
Senja mengelap mulutnya yang basah dengan tisu. Sangat tidak mungkin Senja jujur pada eommanya kalau dia mual karena melihat wajah eommanya, sangat tidak sopan dan hanya akan memancing keributan lain tentunya.
" Kamu hamil ya La ? " selidik Bae.
Senja membalik badannya, membelakangi bae untuk menetralisir mualnya. Entah janin kali ini titisan siapa, kenapa bisa melihat orang tertentu langsung bisa memicu rasa mual.
" Tidak eomma, asam lambung Kemala benar - benar kambuh " kilah Senja.
" Oh ya sudah, awas saja kalau hamil, Eomma yang akan mengurus Dasen " ancam Bae.
Senja memijat pelipis kepalanya yang memang sedikit pusing. Jawaban Bae barusan, semakin membulatkan tekadnya untuk menyembunyikan kehamilannya kali ini dari siapapun.
" Eomma mau istirahat dulu, appa mu juga sedikit kelelahan. Kamu istirahat juga. Dasen tidur kamu juga tidur, jangan ladenin suamimu terus - terusan " pamit Bae, membuat Senja lega.
Baru saja Senja bernafas lega, tidak merasakan mual yang menyiksa. Datanglah suami tercinta membawa makanan yang dia minta. Bukan makanan yang dibawa yang membuat Senja mual, tapi wajah Darren yang menurutnya terlalu ramah dan dimanis - manisin.
" Sini Senja lihat, Tuan ngadep tembok dulu " ucap Senja, meminta paper bag di tangan Darren.
" Astaga...Masih Tuan saja manggilnya " dengus Darren.
" Tuan jangan terlalu manis bicaranya, Senja pengen lihat wajah angkuh dan sombong tuan lagi " ucap Senja dengan santainya, seraya mengeluarkan satu demi satu makanan yang dia pesan.
" Tuan memang pintar, semua benar. Tidak ada yang salah. Terimakasih tuan " ucap Senja tanpa menoleh, dia terus mengunyah.
Kini Darren yang memijat lembut kepalanya sendiri. Kalau Senja terus seperri itu, entah seperti apa caranya bertahan. Sepertinya panggilan abang masih lebih enak ketimbang dipanggil tuan oleh istri sendiri.
Darren terus mengeluh dalam gumam. Memang membuatnya semudah dan seenak itu, tapi prosesnya sungguh menguras kesabaran dan kewarasan jiwa raga. Kenapa Senja tidak mengidam lumrah seperti perempuan lain pada umumnya. Seperti Rosa yang hanya menginginkan Yanes membawa martabak setiap pulang dari kantor. Kenapa harus istrinya mual jika melihat wajahnya, kenapa juga panggilan tuan itu juga harus kembali terngiang.
__ADS_1
Senja terus mengunyah dan menyeruput minumannya perlahan. Seolah tidak peduli laki - laki yang sedang memunggunginya itu sedang mengalami kegalauan level tinggi.
Karena tidak dianggap, Darren pun keluar kamar. Melangkahkan kakinya ke kolam renang yang ada di sisi samping rumahnya. Hidupnya seperti berubah total sejak dua hari yang lalu, Senja seperti butuh tidak butuh dengannya. Mendekat salah, menjauh juga salah.
Sudah pukul sembilan malam, sejak makan malam tadi Darren belum kembali ke kamarnya yang sudah kembali berada di lantai dua. Darren masih mengobrol seru dengan Hyon dan Eunji, lumayan menghibur pikirannya yan resah dan suntuk akibat keanehan istrinya.
" Kak, kita ajak kak Al ke Club yuk ! Itung - itung pesta masa dudanya berakhir " usul Eunji.
" Tidak mungkin, kakak bisa dimarahi kakak kalian kalau sampai ketahuan " bisik Darren.
" Jangan sampai ketahuan. Kami bisa menjaga rahasia " jawab Hyeon juga dengan berbisik.
" Tidak !!! aku tidak mau menambah masalah. Situasi tidak terlalu bagus. Salah sedikit bisa buyar " ucap Darren, serius.
" Fix aku akan menunda pernikahan dulu. Sepertinya menikah itu tidak seasik malam pertamanya " sahut Hyeon.
" Menikah itu enak Hyeon, percayalah !! Saat ini situasi saja yang berubah, kakak hanya sedang beradaptasi. Dalam pernikahan tidak selalu bahagia, ada sedih, kecewa, marah, cemburu dan juga curiga " tegas Darren.
" Kamu benar, kita lihat dulu kakak - kakak ipar kita. Seberapa tangguh mereka menghadapi kakak - kakak kita " kata Hyeon.
Darren mendongakkan kepala, tidak ada tanda - tanda pintu kamarnya akan terbuka. Darren berharap istrinya sudah tidur. Dia tidak ingin mendengar kata tuan lagi malam ini.
Bae menuruni tangga, berjalan menghampiri anak kembar dan menantunya.
" Bagaimana keadaan kemala Darr? kalau lambungnya parah, selesai acara Chun eomma ajak Kemala ke negara S saja " ucap Bae, berhasil membuat raut wajah Darren berubah.
" Sudah agak enakan eomma. Makannya tidak teratur, kalau malam sering begadang bersama Dasen " kilah Darren.
__ADS_1
" Dasen atau Darren ? eomma lihat Dasen tidak rewel. Kalau haus di kasih Asi juga sudah diam. Sepertinya Darren yang lebih rewel, bukannya memberi waktu untuk istirahat, tapi malah ngajak begadang mulu " ucap Bae dengan ketus seperti biasa.
" Darren juga menemani dan membantu Senja eomma, Darren tau Senja lelah seharian menjaga anak - anak. Kalau Dasen mau, Darren juga yang jaga. Ya kali Darren harus laporan ke eomma apa saja yang Darren lakukan untuk membantu Senja " sahut Darren, terpancing juga emosinya selalu disalahkan.
" Terus kenapa sampai lambung kemala kambuh ? kalau tidak karena telat makan, kecapekan atau stres, tidak mungkin lambungnya bisa kambuh. Kamu bagaimana sebagai suami ? " Bae terus mencecar Darren.
Darren menarik nafasnya sebentar, menahan emosi yang kini sudah terpancing sempurna. Dengan kondisinya sekarang, tidak sulit untuk menyulut emosinya.
" Eomma pikir Senja itu penurut, tanyakan sendiri pada Senja kenapa bisa sakit lambung. Bicara soal capek, Darren juga sama. Darren harus bekerja, di rumah Darren juga tidak hanya rebahan. Darren masih sempat bermain dan menemani Zain belajar, membantu Senja menjaga Dasen di malam hari. Darrem harus bagaimana biar Darren benar di depan eomma ? " tanya Darren, meluapkan unek - uneknya.
" Bukan masalah benar salah Darr, eomma lihat akhir - akhir ini Kemala sering tidak enak badan. Tapi kamu tenang - tenang saja. Kenapa tidak kepikiran general check up atau apalah, biar tahu istrimu itu sakitnya apa atau biarkan istrimu kembali bekerja. Bisa jadi dia stres dan bosan di rumah terus " ucap Bae.
" Tidak !!! Senja tidak akan pernah bekerja kembali. Dia bisa ke kantornya sesekali. Tidak ada yang serius dengan sakit Senja. Eomma percaya saja pada kami. Senja baik - baik saja " tegas Darren.
" Eomma tidak mau tahu, kalau sampai besok Eomma masih mendengar Kemala muntah dan tidak enak badan, eomma sendiri yang akan membawanya ke rumah sakit. Dengan atau tanpa persetujuanmu " ancam Bae lalu kembali meneruskan langkahnya ke dapur yang sempat tertunda.
Darren meremas rambutnya, kabar kehamilan yang seharusnya membuat semua orang bahagia justru menjadi derita. Ancaman mama dan eommanya sama - sama membebani Senja. Padahal jika boleh jujur, Darren lebih senang mengatakan yang sebenarnya. Dia sanggup pasang badan untuk melindungi istrinya.
Dengan hati - hati Darren membuka pintu kamarnya. Senja terlihat duduk termenung murung. Wajahnya sendu.
" Tuan dari mana saja ? kenapa tidak ke kamar dari tadi ? apa tuan sudah bosan sama Senja ? Apa karena Senja sangat menyebalkan di mata tuan Darren ? " tanya Senja, tatapannya kosong, seperti sedang melamun.
Darren kesal dan ingin marah saat mendengarnya, tapi sanggupkah dia memarahi Senja ??????
🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳
Mulai besok Ma nja sama daddy darr ganti cover ya kak. jadi jangan bingung kalau buka aplikasi dan masuk ke favorit.
__ADS_1
nih cover barunya