Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Ke makam Hutama


__ADS_3

Waktu berlalu cepat bagi sebagian orang, tapi terasa begitu lambat bagi Darren. Bagaimana tidak? Sudah hampir dua bulan pola tidur dan kegiatan malamnya berubah total.


Jangankan sekedar berpelukan atau tidur satu selimut bersama istrinya. Sekarang, menyentuh kaki Senja saja adalah hal yang langka bagi Darren.


Dasen dan Beyza luar biasa menguji kesabaran Daddynya. Seringkali Darren terpaksa tidur sembari duduk karena Beyza yang hanya bisa tidur setelah mencium ketiak daddynya. Berbeda lagi dengan Dasen yang tidur dengan berbantalkan tangan Senja. Hanya Derya yang bisa menerima dan tenang dalam kondisi apa saja.


Satu hal yang aneh adalah, anak - anak itu sangat anteng di siang hari. Saat daddynya bekerja, semua urusan begitu mudah. Tidur tidak ada drama. Dasen pun makan selalu habis dan bisa melakukannya sendiri meski sedikit belepotan. Sungguh hal yang aneh, tidur Beyza dan Derya pun selalu tenang di siang hari.


Karena itu, sebelum makan siang, Senja sengaja datang ke kantor suaminya untuk menyempatkan diri ke makam Hutama sebentar. Kebetulan di rumah juga ada Mahendra dan Sarita yang membantu menjaga anak - anak.


"Bapak ada kan?" tanya Senja begitu melewati Amar dan Ali.


"Ada bu, di dalam. Sedang tidak enak badan sepertinya. Karena dari tadi di ruangan istirahat," jawab Ali.


Senja langsung berjalan masuk ke dalam ruangan istirahat suaminya yang tidak dikunci.


"Show time." Ali dan Amar melakukan Hi Five.


Saat Senja masuk ruang istirahat, Kemeja Darren sudah nampak berantakan, dengan kancing terbuka dan sudah keluar dari celananya. Senja memegang kening Darren yang sama sekali tidak panas.


"Kayaknya kamu kurang istirahat, Ask. Maaf ya, anak - anak mungkin memang masa - masanya ingin diperhatikan. Beberapa bulan lagi pasti sudah normal lagi. Kamu pasti capek ya, siang kerja malam masih terjaga." Senja memijat pelipis suaminya dengan lembut.


Pelipis yang dipijat, yang lain yang bereaksi. Sudah dua bulan lebih Darren tidak bisa menuntut haknya. Lebih menahan diri, karena dia tahu pasti istrinya juga kelelahan. Hanya sesekali dia meminjam tangan dan mulut istrinya, itupun benar - benar seperti pencuri yang menyelinap dini hari.


Senja masih mengira kalau suaminya benar - benar sakit. Senja membuka kemeja suaminya yang memang tidak pernah memakai kaos dalam. Berniat memberikan minyak putih. Belum sampai minyak itu dituangkan, Darren sudah menarik tubuh Senja ke atas tubuhnya.


"Aku hanya butuh satu permainan yang bisa menuntaskan semua keringatku, Ask. Satu kali saja. Pasti aku akan segar kembali." tangan Darren sudah mulai membuka kancing dress depan istrinya.

__ADS_1


Senja jelas bukan istri yang malu - malu. Bukan hanya Darren yang mau, dia pun tidak menolak memberikan apa keinginan suami.


Senja menyingkirkan tangan Darren dari dirinya, menahan tangan itu dengan kedua tangannya. Senja mulai mengecup Darren dari kening hingga leher suaminya.


Gerakan tubuhnya lembut meliuk, sesekali dada kenyalnya dibiarkan menyerempet kadang menempel sempurna di dada suaminya yang sudah tidak berpenghalang sehelai benang pun.


Saat bibir dan lidah keduanya saling beradu. atangan Senja dengan lincah menarik ikat pinggang suaminya, melepas pengait celana dan menurunkan celana itu hingga di lutut lalu melepaskannya dengan menggunakan satu kaki.


Senja melepas tautan bibirnya, lalu menggelung rambutnya ke atas. Dia membuka sendiri kancing dress yang dikenakan. Darren sudah sangat tidak sabar. Dia sengaja memberikan gerakan sedikit di tengah sana, Senja malah tersenyum menggoda.


"Sebentar, Ask. Jangan buru - buru. Nanti kamu malah terlalu cepat selesai," bisik Senja, membuat jakun Darren semakin naik turun karena menelan ludahnya.


Senja kembali menautkan bibirnya di bibir suaminya, tangannya kembali menahan tangan Darren yang ingin bergerilya. Senja sengajakan membiarkan kepemilikan suaminya menemukan jalannya sendiri tanpa bantuan tangan.


Cengkraman tangan Senja semakin kuat, begitu merasakan sesuatu yang sangat keras menembus pertahanannya sangat dalam. Senja pun mulai meliukkan pinggulnya dengan gemulai. Lengungan dan racauan Darren mulai terdengar. Senja kembali sengaja mengurangi temponya dan menegakkan badannya, satu tangannya memegangi ikatan rambut yang terlepas, satu tangan lagi mengelus dua buah bola dibagian tengah suaminya.


Darren yang sudah tidak sabar, menggerakkan pinggulnya maju mundur lebih cepat. Hisapan dan jepitan dari Senja semakin membuatnya menggila. Suaranya sampai di telinga Ali dan Amar. Andai kedua sekretaris itu tidak sengaja membuka ruang kerja, pasti suara itu tidak akan terdengar. Tapi keduanya memang sengaja memancing hasrat mereka sendiri.


Darren menghempaskan badannya di samping Senja yang masih mengatur kembali nafasnya yang terengah - engah. Padahal tadi suaminya itu mengatakan sekali saja sudah cukup membuatnya kembali segar, nyatanya sekarang sudah kembali satu lagi sebelum mandi.


Senja pun pasrah saja, bukan pasrah dalam arti yang sebenarnya. Karena pada akhirnya, dia lagi yang memegang kembali. Darren pun tersenyum puas. Keduanya lalu mandi bersamaan. Senja keluar ruangan dengan kondisi rambut yang basah, begitu juga dengan Darren.


"Berangkat sekarang, yuk!" Dengan semangat Darren mengamit pinggul Senja keluar ruangan.


Darren tersenyum lebar menyapa Ali dan Amar yang menundukkan kepala mereka sedalam mungkin, tapi kedua siku mereka saling beradu memberi signal. Yanes yang baru keluar dari ruangannya tidak paham apa yang terjadi. Hanya melihat, tampak belakang rambut Senja yang basah sukses membuat dressnya sedikit basah di bagian tertentu.


"Kuch - kuch hota hai." Amar menjawab pertanyaan yang ditujukan Yanes melalui raut wajahnya. Seperti judul film bollywood lawas yang berarti sesuatu telah terjadi.

__ADS_1


Yanes sudah bisa menebak, jangan panggil bosnya itu Darren Mahendra kalau tidak bisa memanfaatkan kesempatan di kondisi apapun. Darren menerapkan ilmu bisnisnya tidak hanya saat di perusahaan, saat menghadapi istrinya pun dia tidak ingin rugi. Percuma istri begitu cantik, kalau hanya dibuat pajangan.


Senja dan Darren menuju kompleks pemakaman Hutama. Ini adalah kali pertama bagi Senja. Karena selain menunggu masa nifas, Senja juga masih mencari sela waktu di mana anak - anak bisa di tinggal agak lama.


"Assalamualaikum, opa. Maaf Senja baru sempat datang kemari. Opa apa kabar di sana? pasti opa sudah bahagia kan? Semoga opa sudah bertemu dengan oma. Senja minta maaf tidak bisa tinggal di rumah Opa. Nanti kalau anak - anak besar, Senja akan tinggal di sana. Kalau ada salah satu anak - anak yang sudah menikah. Owh...Ya Opa, terimakasih kalungnya. Tidak akan pernah Senja lepas. Kalung ini sangat cantik." Senja menyentuh dan mengusap lembut batu nisan bertuliskan nama Hutama.


"Opa, maaf suratnya belum kami buka, karena saat kami intip, surat itu khusus untuk anak - anak Darr, jadi belum Darr buka. Nanti akan Darr buka kalau Zain khitan. Biar Zain yang bertanggung jawab pada apa yang opa sampaikan." Darren melakukan hal yang sama seperti yang Senja lakukan.


Kedua pasangan itu melantunkan yasin dan tahlil. Sesekali Darren mengelus punggung Senja yang hendak menangis. Cinta keduanya memang sudah tidak perlu diragukan, kesetiaan apa lagi. Keduanya saling melengkapi satu sama lain. Seperti janji keduanya pada Hutama, yang akan selalu menjaga keutuhan keluarga kecil mereka apapun yang terjadi di depan mata.


Dari makam Hutama, Senja dan Darren beranjak ke makam omanya. Menyapa sebentar Jangankan Senja, Darren saja tidak terlalu mengenal omanya kecuali dari cerita yang dilontarkan Hutama.


Keduanya lalu berjalan menjauhi makam. Berjalan menuju mobil mereka. "Aku ingin kita seperti oma dan opa." Darren berkata seraya mengecup tangan Senja.


"Kalau Senja mati duluan. Senja mau dimakamkan di dekat makam mas Rafli saja. Kalau kamu duluan, baru tidak mengapa Senja di samping makammu." Senja berniat menggoda suaminya.


"Ask ...." sentak Darren, sangat kesal.


"Kalau Senja duluan yang meninggal siapa tahu kamu nikah lagi." Senja berlari kecil menghindari kekesalan suaminya.


Darren mengejar Senja pelan, ingin membungkam bibir jahil istrinya itu dengan bibirnya.


🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih Readers


Jangan lewatkan 3 episode terakhir ya.

__ADS_1


__ADS_2