Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Aku dan kamu menjadi dia


__ADS_3

Senja menerima sambungan telponnya.


"Halo ... iya kak __ apa ? __ iya Senja ke sana sekarang." Senja memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan buru-buru.


"Siapa?" tanya Darren penasaran.


"Kak Al." Senja melangkahkan kakinya dengan cepat ke luar dari ruangan.


"Hati-hati Senja, kamu sedang hamil." Darren mengingatkan Senja karena cara berjalannya sungguh membuat yang melihat deg-degan.


Setelah itu, Darren ikut melebarkan langkahnya menyusul Senja.


"Kenapa kak Al?" Darren masih ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kak Andra dilarikan ke rumah sakit." sahut Senja dengan cepat.


Darren langsung menyambar tangan Senja dan menggenggamnya menuju lobby, satu tangan Darren menyuruh drivernya bersiap di lobby melalui telepon genggamnya.


"Aku ikut!" ucap Darren.


Senja tidak menanggapi atasannya itu. Fokusnya hanya ada pada Deandra sekarang.


Keduanya memasuki mobil, sesaat kemudian driver pun melajukan kendaraan dengan kecepatan lumayan tinggi sesuai perintah Darren.


Tidak ada pembicaraan yang terjadi antara Darren dan Senja selama perjalanan. Banyak tanda tanya yang terlintas di pikiran keduanya tentang kondisi Deandra.


Satu hal yang pasti, Darren menggenggam tangan Senja seolah memahami kegelisahan hati perempuan itu. Secara tidak sadar, Senja juga menyandarkan kepalanya di pundak Darren. Keduanya seolah lupa dengan perdebatan sengit yang baru saja mereka lakukan. Tanpa kata-kata dan diplomasi panjang, genjatan sedang terjadi saat ini.


Darren baru melepas pegangan tangannya, begitu mobil berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit. Setelah turun, Darren kembali menggandeng tangan Senja. Kepanikan dan keresahan ternyata mampu menyatukan dua kepala yang dengan lantang menyatakan diri mereka saling membenci satu sama lain.


Darren melangkahkan kakinya dengan mantap begitu melihat Aleandro di depan ruang ICU.


"Bagaimana aunty Andra?" tanya Darren begitu berada tepat di depan Aleandro.

__ADS_1


"Andra terlalu stres dan sangat emosional hari ini. Tadi dia tiba-tiba sesak nafas," jawab Aleandro lirih.


"Kak Andra pasti bisa melewatinya. Kak Andra hanya butuh waktu untuk sembuh," ucap Senja seraya memegang bahu Aleandro.


Di luar dugaan Senja, Aleandro malah merengkuh pundaknya dan membawa tubuh mungilnya yang langsung tenggelam di dada Aleandro.


"Aku takut Senja. Kita sama-sama tau apa yang terjadi di balik permohonan konyol kita kemarin. Aku takut Andra benar -benar meninggalkan kita," Aleandro masih dengan memeluk Senja.


Darren semakin tidak mengerti dengan pembicaraan dua oran di depannya itu. Ingin rasanya menarik Senja dari pelukan Aleandro. Dia merasa keduanya berlebihan. Melihat Senja dipeluk laki- laki lain membuat mata dan hatinya mendadak nyeri .


Senja menarik tubuhnya dari pelukan Aleandro. "Kita doa kak. Tuhan pasti memberi kita yang terbaik," ajak Senja.


Keduanya duduk dibangku besi yang berderet di depan ruang ICU. Senja seolah lupa kalau ada Darren di sana. Atasannya itu berdiri sambil mondar mandir di depan Senja. Berharap mendapat perhatian dari perempuan itu. Senja memang tidak peka, lebih tepatnya tidak fokus pada hal lain. Usahanya sia-sia. Karena bawahannya itu, sungguh tidak meliriknya sedikitpun.


Aleandro melihat ke arah Darren dengan wajah heran. Sikapnya tidak seperti Darren yang selama dia kenal. Darren tidak pernah mondar mandir seperti orang yang sedang mencari perhatian seperti itu.


"Duduklah!" ucap Aleandro pada Darren.


Darren mengabaikan ucapan Aleandro.


Seorang perawat menghampiri mereka. "Pasien ingin bertemu dengan Suaminya dan seorang bernama Senja. Silahkan mengikuti saya jika ada orang yang di maksud." ucap Perawat dengan datar, tanpa basi basi dan langsung membalikkan badannya kembali berjalan ke ICU.


Aleandro dan Senja pun mengikuti perawat dari belakang tanpa mempedulikan Darren. Perawat itu pasti sedang sangat fokus, hingga lupa bersikap ramah pada keluarga pasian. Senja sangat memaklumi.


Darren terpaksa menunggu di luar sendiri. Tanda tanya masih banyak berseliweran di pikirannya. Sampai detik ini, Dia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan Deandra.


Senja dan Aleandro mendekati tubuh Deandra yang terbaring lemah di atas ranjang. Selang kecil menghiasi hidung mancungnya sekarang.


Dokter mengatakan 30 menit lagi Deandra akan menjalankan prosedur operasi pengangkatan rahim. Karena kondisinya sudah sangat mendesak. Apalagi setelah dilakukan pertolongan pertama, pernafasan Deandra sudah kembali normal. Tinggal menunggu persiapan operasi 100%.


"Bee ... aku ingin tidur di pangkuanmu," pinta Deandra .


Aleandro mengangguk, mengambil posisi duduk di sisi kepala Andra. Senja membantu mengangkat pelan kepala Deandra, agar aunty Darren itu tidak terlalu berusaha menggeser tubuhnya sendiri untuk sampai di pangkuan Aleandro.

__ADS_1


Deandra tersenyum lembut, tangannya berusaha meraih tangan Senja yang berada di sampingnya. Aleandro terus mengelus rambut Deandra .


Senja menyambut uluran tangan Deandra dan menempelkan tangan itu di perutnya .


"Dia akan tumbuh cantik seperti kak Andra," ucap Senja dengan senyuman berusaha memulihkan semangat Deandra.


"Tidak! dia pasti setampan aku," sahut Aleandro .


"Dia akan seperti aku dan kamu bee," ucap Deandra lirih.


"Tentu saja ... Kamu harus semangat kalau begitu, jangan terlalu berfikiran buruk. Jangan membuatku memeluk Senja lagi karena takut terjadi apa -apa padamu. Dia terlalu kecil untukku," canda Aleandro disambut senyum lepas Deandra dan dengusan kesal Senja.


Aleandro memiliki tinggi yang menjulang sekitar 185 cm sedangkan deandra tak kalah tinggi dengan 180 cm. sementara Senja hanya 165 cm kurang dua cm. Tentu saja bagi mereka, Senja sangat mungil.


"Kalian jangan meledek ... tidak lucu kalau sampai anak ini malah mirip Senja," dengus Senja pura-pura kesal.


Sesaat suasana sedih menghilang dari ruangan itu, berganti dengan suasana hangat. Ketiganya sejenak larut dalam candaan.


"Bolehkah aku tidur sebentar. Sepertinya obat yang diberikan membuatku mengantuk," pinta Deandra.


"Tentu saja boleh ... apa kamu tetap ingin tidur dalam posisi seperti ini?" tanya Aleandr dengan lembut.


Deandra mengangguk pelan, tangannya tetap mengelus perut Senja.


"Senja ... taukah kamu? Saat pertama kali Rafli mengenalkanmu padaku, aku sudah merasa Rafli akan jadi laki-laki yang paling beruntung. Kamu terlihat tulus dan apa adanya. Dengan apa yang dimiliki Rafli, apa yang kamu dapatkan tidak seberapa. Aku bersyukur mengenal kalian. Terimakasih selalu ada di saat sedih dan senangku. Terimakasih menjadikanku kakakmu," Deandra menggenggam erat tangan Senja.


"Bee, Mencintai dan dicintaimu adalah anugerah dalam hidupku. Menemanimu dan mendampingimu sejauh ini tidak sedikitpun membuatku ragu akan pilihanku. Aku bisa jatuh cinta padamu setiap hari, lagi dan lagi. Aku pernah sedikit bosan, tapi tidak sedikitpun aku berfikir untuk pergi. Aku pernah kesal, tapi aku tidak pernah menyesal hidup bersamamu. Aku mencintaimu, Bee. Semua tentang aku dan kamu sekarang menjadi dia." Deandra menatap wajah Senja dengan sangat hangat dan lembut.


Perlahan Deandra memejamkan matanya. Senyuman menghiasi wajahnya, Aleandro masih setia mengelus kepala Deandra yang makin lelap masuk ke dalam alam barunya. Senja merasakan genggaman tangan Deandra padanya semakin melemah dan semakin terkulai, hingga akhirnya tangan itu terlepas dari tangannya.


"Tidak ini tidak benar ...." ucap Senja dengan panik.


Aleandro yang tidak tau apa maksid Senja segera membetulkan posisi tangan istrinya.

__ADS_1


"Tidak! Dokter ...." Teriak Aleandro.


Aleandro menggeser tubuhnya. Meski panik, Dia memindahkan kepala Deandra dengan pelan ke atas bantal di atas brankar. Dua orang Dokter dan dua perawat datang untuk melihat kondisi Deandra.


__ADS_2