
Satu bulan lebih dua hari sudah usia Dasen Khyun Mahendra. Bayi dengan nama campuran yang sedikit memaksa. Jelas bisa ditebak nama tengah dan belakang Dasen berasal dari mana.
Senja sudah bersiap - siap, kali ini make up tipis menghiasi wajahnya yang biasanya polos. Lipstiknya pun sedikit mentereng serasi dengan dress selutut berwarna merah marun yang dikenakannya. Rambut bagian samping kanan kiri dikepang sebagian,lalu disatukan di tengah dan dijepit dengan jedai mutiara berwarna putih. Sangat manis. Di lehernya melingkar kalung berlian dengan liontin bertuliskan Darr. Hadiah dari suaminya saat melahirkan Dasen.
Darren enggan beranjak dari tepian ranjang, melihat penampilan istrinya membuatnya malas keluar kamar. Darren tidak terlalu suka Senja secantik itu jika berada di luar, Senja tanpa make up terlihat sangat kalem dan elegant, membuat yang memandangnya segan dan enggan untuk menggoda. Tapi ketika make up sudah dikenakannya, seketika wajah Senja seperti sangat menggoda, dengan warna lipstik yang terang membuat *** appeal nya keluar sempurna.
" Ask....Masih dua jam lagi kan, daripada antri di sana lama - lama. Kasih enak dulu yuk " ajak Darren, antara meminta dan memaksa selalu beda tipis.
" Enggak ah, sudah rapi ini " tolak Senja.
" Jadi sudah nggak mau mencium wangi surga lagi ya Ask. Ingat Ask, seorang istri tidak akan mencium ---- " kalimat itu terhenti, tertutup bibir Senja yang sudah meraup bibir suaminya dengan tergesa - gesa.
Darren dengan senang hati membalas raupan itu, lebih liar dari yang Senja lakukan. Darren tidak ingin langsung ke tujuan sebelum make up istrinya berantakan. Kedua tangannya menangkup kedua pipi Senja, membuat lidahnya semakin dalam melilit. tangan Senja pun sudah menerobos masuk ke dalam celana yang masih rapi terpakai. Sesak membuat Darren menurunkan satu tangannya untuk membuka pengait, menurunkan resleting dan menurunkan celananya hingga sampai ke dengkul.
Senja melepas tautan bibirnya, dia sudah hampir kehilangan nafas. Melihat bibir Senja sudah pink alama seperti biasa, Darren pun menarik senyum liciknya. merekabbaru saja bertukar warna bibir, kini bibir Darren lah yang merah merona.
Seperti biasa, sesi ini selalu diakhiri dengan rambut Senja yang sedikit berantakan dan tangan yang lengket.
" Ayo ask, takutnya jalan macet. Kita tumben lho setengah jam lebih ini tadi " ucap Darren dengan santainya, padahal dialah yang terus mengulur waktu.
__ADS_1
Senja menghentakkan kakinya dengan kesal, ingin tampil cantik dan berbeda saja selalu tidak bisa. Senja mengganti tatanan rambutnya lebih sederhana, mengingat Dasen juga sudah terbangun. Pertanda sebentar lagi akan meminta haknya. Benar saja, baru saja akan memakai lipstik, bedak, eye shadow, blush on dan teman - temannya kembali, tangisan Dasen sudah dimulai.
Senja segera melingkarkan jarik batik berwarna merah dengan gambar naga yang sebenarnya ke pundak hingga bawah ketiaknya, lalu menggendong Dasen segera.
" Yuk Ask " ajak Darren, menggapit lengan Senja yang berjalan sambil menyusui Dasen dengan santainya. Kain menutupi wajah Dasen dan dada Senja dengan sempurna. Bersama Rudi mereka menuju tempat praktek dokter Evan. Chun Cha yang awalnya mau ikut, membatalkan keinginannya. Karena calon suaminya sedang sangat posesif. Siapa lagi kalau bukan Aleandro.
Sampai di tempat praktek, entah kenapa tanpa mengantri, perawat langsung mempersilahkan mereka untuk masuk ke ruangan dokter. Padahal di luar antrian masih cukup panjang. Senja tadi pun hanya mengirimbpesan whatsapp pada dokter Vano. Tanpa memesan nomer. Dokter Vano hanyabmengatakan datang saja sekitaran pukul tujuh malam.
Darren mengamit lengan istrinya semakin kuat begitu melihat sosok dokter di depannya. Pantas saja istrinya semangat sekali ke dokter kali ini, secara fisik cukup untuk mengalihkan pandangan mata istrinya. Tipe Senja sekali. Tinggi, kulit bersih terawat, dengan bulu halus di tangannya, hidung mancung dan wajahnya bergaris keturunan indo - timur tengah juga.
" Selamat malam bunda Senja. Selamat malam pak. Hai... ini baby ????? " sapa dan tanya dokter Vano dengan ramah.
" Dasen, kependekan dari Darren dan Senja " sahut Darren cepat.
" Ask, tolong buku di tas Senja " ucap Senja tanpa menoleh pada Darren.
Darren memindahkan tas yang sedari tadi dipegangnya ke pangkuan dan mengambil buku imunisasi Dasen lalu menyerahkannya pada dokter Vano.
Vano menyiapkan jarum suntik, Senja melepas ikatan tali kain gendongannya dan menurunkan celana Dasen yang tertidur pulas. Vanobmembungkukkan badannya mengelus sebentar paha gemoy milik Dasen. Tangis dan jerit kaget Dasen langsung terdengar begitu dokter Vano menarik kembali jarumnya. Senja berdiri dan menenangkan Dasen, tidak sampai satu menit bayi laki - laki yang beratnya sudah naik 2100 gr itu kembali pulas.
__ADS_1
" Saya kasih obat penurun panas ya bun, berikan jika ada kenaikan suhu badan Dasen. Jika tidak ada gejala, tidak perlu diberikan. Seharusnya tidak menyebabkan demam " jelas dokter Vano.
Darren hanya menyimak dengan perasaan sedikit dongkol, jelas dokter Vano sering mencuri - curi pandang pada istrinya. Pantas saja mereka tidak antri. Saat baby De dulu, tempat imunisasinya berbeda dengan ini, Darren pun tidak pernah ikut.
" Sudah selesai " ucap dokter Vano, membuka buku imunisasi lalu mencatatkan jadwal imunisasi untuk bulan selanjutnya.
" Untuk bulan depan Dpt 1 dan polio 2 ya bund " ucap dokter Vano, memberikan kembali buku pada Darren.
Senja menatap dokter Vano, semakin dipandang membawa ingatannya pada seseorang. Darren meremas tangan istrinya begitu menyadari Senja memandang dokter terlalu lama. Senja meringis sambil menoleh pada suaminya.
" Dok, maaf saya mau tanya di luar konteks. Dokter ini Devano Danendra bukan ? Sma lab angkasa ? " tanya Senja hati - hati karena belum terlalu yakin.
" Akhirnya kamu ingat juga Nja. Aku sengaja tidak menegurmu, biar kamu inget sendiri. Kamu tidak salah " jawab dokter Ivan, senyumnya semakin lebar, Darren pun semakin ambyar.
" Ask, dokter Vano ini ternyata temenku Sma dulu. Kita tapi nggak sekelas. Dia Ipa Senja ips " ucap Senja dengan semangat. Darren hanya manggut - manggut malas. Senja yang hafal gestur suaminya pun memilih untuk mencari aman.
" Ya sudah dok, pasien di luar masih banyak. Kita permisi dulu ya. Sampai ketemu bulan depan " pamit Senja.
" Siap Nja, sesekali aku chat. Aku ada beberapa foto lama kita " ucap dokter Vano, membuat lengan Senja semakin tercengkram erat dengan tangan Darren, pertanda Darren ingin Senja mempercepat langkah kakinya.
__ADS_1
Darren dan Senja menghentikan langkahnya di depan meja kasir untuk membayar. Tapi perawat menolak pembayaran, karena intruksi dari dokter Vano adalah free untuk anak dari bunda Senja.
" Ishhh...di pikir aku tidak mampu bayar. Kubeli juga klinik sekalian orang - orangnya ini " sungut Darren kesal.