
Sepanjang perjalanan ke sekolah. Senja hanya terdiam. Beberapa kali suara candaan anak-anaknya hanya ditimpali dengan senyuman lembut.
Inilah yang membuat Darren menentang hubungan Zain dengan Airin, tujuan pernikahan harusnya merangkai bahagia bersama. Bukan ingin mengarungi derita berdua, seperti yang anak sulungnya itu lakukan.
Tak lama, mereka menurunkan Dasen terlebih dahulu, karena sekolah anak itu yang paling dekat. "Bye, Ma ... Bye, Dadd." Dasen mencium pipi kedua orangtuanya bergantian.
"Hati-hati, Das. Jangan membuat masalah lagi." Senja kelepasan memberikan pesan pada Dasen. Titisan Daren hanya menjawab dengan mengerlingkan satu matanya.
Mobil berjalan kembali, begitu Dasen memasuki gerbang utama sekolah.
"Lagi? dia melakukan kenakalan?" selidik Darren.
"Tidak! Maksudku kemarin-kemarin," ralat Senja dengan cepat.
"Kakak tidak akan berhenti membuat ulah. Dia hanya beruntung mempunyai Mama. Apapun salah kakak, Mama terlalu lemah memaafkan," Beyza mengeluarkan pendapatnya dengan enteng.
"Memang begitulah seorang ibu, Bey ... Mama pun melakukan hal yang sama pada kita." Derya selalu bertindak sebagai pembela mamanya.
"Tapi apa yang ditunjukkan Mama itu terlalu berlebihan, Kakak itu memang harus dikirim ke asrama. Seperti kata Daddy." Beyza selalu dipihak Darren.
Senja sedang tidak ingin berdebat, lagi-lagi dia hanya tersenyum. Derya Dan Beyza tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak benar.
Darren sepertinya butuh waktu untuk bicara berdua saja dengan istrinya untuk membahas permasalahan anak-anak, tapi sekarang bukan waktu yang tepat.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah Beyza dan Derya. Senja dan Darren bersamaan lewat pintu berbeda. Masih tidak ingin berdebat, hot daddy itu hanya menatap tajam istrinya yang mendadak menjadi pendiam.
Darren berniat mengamit lengan istrinya, tapi Beyza menyambar tangannya laaebih dulu dan langsung berjalan memasuki aula tempat acara khusus siswa grade delapan dilangsungkan. Derya berjalan di belakang mereka bersama Senja.
Seperti biasa, Darren selalu menjadi pusat perhatian mama-mama muda lain. Senja mengabaikan pandangan mereka pada suaminya itu. Bahkan saat mencari bangku untuk duduk wali murid, Senja seperti tidak fokus. Padahal sebagai salah satu donatur yayasan, keduanya sudah disediakan tempat khusus di depan panggung.
Darren sudah duduk di depan bersama Beyza. Sementara Senja, karena fokus dengan ponselnya, malah duduk di deretan kedua bersama Derya. Tiga orang perempuan bersama anak masing-masing, dengan keistimewaan yang sama sebagai anggota komite, langsung duduk di sisi kiri ceo Mahendra Corps itu. Beyza mengamit lengan Daddynya dengan posesif.
"Mama, mana?" tanya Darren. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan sang istri.
"Tuh, dibelakang Daddy persis." Beyza menunjuk Senja dengan dagunya.
__ADS_1
Senja nampak masih sibuk berbalas pesan singkat dengan Zain. Kini ibu dari empat anak itu berharap semua urusan di sekolah cepat selesai.
"Bey, duduk di samping Der. Biar mama di sini bersama Daddy," bisik Darren.
"Tidak! Daddy di sini bersama Bey." Gadis belia itu semakin mengeratkan tangannya di lengan sang daddy.
Darren menoleh ke belakang, Senja tak kunjung melihat ke arahnya.
"Hai, Der," salah seorang teman Derya menyapa.
"Hai, Gen ... Eh, kenalin ini mamaku." Derya menepuk pelan pundak mamanya.
"Iya, sayang." ucap Senja dengan lembut.
"Kenalin, ini Genta." Derya menunjuk seorang anak laki-laki tampan yang berdiri di dekatnya. Anak itu langsung mengulurkan tangan pada Senja.
"Jadi ini yang namanya Genta? Derya sering bercerita tentang kehebatanmu. Sepertinya Der tidak salah menjadikanmu sahabat." Senja menyambut uluran tangan Genta.
"Derya juga hebat, Tante." Genta lalu mencium punggung tangan Jingga dengan pelan.
"Hmmmm ...." sahut Senja, sembari menatap suaminya.
"Pindah sini," ucap Darren seenaknya, padahal sudah tidak ada lagi kursi kosong.
"Penuh," sahut Senja.
"Pangkuanku selalu kosong buat kamu," Beyza langsung mencubit lengan papanya, Senja mendengus keki, sedangkan Derya langsung memperhatikan ekspresi Genta dan ayahnya yang terlihat menahan tawa.
Darren mengerlingkan satu matanya pada Senja, membuat istrinya itu semakin keki. Sudah setua itu, masih saja genitnya luar biasa.
"Orangtuamu luar biasa," bisik Genta.
Derya membalas bisikan sahabatnya. "Sudah biasa. Ayahmu yang luar biasa."
Genta menoleh pada Ayahnya, "Ayahku bukan manusia biasa, dia malaikat tak bersayap."
__ADS_1
Derya menepuk pundak sahabatnya itu. Keduanya memang sering berbagi kisah hidup. Genta tidak seberuntung Derya yang bisa tumbuh di tengah-tengah keluarga utuh. Orangtua Genta meninggal dunia saat dia benar-benar masih bayi.
Acara perayaan kemenangan berbagai olimpiade yang dimenangkan oleh perwakilan grade delapan pun di mulai. Derya sebagai perwakilan tiga mata pelajaran, berhasil memenangkan ketiganya dengan nilai sempurna. Beyza dengan satu penghargaan dan dua teman lainnya juga berhasil membawa tropi, termasuk Genta. Total ada delapan piala olimpiade yang dimenangkan oleh sekolah mereka, berkat kepintaran lima siswa yang sekarang ada di atas panggung.
Darren terlihat bangga dengan si kembar. Tidak dipungkiri, di balik kepintaran anak-anaknya, ada Senja yang selalu bersusah payah mengawasi belajar mereka dengan sangat disiplin. Andai Dasen tidak mewarisi sifatnya, pasti anak itu juga tak kalah dengan saudara kembarnya ini. Dasen sangat berprestasi, tapi sering kali prestasi itu dinodai sendiri dengan kenakalannya.
"Selamat ya, Pak ... Daddynya hebat, anak-anaknya pun hebat. Tidak diragukan lagi," perempuan di samping Darren menyalaminya dengan sedikit memaksa dan juga genit.
"Mami ... Stop it," ucap anaknya, terlihat kesal dengan sikap maminya.
Senja hanya tersenyum, sedikit memajukan badannya, sembari berbisik pelan pada suaminya. "Daddy memang hebat ya ... Idaman mama-mama,"
Darren menoleh ke belakang. Menggelengkan kepalanya. "Idaman Mama Nja. Tolong diralat."
Ayah Genta terlihat melirik sembari tersenyum melihat kedua orangtua sahabat anaknya itu.
Selesai acara, anak-anak tetap berada di sekolah. Darren dan Senja berjalan berdua menuju gerbang luar sekolah.
"Ask ... Senja sama Rudi, ya? dia sudah datang kok." Istri Darren itu menunjuk mobil Honda Civic hitam keluaran terbaru miliknya.
Darren mengernyitkan keningnya sembari berkata, "Kenapa tidak bareng aku saja, Ask."
"Kamu kan kerja, Ask. Sudah ... Nanti Senja telat ketemu Ulfanya. Hati-hati. Senja duluan." Senja mencium Darren sekilas, tanpa menunggu jawaban suaminya, Senja langsung masuk ke mobil dan menyuruh Rudi menuju sekolah Dasen.
Darren pun langsung menuju kantornya, dengan tanda tanya yang memutari kepala. Sikap Senja sungguh di luar kebiasaan.
Sampai di kantor, kecurigaan Darren semakin besar. Di lobby, dia perpapasan dengan Kenzi dan Ulfa.
"Ul, bukannya janjian ketemu sama Senja ya? kok malah ikut Kenzi? Kalau sama aku, Kenzi aman. Tidak perlu pengawalan," tanya Darren, sedikit berharap memperoleh pencerahan dari jawaban Ulfa.
"Bu Senja, tidak menghubungi saya sama sekali pak hari ini. Kami memang tidak ada janji bertemu." Ulfa dengan kepolosan yang masih sama seperti dulu langsung menjawab jujur.
Kenzi yang sangat peka, seketika mencubit pinggul istrinya. Ulfa sedikit meringis kesakitan sembari melihat mulut Kenzi yang komat kamit tidak jelas.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1
Haiiii readers....Bonchap nya kurang 2 part lagi ya. Setelah itu kita ketemu di judul baru yang fokus pada kisah Zain, Darren, Beyza dan Derya.