tambah Zain.


" Mama sering ngobrol berdua sama om Vano ? " selidik Darren.


" Tidak pernah kalau berdua, selalu ada Zain dan Dasen " jawab Zain, jawaban yang pintar dan melegakan.


Sarita turun tanpa membawa Dasen.


" Dasen sama siapa ma ? " tanya Darren tidak bisa menutupi rasa kesalnya.


" Sama perawatnya opa sekarang " jawab Sarita.


" Kok bisa nggak nangis lagi tadi ? "tanya Darren heran.


" Mama kasih punya mama, untunglah Dasen sedikit tertipu dan mau tidur " ucap Sarita asal.


Darren mencebik sambil mengangkat bahunya. Lalu melangkahkan kaki ke atas, menuju kamarnya. Menghempas tubuhnya ke atas kasur.


" Lihat saja saat kamu pulang nanti Ask, kamu berani pergi tanpa ijinku " gumam Darren lagi - lagi sangat kesal.


Darren mengambil baju ganti lalu ke kamarbmandi, mengguyur tubuh dan kepalanya yangbpanas karena kekesalan agar menjadi lebih dingin. Beberapa kali umpatan kecil lolos dari mulutnya. Senja berhasil merubah moodnya seketika.


Saat dipesawat tadi dia sudah membayangkan ciuman hangat menyambutnya. Kenyataannya jangankan ciuman hangat, senyum mempesona istrinyapun tidak dia temui pagi ini.


Darren masih mengguyur kepalanya berkali - kali. Dingin belum juga dia rasakan, yang ada kepalanya semakin terasa mendidih. Sudah hampir satu jam di kamar mandi, tidak ada tanda - tanda kehadiran Senja.


Darren mengeringkan badannya di depan cermin, merasakan matanya memanas. Kali ini sikap Senja tidak bisa ditorerir lagi. Lampu kamar mandi pun mati, membuat Darren sedikit gelagapan. Darren meraba - raba membuka pintu kamar mandi, berharap di luarvkamar mandi lebih terang. Ternyata malah semakin gelap, sungguh tubuhnya belum memakai sehelai benang pun.

__ADS_1


Meraba - raba mencari ponselnya, tangan Darren mengenai sesuatu yang membuatnya berhenti bergerak.


__ADS_2