
"Selamat sore dok." sapa Senja, mencium pipi kiri dan kanan dokter Nuke, dokter yang selalu setia menerima keluh kesah kehamilannya sejak kehamilan baby De.
"Ada keluhan Nja?" tanya dokter Nuke. Sejak kehamilan Dasen, mereka sudah akrab. Sampai dokter Nuke hanya menyebut Senja hanya dengan nama saja tanpa embel - embel ibu atau yang lain di depannya.
"Alhamdulillah tidak ada dok." jawab Senja.
Perawat membantu Senja naik ke atas brankar. Menutupkan selimut sampai di bawah pinggul Senja sedikit. Lalu menaikkan dress kuning yang dikenakan Jingga, memberikan gel yang membuat kulit perut Senja merasakan sensasi dingin.
Dokter Nuke mulai menggerakkan alatnya sembari melihat layar monitor. Darren dengan kamera ponselnya merekam apa yang ditunjukkan layar monitor 32 inchi yang menempel di dinding.
"Sebentar - sebentar. Ada kejutan kayaknya ini." ucap dokter Nuke. Memperbesar tampilan gambar pada salah satu titik. Lalu menggerakkan alatnya kembali. Menghentikan sebentar, menzoom gambar dan memberikan lingkaran merah, lalu mengklik satu gambar yang sama dan juga melingkarinya merah. Dokter Nuke tersenyum.
"Dok, kok di lingkari? apa ada masalah?" tanya Darren, langsung terlihat khawatir.
"Iya ada." jawab dokter Nuke santai.
"Apa dok? apa itu bahaya?" tanya Darren, semakin khawatir. Sementara Senja masih menerka - nerka tampilan akhir dari usg empat dimensi di layar monitor. Senja memang bukan dokter, tapi hamil sudah empat kali membuatnya sedikit mengerti. Di layar itu, jelas tertulis ada dua berat badan dan dua panjang janin yang berbeda. Senja tidak berani bereforia sebelum dokter Nuke memberi tahu mereka.
"Bahayanya kenapa Dok?" Darren semakin tidak sabar.
"Bahaya banget kalau dua anak ini nantinya mirip kamu Darr. Jangan sampai. Kasihan Senja." jawab dokter Nuke.
Senja tersenyum bahagia. Sedangkan Darren masih belum mencerna sepenuhnya.
"Lebih bahaya lagi kalau mirip Senja. Tidak ada lawan." sahut Darren cepat, sepertinya Darren belum paham arti kata dua anak. "Dasen sejauh ini Darren banget, entah yang ini. Sepertinya versi Darren cilik lebih lengkapnya." tambahnya.
__ADS_1
"Kalau begitu yang satu mirip kamu dan yang satu mirip Senja saja. Biar adil. Memang kalian ada keturunan kembar ya?" tanya dokter Nuke. Darren sepertinya memang belum peka. Reaksinya masih biasa saja.
"Ada dok, ayahnya Senja kembar." jawab Senja.
"Next saja dok, program bayi kembar. yang sekarang sudah terlanjur jebol tanpa program. Kalau kembar sekali lagi cukup." ucap Darren, melenceng jauh dari pertanyaan dokter Nuke.
"Aduh Darr, kadang pinter tapi kok kadang lemot juga sih. Maksudnya itu anakmu ini kembar. Ada dua yang ada di perut Senja sekarang." ucap dokter Nuke, sedikit gemas.
"Kembar? beneran dok? yakin?" tanya Darren antara ingin senang tapi belum percaya.
Dokter Nuke kembali menggerakkan alatnya, lalu menunjukkan dua calon bayi yang ada disana.
"Kembar fraternal atau bahasa awamnya kembar tidak identik. Sel telur dan sel sp*rma kalian sama lincahnya. Dua sel sp**ma membuahi dua sel telur. Di sini ada dua placenta, masing - masing bayi satu." jelas dokter Nuke, kembali melingkari bagian yang diterangkan.
Darren menjatuhkan ponselnya. Kebahagian dan haru yang berbaur jadi satu membuat lututnya lemas serasa tidak bertulang. Tuhan begitu murah hati padanya.
Senja menghampiri Darren yang bersimpuh di lantai, mengambil ponsel suaminya.
"Selamat ya Dadd, Tuhan memberi kita anugerah sekaligus kepercayaan yang luar biasa pada kita. Tanggung jawab daddy semakin besar." ucap Senja, mengelus pundak Darren dengan lembut.
Darren merengkuh pundak Senja ke dalam pelukannya. Menumpahkan air mata harunya di sana.
"Terimakasih ma Nja, Terimakasih." Darren tidak mampu berucap lebih lagi, hanya itu kata yang sanggup dia berikan untuk istrinya.
Mereka berdiri lalu duduk di kursi depan meja dokter Nuke dengan raut wajah berseri - seri. Tangan keduanya saling menggenggam. Kebahagiaan yang terpancar dari keduanya menular pada yang melihat.
__ADS_1
"Selamat ya Darr...Nja...dua amanah lagi yang diberikan Tuhan untuk kalian. Semoga semakin menambah berkah kebaikan pada keluarga kalian." ucap dokter Nuke.
"Terimakasih dok." jawab Senja dan Darren bersamaan.
"Ini resep vitamin ya Nja, ada calcium dan zat besi tentu saja. Satu berat badan janinmu agak di bawah batas normal, sebaiknya kamu menghentikan pemberian Asimu pada Dasen. Saat ini nutrisi yang masuk di badanmu fokuskan untuk kedua janinmu. Kamu bawa Dasen ke dokter anak, banyak metode baru melepas anak dari Asi agar tidak terlalu drama. Ini bukan pilihan ya Nja tapi harus." ucap dokter Nuke dengan tegas.
Seketika raut wajah Senja menjadi murung.
"Dok, apa boleh saya memberi Asi seminggu lagi? setidaknya Dasen mendapatkan enam bulan asi exclusive nya." tanya Senja, pelan.
"Pastikan nutrisimu terpenuhi Nja, bukan banyaknya porsi tapi kandungan nutrisinya. Hanya seminggu ya Nja. Setelah itu stop."jawab dokter Nuke.
Kebahagiaan Senja sedikit bertukar tempat dengan sedih, kecewa dan khawatir. Sampai di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang Senja hanya diam. Wajahnya murung.
"Its oke Ask, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk Dasen. Aku akan mengatakan sepanjang hidupku pada anak - anak kita, kamu adalah ibu terbaik. Kamu selalu memberikan yang terbaik. Please, jangan membuat baby twins merasa ikut bersalah." ucap Darren, mengusap punggung tangan istrinya penuh perasaan.
Senja hanya diam dan menyandarkan kepala di bahu suaminya. Padahal pernah mengalami hal yang sama saat dengan baby De dulu. Tapi kali ini rasanya lain.
Sampai rumah, setelah mandi dan menunggu sholat Maghrib. Senja mengambil alih Dasen dari Wati. Bahkan Senja membebaskan Wati dari Dasen sementara. Senja ingin Dasen hanya bersamanya sampai lahiran nanti.
Sebenarnya Darren sangat tidak setuju, semakin Dasen menempel bersama Senja tanpa bantuan orang lain, tentu tingkat ketergantungan Dasen akan semakin tinggi. Dasen akan sulit lagi menerina orang lain, padahal saat melahirkan nanti, Senja tidak mungkin bisa mengasuh Dasen sendiri.
Ingin sekali mengajak istrinya berbicara, tapi raut wajah Senja jelas menunjukkan sedang tidak ingin diganggu.
Darren duduk tepat di samping istrinya. Tidak tahu harus memulai dari mana.
__ADS_1
"Tolong jangan menganggu waktuku bersama Dasen ask...Aku ingin memberikan waktuku lebih banyak bersamanya. Maaf kalau aku tidak akan melayanimu lahir batin sepenuhnya. Aku hanya ingin tidur berdua bersama Dasen. Jangan pernah sentuh aku kalau bukan atas ijinku." ucap Senja, datar.
"Ask, ini bukan tentang aku. Kamu juga ada Zain yang harus diperhatikan. Kamu merasa bersalah, boleh. Tapi bukan begini caranya. Kamu mau menghukumku dengan tidak mau aku sentuh. Silahkan, tapi jangan korbankan Zain dan Dasen sendiri. Yang di dalam perutmu pun bisa ikut merasa disalahkan Ask." ucap Darren begitu tegas.