Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
The power of Senja


__ADS_3

"Bu Senja?" tidak jelas antara sapa atau tanya, mendadak wajah Ali memerah, bukan karena marah tapi lebih ke rasa malu dan takut.


Darren saja yang notabene ceo Mahendra corps, bisa di depak dari kursi kebesaran dengan mudah oleh Senja, apalagi kalau cuma seorang Ali.


"Kebetulan ketemu di sini ya Li, kebetulan sekali. Padahal saya tidak tau kalau suami saya mau meeting di sini. Kebetulan sekali saya juga tidak merencanakan apapun untuk suami saya. Kebetulan sekali sepertinya kamu yang punya rencana. Jadi saya permisi dulu," ucap Senja, sangat lugas dan berkali - kali menekankan kata kebetulan seraya melirik tajam pada Ali, lalu tersenyum ramah pada dua perempuan yang salah satunya pasti Angelica.


Setelah itu Senja berjalan meninggalkan ketiga orang yang masih sedikit terbengong saat melihatnya. Ali seperti salah langkah, mengejar percuma tidak dikejar nasibnya sedang dipertaruhkan.


"Gila, bininya bos lu dingin banget. Kalau gue yang denger suami gue diincer cewek, sudah gue labrak itu perempuan," ucap teman Angelica.


"Powernya mematikan, jangan remehkan air danau yang tenang. Dia lebih mudah membuat orang tenggelam, dibanding lautan yang berombak." sesungguhnya Ali mengucapkan itu untuk dirinya sendiri. Ada sesal karena terkena rayuan Angelica dan Bianca.


Seharusnya dia tidak boleh membocorkan scedhule Darren pada siapapun, kecuali Senja. Sekarang Ali merasakan sendiri kekhawatiran yang luar biasa.


Ali, Angelica dan satu lagi ternyata bernama Bianca, bergeser duduk di lobby. Jika mereka di dalam resto, jelas hanya akan terlewat seperti tadi. Padahal mereka sudah sengaja mengatur posisi agar bisa terlihat jelas dari luar saat Darren lewat.


Senja hendak check out dari hotel, tempat persembunyiannya sudah tidak aman sekarang. Di lobby dia melewati Ali, Angelica dan Bianca. Senja terlihat tenang dan seperti biasa selalu melempar senyuman pada orang yang melihatnya.


"Ngel, yakin melawan bininya Darren?" tanya Bianca sedikit tersenyum meremehkan.


Ali tidak berani bergerak sedikitpun, saat Senja memasuki sebuah mobil. Hanya bola mata Ali yang sanggup bergerak. Hari ini dia masih selamat, entah besok. Bekerja di Mahendra Corps adalah impiannya. Gaji dan gengsi yang dia dapatkan tidak akan mungkin didapatkan dari tempat lain.


Empat puluh menit kemudian meeting pun selesai. Darren dengan langkah terburu - buru berjalan ke luar pintu lobby. Bermodalkan rasa percaya diri yang tinggi, Angelica berlari ke arah Darren.


"Hei Darr..." sapanya.


"Eh...Ngel. Meeting juga?" tanya Darren basa basi sambil menunggu drivernya.

__ADS_1


"Iya, ini baru selesai... Mau balik juga." Angelica berharap Darren memberinya tumpangan.


"Duluan ya Ngel!" Darren langsung masuk ke dalam mobilnya, tanpa menoleh lagi.


Jelas Angelica merasa sangat keki. Dia menghentakkan kaki saking kesalnya. Bianca malah tertawa puas, sudah dia duga sahabatnya itu terlalu tinggi ekspektasinya. Sejak


Yanes melihat Ali tampak gugup, wajahnya tidak seceria tadi. Padahal pas keluar meeting semangat sekali untuk bertemu Bianca dan Angelica. Yanes tidak tahu semua kisah dibalik itu.


Mobil yang ditumpangi Ali dan Yanes sudah datang. Keduanya pun langsung masuk ke dalamnya.


"Gimana Al, dapet yang mana? Angelica itu bangkrut pasti mau tuh sama kamu. Kalau Bianca nggak mungkin, dia pasti pilih - pilih." Yanes sedikit menertawakan Ali.


"Nggak dapet dua - duanya. Masa depanku diragukan sejak tadi. Berharap masih bisa termaafkan. Angelica dan Bianca ngomongin pak Bos gak lihat situasi. Parahnya, memang aku yang kasih tau mereka kalau bos meeting di sana. Jelas mereka cuman manfaatin aku, tujuannya tetep ngejar bos. Aku bener - bener merasa dijebak. Ternyata Angelica mau nggodain daddy hot, sialnya mama hot mendengar pembicaraan kami." Ali benar - benar menyesal dengan kebodohannya.


"Mama hot? bu Senja tadi di sini?" tanya Yanes antusias, secara dari pagi dia diteror Darren untuk mencari keberadaan Senja.


"Mampus lah kita! Mama hot dari semalam nggak pulang. Mungkin lagi ngambek. Papa hot kelabakan." Yanes menepok keningnya dengan keras. Otaknya berfikir keras, kira - kira bagaimana cara menemukan Senja. Jangan sampai menghilang lama, karena akan sangat berpengaruh pada kesejahteraan dan kedamaian di kantor Mahendra corps.


Sampai di kantor, Yanes langsung menemui bosnya yang sudah sampai duluan. Dari raut wajahnya saja, sudah jelas terlihat Darren sedang tidak bersahabat.


"Nes, Aku sebentar lagi mau ke bandara. Jemput mertua. Aku pasrah saja, kalau Senja nggak pulang lagi biarlah mereka maki aku. Memang aku yang salah." Darren memberikan dokumen yang sudah ditanda tanganinya dengan enggan.


Yanes hanya diam, percuma juga memberikan informasi dari Ali, pada kenyataannya Senja juga sudah pergi setelah melihat keberadaan suaminya di sana.


Ponsel Yanes bergetar, dia menerima pesan dari nomer yang tidak dikenal. Menyuruhnya untuk menerima panggilan telepon yang dari tadi diabaikan oleh Yanes. Dengan terpaksa Yanes menerima panggilan telepon itu.


"Nes, ini bu Senja. Kalau kamu sedang bersama pak Darren tolong jangan sebut nama saya," pinta Senja.

__ADS_1


"Iya Sayang, iya sebentar ini lagi di ruangan pak Darren." jawaban Yanes membuat Senja memicingkan mata karena geli sendiri.


"Nes, pindahkan Ali ke bagian manapun kalau perlu jadikan OB. Dia sudah membocorkan scedhule pak Darren ke orang lain yang sama sekali tidak memiliki urusan bisnis dengan Mahendra Corps. Seharusnya dia bisa langsung diberikan SP3, tapi saya masih butuh dia. Suruh Ali mencari tau alamat rumah Angelica, dan melaporkan kegiatan Angelica sehari - hari. Jangan sampai bosmu tahu. Entah bosmu baik atau memang terpesona dengan Angelica sampai bisa dibodohi seperti itu," tegas Senja.


"Tapi kan harus sepengetahuan pak Darren. Masak dipindahin gara - gara kamu ngidam. Sayang...jangan aneh - aneh deh!" Yanes semakin gugup.


"Bilang saja saya yang nyuruh, pinter - pinter kamu lah Nes. Pokoknya kamu bilang ke Ali sekarang. Jangan sampai besok dia masih jadi sekretaris pak Darren. Kalau saya sudah enakan, saya sendiri yang akan kasih surat SP3 ke Ali." ucap Senja ketus dan langsung menutup sambungan ponselnya.


"Kenapa Nes? kamu telpon Rosa tapi nyebut - nyebut nama saya?"


"Rosa nyidam pak, Ali suruh jadi OB. kan tidak mungkin." Yanes kehilangan ide.


"Kalau Ali mau, kenapa tidak. Kamu turuti saja." Darren yang sedang kehabisan semangat, langsung mengiyakan tanpa debat.


Yanes menarik nafas lega, urusan bicara dengan Ali jelas urusan yang gampang. Karena Ali jelas sadar diri dengan kesalahannya.


Darren dengan malas, melangkahkan kakinya ke lobby. Mau tidak mau dia harus menjemput kedua mertuanya. Kalau sampai acara besok Senja tidak muncul juga, akan jadi apa hidupnya. Kesalahan sekaligus kebodohannya benar - benar membuatnya kelabakan kali ini. Untuk pertama kalinya, Senja nekat meninggalkan rumah.


Sampai di bandara, Darren langsung turun masuk ke lounge kedatangan. Tidak sampai sepuluh menit, terlihat Bae dan Arham berjalan mendekatinya.


"Darr, kok repot - repot jemput sendiri, kan bisa driver saja. Owh...Ya! Di mana Kemala?" tanya Arham.


Darren menundukkan kepala sembari menarik nafas panjang. Sepertinya jujur memang bukan pilihan, tapi keharusan.


"Eomma... Appa... Maaf Kemala dari toilet dulu," suara yang Darren hafal betul bagaikan dewi penolong di ujung maut.


Senja melewatinya begitu saja, lalu mencium dan memeluk Bae juga Arham bergantian. Darren terlihat bingung, darimana istrinya itu tiba - tiba muncul.

__ADS_1


"Aku hanya menjaga nama baikmu di depan orangtuaku, jangan berharap lebih," bisik Senja, pelan hampir tak terdengar tapi tajam seperti belati yang menghunus tepat ke hati.


__ADS_2