
Senja kembali masuk ke rumahnya dan Rafli dulu, setelah kejadian pergi ke sana diam - diam, Senja tidak terfikirkan kembali ke sana lagi apalagi bersama Darren.
"Ask...Bajumu kotor. Mandilah dulu, akan aku ambilkan bajunya mas Rafli " ucap Senja.
"Iya Ask "jawab Darren.
"Zain mandi dulu ya. Tapi Zain nggak ada baju di sini. Di lemari Zain hanya ada baju - baju kecil. Kopernya tadi terlanjur dibawa oma "ucap Senja bingung.
"Ada ma, di sini banyak baju Zain. Karena kalau ke Jakarta, Zain menginap di sini "jelas Zain.
"Di mana ? mama nggak lihat " kata Senja.
"Kita ke kamar Zain " Zain mendorong kursi roda Senja ke kamarnya. Sementara suster dibiarkan istirahat sebentar di kamar tamu.
Zain membuka lemari khusus Baku gantungan. Bodohnya Senja, dia tidak membuka semuanya waktu datang.
"Ya sudah, Zain Mandi dulu. Mama sudah memesankan makanan. ini terakhir Zain boleh makan bebas, besok mama akan kembali mengatur apa yang boleh Zain makan " ingat Senja. Bagaimanapun Zain memang harus menjaga pola Malang dan apapun yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Iya ma, Zain mandi dulu " ucap Zain setelah mengambil satu set baju gantinya.
Senja menggeser sendiri Kursi rodanya mendekati nakas di samping ranjang Zain. Mengambil bingkai foto yang terpajang di sana.
"Kamu memang bodoh mas, seharusnya kamu tahu, aku ini bukan perempuan lemah. Seharusnya kita bisa menghadapi bersama " gumam Senja lirih.
Senja teringat kalau dia belum mengambilkan baju untuk Darren.
"Zain, mama ke kamar mama sebentar ya. Kalau Zain sudah selesai nyusul saja " teriak Senja.
"Iya ma " sahut Zain.
Memasuki kamarnya kembali, entah mengapa perasaannya semakin tidak enak. Merasa Rafli sedang memperhatikannya dan duduk di tepian ranjang seperti dulu. Buru - buru Senja menyiapkan baju untuk suaminya, lalu kembali ke kamar Zain.
Suster menghampiri Senja dan memeriksa kondisi Senja di atas ranjang Zain, menyuntikkan beberapa obat di selang infus.
__ADS_1
"Istri saya nggak perlu di rawat di rumah sakit kan? " tanya Darren yang tiba - tiba muncul.
"Tidak perlu pak, tapi besok mohon menemui dokter Nuke di rumah sakit untuk pemeriksaan lagi. Semoga sudah normal. Babynya termasuk kuat " ucap perawat.
"Ya sudah sus, terimakasih. Suster istirahat saja kembali, kamu akan memanggil suster jika diperlukan " ucap Darren.
Setelah suster meninggalkan mereka, Zain keluar kamar mandi dengan wajah yang sudah segar.
"Ma, malam ini kita nginap di sini ya, Zain pengen tidur bersama mama di kamar biasanya " ucap Zain.
"Boleh sayang " ucap Senja.
"Zain...Boleh nggak om bicara sebentar sama Zain ? " tanya Darren hati - hati.
"Boleh " jawab Zain singkat.
"Zain, mulai sekarang kalau Zain kepengen apa saja, Zain boleh bilang ke om atau ke mama. Kalau Zain gak suka sama sesuatu, Zain boleh bilang juga. Om Darren sayang sama Zain. Meski tidak sehebat papa Rafli, om Darren akan berusaha menjadi yang terbaik buat Zain " ucap Darren.
"Tidak ada yang menggantikan papa, tapi om juga baik dan hebat. Zain akan menjadi anak yang baik " janji Zain.
Senja hanya memperhatikan interaksi keduanya. Senja merasa bersyukur, meski Zain memanggil Darren dengan sebutan om, tapi Zain mengakui kebaikan dan kehebatan suaminya.
"Apa Zain boleh minta sesuatu om? " tanya Zain hati - hati.
"Boleh " sahut Darren cepat.
"Zain ingin mengenal om lebih dekat. Zain pengen seminggu ini ikut kemanapun om pergi "ucap Zain tegas.
"Tapi Zain tidak boleh capek - capek masihan "
"Om yang atur bagaimana caranya biar Zain tidak capek " sahut Zain cepat.
"Zain..."Senja agak menekankan panggilannya.
__ADS_1
Darren menahan Senja untuk tidak ikut berbicara.
"Baiklah, besok om mengantar mama ke rumah sakit dulu. Jelas Zain tidak boleh ikut, setelah itu om baru akan ke kantor. Om akan membuat ruangan om senyaman mungkin agar Zain tidak lelah dan bosan "
"Terserah om saja "kata Zain.
"Zain mau tinggal di sini sampai kapan? "
"Sampai Zain merasa cukup. Apa om keberatan ? " tanya Zain.
"Tidak, Selama ada mama Nja dan Zain om bisa tinggal di mana saja " jawab Darren cepat.
"Om, Terimakasih tadi mengadzani papa dengan indah " ucap Zain tiba - tiba.
"sama - sama sayang. Suatu saat nanti, kalau om meninggal, om maunya Zain yang mengadzani om. Mama dan om akan memberikan Zain saudara yang banyak. Nanti kalau om meninggal, om pengennya dimandikan di atas pangkuan kalian, bukan di atas meja "
"Ask.. Berhenti bicara tentang kematian. Cukup, Semua pasti akan mati. Tapi Senja tidak ingin mendengarnya saat ini " Senja tegas menolak topik pembicaraan Darren.
"Ini belum seberapa ma, dulu waktu Zain kemoterapi bersama Bevan. Di mana kita tidak boleh bertemu siapapun selain semua yang sedang sakit. Kami selalu diingatkan kalau tidak ada kematian yang sakit, kematian itu indah. Saat kematian datang kita meninggalkan sakit, luka, marah dan kekecewaan. Tapi kematian tanpa merasakan hidup sebenarnya juga bodoh " ucap Zain, membuat Darren dan Senja saling pandang.
"Apa hidup sebenarnya itu Zain? " tanya Darren, ingin tahu sejauh mana Zain memahami apa yang diucapkannya.
"Tidak berhenti berjuang , saling menolong teman dan tidak menyakiti teman. Kata ustad berbuat dosa sebesar apapun, jika dosanya pada Tuhan pasti diampuni. Tapi sekecil apapun dosa kita pada teman, kalau teman tidak mau memaafkan akan tetap menjadi dosa sampai mati " jelas Zain.
"Zain, mulai sekarang berfikirlah sesuai usia Zain. Mama pengen Zain minta mainan, ngrengek minta diperhatikan, susah kalau disuruh mandi, bersikaplah konyol dan menjengkelkan. Jangan terlalu dewasa Zain. Mama seperti kehilangan waktu bersama Zain terlalu jauh "pinta Senja air mata lolos begitu saja.
Zain masih tujuh tahun dan dia bisa kembali bicara bijak tentang kehidupan. Kematian yang dulu menjadi bayang - bayang Zain membuat Zain menyukai kegiatan rohani. Mendengarkan motivasi dan juga kajian - kajian kehidupan. Terlalu berat untuk anak seusianya.
"Zain tidak ingin menjadi pengusaha seperti papa. Zain ingin menjadi dokter agar bisa menolong orang lain. Zain termasuk beruntung ma, papa mempunyai uang yang cukup banyak untuk mengusahakan kesembuhan Zain. Sebelum masuk ke rumah sakit huang, Zain sering melihat teman Zain meninggal di sini. Alasannya sama, mereka menghentikan pengobatan karena tidak lagi mempunyai uang "tambah Zain.
Senja memakai tangannya untuk mengipasi matanya agar tidak terus jatuh, Zain tumbuh luar biasa di tangan Rafli.
"Jadi apapun yang Zain mau. Om dan mama akan mendukung Zain "ucap Darren.
__ADS_1
"Zain belum sempat mengucapkan terimakasih sama papa. Karena papa, Zain sembuh. Karena papa, zain kuat. Karena papa, Zain bertemu mama lagi. Zain akan membawa rasa terimakasih Zain dalam doa. Papa Rafli harus bangga sama Zain " janji Zain.