Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
On Fire


__ADS_3

Setelah sesaat terkejut, Firly menahan tawanya mendengar ucapan Senja. Melihat wajah Darren yang tampak shock membuatnya ingin tertawa lepas. Dapat Firly pastikan apa yang Senja ucapkan pastilah bohong. Firly tidak pernah salah menilai perempuan itu.


Gea langsung melepas pegangan tangannya pada Darren. "Apa dia yang membuat kamu tidak menyusulku semalam?" Gea menatap tajam ke arah Darren.


Darren hanya diam, matanya malah menatap tajam ke arah Senja yang berdiri dengan begitu santai.


"Kamu sudah memberiku harapan Darren. Saat aku menginginkan sesuatu, aku harus memilikinya. Jangan main-main denganku." Gea mendadak memberikan ancaman pada Darren.


Karena merasa tidak enak, Firly memilih untuk pamit dan meninggalkan ruangan Darren. Setidaknya Firly sudah tahu, kurang lebih bagaimana sebenarnya hubungan Senja dan Darren. Penilaian Firly tentang perempuan cantik itu tidak pernah salah. Hanya tinggal memastikan satu hal dan dia pasti akan mengetahuinya, meskipun pelan-pelan.


"Kita belum memualai apapun Gea. Aku memperlakukanmu masih seperti umumnya aku memperlakukan temanku," kilah Darren.


"Terserah apa alasanmu. Menurutku kamu sudah memberikanku harapan. Lepaskan asistenmu. Aku yakin asisten ini yang menggodamu. Memiliki hubungan dengan CEO tentu sebuah prestige untuknya." Gea melihat Senja dengan tatapan merendahkan.


"Saya memang hanya seorang asisten, Bu Gea. Tapi adakah yang salah dengan profesi saya? kalau saya dan Tuan Darren memiliki sebuah hubungan, apakah itu berarti saya yang memulai menggodanya? Hati-hati dengan ucapan dan penilaian anda bu Gea. Jika ada orang lain yang mendengar dan tau itu tidak benar. Kesempurnaan yang selama ini dilihat pada diri anda akan sedikit ternoda," ucap Senja dengan berani dan tegas.


Darren dalam hati mengakui Senja memiliki kepribadian yang kuat. Perempuan itu tidak mudah ditumbangkan. Cara Senja menatap Gea, menunjukkan keberanian yang langka. Tidak ada tanda-tanda bawahannya itu berkecil hati dalam menghadapi Gea yang selalu menganggap dirinya lebih dari siapapun.


"Sadar diri di mana posisimu. Berkacalah agar kamu sadar di mana kekuranganmu. Jangan harap kisah upik abu menjadi seorang putri terulang. Kamu bukan Cinderlela, yang beruntung dipersunting pangeran hanya modal sepatu sebelah," ucap Gea masih terus menghina Senja.


"Jika kesempurnaan membuat saya mudah merendahkan orang lain, maka lebih baik saya menyadari kalau saya memang manusia dengan banyak kekurangan. Apa yang anda lihat pada diri saya, yang anda sebut dengan kekurangan, menurut saya adalah kekuatan." Senja meninggalkan Darren dan Gea begitu saja.


"Stop Gea! seharusnya kamu tidak menghina dia seperti itu. Bagaimana bisa kamu menilai seseorang yang tidak kamu kenal sama sekali." Darren kini mulai kehilangan respect pada Gea


"Kamu yang membuatku menghinanya, Aku tidak pernah ditolak dan kalah dengan siapapun selama ini. Aku sudah mengatakan aku menyukaimu. Jadi aku akan mendapatkanmu bagaimanapun caranya," ucap Gea membuat Darren menjadi gerah. Ternyata benar kata Firly, harusnya Darren mencari tau informasi tentang Gea terlebih dahulu sebelum mendekatinya lebih jauh.

__ADS_1


"Aku masih menganggapmu teman Gea, belum lebih. Kamu menciumku, sebagai laki - laki normal aku membalasnya, tapi sungguh aku hanya menganggapmu teman untuk saat ini," ucap Darren dengan entengnya.


"Untuk saat ini kan? kita tidak akan tau apa yang terjadi nanti. Lihatlah aku sayang ... apa kamu akan menolak seorang perempuan sepertiku?" tanya Gea dengan manja sambil mengelus pundak Darren.


Laki-laki itu merasakan sentuhan lembut tangan Gea, tapi tidak ingin berekasi lebih. Dia sedang memikirkan Senja. Keberanian perempuan itu semakin menantangnya kali ini.


"Cepat atau lambat kamu akan jatuh cinta kepadaku. Kamu akan menginginkanku lebih dari apapun. Tinggalkan asistenmu!" bisik Gea dengan sensualitas nya yang tinggi.


Darren memalingkan wajahnya, menahan diri agar tidak hanyut. Dia harus menahan diri, membiarkan Gea bermain dengan tubuhnya lebih jauh, bisa menambah kegilaan perempuan itu pada dirinya. Tidak akan! Darren hanya tertarik dengan Gea seperti laki - laki pada umumnya. One stand night, mungkin itu tujuan Darren sebelumnya. Namun setelah mengetahui Gea mulai melibatkan hati dan juga obsesi, dia harus berfikir panjang. Bukan perempuan seperti Gea yang ingin Darren nikahi, perempuan seperti apa ? entahlah Darren juga belum bisa menjelaskannya dengan kata-kata.


"Aku akan pulang, aku harap nanti malam kamu menemuiku di Club dan tidak meninggalkanku seperti kemarin." Gea mencium pipi Darren lalu keluar meninggalkan laki-laki angkuh itu di ruangannya.


Darren mengusap pipinya, lalu melangkahkan kakinya lebih lebar menuju ruangan Senja.


mempertahankan posisi mereka agar saling berhadapan.


Satu tangan kekar Darren meraih dagu Senja membuat Senja beradu pandang dengannya. Jantung keduanya sama-sama berdetak lebih cepat. Darren langsung melu**t bibir Senja dengan rakus. Perempuan itu mulai berontak begitu menyadari kegilaan atasannya. Sekuat tenaga Senja mengatupkan bibir agar tidak memberi celah pada lidah Darren yang ingin bermain lebih jauh di dalam sana.


Senja mencoba menggerakkan kaki nya dan ....


"Awwwwwwww ...." Darren langsung melepaskan bibirnya dari bibir Senja. Tangannya reflek memegang bagian inti kelaki-lakiannya yang terkena lutut Senja dengan keras.


Senja memegang bibirnya lalu mengelapnya dengan tisu berkali-kali. Seolah ada kotoran yang baru saja menempel pada bibirnya. Ini adalah ciuman pertama, lebih tepatnya dicium seseorang setelah Rafli terakhir menciumnya sesaat sebelum terjadi kecelakaan.


"Awas saja kalau sampai masa depanku suram gara - gara ulahmu!" ancam Darren masih meringis dan memegang aset berharganya.

__ADS_1


"Kamu harus mengantarku ke dokter. Aku harus memastikan kalau ini tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari," tambah Darren begitu berlebihan.


"Tidak! Tuan yang salah, Tuan yang melecehkan saya. Tuan mencium bibir saya yang masih perawan," ucap Senja dengan seedikit keras.


Darren tidak mampu menahan rasa ingin tertawanya.


"Perawan katamu ?? apa Rafli menikahimu hanya untuk pajangan? sampai bibirmu tidak dijadikan mainannya." Darren masih berada di antara ingin tertawa lepas tapi ada sesuatu yang ngilu di poros tubuhnya.


"Ehmmm maksud saya, sejak mas Rafli meninggal bibir ini kembali perawan dan tidak terjamah siapapun," ralat Senja, sedikit konyol.


"Itu artinya ini ciuman perdanamu setelah lama vakum. Pantas kaku sekali," ledek Darren.


"Ish ... Tuan belum tau perlawanan saya." Senja merasa tidak terima.


"Kalau begitu buktikan!" tantang Darren sambil merendahkan badannya dan memonyongkan bibirnya ke arah Senja.


"Tidak akan!" reflek Senja memundurkan tubuhnya.


"Kamu sudah mulai berani menantangku Senja. Bukankah tadi kamu bilang kita baru selesai enak -enakan. Bagaimana kalau kita jadikan itu kenyataan?" goda Darren membuat tubuh Senja makin merinding.


"Tidak! itu hanya pembalasan dari permainan yang sudah Tuan mulai lebih dulu. Saya juga sedang bermain peran. Kita impas sekarang. Jadi kita akhiri saja permainannya," pinta Senja.


"Tidak akan Senja! Kamu baru saja membalas permainan dengan lebih seru. Kamu sudah menantangku. Jadi jangan harap bisa berhenti begitu saja. Mulai saat ini, kita buat permainan kita lebih seru dan nyata. On Fire ... Senja." Seringai licik Darren membuat Senja kembali merinding.


Perdebatan sementara terhenti karena ponsel Senja berdering.

__ADS_1


__ADS_2