Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Opa Hutama


__ADS_3

Tidak ingin mendengar hal - hal yang lebih berat lagi di obrolan opa dan istrinya, Darren memutuskan untuk keluar dari persembunyian.


" Ask, kenapa keluar rumah tidak pamit sama aku ? " Darren tanpa basa basi menggerutu di depan opanya.


" Senja bukan tawanan Darr, dia boleh kemana saja semaunya. Jika pamit dilarang, lebih baik langsung saja. Dimarahi belakangan. Lagian keluar cuman 25 menit dari rumahmu dan perginya juga ke rumah opa, masak harus ijin dulu. Sudah begitu ujung - ujungnya nggak boleh. Kamu jangan terlalu mengekang, nanti kalau Senja capek malah kabur bisa - bisa " cerocos Hutama, memberikan pembelaan untuk Senja.


" Opa boleh tua, tapi jangan lupa Darren yang cucu asli opa. Kenapa opa jadi lebih sayang sama Senja ? Senja hanya boleh disayang Darren, opa jangan ikut - ikut " sahut Darren dengan kesal.


" Bagaimana urusan Zain ? " tanya Senja.


" Apa yang dikatakan Zain benar, tapi karena dia juga menggunakan kekerasan maka Zain tetap tetap dihukum " Darren menceriatakan dengan malas, mengingat hukuman Zain lagi - lagi membuatnya cemburu tanpa alasan.


" Apa hukuman Zain ? " tanya Senja.


" Orangtua anak yang dipukul Zain seorang dokter, jadi dia mengajak Zain jadi asistennya besok " jawab Darren tanpa menyebut Vano.


" Itu bukan hukuman bagi Zain, lebih cocok disebut kesempatan. Prakteknya di mana Ask ? " tanya Senja lagi.


"Rumah sakit " jawab Darren.


" Tidak boleh Ask, Zain tidak boleh ke rumah sakit dulu. Imun Zain belum pulih benar. Di rumah sakit banyak orang sakit. Bilang sama orangtua anak itu Ask. Minta hukuman yang lain " ucap Senja.


" Sebenarnya tidak masalah Nja, di rumah juga belum tentu sehat semua. Hanya beberapa jam, kalau terlalu dijaga kekebalan tubuhnya malah sulit kebentuk " ucap opa, ikut memberi pendapat.


Senja menimbang - nimbang sejenak, lalu mengangguk pelan sedikit ragu.

__ADS_1


"Dasen anteng banget dipangku opa, wah...kalau mama sama daddy jalan - jalan bisa dititipin ke opa nih " Darren duduk di pegangan kursi yang diduduki Senja, tangannya langsung merangkul Senja tanpa risih di depan opa.


" Darr, opa mau bicara sebentar sama kamu. Nja, ini Dasen ajak tidur di kamar saja " ucap opa berdiri memberikan Dasen pada Senja.


Setelah Senja tidak lagi terlihat dari pandangannya, Hutama kembali duduk.


" Darr, Sejauh ini opa bangga melihatmu menjadi suami dan ayah untuk anak - anakmu. Opa tidak menyangka kamu dewasa secepat ini, sebelumnya opa mengira kamu hanya akan bermain - mainan dengan perempuan. Opa benar - benar bangga padamu Darr " ucap Hutama, tulus.


" Darren akan malu kalau sampai tidak bisa menjadi suami dan ayah terbaik. Darren melihat opa dan papa begitu luar biasa. Kalau Darren berbeda, maka siapa yang Darren tiru. Darren tidak akan membuat keluarga kita malu opa. Pernikahan itu hanya sekali. Jadi Darren akan menjadikan pernikahan Darren penuh kebahagiaan sampai akhir " ucap Darren, tegas.


" Baguslah Darr. Semoga kamu bisa memegang kata - katamu. Di luar rumah kamu akan menemui perempuan yang terlihat lebih segalanya dari Senja " kata Hutama.


" Jelas opa. Kecantikan tidak berhenti di Senja kalau kita ngikutin kemauan mata. Senjalah yang membuat Darren berpaling dan meninggalkan semua perempuan Darren dulu. Kalau sampai sekarang Darren tergoda dengan satu perempuan, pasti akan ada perempuan lain lagi selanjutnya. Tidak akan seperti itu opa. Darren akan lebih memilih bangkrut dan jatuh miskin daripada harus kehilangan Senja " ucap Darren, yakin.


" Baguslah, jaga pandanganmu Darr. Kelemahan laki - laki ada dimatanya. Opa sudah tua, opa tidak bisa mengawasi kalian terus. Kamu juga sudah dewasa. Jadi menjaga dirimu sudah bukan tugas opa atau papamu lagi. Jaga dirimu, harga diri laki - laki paling tinggi adalah pada komitmennya. Jangan sampai kamu melanggar komitmenmu. Sekecil apapun itu. Melanggar komotmen sama halnya kehilangan harga diri. Seberapapun banyak uangmu, tidak akan memneli harga dirimu. Letakkan itu tidak hanya di sini, tapi juga di sini " ucap Hutama menunjuk dahi lalu dadanya dengan jari telunjuk.


" Kamu tahu, tapi kita tidak tahu kedepannya bagaimana. Manusia tempatnya lupa, syukur kalau kamu bisa ingat terus. Opa tahu kejamnya dunia bisnis kita Darr. Tidak dapat bisnismu, mereka bisa menyerang dari keluargamu. Jangan memberi celah pada mereka untuk itu. Keluarga adalah yang utama. Kamu tidak bekerja keras untuk dirimu sendiri, membahagiakan diri sendiri itu perlu, tapi bagi laki - laki sejati kebahagiaan anak istri lebih utama. Ngerti Darr ? " tanya Hutama.


" Ngerti opa. Darren ngerti. Senja itu yang nggak ngerti. Pilih sekretaris cowok, pilih dokter anak cowok. Semuanya kalau lihat Senja bikin pengen nonjok " Darren pun sedikit melakukan curhat colongan, mengadu, semacam Zain yang ingin meminta dukungan dan perlindungan.


" Itu karma Darr, kalau tidak ingin istrimu tidak ingin dilihat orang lain, jaga matamu juga " sindir opa.


" Darren lihatnya sekilas opa, nggak sampai lama apalagi meleng kayak mereka. Opa kayak enggak aja. Lihat oma - oma poni di sasak menjulang pun opa masih suka liihat " Darren balik menyindir opanya.


" Kita masih manusia Darr. Yang penting jangan kebablasan. Ingat kata opa, semua berawal dari pandangan. Perempuan kadang salah mengartikan pandangan kita, siapa yang tidak pengen dipandang sama kamu. Jadi hati - hati saja " Hutama kembali mengingatkan.

__ADS_1


Senja kembali muncul dengan Dasen yang pastinya sambil meminum Asi.


" Opa, ponselnya opa bunyi terus dari tadi. Sepertinya penting " ucap Senja, memberikan ponsel opa yang tadi tergeletak di ruang keluarga.


Hutama menerima ponselnya,lalu mengecek siapa yang menghubunginya sampai berkali - kali. Hutama menjauh dari Darren dan Senja lalu menghubungi kembali nomer yang menghubunginya. Raut wajah Hutama berubah dari datar menjadi tersenyum.


Darren membuka sedikit apron yang menutupi wajah Dasen.


" Mirip banget sama daddynya " canda Darren.


" Iya...mirip banget, semoga posesifnya enggak " sahut Senja.


" Semoga iya, biar kemanapun mamanya pergi selalu ada yang ngintilin. Titisan Darren harusnya sih sama. Nanti bikin lagi satu, titisan Senja. Terus bikin lagi kembar titisan Sarita dan titisan Bae, Kembar lagi titisan Arham dan titisan Mahendra " ucap Darren dengan entengnya.


" Kamu pikir ngelahirin itu gampang, enteng banget ngomongnya " sahut Hutama yang sudah kembali bergabung bersama keduanya.


" Sulit opa, tapi Darren yakin Senja perempuan yang kuat " ucap Darren asal, cubitan mendarat di perutnya.


" Darr, hubungi yang lain. Malam ini kita semua makan malam di sini. Opa mau pamit, besok opa mau umroh " perintah Hutama.


" Kok mendadak opa ? " tanya Senja.


"Sudah saatnya opa menghabiskan waktu lebih banyak untuk berdialog sama yang memberi kita nafas Nja " kata Hutama.


" Senja nitip doa boleh ya opa ? " tanya Senja, sedikit manja.

__ADS_1


" Apa ?" tanya Hutama.


Senja mendekatkan badannya pada Hutama, menutup daun telinga opanya lalu membisikkan sesuatu, agak panjang tapi membuat ekspresi Hutama berubah serius saat mendengarnya, menatap tajam Darren lalu senyum - senyum sendiri.


__ADS_2