Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Bisik - bisik


__ADS_3

Senja menunggu Yanes datang bersama orang yang akan membetulkan saluran airnya. Kali ini Senja bermain bersama Dasen di atas kasur lipat tipis. Dasrn sedang senang - senangnya tengkurep dan telentang, sesekali posisinya menungging seperti sudah merangkak.


Suasana rumah yang biasanya hangat dan ramai, menjadi sunyi. Suara celotehan Zain menggoda Dasen pun tidak ada. Senja melamun memegang baby teether berbentuk strawberry milik Dasen. Senja jadi teringat kalau Darren akan mengajak Zain ke Jepang.


Yanespun datang bersama seseorang yang langsung melakukan pekerjaannya setelah memperkenalkan diri pada Senja.


"Nes, daddynya anak - anak kapan berangkat ke Jepang?" tanya Senja, mencoba menggali informasi dari Yanes.


"Nanti malam bu, pesawat pukul tujuh. Ini visanya Zain baru beres tadi." jelas Yanes.


"Owhhh...emang sepenting apa sih Nes? Tapi kalau penting ngapain sama Zain coba." dengus Senja.


Yanes tersenyum, kenapa bosnya jadi semacam cenayang sekarang. Dugaan pertanyaan - pertanyaan terlontar sudah dari mulut Senja.


"Bu Senja lupa ya, kan di sana ada temen lamanya pak Darren. Cewek Jepang pacar bukan pacarnya pak bos dulu. Yang nggak cinta tapi mau ciuman juga. Masak bu Senja nggak tahu sih?" provokasi Yanes dimulai.


"Naomi?" Senja langsung melihat anggukan kepala dari Yanes.


"Owh..." jawab Senja, singkat dan datar.


"Yang punya perusahaan kan ayahnya si Naomi, pak bos takut kalau ketemu Naomi bisa khilaf. Akhir - akhir ini pak bos merasa kayak nggak punya istri, pak bos masih manusia biasa, yang tidak sempurna dan kadang salah. Namanya orang merasa nggak dipedulikan dan nggak dibutuhkan istri, ada perempuan yang memperhatikan, takut saja godaan diterima. Hati bisa menolak, tapi ada satu bagian tubuh yang kadang nggak bisa diajak kompak." tutur Yanes, terus memprovokasi Senja.


"Begitu ya." ekspresi Senja masih bertahan datar. Yanes memeras otaknya untuk berfikir kata - kata apa yang akan diucapkan lagi.

__ADS_1


"Bu, maaf ini. Saya mau bertanya, sedikit pribadi. Maaf saya lancang, tapi karena ibu banyak menolong istri saya, Saya sangat berhutang budi pada bu Senja." Yanes terlihat serius.


"Apa Nes?" tanya Senja jadi berbalik penasaran.


Mungkin Sarita benar, Senja hanya butuh teman bicara lain. Tidak melulu Darren. Ternyata kehadiran Yanes, sedikit membantu Senja menemukan emosinya kembali.


Yanes memberanikan diri mendekatkan bibirnya ke daun telinga Senja, meskipun tidak menempel tetap saja membuat Yanes deg - degan. Bisa saja setelah ini mulutnya akan mendapatkan gamparan dari bosnya.


Mulut Senja menganga, dengan satu telapak tangan langsung menutupnya. Senja melirik Dasen yang sedang asik menyesap jempol kakinya sendiri. Senja menggelenkan kepala tapi Yanes mengangguk. Yanes kembali membisikkan sesuatu, kali ini lebih dekat dengan menambah satu tangan untuk menutup gerak bibirnya agar tidak dilihat orang lain.


Darren membelalakkan matanya melihat aksi Yanes di layar monitor yang terhubung dengan cctv di rumahnya. Kalau sampai rencana ini tidak berhasil, Darren akan membuat bibir Yanes tidak bisa makan enak selama satu minggu ke depan. Apa yang dilakukan Yanes sekarang tidak ada di dalam rencana, itu pasti hasil improvisasi Yanes yang berlebihan.


"Nes, aku ikut dosa dong." ucap Senja lirih.


Di sebuah guest house, Rudi dan Wati juga bersama para asisten Senja yang berjumlah lima orang lainnya dan security tiga orang sedang mengobrol santai di taman belakang guest house, mendapatkan liburan sekaligus bersantai di sana sampai waktu yang belum ditentukan.


"Tibane penak yo dadi sultan iku. Tangi turu ra mikir gawean sing dicandak opo disek. Slonjoran ra kuatir dibengoki juragan. (Ternyata enak ya jadi sultan. Bangun tidur tidak mikir kerjaan apa dulu yang dilakukan. Nglurusin kaki nggak khawatir diteriaki majikan)." ucap salah satu asisten runah tangga bernama Imah.


"Heleh jare sopo penak, buktine pak Darren ke, Sultan yo tetep kerjo. Kadang yo mulih bengi barang. Sawangane penak, pikiran mumet endi eruh awake. (Kata siapa enak, buktinya pak Darren sultan ya tetep kerja. Kadang pulangnya juga malam. Kelihatannya enak, pikirannya pusing kita juga nggak tahu." timpal Ani, Asisten rumah tangga bagian membersihkan kaca dan lantai perabot pajangan.


"Wat. kok diam saja. Kenapa?" tanya Rudi.


"Kasihan aku tuh sama bu Senja, Dasen juga kasihan. Tumben - tumbenan pak Darren kok agak keras sama ibuk." keluh Wati, wajahnya murung. Bisa dikatakan Wati adalah asisten rumah tangga yang paling dekat dengan Senja.

__ADS_1


"Soale bu Senja nggak kayak biasae Wat, biasaw ibu salah dikit ngrayu. Nah ini bapak g di senggol blass, Seminggu bagi kita, sewindu bagi pak Darren." sahut Ima, asisten yang mengurus pakaian Senja dan Darren.


"Tapi mripat ambek kupinge awake aman. Biasae ceplak cepluk ae sak enggon - enggon. (tapi mata dan telinga kita aman, biasae cium - cium di sembarang tempat)." sahut Rudi.


"Itu nggak seberapa, coba jadi aku. Pas nikahannya bu Chun sama pak Al, pengantin barunya belum tentu kayak gitu. Headset gak mempan blass." keluh Wati.


"Mudah - mudahan cepet baikan, Bawaan orang hamil memang beda - beda. Mau dikasih anak kembar, cobaannya lumayan gede. Kita harus maklum, ngidamnya anak sultan beda. Anakku dulu ngidam pengen makan ini itu. Ini itupun susah keturutan. Bayi mereka itu pinter, kalau pengennya cuman makanan, segerobaknya pun enteng dibeli. Lebih ke ujian sabar, semoga mereka bisa melaluinya dengan cepat. Di sini enak, tapi kita dibayar tidak untuk bersenang - senang di atas pertengkaran orang yang gaji kita." tutur bi Rahmi, asisten rumah tangga yang paling senior.


"Aminnnn." ucap semua kompak, tapi dengan nada yang kurang harmonis.


Si rumah Mahendra, tepatnya di kamar lama Darren. Zain sedang menginjak - injak punggung daddynya.


"Dadd, kita jadinya ke puncak atau ke jepang sih?" tanya Zain, masih bingung dengan rencana daddynya yang berubah - rubah.


"Kita pokoknya ke bandara. Apa kata nanti deh Zain." ucap Darren yakin tidak yakin.


"Kalau mama tambah ngambek. Zain nggak ikut - ikut." belum - belum Zain sudh mengambil sikap.


"Mama nggak bakalan ngambek lagi. Pasti mama akan kembali seperti semula. Mama akan ceria lagi, nggak uring - uringan lagi. balik jadi mama Nja kita." harap Darren, Zain terus menginjak bagian pinggulnya. Injakan kaki Zain, membuat mata Darren makin lama makin terpejam.


Di rumahnya, Senja masih merenungi kata - kata yang dibisikkan Yanes. Mencoba menggabungkan logika dan kenyataan yang terjadi beberapa hari ke belakang. Mencoba mengingat perilaku - perilaku Darren beberapa hari ke belakang.


Yanes yang masih menunggu tukang air membereskan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dibereskan, memperhatikan setiap bahasa tubuh Senja.

__ADS_1


"Nes, yakin daddynya anak - anak jadi begitu?"


__ADS_2