Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Hamil tidak ????


__ADS_3

" Chun ? " panggil Senja sekali lagi.


" Chun hamil kak " jawab Chu Cha lirih.


Senja melempar Chun Cha dengan bantal. " Kakak tahu kamu itu memang tidak tahan kalau sudah berdekatan dengan laki - laki, bukankah kamu dulu pintar. Sudah melakukan dengan siapa saja tidak sampai hamil. Kenapa malah sekarang bisa hamil ? " tanya Senja, kesal.


" Kakak kan tahu selama di sini, Chun tidak berhubungan dengan siapapun. Karena itu Chun tidak meminum pil. Terus om Al tiba - tiba ngajak " kilah Chun.


" Biarpun kak Al ngajak, kalau kamu nggak mau, ya nggak bakalan terjadi. Kakak tidak mau tahu, kamu dan kak Al harus menemui eomma segera. kalian yang nggomong sendiri sana eomma dan appa. Kalian ini. Kalaupun tidak sabar menunggu, pintar sedikit kenapa " umpat Senja, benar - benar kesal.


Senja menidurkan Dasen di boxnya perlahan. Setelah sukses tidak terbangun, Senja lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Memijat sendiri pundaknya yang terasa pegal, Chun Cha masih memandangi ponselnya. Karena terlalu lelah, Senja pun tertidur dengan posisi setengah duduk.


Sudah satu jam di atas tempat tidur, tapi mata Darren tetap tidak bisa terpejam. Daster yang dia bawa sudah hilang wangi aslinya. Sudah tidak ada jejak aroma tubuh Senja di sana, pertanda kepergiannya sudah terlalu lama.


Kurang dua hari lagi. Masih terlalu lama bagi Darren. Ini adalah kali pertama dan akan menjadi yang terakhir meninggalkan istri dan anak - anaknya selama ini.


" Belum tidur Darr ? " tanya Mahendra, baru keluar dari kamar istirahat yang ada di dalam ruangan rawat Hutama, sementara Darren berbaring di bed penunggu tak jauh dari Hutama berada.


" Belum pa, nggak bisa tidur "


Mahendra melirik tangan Darren yang memegang erat kain bermotif floral berwarna hijau muda di dekapannya. Timbul niat jahil dipikirannya. " Darr, opa sepertinya harus diundur lagi kepulangannya " ucapnya.


Darren langsung terperanjat kaget, duduk tak berdaya memandang opanya yang tertidur pulas.


"Bukankah opa sudah stabil pa ? " tanya Darren memelas.


" Iya, tapi tenaga medis yang mendampingi opa baru beberapa hari bisanya. Papa tidak mungkin di sini sendirian, karena kita harus bergantian menjaga opa. Urusan pekerjaan gampanglah Darr, Yanes bisa diandalkan. Lagian kita ini bos, kalau masih terlalu sibuk buat apa punya anak buah. Kalau bis banyak menghabiskan waktu di kantor, itu artinya karyawannya tidak bekerja " ucap Mahendra, selalu mengatakan hal itu pada Darren.

__ADS_1


" Kalau pekerjaan memang gampang pa, Yanes tidak perlu diragukan lagi. Lah yang lain pa ? " tanya Darren konyol.


" Yang lain lebih aman tanpa kamu di sisinya. Anak - anak tidak oerlu berebut perhatian mamanya dengan kamu " sahut Mahendra, asal.


" Ishh..Papa " ucap Darren kesal.


Perawat masuk, untuk memberikan obat yang di suntikkan di saluran infus empat jam sekai. Darren berdiri menghampiri perawat itu.


" Bisa tidak kamu menemani opaku terbang ke Indonesia sesuai jadwal " pinta Darren sedikit lembut dan memelas.


Perawat itu pun bingung terheran - heran. Pertama karena tidak tahu maksud Darren dan yang kedua adalah tumben sekali laki - laki di depannya ini tidak angkuh. Mahendra yang berdiri di belakang Darren, memberikan kode pada perawat dengan lambaian tangan pelan dan mulut yang komat kamit tanpa suara.


" Maaf pak tidak bisa " jawab perawat cepat, setelah sedikit menangkap kode Mahendra.


" Tolonglah, Aku akan membayarmu tiga kali lipat. Kalau perlu empat kali lipat " rayu Darren.


" Tapi saya rela mengeluarkan uang saya lebih banyak agar bisa ketemu pemilik daster ini " ucap Darren benar - benar seperti pecandu yang sedang ketagihan obatnya. Lemas dan tidak bertenaga menunjukkan daster yang ada ditangannya pada perawat.


" Saya akan mempertimbangkan kalau bapak bersedia memberikan daster itu untuk saya. Sudah lama sekali saya tidak memiliki daster. Sejak saya bekerja di sini " pinta perawat dengan berani.


Darren menggenggam daster itu semakin kuat, permintaan perawat itu cukup berat baginya. Mahendra hanya bisa menahan tawanya melihat ekspresi Darren yang terlihat kebingungan sekaligus konyol. Begitu juga dengan perawat, sungguh rasa penasarannya pada perempuan yang menjadi istri laki - laki angkuh itu menjadi semakin bertambah lagi.


Di kediaman Senja dan Darren. Keadaan anak - anak sudah membaik 75%, sisanya masih butuh istirahat sehari dua hari lagi agar kembali pulih. Zain dan baby De sudah kembali ceria meski masih sedikit manja dan mencari Senja.


Dasen pun sudah mau digendong Sarita yang baru saja datang. Senja sedang mengajak Aleandro dan Chun Cha bicara serius.


" Kak Al, segera ajak Chun menemui eomma dan appa. Mintalah pernikahan kalian dipercepat " ucap Senja, wajahnya sangat kesal saat menatap Chun Cha.

__ADS_1


" Memangnya kenapa harus dipercepat ? " tanya Aleandro, heran. Karena dia memang belum tahu akan kehamilan Chun Cha.


" Chun ? apa kamu belum memberi tahu kak Al kalau kamu hamil ? "


" Belum kak " jawab Chun Cha lirih.


" Hamil ??? " tanya Aleandro, kaget.


Senja masuk ke dalam kamarnya sebentar, membiarkan Chun Cha dan Aleandro saling melempar pandang. Pandangan mata Aleandro terlihat kaget namun senang.


Senja kembali muncul sebelum Aleandro dan Chun Cha saling berbicara, lalu memverikan satu alat test pack pada Chun Cha. " periksa sekarang " ucapnya.


Chun Cha menerima tesp pack itu dengan setengah terpaksa.


" Ayo periksa, mau ditungguin ? " kata Senja, ketus.


Chun Cha pergi ke toilet dengan berat hati.


" Kak Al kenapa tidak bisa menahan diri sih. Paling tidak apa kak Al itu tidak tahu caranya biar aman. Bisa tidak di keluarga kita tuh pernikahannya tidak dalam kondisi hamil. Ya kali pernikahan putri Arham dua - duanya sedang hamil anak dari Aleandro Zanetti " Senja semakin sewot, otaknya ngeri membayangkan murkanya Bae karena merasa kecolongan. Padahal Bae sudah meminta Senja untuk menjaga Chun Cha dengan baik. Cara berpacaran Chun yang terlalu bebas, menjadi beban tersendiri bagi yang lain. Terutama bagi Senja, yang sekarang lebih dekat dengan Chun.


" Kami baru melakukannya sekali Nja, apa iya aku sehebat itu " ucap Aleandro, sukses membuat Senja menimpuk lengan Al dengan bantalan sofa.


" Kak Al membuat Nando juga dengan satu kali luapan kan ? " Senja mengingatkan Aleandro pada peristiwa satu malamnya dengan Rosa yanh menghasilkan Nando.


" Tapi kayaknya nggak mungkin hamil deh Nja, seingatku -- " kalimat Aleandro terputus melihat kemunculan kembali dengan wajah yang tidak bisa ditebak.


" Bagaimana Chun ? " tanya Senja tidak sabar.

__ADS_1


Chun Cha menyodorkan test packnya pada Senja dengan mata terpejam dan ragu. Senja memang bukan anak kandung eommanya, tapi saat marah. Amukan Senja tidak kalah menakutkan dari Bae.


__ADS_2