
"Nggak usah sok manis," ucap Senja ketus.
"Kan memang manis Ask." Darren berusaha menyesap bibir Senja, tapi bibir Senja tertutup rapat ke dalam menyisakan lipatan segaris.
"Ask, please maafin aku ya. Aku bener - bener kangen sama Senja yang ceplas ceplos, yang ekspresif dan seperti tanpa beban. Akhir - akhir ini ekspresimu terlalu kalem dan lempeng - lempeng saja Ask, aku benar - benar kangen. Aku siap kok kamu omelin. Aku kangen Senja yang ngomel - ngomel tanpa beban dan berani." ucap Darren lagi.
" Enak ya ngomong sambil gelap - gelapan gini? biar aku nggak tahu wajahnya serius, lagi bohong atau gimana kan?" tanya Senja datar.
Darren mengambil sesuatu dari kantong celananya tanpa melepas pelukannya, lampu pun menyala. Tidak terang benderang, redup menghangatkan.
"Maaf karena aku tidak memberikan kejutan yang romantis, karena aku memang tidak romantis. Maaf membuatmu cemas, karena aku ingin memastikan bahwa kamu juga bisa lemah karena kecemasan. Maaf karena aku membuatmu cemburu, karena aku juga ingin tahu rasanya dicemburui dan dikhawatirkan berlebihan. Maaf membuatmu kesal terlalu lama, setidaknya kamu tidak sedih lagi kan?" ucap Darren tegas tapi penuh kasih sayang.
Senja diam tak berucap, Senja bingung harus berkata apa.
"Ini rumah untukmu Ask. Rumah yang akan mengawali langkah kita mewujudkan mimpi. Rumah ini begitu nyaman untuk anak - anak, menandakan aku serius ingin mempunyai banyak anak. Aku ingin kalian nyaman. Aku baru bisa memberikan ini, sisanya kita harus melakukan berdua. Aku tanpamu, hanya akan jadi kecebong terombang ambing, lalu hilang tertelan air karena sebuah pencetan di flush toilet," ucap Darren dengan serius . Senja ingin tersenyum, tapi sebisa mungkin ditahan.
"Kamu ajak kemana Zain seharian?" tanya Senja masih sangat dingin.
"Di apartement Ask, Zain minum obat dan istirahat sesuai jadwal. Aku tidak mungkin mengabaikan kesehatan Zain." ucap Darren tangannya beralih ke sisi pinggang istrinya.
Senja bingung harus berkata apa, ingin marah tapi rasanya tidak sanggup. Melihat wajah suaminya dengan apa yang sudah dia lakukan membuat Senja luluh. Tapi langsung menerima perlakuan Darren begitu saja, akan menurunkan gengsi yang selama ini dia jaga.
"Ask, mikirin apa? Kamu boleh marah kok, atau kalau kamu merasa terharu dan mengakui aku memang suami yang luar biasa, cukup ucapkan terimakasih saja." ucap Darren percaya diri.
Senja menggelengkan kepalanya kuat.
__ADS_1
"Terimakasih? tidak akan. Kamu suamiku, tentu saja wajar dan memang kewajibanmu memberiku rumah," Senja mempertahankan gengsinya dengan tetap berkata ketus.
"Kalau suami sudah menjalankan kewajibannya, betarti boleh menuntut haknya kan Ask?" tanya Darren, matanya begitu nakal menggoda Senja.
"Tidak!!! Siapa Naomi? kenapa captionnya seperti itu? Selain Honey, bee dan Darl, bagaimana perempuan - perempuan memanggilmu?" tanya Senja, kembali di landa cemburu.
"Dia hanya teman. Dia pun sudah menikah Ask, aku hanya ingin membuatmu cemburu," jawab Darren santai.
"Yakin?" selidik Senja.
"Yakinlah Ask. Aku tidak mungkin sanggup menduakanmu," bisik Darren lembut membuat jiwa haus belaian Senja meronta menginginkan lebih.
Semudah inikah Senja melupakan kekesalannya beberapa hari ini? apakah Senja dengan gampangnya menerima maaf karena perlakuan suaminya hari ini? Senja masih berfikir keras. Takut dinilai mudah menyerah dan memaafkan, tapi disatu sisi dia harus menghargai perjuangan Darren memberikannya hadiah malam ini. Mungkin Darren memang ingin melihat ekspresi kesal, marah dan yang lain. Karena semenjak Rafli meninggal ekspresi sedih lah yang mendominasi.
"Ask, mumpung kita hanya berdua dan rumah ini masih baru. Mari kita menorehkan kenangan pertama di setiap sudut rumah ini," bisik Darren kemudian menggendong Senja mendekati sofa ruang tamu mereka.
"Ask..."ucap Senja masih berusaha membentengi diri.
"Husthhh! Berhentilah pura-pura kesal, marahnya dicicil saja. Besok pagi dan nanti-nanti lagi. Aku sanggup menerima omelanmu setiap hari, asal hakku diberikan dengan lancar." Darren menempelkan jari telunjuknya di bibir Senja.
Berdiri berhadapan di bawah temaram lampu, alunan musik lembut lagu berjudul The Gift dari jim brickman yang entah bagaimana caranya bisa tiba-tiba terdengar, membuat suasana semakin mendukung. Setelah seminggu berperang dingin, sudah seharusnya mengakhiri malam dengan hangat cenderung memanas.
Darren mulai mengulum lembut bibir Senja, kali ini langsung berbalas. Sebuah cengkraman halus dapat Darren rasakan di tengkuk lehernya. Ciuman Darren mengalir turun, dari leher, pucuk hitam, lalu kembali ke leher. ******* halus Senja mulai terdengar seiring dengan tangannya yang juga mulai tak mau diam pasrah.
Menuruni perlahan dada suaminya, berhenti di sana sekedar mengitari pucuk hitam dengan pelan dan sedikit menambah sensasi menyentuh sebatas awang-awang. Bibir keduanya kini masih saling bertaut dengan tangan yang sama aktifnya dalam menjelajah. Melepas satu demi satu pakaian yang menempel pada tubuh mereka, hingga keduanya sama - sama polos.
__ADS_1
Senja duduk di atas sofa empuk, sedangkan Darren tetap berdiri tepat di depannya menyodorkan sesuatu untuk di mainkan. Jemari Senja masih merambah di pucuk dada suaminya, sedangkan lidahnya mulai menuntun sesuatu yang mengetat masuk ke dalam mulutnya.
Desa* keenakan Darren memecahkan kesunyian malam. Racauan dan pujian bertubi - tubi dilontarkan untuk Senja. Jemari Darren terus mengumpulkan rambut istrinya, menyatukan menjadi satu ikatan lalu dijadikannya ikatan itu untuk mendorong istrinya bergerak naik turun sesuai tempo yang dia inginkan.
Senja segera membebaskan bibirnya, begitu merasakan sesaknya semakin bertambah. Senja begitu paham bagaimana membuat suaminya bertahan lebih lama.
Giliran Darren yang bermain, dua kaki Senja kini bertumpu pada pundaknya. Desa* kenikmatan menjadi milik Senja. Satu tangan yang tidak bisa diam terus mere*** gundukan kenyal istrinya bergantian. Menghujami istrinya dengan hentakan yang kadang lembut, kadang juga sedikit menyentak.
Merasakan basah melanda, Darren menghentikan kegiatannya. Membalikkan posisi Senja hingga membelakanginya.
Hujaman-hujaman Darren semakin menyesakkan Senja hingga akhirnya pelepasan pertama Senja pun terjadi.
"Sudah ask?" bisik Darren, tanpa menghentikan gerakannya.
"Sudah Ask" jawab Senja, suaranya serak basah mendes**.
"Aku mau sampai juga, Ask ... kamu sekali dulu gpp ya ? kalau mau bareng juga malah enak. Aku balik ya tapi, biar kamu bisa menggigit seperti biasa" bisik Darren. Melepaskan sebentar penyatuan mereka untuk membalikkan posisi istrinya, lalu kembali memasukinya.
Senja pun melakukan gerakan menahan buang air kecil bertubi-tubi, membuat Darren melayang dengan cepat.
"Arghhhh ... Ask ... Sekarang ya, Ask ... Sekarang ... Arghhh ..."
Darren langsung melepaskan miliknya, lalu mencium kening Senja lembut.
"Aku cinta kamu Ask, jangan pernah berfikir aku sehari saja bisa tenang tanpa melihatmu. Cemburulah seperlunya, aku menyukainya. Tapi ingatlah, hanya kamu yang terhebat dan terbaik menurutku " ucap Darren tulus dan penuh cinta.
__ADS_1