
Begitu melihat semua orang asik mengobrol dengan lawan bicara masing - masing, Senja beringsut ke taman belakang rumah. Di sana ada gazebo untuk duduk - duduk santai sambil menikmati semilir angin sepoi - sepoi nan sejuk.
Senja mencoba menghubungi Bae, sekedar ingin memastikan rencana tujuh bulanan yang direncanakan. Dia tidak senang memendam permasalahan terlalu lama, apalagi jika menyangkut orang lain di dalamnya.
Satu kali sampai lima kali dering tidak ada tanda - tanda panggilan di terima oleh Bae. Sungguh di luar kebiasaan. Eommanya adalah orang yang tidak pernah jauh dari ponsel. Berdering dan bergetar sekali saja, pasti langsung tersambung dengan cerocosan yang menjadi sapa Bae.
Pandangan mata Senja nampak jauh menerawang. Sarita dan Bae adalah dua orang yang sama - sama ingin dijaga perasaannya. Tidak dipungkiri kecemburuan Bae pada Sarita kadang begitu besar. Mengingat kedekatan Senja yang memang lebih intens dan lebih sering dengan Sarita.
Sebenarnya hal itu cukup wajar, mengingat mereka hidup dalam satu kota dengan jarak tempuh rumah tidak sampai dua puluh menit. Sedangkan Bae hubungan itu lebih sering dilakukan lewat video call saja.
"Ternyata kamu di sini Ask..." Darren menghampiri Senja yang masih tampak melamun. Bahkan istrinya itu tidak menyadari kehadirannya.
Darren mencium kening istrinya pelan. "Sedang memikirkan apa Ask?" Pertanyaan dan kecupan Darren membuyarkan lamunan Senja.
"Ask...E... Enggak mikir apa - apa," kilah Senja.
"Mama Nja tidak pandai berbohong, apalagi di depan Daddy Darr. Masih kepikiran soal eomma dan mama?" tebak Darren langsung tepat ke sasaran.
Senja mengangguk pelan. "Senja ngerti maksud mama Ask, maklum juga dengan ekspektasi tinggi eomma. Tapi untuk kali ini mama benar. Jika acaranya digelar terlalu mewah, itu akan membuat Senja lelah. Karena ulang tahun perusahaan juga pasti padat, itulah kenapa Senja setuju dengan acara mama. Tapi pemikiran eomma pasti beda," jawab Senja, tatapannya kembali menerawang.
"Jangan overthinking, semua belum pasti. Mau eomma dan mama sudah punya konsep, keputusan tetap ada di tangan kita. Terutama di tangan mama Nja. Daddy Darr nurut sama Ma Nja saja. Yang penting Kesehatan dan keselamatan Ma Nja juga baby twins terjamin. Jangan ada drama dan air mata di kelahiran kali ini. Cukup aku merasa langit runtuh saat kelahiran Dasen." Darren masih belum bisa menghilangkan trauma saat kelahiran Dasen.
"Tidak akan Ask... Kita akan hati - hati. Bahkan Senja tidak akan pergi ke manapun setelah tujuh bulanan nanti sampai lahiran. Senja mau kamu menemani Senja di meja operasi." harap Senja.
Darren berdiri tepat di depan Senja yang sedang duduk di pinggiran dipan gazebo. Melingkarkan kedua tangan Senja tepat di pinggulnya, lalu membawa kepala Senja jatuh bersandar ke dalam dada bawahnya yang bidang. Seketika ketenangan dan kehangatan menjalar dalam perasaan Senja.
"Selama ada Daddy Darr, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan apalagi sampai membebani pikiran Mama Nja. Dalam hati dan pikiran Senja Mahendra hanya boleh ada Darren Mahendra dan anak - anaknya." Darren mengecup kening Senja bertubi - tubi.
__ADS_1
Zain menghampiri mama dan daddynya dengan setengah berlari. Wajahnya berseri - seri karena membawa mainan baru di tangannya.
"Pelan - pelan Zain! Mainan siapa itu?" tegur dan tanya Senja.
"Ini dari oma Bae," jawab Zain.
"Oma Bae?" Darren dan Senja kompak bertanya.
"Oma Bae dan Opa Arham datang, makanya Zain ke sini memanggil Daddy dan Mama." Zain naik ke atas gazebo.
Darren membantu Senja berdiri, mengamit lengan tangan istrinya dengan mesra. Keduanya berjalan kembali ke ruang keluarga, meninggalkan Zain yang tidak mau kembali ke dalam.
"Pantesan eomma dihubungi tidak menjawab, rupanya langsung ke sini. Kenapa tidak memberi kabar dulu. Abang jadi tidak bisa menjemput Eomma dan Appa kalau begini." Senja memeluk dan mencium Bae dan Arham bergantian. Darren pun melakukan hal yang sama.
"Surprise..Eomma dan Appa ingin memastikan semua sudah oke sebelum undangan disebar dua hari lagi," jawab Bae dengan enteng.
"Eomma kenapa eomma langsung memutuskan sendiri? kenapa tidak bertanya dulu pada kemala?" Senja mulai mempertanyakan keputusan Bae.
"Percuma bertanya sama kamu. Karena mertuamu mengatakan kalau acara pengajian kalian akan digelar sederhana." Bae melirik sinis Sarita.
"Karena kami menyesuaikan dengan kondisi Kemala. Kehamilan Kemala berbeda dengan kehamilan Chun, Eomma." Senja membela Sarita.
"Terserah kalian, toh waktu pengajian dan acara yang Eomma buat berbeda harinya. Bisakan sesekali kalian menuruti eomma?" Bae memberikan selembar kertas berisi breakdown acara yang direncanakan untuk acara tujuh bulanan Senja sekaligus empat bulanan Chun Cha.
Senja, Darren, Chun Cha dan Aleandro membaca breakdown acara dengan teliti. Belum sampai separuh jalan, Senja sudah tidak berniat membacanya.
Mahendra,Arham dan Sarita masih diam. Mereka tidak ingin menyela. Bae mudah meledak - ledak jika di sela.
__ADS_1
"Eomma ini terlalu padat untuk Senja. Biarkan kami saja yang menjalani semua rangkaian acaranya." Aleandro memberanikan diri menyampaikan keberatannya.
"Senja hanya perlu duduk, kalau pegel dia bisa berdiri dan jalan - jalan, di situ juga ada break dua kali bisa untuk tidur. Apa kalian pikir eomma tidak memikirkan kondisi Kemala? Eomma sudah pikirkan masak - masak."
"Tapi dua hari sebelum acara itu, kita ada rangkaian acara ulang tahun perusahaan juga Nyonya Bae. Lebih baik acara dikhususkan untuk Chun saja. Biar Senja datang sebagai keluarga. Senja bisa santai dan tidak menjadi pusat perhatian tamu." Hati - hati Sarita ikut memberikan penolakan.
"Kenapa acara saya yang dikorbankan, kalau acara perusahaan kalian dua hari bisa kan Kemala menghadiri yang sehari saja agar tidak capek. Kenapa saya yang harus mengalah? Resepsi pernikahan Kemala dan Darren, tidak satu pun kami mengundang relasi kami. Nama belakang Kemala menjadi Mahendra pun kami tidak protes. Saat kami menawarkan untuk mengadakan aqiqah Dasen di negara S kalian menolak kami juga diam." Bae menghenpaskan bokongnya di sofa.
"Eomma tahu kenapa kami menolak. Karena kondisinya memang tidak mungkin Eomma," sanggah Senja.
"Hal wajar kalau setelah pernikahan, anak perempuan mengikuti nama besar keluarga suaminya." sahut Sarita, sudah tidak bisa diam lagi.
"Tentu bagi Nyonya Sarita hal itu wajar. Karena bu Sarita dekat dengan anak - anak. Coba posisinya dibalik bu. Bagaimana rasanya kalau berkumpul dengan anak saja susah. Andai saya dan Appa nya tidak datang kemari, apa Kemala dan Darren dengan ikhlas hati mau mengunjungi kami?" Bae mengeluarkan isi hatinya, tapi masalah semakin melebar kemana - mana.
"Eomma tahu persis kenapa Kemala tidak bisa ke sana lebih sering."
"Karena kamu terlalu mencintai keluarga suamimu La, apapun usul mama mertuamu pasti kamu setujui tanpa bantahan. Sementara kalau Eomma yang minta, daftar alasanmu menolak panjang sekali." Bae kembali melirik Sarita dengan ketus.
"Itu tidak benar Eomma, Kemala tidak pernah membeda - bedakan. Kalian semua orang tua kami. Sayangnya Kemala pada kalian sama." Senja mulai emosi.
"Maaf Nyonya Bae, selama ini saya tidak pernah sekalipun turut campur dengan urusan anak - anak kita. Saya hanya memberi saran, keputusan tetap ada di tangan mereka sendiri. Saya tidak terima jika Nyonya Bae mengira saya mendominasi Senja dan Darren. Asal Nyonya Bae tahu, walaupun kami dekat, kami pun bertemu hanya saat weekend begini. Itupun kadang mereka juga tidak datang," kilah Sarita, membela diri.
"Mama benar Eomma," sahut Senja, semakin membuat Bae emosi karena mengira Senja selalu membela mertuanya.
"Sudah La, tau begini Eomma lebih baik menjodohkanmu dengan relasi appamu. Meskipun janda masih banyak yang mau bersama kamu," ucap Bae tanpa berfikir panjang. Arham lansung mendekati istrinya.
"Anda pikir anak anda saja yang bisa mendapatkan yang lain. Darren bahkan bisa menikahi empat gadis sekaligus kalau dia mau. Gadis Nyonya bukan janda," Sarita membalas ucapan Bae. Mahendra juga langsung mendekati istrinya. Ucapan Sarita akan berbuntut panjang juga.
__ADS_1
Darren menatap Senja, begitu pula sebaliknya. Keduanya merasakan sakit yang sama saat kedua orang yang ingin dihormati malah mengucapkan kata - kata yang tidak pernah terfikirkan di benak mereka sekalipun.