
" Bisa sedikit, kalau hanya sekedar mematahkan naga daddy darr sih bisa " jawab Senja sekenanya. Darren refleks membetulkan duduknya.
Sampai di rumah Senja langsung mengganti bajunya terlebih dahulu begitu juga dengan Darren.
" Sini eomma, biar Dasen sama Senja. Tidak rewel kan ? " ucap Senja sambil mengambil Dasen dari gendongan Bae.
" Tidak, dia nurut dikasih Asi dari sendok. Dia mengerti sekali kalau kita semua sedang bersedih " jawab Bae pelan.
" Bagaimana La, apa yang perempuan itu mau ? " tanya Arham, sedikit penasaran.
" Awalnya dia minta pertanggungjawaban karena mengaku sedang hamil anak kak Ming, tapi Senja keukeh minta test kehamilan. Senja ini sudah hamil tiga kali, sekurus - kurusnya badan perempuan, kalau hamil pasti fisiknya tetap berbeda. Benar dugaan Senja, dia memang tidak hamil. Perempuan itu namanya Dila, sekarang dia ingin terbebas dari kepemilikan barang bukti narkoba. Dia melimpahkan kesalahan pada kak Ming. Tapi Kemala yakin, kak Ming tidak terlibat. Kalian tenang saja, serahkan saja semua pada Kemala dan abang " ucap Senja.
Darren terlihat menuruni anak tangga dengan rambut yang masih basah, Menggunakan celana pendek santai dan kaos polos berwarna biru muda. Entah kapan Senja bisa melihat wajah suaminya jelek.
" Eomma dan Appa mau ke rumah opa tidak ? " tanya Darren.
" Besok saja ya Darr, Eomma dan Appa rasanya masih tidak percaya Ming pergi dengan cara seperti ini. Begitu cepat " ucap Bae, pandangannya menerawang.
Chun Cha datang bersama Aleandro, Senja memilih menghindar. Ya, kedua bersaudara itu memang belum berbaikan sejak ulah Chun Cha kapan lalu.
Menyadari raut wajah istrinya saat Chun Cha datang, Darren mendekati istrinya.
" Tidak sekarang Ask " bisiknya, Senja hanya mengangguk enggan.
" Senja mau ke kamar Zain sebentar " pamit Senja. Darren menarik nafas dalam, Senja bukan orang yang bisa berbasa - basi. Istrinya tidak biasa pura - pura menahan perasaannya.
" Istrimu kenapa Darr ? " tanya Bae.
" Mungkin kecapekan eomma " jawab Darren.
__ADS_1
" Ohhh "
Arham kembali melanjutkan obrolannya dengan Mahendra dan Sarita. Bae kembali duduk melamun di dampingi Chun Cha, Aleandro, Hyeon dan Eunji.
" Al, bisa kita bicara sebentar ? " tanya Darren.
" Bisa " Aleandro menjawab sambil berdiri.
Darren mengajak Aleandro ke ruang bacanya, ruang yang hanya namanya saja ruang baca. Pada prakteknya, Darren lebih senang membaca di kamar. Lebih tepatnya membaca sambil rebahan di atas pangkuan Senja.
" Al, aku sebenernya malas ikut campur, karena istriku pun tidak menceritakan detail permasalahannya dengan Chun apa. Tapi apapun itu tolong segera selesaikan. Jika kalian yang salah, minta maaflah segera pada istriku. Aku tidak mau mood Senja terganggu saat melihat kalian " ucap Darren to the point.
" Ini masalah kakak adik Darr. Aku akui Chun yang salah, tapi memaksa Senja berbicara sekarang juga tidak tepat. Yang ada Chun malah dilibas sebelum akhir kalimat. Kamu pasti pahamlah bagaimana Senja. Chun sendiri masih kekanak - kanakan. Mikirnya nggak sedetail Senja. Pengenku Chun mirip sedikit dengan kakaknya "ucap Aleandro dengan santainya.
" Jangan membandingkan Senja dengan siapapun Al, Senja jelas yang terbaik. Sayangnya hanya satu Senja di dunia ini. Senja cuma ditakdirkan menjadi kakak iparmu " Darren sengaja menegaskan kalimatnya.
" Senja tidak akan tergoda kalau sama kamu Al " sahut Darren.
" Kalau sama yang lain, masih mungkin berarti ya, sekretarismu dua bisa tuh jadi kandidat. Komporin Senja ah, buat sering - sering ke kantormu " Aleandro tak kuasa menahan tawanya, melihat ekspresi manyun Darren.
"Al berhenti menakutiku ! Aku ada pekerjaan untukmu. Aku tidak mau bertindak sendiri, karena tidak ingin Senja semakin kepikiran. Aku mau minta tolong sama kamu "
" Apa Darr ? "
" Kamu kasih pelajaran perempuan yang bernama Dila dan Maya. Pastikan kasus Ming berhenti hari ini. Aku tidak mau menunggu proses hukum. Biarlah proses hukum itu untuk Dila tapi tidak untuk Ming. Aku tidak mau berlarut - larut. Aku bisa bertindak sendiri, tapi aku yakin Senja tidak akan suka. Apalagi Maya itu ternyata temannya Senja, teman yang sangat iri pada Senja. Melibatkan Senja akan semakin membuat temannya itu membabi buta " jelas Darren panjang lebar.
" Baiklah aku paham, aku mulai detik ini juga " Aleandro tanpa banyak bertanya mengiyakan permintaan Darren. Aleandro sesaat kemudian sudah sibuk berbicara serius melalui sambungan telepon.
Sementara Senja masih menyuapi Zain dengan telaten di kamarnya. Dasen digendongannya sudah tertidur pulas. Meski badannya sedikit terasa remuk, Senja berusaha kuat. Mengeluh pada suaminya hanya akan membuatnya repot sendiri. Sikap, perhatian dan kekhawatiran Darren selalu berlebihan tiap dia mengeluh capek atau tidak enak badan.
__ADS_1
Selesai menyuapi Zain, Senja memastikan makanan untuk yang lain sudah tersedia. Kali ini dia akan meminta maaf saja pada Darren, rasanya dia tidak sanggup kalau harus memasak seperti biasanya.
" Semua sudah siap bu, tapi pak Darren gimana bu ? " tanya Sari, asisten rumah tangga yang bertugas memasak dan berbelanja.
" Gampang mbak, nanti biar saya yang ngomong. Sudah siap kan ya ? " tanya Senja memastikan hidangan yang ada di atas meja makan.
" Sudah bu "
Senja langsung mengajak semua untuk makan malam. Darren rupanya sedang ada di kamarnya.
Mahendra dan Sarita sudah pulang duluan, karena kasihan Rianti tidak ada yang menggantikan mengajak Hutama berkomunikasi.
" Ask, kita makan dulu yuk ! " ajak Senja.
" Ask, kamu tidak memasak kan hari ini ? " tebak Darren.
"Tentu saja tidak Ask, kita makan seadanya dulu ya. Ini saja rasanya badan Senja sudah gak enak banget " ucap Senja, pelan. Darren langsung menempelkan punggung tangannya di kening Senja. Memang agak panas.
" Kita panggil dokter " tanpa menunggu persetujuan, Darren menelpon dokter keluarga mereka.
" Kamu di kamar saja, aku ambilkan makanan dulu ya. Dasen coba tidurkan saja. Aku rasa kita memang butuh baby sister Ask. Banyak yang harus kamu urus, paling tidak ada yang menjaga Dasen dengan pasti saat urgent kamu harus ninggalin Dasen beberapa jam dan saat sakit begini kamu butuh istirahat juga kan. Jangan menolak. Kalau kamu sakit aku yang paling dirugikan.
Senja hanya mengangguk lemah, sudah dia duga. Sikap Darren seketika pasti akan berlebihan dan over. Senja menidurkan Dasen di box nya, untung saja langsung nurut. Senja langsung membaringkan badannya di atas ranjang, semakin lama kepalanya semakin berat dan berputar.
Darren masuk membawa Sepiring penuh makanan diikuti Bae yang terlihat khawatir.
" Ask, makan dulu ya. Sedikit saja tidak apa. Kamu sandaran saja. Maaf ya aku tidak peka, harusnya aku tahu fisik kamu pun bisa capek dan butuh istirahat " ucap Darren lembut.
" La, kamu nggak hamil kan. ? " tanya Bae
__ADS_1