Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Badai ditengah damai


__ADS_3

Setelah ulang tahun perusahaan selesai. Hanya tersisa satu acara lagi yang harus dijalani. Yaitu acara tujuh bulanan Senja dan empat bulanan Chun Cha yang diadakan oleh Bae.


Acara masih dua hari lagi, Senja masih ada waktu untuk beristirahat. Untuk memastikan kondisi si kembar baik - baik saja, Darren dan Senja akan melakukan usg di luar usg rutin sore ini.


Karena Darren masih ada meeting intern dengan beberapa pegawainya, Senja menunggu di ruang kerja suaminya sembari membereskan meja kerja Darren yang tumben sekali berantakan.


Tumben sekali Darren tidak rapi hari ini. Mata Senja melihat ada rekening koran milik suaminya ditumpukan paling atas. Inikah yang dinamakan naluri seorang istri atau Tuhan selalu memberi tahu dengan berbagai cara jika memang ada sesuatu yang tidak beres.


Senja yang biasanya tidak terlalu meneliti pengeluaran dan pemasukan suaminya mendadak membaca rekening koran tersebut. Ada pengeluaran yang jumlahnya sangat fantastis, berlipat - lipat dari uang bulanan yang diberikan Darren padanya.


Jika ini rekening perusahaan, Senja tentu tidak peduli. Tapi Senja tau betul ini adalah rekening pribadi suaminya, bahkan kartu atmnya Senja yang membawa. Darren hanya membawa m-bankingnya saja. Transaksi dengab jumlah begitu besar tentu dilakukan Darren dengan menghubungi pegawai bank yang menanganinya secara prioritas.


Dada Senja semakin bergemuruh seperti gunung berapi akan mengeluarkan lava panas. Angelica Malito, nama yang tertera sebagai penerima dana dari rekening Darren.


Senja keluar ruangan, ada Amar di sana.


"Minta rekening koran pak Darren tiga bulan terakhir, yang belakangnya 4451." Senja langsung menodong Amar dengan tangannya.


Amar sedikit ragu langsung membuka file rekening koran yang memang rutin dikirim oleh pihak bank dan langsung mengeprint file tersebut.


"Apa relasi bapak ada yang bernama Angelica Malito?" selidik Senja.


"PT. Malito yang ada bu, tapi sepertinya sudah lama kita tidak bekerja sama. Karena mereka mengalami kebangkrutan." jawab Amar, sangat hati - hati.


Senja melihat di ruang meeting suami dan beberapa pegawainya masih anteng. Semoga meeting itu masih lama dan cukup waktu untuk mencari bukti.

__ADS_1


Amar memberikan rekening koran yang sudah diprint dan di tata sesuai urutan tanggal. Senja memeriksa dan membaca lembar demi lembar. Senja melingkari mutasi keluar untuk penerima yang sama di tiga bulan terakhir. Nominalnya cukup membuat Senja tercengang, selalu berlipat - lipat dari yang Darren pindahkan ke rekeningnya selama ini. Bisa dikatakan yang dipindahkan Darren ke rekeningnya tidak ada apa - apanya.


Senja kembali ke dalam ruangan. Melalui sambungan telepon internal, Senja menghubungi bagian keuangan Mahendra Corp. Menanyakan beberapa pertanyaan, lalu menutup telepon dengan kasar. Mengarahkan kamera ponsel pada file yang sudah dia lingkari dan membiarkan file kembali tergeletak begitu saja di atas meja kerja suaminya.


Dengan buru - buru Senja menyambar tasnya yang ada di atas sofa lalu berjalan keluar ruangan tanpa pesan pada Amar. Senja memutuskan berangkat sendiri tanpa menunggu Darren.


Bersama Rudi, Senja meninggalkan gedung Mahendra Corp. Dia pun menghubungi mama mertuanya.


"Ma...Senja nitip Dasen sama Zain dulu ya. Biar nanti Wati dan driver yang mengantar mereka ke rumah Opa," Senja berkaca - kaca saat mengatakannya.


"Ada apa Nja? kamu mai ke mana? Ada apa ini?" tanya Sarita, kaget dan juga bingung.


"Malam ini saja ma, Senja pengen sendirian. Senja tidak jauh kok ma." jawab Senja, perlahan selanjutnya Senja menceritakan pada Sarita apa yang ditemukannya hari ini. Sarita tidak bisa ikut campur. Meskipun dalam hati sangat yakin, Darren tidak mungkin mengkhianati Senja, tapi Sarita tidak membenarkan apa yang dilakukan anaknya. Jelas Darren yang sengaja mengobarkan api di tengah ketenangan keluarganya sendiri.


Sebenarnya Senja hanya ingin menghilangkan jejak, Rudi sangat loyal pada Darren. Kalau Senja menyuruh Rudi yang mengantarnya ke hotel, dengan mudah tanpa paksaan Rudi akan memberitahu Darren tentang keberadaannya.


Senja menaiki taxi menuju resort tempat dirinya melangsungkan pernikahan dulu. Senja memejamlan matanya sejenak, memikirkan salah tidaknya keputusan yang dia ambil kali ini. Sesungguhnya ini bukan masalah cemburu, hati Senja tidak meragukan cinta dan kesetiaan suaminya, tapi nalurinya sebagai perempuan mengatakan yang terjadi tidaklah benar.


Hampir dua jam, meeting internal dengan tim pemasaran akhirnya selesai juga. Darren melangkahkan kaki dengan santai ke dalam ruangannya, mengira Senja masih menunggu dengan setia di sana.


"Ask...Ask.." panggil Darren seraya mengetuk pintu kamar mandi, mengira Senja berada di sana. Setelah lumayan lama tidak terdengar sahutan dari dalam, Darren menekan gagang pintu ke bawah. Ternyata kosong, tidak ada istrinya.


Darren melihat ruang istirahatnya, tidak ada Senja juga di sana.


"Mar, bu Senja kemana?" tanyanya.

__ADS_1


"Sepertinya pulang pak, kelihatan buru - buru sekali tadi," jawab Amar selalu hati - hati.


Darren memijat pelipisnya sendiri, tidak pernah Senja pergi begitu saja seperti ini. Darren kembali ke mejanya. Mencoba menghubungi Senja, tapi nomer sedang tidak aktif. Menghubungi telepon rumah, ternyata Senja belum sampai juga si rumah.


Mata tajam Darren baru menyadari mejanya sudah rapi, hanya ada file rekening koran di sana. Otak Darren langsung berfikir keras, rekening korannya tak setebal ini tadi. Darren melihat ada beberapa coretan dan juga lingakaran dari stabilo di sana. Darren tidak pernah melakukan hal itu. Sepanjang hidup yang dia tahu hanya satu orang yang suka melingkari rekening koran dengan stabilo.


Darren langsung melempar kertas itu begitu saja.


"Shitttt!!!"


Darren mengumpat, mengusap wajahnya kasar lalu menelpon drivernya untuk bersiap di lobby segera.


Tempat yang pertama dituju Darren adalah tempat praktek dokter Nuke. Sampai di sana, perawat mengatakan Senja sudah sejaman yang lalu meninggalkan tempat praktek dokter spesialis kandungannya.


Darren langsung menyuruh driver meluncur ke rumahnya. Senja belum datang juga. Semakin tidak karu - karuan begitu satpam mengatakan Rudi datang sendiri dan langsung pergi lagi setelah menjemput Wati, Dasen dan Zain.


Darren mencoba kembali menghubungi nomer telepon istrinya. Tapi tetap tidak aktif. Darren menelpon Rudi.


"Rud, ibu di mana?" tanya Darren begitu Rudi menerima teleponnya.


"Ibu tadi minta di turunkan di pusat perbelanjaan yang biasanya pak. Terus saya di suruh pulang menjemput den Zain sama den Dasen. Suruh mengantar mereka ke rumah pak Hutama," jelas Rudi.


Darren langsung memutus sambungan teleponnya. Langsung menyuruh driver membawa ke pusat perbelanjaan yang dimaksud Rudi.


Seperti mencari jarum di dalam jerami. Dari satu lantai ke lantai yang lain sudah di lewati. Bukan hal yang mudah, kaki Darren pun sudah lelah. Darren berdiri di pintu keluar satu - satunya sampai lampu - lampu di dalam mall padam dan rolling door pun berangsur menutup sempurna. Istrinya tidak muncul juga.

__ADS_1


__ADS_2