Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Membingungkan


__ADS_3

Senja semakin merapatkan matanya. bibirnya enggan berbicara. Dia sendiri bingung dengan keadaannya sekarang, apalagi orang lain.


Darren mewurungkan niatnya untuk menyentuh Senja. Darren beringsut naik ke atas ranjang dengan pelan, merebahkan tubuhnya di samping tubuh Senja. Pundak itu sudah tidak bergetar, karena tangis Senja memang sudah mereda.


Dua orang yang biasanya menebar kehangatan yang meresahkan orang lain, tiba - tiba serasa menjadi orang yang asing beberapa hari ini. Darren tidak bisa lagi menebak dan mengartikan bahasa tubuh dan gelagat istrinya. Moodnya berubah bisa dalam hitungan detik.


Memang tidak ada pasangan yang sempurna. Kesempurnaan itu sendiri hanya akan kita rasakan jika kita menemui pasangan yang tepat, yang mau menerima kelemahan kita tanpa cela.


Darren memiringkan tubuhnya ke kiri, menatap punggung bertutup selimut di depannya. Apa kehamilan kali ini memang harus serumit ini ?


" Ask....Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa kamu benar - benar ingin melihatku yang angkuh seperti dulu ? Aku harus bagaimana agar kamu bisa merasa nyaman ? Jangan suruh aku menjauh, aku tidak akan sanggup. Aku rela hanya melihat punggungmu. Tapi jangan menghilang sepenuhnya. Malam ini aku salah Ask, aku melakukannya dengan sadar bukan khilaf. Jujur aku lelah, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapimu sekarang. Aku kasihan, tidak tega sekaligus kesal dan kecewa padamu " ucap Darren panjang lebar dengan suara lirih tapi tetap terdengar.


Senja membuka selimutnya hingga ke pinggul, lalu membalikkan badannya perlahan. Tapi matanya terpejam. Senja konsisten tidak mau melihat wajah memelas suaminya. Dari ucapan yang dia dengar barusan, jelas wajah suaminya pasti memelas.


" Jangan suruh Senja senormal biasanya. Ini bukan kemauan Senja. Berbeda denganmu yang melakukan kesalahan dibawah sadar. Senja mengalami ini semua bukan di atas kesadaran sendiri. Logika mana yang membenarkan seorang istri mual dan muntah saat melihat wajah tampan, baik dan menggemaskan suaminya. Tapi nyatanya memang seperti itu yang Senja rasakan. Wajah sinis, kesal dan angkuhmu dulu yang malah membuat Senja nyaman. Bukan cuma kamu yang bingung, Senja juga bingung. Jangan tanya Senja kamu harus bagaimana ? Kalau Senja yang menjawab pasti Senja akan menyuruhnya kembali angkuh seperti dulu " kata Senja tak kalah panjang.


Darren tidak menjawab. Tapi Darren malah memajukan badannya. Jarak mereka kini hanya sejengkal, saling berhadapan.


" Tetap terpejam, bayangkan saja wajahku yang bisa membuatmu nyaman " ucap Darren, lirih. Jakunnya sudah naik turun karena menelan ludahnya sendiri. Bibir di depannya membuat imannya selalu tergoda, bukan hanya karena ranumnya tapi juga kelincahan yang tersembunyi dibalik diamnya.


Senja mengingat peristiwa di mana Darren pulang ke apartemen hanya untuk muntah, di mana saat itulah pertama kalinya Senja menyentuh dada bidang nan keras milik Darren. Senyumpun mengembang di wajahnya. Darren pun lega.

__ADS_1


Darren semakin merapatkan tubuhnya, kini tidak berjarak. Dadanya sudah merasakan dua benda kenyal menempel di sana. Darren mendekatkan hidungnya ke hidung istrinya.


" Kamu tidak terlalu cantik. Matakulah yang membuatmu menjadi sangat cantik. Aku ingin menciummu Ask " bisik Darren, sedikit mendesah.


Senja membasahi bibir bawahnya, lalu menggigitnya pelan. Seperti sengaja menggoda dengan mata yang masih terpejam. Tangannya menarik punggung Darren semakin merapat. Darren menikmati wajah Senja yang sudah terlihat gelisah tidak sabar. Tubuhnya beberapa kali mengeliat.


" Tapi tidak jadi Ask, nanti saja ciumannya. Kayaknya mulutku masih bau alkohol " ucap Darren dengan santainya. Merahlah pipi Senja seketika, mulutnya manyun beberapa senti dan matanya pun langsung terbuka lebar.


" Ngeselin !!! " sungut Senja. Darren terkekeh, setidaknya Senja tidak mual dan muntah. Menjadi mengesalkan kadang menyenangkan. Untung suara pintu diketuk itu tepat waktu, kalau lebih lama lagi, mode suami nyebelin akan terswitch lagi ke mode suami me*sum.


Darren membuka pintu kamarnya, ternyata Mua yang akan merias Senja untuk acara pukul tujuh pagi nanti sudah datang. Padahal masih pukul tiga lewat empat puluh menit. Senja beringsut dengan cepat membuka conecting door yang menghubungkan kamarnya dengan kamar yang ditempati Wati dan Dasen. Keduanya masih tertidur pulas.


Tidak sampai sepuluh menit, Senja sudah menyelesaikan mandinya. Keluar sudah sangat segar menggunakan bathrobenya. Bersamaan dengan suara tangisan Dasen. " Sebentar sist, anakku nangis. Waktunya nen " ucapnya buru - buru menghampiri ruangan sebelah.


Senja kembali muncul dengan menggendong Dasen yang sedang rakus mengenyut pucuk hitam di dada Senja. Darren buru - buru menghampiri Senja yag tidak memakai apron penutup seperti biasanya.


" Astaga Ask...sembnrono sekali. Biarpun lunak, dia masih bernaga " ucap Darren sewot sambil memberikan kain pada Senja.


" Sudah lihat sekilas kok bang, masih gedong punya mince. Bedanya kalau itu isinya Asi, kalau ini isinya ari - ari " sahut Mince, asal.


" Ari - ari itu di rahim sist " sahut Senja, sambil membetulkan apron yang diberikan suaminya.

__ADS_1


" Normalnya sist. Kita kan amoeba. Kalau kita mau beranak, tinggal di belah ini ***** "


Darren bergidik ngeri mendengar dan melihat Mince. Setelah menunggu sepuluh menit Dasen mengambil haknya, akhirnya tangan Mince pun beraksi memoles wajah mulus Senja.


Menunggu Senja berdandan, Darren menjaga Dasen, mengajaknya berceloteh meski bayi gembul itu hanya menjawab dengan suara " uu " dengan bibir maju ke depan.


Beberapa kali ponsel Senja berdering, nama Chun Cha tertera di sana. Dasar Chun Cha, usia benar - benar menjamin kedewasaannya. Padahal hanya berbeda beberapa bulan saja dari Senja tapi manjanya kadang masih setara dengan Zain.


" Sist, kita pindah riasnya di kamar pengantin. Dia mau ditemenin " ajak Senja. Mince sedikit kesal, kalau di kamar pengantin tentu dia tidak bisa mencuri - curi pandang pada hot daddy yang sangat sombong itu.


" Eh Min...Kalau dandanin istriku jangan tebel - tebel kayak kamu gitu. Aku nggak suka yang tebel " tukas Darren sebelum Mince dan Senja meninggalkan kamarnya.


" Kalau yang gede suka nggak bang ? " tanya Mince tanpa sungkan.


" Suka banget " sahut Senja.


" Enggak...Itu dulu. Ternyata kualitas dan rasa tidak ditentukan oleh ukuran. Apalagi gedenya nggak original. Standartnya sudah beda. Jangan banding - bandingin ukuran, fokus ke rasa saja. Yang original dan otentik cuman satu. Susah digeser apalagi dipindahkan. Kamu jangan berandai - andai apalagi berharap. Lawanmu nggak cuma berat tapi juga sangat memikat, aku juga sudah terikat dan kamu nggak akan kuat " tukas Darren, sedikit kesal karena Senja selalu mengingatkannya pada ukuran. Lebih kesal lagi karena dia tau sedari tadi Mince selalu diam - diam memperhatikannya.


" Kalau Dasen nangis, anter saja ke Wati Ask. Pertahankan wajahmu itu. Kamu membuat Senja gemas " ucap Senja, mencubit pipi suaminya lalu berjalan mengikuti Mince yang langsung mengayun langkah seribu mendengar ucapan Darren tadi.


Darren menepuk keningnya. Istrinya fix menyukai dia yang sedang tidak bahagia. Akan seperti apa anaknya kali ini.

__ADS_1


__ADS_2