Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Man days out


__ADS_3

Hari minggu masih seperti hari - hari libur biasanya di kediaman Senja dan Darren. Semua masih anteng di rumah. Dasen yang masih terlalu baby tidak mungkin untuk dibawa aktifitas ke luar rumah.


Senja dengan ponselnya, Darren tiduran di pangkuan istrinya juga asik dengan ponselnya, Zain asik membaca komik kedokteran pemberian daddy Dar. Sementara Dasen anteng tertidur di samping daddnya.


" Zain mau jalan - jalan nggak ? "tanya Senja, tangannya mengusap rambut Darren.


" Mau !! " ucap Zain, merasa sangat senang.


" Ask, ajak Zain jalan - jalan sana. Sudah lama kalian nggak man day's out. Kasihan Zain bosen " ucap Senja.


" Terus kamu sama Dasen bagaimana ? " jawab Darren, mendongakkan kepalanya, menatap wajah teduh tapi selalu memabukkan.


" Senja sama Dasen ya di rumah saja. Belum waktunya Dasen jalan - jalan, belum ngerti juga. Minimal kalau kepalanya sudah bisa tegak sendiri, itu baru lumayan ngerti dia " kawab Darren.


" Yuk Dadd, kita siap - siap. Zain mau ganti baju dulu " ucap Zain sambil beranjak dari duduknya.


" Zain pakai baju atasan biru ya, biar samaan sama Daddy " kata Senja.


" Oke ma " sahut Zain, dengan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf o.


Senja menggeser kepala suaminya ke atas bantal, lalu memilihkan baju ganti untuk suaminya.


" Ganti baju dulu Ask " perintah Senja dengan lembut.


Bukannya Darren tidak senang pergi bersama Zain, tapi Darren terlalu ketergantungan dengan Senja. Selain bekerja, Darren enggan keluar rumah tanpa istrinya. Tapi melihat Zain yang sangat excited, Darren juga tidak bisa menolak.


Setelah memakai baju yang diberikan oleh Senja, Darren mendekati istrinya itu. Senja menegakkan duduknya, menatap suaminya dengan senyuman yang amat menggemaskan.

__ADS_1


" Kamu ganteng sekali Ask " puji Senja.


" Seorang laki - laki yang terlihat ganteng setelah menikah, pasti karena ada istri yang membahagiakan dan merawatnya dengan baik " balas Darren, jemarinya mengelus pipi mulus istrinya.


" Bukan karena dompetnya tebal ya ? " goda Senja.


" Bukan, semenjak menikah denganmu aku resmi menjadi fakir miskin. Aku selalu merasa hidupku menjadi kekurangan. Ingin rasanya aku mengurus surat keterangan tidak mampu. Andai pemerintah mengeluarkan kartu suami takut kehilangan istri, aku pasti jadi nomer satu yang mengurusnya " Darren mulai ocehan anehnya.


" Ishhh...Mulai. Senengin Zain ya mas, kasihan sudah sebulan lebih nggak keluar rumah. Zain banyak kehilangan waktu masa kecilnya. Bahkan Senja merasa, sampai seumur hidup,Senja tidak mungkin bisa menebus kebersamaan yang hilang. Apa yang sudah dinikmati anak lain, Zain baru saja memulainya " ucap Senja, menyandarkan kepalanya di dada Darren.


" Zain akan mendapatkan semua yang dia inginkan. Aku janji akan mengusahakan yang terbaik untuk anak - anak " janji Darren.


" Kami hanya butuh lebih banyak waktu untuk bersama Ask. Anak - anak tumbuh di kondisi serba ada dan mudah. Tapi tetap yang akan mereka ingat saat dewasa adalah kebersamaannya dengan kita, bukan berapa banyak uang yang kita keluarkan. Bagi orang berada, waktu memang benar - benar berharga dibanding segalanya. Kamu tidak pernah merasakan bagaimana uang membuat orang lupa segalanya. Aku bersyukur hidupku dulu sangat kekurangan, itu membuatku tidak punya waktu kenapa aku berada di panti asuhan, aku tidak ada waktu untuk rindu pada sosok ayah dan ibu yang membayangkan wajahnya saja aku tidak sanggup " ucap Senja, pandangannya menerawang jauh, mengingat betapa sulit hidupnya dulu. Senja tahu bagaimana rasanya saat sedang makan, tapi kita sudah dipaksa berfikir besok bisa makan lagi atau tidak.


" Ask, kamu adalah perempuan yang sama hebatnya dengan mamaku. Kalian sama - sama berjuang dari titik di mana orang bahkan tidak mau berada di posisi kalian sampai sekarang semua orang menginginkan menjadi seperti kalian. Aku minta maaf pernah menganggapmu adalah orang yang melakukan segalanya demi uang, aku pernah menuduhmu menyewakan rahimmu. Maafkan aku Ask " ucap Darren tulus.


Darren megecup kening istrinya, dalam hatinya dia berjanji akan mengganti kenangan pahit istrinya dengan kenangan - kenangan mereka yang lebih indah. Senja dengan segala kisah masa lalunya, membuat Darren sadar, tidak perlu terlalu mengejar kesempurnaan dan mengagungkan materi dan rupa yang menawan.


" Let's go dadd ! " ajak Zain, kemunculannya sering tiba - tiba tanpa memberikan signal suara sebelumnya.


" Wushhhh...Ganteng sekali anak mama ini "puji Senja.


" Zain, bisa bayangkan bagaimana irinya perempuan di luar sana sama mama kamu ? " tanya Darren.


" Tidak " ucap Zain, menggeleng - gelengkan kepalanya.


" Mamamu punya tiga laki - laki yang sangat tampan dalam hidupnya. Ada daddy, Zain dan adek Dasen. Mama Nja benar - benar beruntung " kata Darren.

__ADS_1


" Iya daddy benar, akan semakin benar kalau kita cepat berangkat dadd " Zain memanyunkan bibirnya, karena merasa Darren terlalu mengulur waktu.


Senja mengantar mereka sampai ke depan pintu utama.


" Hati - hati ya. Have fun kesayangan mama Nja " ucap Senja seraya melambaikan satu tangannya.


Darren dan Zain memasuki sebuah mall besar dengan zone permainan yang luas dan cukup lengkap.


" Dadd, kita main golf yuk ! " ajak Zain, menunjuk driving simulator yang terletak di ujung zone permainan.


Darren meletakkan satu tangannya di pundak Zain, satu lagi di saku samping kantong celana jeansnya. Tampilan Darren siang ini sangat manly. Layak disebut hot daddy.


Hampir dua jam Darren dan Zain menjajal satu demi satu permainan, lapar dan haus pun mengusik ketenangan perut mereka. Zain memilih sebuah resto makanan korea, berbeda dengan Senja dan Darren yang lebih menyukai makanan indonesia, Zain lebih ke selera Rafli yang menyukai hidangan korea.


Zain memilih beberapa menu makanan yang sudah dicek kandungannya oleh Darren. Belajar dari pengalaman beberapa waktu yang lalu, Darren tertular over protektifnya Senja dalam memilihkan makanan untuk Zain.


" Dadd, kita belikan sesuatu untuk mama yuk ! " usul Zain.


" Boleh, kita belikan apa ya ? " tanya Darren, dia pun seraya berfikir.


" No bag, no shoes, no jewelerry. Yang sederhana tapi bikin mama bakalan terharu bangettt " ucap Zain, membuat daddynya semakin berfikir keras.


" Apa dong Zain ? " tanya Darren, bingung.


Zain membisikkan sesuatu pada Darren.


" Hah ? " tanya Darren, heran.

__ADS_1


Zain mengangguk tanpa ragu. " Zain kemarin tahu dari om Vano, mari kita coba dadd " ucapnya.


__ADS_2